PAYAKUMBUH – Di tengah tren menurunnya minat masyarakat terhadap sejumlah perguruan tinggi swasta, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Putri Maharaja justru menunjukkan geliat yang menggembirakan.
Kampus yang berdiri sejak 18 Juli 2014 itu kembali melahirkan 68 Sarjana Hukum pada Wisuda Tahun Ajaran 2025/2026 yang digelar di Hotel Mangkuto Syariah, Payakumbuh, Sabtu (25/7/2026).
Wisuda angkatan ke-8 tersebut menjadi penanda bahwa STIH Putri Maharaja terus tumbuh sebagai salah satu perguruan tinggi hukum yang semakin diperhitungkan, tidak hanya di Sumatera Barat, tetapi juga di berbagai daerah di Pulau Sumatera.
Ketua STIH Putri Maharaja, Dr. Eviandi Ibrahim, SH., M.Hum., M.M., Ph.D, di sela-sela kegiatan wisuda bersama Ketua Syarikat Islam (SI) Bukittinggi, Drs. Rismaidi Tuangku Bagindo, menyampaikan rasa syukur atas perkembangan kampus yang kini memasuki Dies Natalis ke-12.
“STIH Putri Maharaja lahir pada 18 Juli 2014. Hari ini kami telah memasuki Dies Natalis ke-12 sekaligus melaksanakan wisuda angkatan ke-8,” ujar Dr. Eviandi.
Menurutnya, nama Putri Maharaja memiliki makna yang sangat personal. Yayasan Pendidikan Putri Maharaja didirikan dengan inspirasi dari keluarga besarnya, yakni dua orang putri dan dua orang putra yang ia sebut sebagai “maharaja”, sehingga nama tersebut kemudian diabadikan menjadi identitas yayasan sekaligus kampus.
Sejak awal berdiri, STIH Putri Maharaja mendapat sambutan positif dari masyarakat Payakumbuh dan sekitarnya. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, peminat dari Provinsi Riau, baik wilayah daratan maupun kepulauan, terus meningkat sehingga menjadikan kampus tersebut sebagai salah satu tujuan pendidikan hukum favorit di kawasan tersebut.
Tak hanya fokus pada pendidikan, STIH Putri Maharaja juga mengembangkan misi sosial. Kampus memberikan berbagai kemudahan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu melalui sistem pembayaran uang kuliah sesuai kemampuan ekonomi.
“Ibarat kacang yang tidak lupa pada kulitnya, ketika kampus mulai berkembang, kami ingin berbagi kepada masyarakat. Mahasiswa yang kurang mampu dapat membayar sesuai kemampuan. Bahkan bagi anak-anak yatim di sekitar kampus, kami membuka program kuliah gratis,” ungkapnya.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen kampus dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkendala kondisi ekonomi.
Perkembangan STIH Putri Maharaja juga terlihat dari jangkauan mahasiswanya yang semakin luas. Selain berasal dari berbagai daerah di Sumatera Barat, mahasiswa aktif kini datang dari Provinsi Riau, Jambi, khususnya Muaro Bungo, hingga Kepulauan Mentawai.
Hingga tahun akademik 2025/2026, STIH Putri Maharaja telah memiliki hampir 700 alumni dengan jumlah mahasiswa aktif mendekati 500 orang. Capaian tersebut dinilai cukup membanggakan untuk ukuran sebuah sekolah tinggi hukum.
“Alhamdulillah, di tengah kondisi sepinya peminat perguruan tinggi swasta, STIH Putri Maharaja tetap dipercaya masyarakat. Kami optimistis ke depan kampus ini akan menjadi salah satu perguruan tinggi yang semakin dinantikan masyarakat,” tutur Dr. Eviandi penuh optimisme.
Dengan terus mengedepankan kualitas akademik, kepedulian sosial, serta perluasan jaringan mahasiswa dari berbagai daerah, STIH Putri Maharaja membuktikan bahwa perguruan tinggi daerah mampu tumbuh menjadi pusat pendidikan hukum yang kompetitif, sekaligus menjadi harapan baru bagi generasi muda yang ingin meniti karier di dunia hukum. (Aa)




















