Oleh: Muhammad Ridha
(Aktivis, Tokoh Muda)
JAKARTA, Jum’at (29/8/2025) – Dalam kekosongan moral, jangan harap lahir tokoh kharismatik yang mampu menjadi mercusuar. Yang muncul justru suara gaduh dari rakyat jelata, dari mereka yang sudah terlalu lama diperas oleh sistem yang hanya menguntungkan segelintir.
Aksi-aksi yang meledak di jalanan hari ini, jangan buru-buru diberi label “organik” atau “digerakkan elite”. Justru sebaliknya: ini adalah letupan spontan. Letupan dari perut kosong, dari dompet bolong, dari rasa muak yang sudah melampaui batas toleransi.
Bila negara menutup mata dan hanya merespons dengan kekerasan atau sekadar jargon retoris, maka jangan kaget jika gelombang ini menjelma menjadi perang kelas sosial.
Sejarah sudah memberi pelajaran. Revolusi Prancis di abad ke-18 bukan dimulai dari pidato para bangsawan, tapi dari jeritan rakyat yang lapar dan marah.
“Teringat ungkapan perancis.
Historie El Repete (Sejarah Bisa Berulang),”
Indonesia tentu bukan Prancis. Tapi kerakusan elite yang tak pernah kenyang, serta kesenjangan sosial yang semakin menganga, bisa menciptakan “Paris baru” di tanah sendiri.
Bedanya, di sini bukan Bastille yang digeruduk, melainkan simbol-simbol kekuasaan yang dianggap tuli dan bebal.
Maka, jangan sekali-kali meremehkan suara rakyat kecil. Karena ketika suara itu berubah menjadi gelombang, bahkan tembok istana pun bisa retak.





















