Sumbartime – Tidak semua tempat indah harus berada jauh dari pusat keramaian. Di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, ada sebuah kawasan di kaki Gunung Sago yang menyimpan panorama alam dengan suasana yang masih terasa tenang dan alami. Kawasan itu adalah Nagari Tanjuang Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang, Kecamatan Luak.
Berada di kawasan perbukitan, Sikabu-Kabu menawarkan pemandangan yang berbeda. Dari sejumlah titik ketinggian, mata dapat diarahkan ke hamparan kawasan Payakumbuh dan Lima Puluh Kota. Perpaduan perbukitan, sawah, pepohonan dan udara yang sejuk membuat perjalanan menuju kawasan ini menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.
Salah satu kawasan yang cukup dikenal adalah Panorama Kayu Kolek. Lokasi ini berada di Jorong Sikabu-Kabu dan menjadi bagian dari potensi wisata alam nagari. Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota juga mencatat Kayu Kolek sebagai salah satu destinasi wisata daerah.
Daya tarik Sikabu-Kabu tidak berhenti pada panorama dari ketinggian. Kawasan hutan pinus menjadi salah satu pemandangan yang cukup mencolok. Deretan pohon pinus tumbuh di sepanjang kawasan perbukitan dan memberikan suasana teduh bagi pengunjung yang ingin menikmati alam tanpa harus berada di tengah keramaian.
Selain hutan pinus, kawasan ini juga memiliki persawahan dengan pola terasering. Hamparan sawah yang mengikuti bentuk lahan menjadi pemandangan tersendiri, terutama ketika tanaman padi mulai menghijau. Karakter tersebut membuat Sikabu-Kabu tidak hanya menarik sebagai tempat menikmati panorama, tetapi juga memperlihatkan kehidupan masyarakat yang masih dekat dengan aktivitas pertanian. Data Desa Wisata Kementerian Pariwisata menyebut persawahan terasering sebagai salah satu potensi yang menjadi daya tarik kawasan tersebut.
Bagi pencinta wisata alam, kawasan Kayu Kolek juga memiliki air terjun atau sarasah yang berada tidak jauh dari panorama alam. Pemerintah Kecamatan Luak mencatat Sarasah Kayu Kolek sebagai salah satu potensi wisata alam Nagari Tanjuang Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang. ([Kecamatan Luak][2])
Potensi wisata di Sikabu-Kabu juga semakin beragam karena tidak hanya mengandalkan keindahan alam. Tradisi masyarakat turut menjadi bagian dari daya tariknya. Salah satunya adalah Tobang Itiak atau pacu terbang itik yang sebelumnya dikenal sebagai permainan anak nagari dan kemudian berkembang menjadi sebuah kegiatan wisata budaya.
Saat ini, kawasan tersebut juga mulai diarahkan sebagai desa wisata dengan berbagai aktivitas yang dapat dikembangkan. Data Kementerian Pariwisata mencatat sejumlah atraksi seperti Panorama Kayu Kolek, Sarasah Kayu Putiah dan Puncak Sago. Tersedia pula konsep jelajah kawasan yang menggabungkan wisata alam dan budaya masyarakat.
Yang membuat Sikabu-Kabu menarik adalah suasananya. Wisatawan tidak hanya datang untuk mencari satu objek tertentu, tetapi dapat menikmati perjalanan melewati kawasan pertanian, perbukitan, hutan pinus hingga panorama dari kaki Gunung Sago.
Potensi tersebut masih dapat dikembangkan lebih jauh. Sebuah penelitian mengenai pariwisata di Nagari Tanjuang Haro Sikabu-Kabu Padang Panjang mencatat bahwa aktivitas seperti trekking, camping dan outbound masih memiliki ruang untuk dikembangkan, sementara fasilitas pendukung dan layanan wisata juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan pengalaman pengunjung.
Jika dikelola secara konsisten dengan tetap menjaga lingkungan dan karakter masyarakat setempat, Sikabu-Kabu memiliki modal yang cukup lengkap untuk menjadi salah satu tujuan wisata alam di Lima Puluh Kota. Bukan hanya karena pemandangannya, tetapi juga karena perpaduan alam, pertanian, tradisi dan kehidupan masyarakat yang masih menjadi bagian dari keseharian nagari.
Pada akhirnya, pesona Sikabu-Kabu bukan sekadar soal tempat untuk berfoto. Kawasan ini menawarkan kesempatan untuk menikmati sisi lain Lima Puluh Kota—udara perbukitan, hamparan sawah, pepohonan pinus, suara alam dan panorama Gunung Sago yang menjadi latar kehidupan masyarakat setempat.
RIO

















