Oleh Hendra Triwarman
Sumbartime.com,- Peristiwa reformasi tahun 1998 dan tumbangnya rezim Soeharto sebagian besar raknyat Indonesia berpesta pora. Seolah besoknya Indonesia akan berubah total. Kemakmuran, kesejahteraan, kebebasan dan segala kata-kata yang memaknai kebahagian akan menjadi milik raknyat Indonesia. Penyampaian pengunduran diri Soeharto sebagai presiden Indonesia dengan wajah yang sangat sedih dimaknai oleh sebagian besar raknyat Indonesia kesedihan Soeharto kehilangan kekuasaan. Kemudian baru terungkap kesedihan Soeharto sesungguhnya kecemasannya yang luar biasa terhadap raknyat Indonesia, apa memang sudah siap bangsa Indonesia mengawali reformasi.
Reformasi terus bergulir. Euforia raknyat Indonesia diringi dengan lompatan-lompatan perubahan tatanan sosial politik yang luar biasa terjadi. Sentralisasi berubah menjadi desentralisasi. Kekuatan legislatif dalam konsep trias politika menjadi dominan di segala jenjang pemerintahan dan semua diserahkan pada sistem demokrasi dipilih raknyat. Mulai dari Kepala Desa atau Wali Nagari Bupati/Wali Kota, Gubernur dan presiden. Setiap 5 tahun raknyat Indonesia melaksanakan pesta demokrasi di segala jenjang pemerintahan. Penuh sukacita mereka merayakan pesta tersebut.
Waktu terus bergulir. Reformasi terus berjalan. Raknyat Indonesia dengan sabar menunggu saatnya mereka mendapat bagian jatah kemakmuran dari buah reformasi yang diperjuangkan. Bersemangat mendukung perubahan. Melaksanakan pemilihan bupati/Wali Kota, Gubernur di daerah masing-masing mereka laksanakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas menentukan pilhan. Begitu juga menetapkan pilihan untuk lembaga legislatifnya. Setelah mereka semua dilantik raknyat masih bersabar menunggu mereka berbuat untuk membawa kemakmuran bagi mereka.
Waktu terus berjalan sudah begitu lamanya setelah reformasi. Sebagian besar masyarakat mulai kecewa kemakmuran tidak kunjung mereka peroleh. Reformasi dengan desentralisasinya tidak bisa merubah nasib mereka. Hanya merubah nasib segelintir orang. Menjadi kelompok borjuis baru dan memunculkan raja-raja kecil di masing-masing daerah. Konflik politik menjadi sangat tajam ditengah masyarakat, sehingga faksi-faksi dalam kelompok masyarakat kecil sekalipun sangat berpotensi memunculkan konflik sosial.
Sebagian masyarakat mulai kecewa dan mulai hilang keyakinan reformasi memberikan manfaat bagi mereka. Ujung dari kekecewaan masyarakat menjadi berpikir pragmatis seperti pikiran pragmatis para borjuis baru. Keikhlasan dalam melaksanakan demokrasi berangsur hilang dan mereka mulai melakukan tawar menawar atas suara mereka dalam setiap pemilu di daerah. Oportunis yang memiliki kekayaan unlimited malah semakin nyaman dengan kondisi tersebut. Semakin gampang mengabadikan shawat politik mereka. Toh….. akhirnya bisa balik modal juga kok, jika sudah duduk.
Jika semua lini di pemerintahan sudah saling berbuat dosa…..toh….bargaining semakin gampang dilakukan. Ampun.





















