By : Teddy G Chaniago
SEBATANG rokok kretek yang tak begitu mahal, terselip di antara kedua bibirnya. Tangan kanannya sibuk mengaduk kopi hitam yang berada dihadapannya.
Meski sibuk dengan kedua “benda keramat” yang menemani kesehariannya, namun mata tajamnya tak jua lepas dari gadget yang tergeletak “manja” di atas meja itu.
Sesekali matanya terpejam saat menghembuskan gumpalan asap rokok yang keluar begitu saja dari kedua lobang hidungnya.
Meski dia merenung sambil matanya tak lepas dari arah gumpalan asap yang melayang menembus ruang, namun keningnya tetap berlipat menandakan kalau dia tengah berpikir keras.
Dia memang bukan siapa siapa dan tak pula ada apa apanya. Namun dia adalah seorang ketua panitia di setiap iven yang digelar organisasi yang menyaingi.
Meski bukan berasal dari kaum intelek dan bukan pula dari keluarga borju, namun perannya tetap sentral dan menjadi nafas di organisasi yang menurut orang orang hanya organisasi icak icak.
Namun dia tak peduli, dia tetap bekerja dan berbakti. Meski banyak mulut menertawakannya, tapi ketua pelaksana tetap acuh.
Dan hari ini dia membuktikan kompetensinya, meski bukan apa apa dan bukan anak siapa siapa. Tapi “anyo” berhasil memberi bukti.
Ya, Sang Ketua Panitia mampu menghadirkan sejumlah petinggi negeri untuk mengisi helat yang dibuatnya.
Sekali ini, Sang Ketua Panitia berhasil menebar sensasi untuk membungkam mulut usil yang mencercanya.
Bahkan tak sekadar membungkam, dia bisa membuktikan tetap bisa bersaing di dunia yang katanya berisi orang orang pintar itu.
Jadi, jangan meremehkan Sang Ketua Panitia. Meski hanya menyeruput kopi hitam yang kurang gula, walau hanya menghisap IN Kretek, namun Sang Ketua Panitia bukan orang sembarangan.
Karena itu, apresiasi pantas dan perlu diberikan pada Sang Ketua Panitia. ***





















