TIKAM SAMURAI 213

SUMBARTIME.COM-Kentalnya gelap malam itu menyembunyikan pelarian mereka. Thi Binh masih sempat melihat dua tubuh tentara Vietkong yang terkapar di dekat tangga. Dari depan rumah, melalui jalan raya di tengah kampung, mereka dibawa Duc Thio ke hulu kampung. Kemudian mereka membelok ke kiri memasuki hutan dan mendaki sebuah bukit.

Melangkah perlahan dalam gelap yang amat kental. Setelah beberapa jauh masuk ke hutan, Duc Thio menghidupkan senter.
“Tunggu…” ujar si Bungsu setelah beberapa lama mereka menerobos hutan. Rombongan kecil itu berhenti dan tegak saling ber dekatan.
“Ada apa…?” bisik Han Doi.

Iklan

Si Bungsu tak menjawab. Dia menunduk dan tangannya meraba tanah lembab di bawah. Kemudian dia mengangkat kepala. Memejamkan mata dan hidungnya seperti mencoba mencium aroma belantara.

“Kalau tak salah, agak jauh di sebelah kiri ada rawa. Kita harus ke sana…” ujarnya si Bungsu sambil berdiri.
Han Doi, Duc Thio dan Thi Binh saling menatap. Mereka takjub pada tebakan orang asing ini. Memang di bahagian kanan mereka ada rawa yang sangat luas, tapi juga sangat berbahaya karena ada pasir apung, ular dan buaya.

“Rawa itu sangat berbahaya. Selain itu, jika kita ke sana, kita akan menempuh jalan memutar untuk sampai ke sekitar bukit batu tempat penyekapan tentara Amerika itu…” ujar Duc Thio, sambil mendahului melangkah ke arah rawa.

“Siang tadi saya melihat jejak anjing yang cukup besar di tengah kampung. Saya yakin itu bukan anjing peliharaan penduduk. Itu pasti anjing pelacak milik tentara Vietnam. Ada berapa ekor anjing pelacak itu?” tanya si Bungsu.

Duc Thio kembali bertukar pandangan dengan Han Doi. Ketajaman penglihatan orang asing ini sehingga dapat membedakan jejak anjing pelacak dengan anjing kampung, sungguh luar biasa.

“Kami hanya pernah melihat empat ekor. Kebetulan anjing itu tiba di desa dengan truk sore hari…” ujar Duc Thio sambil menyeruak belukar untuk tempat lewat.

“Di tanah daratan ini jejak kita akan mudah ditemukan anjing pelacak. Mereka tak berdaya kalau orang yang dia lacak masuk ke air, apalagi masuk ke rawa yang sangat besar. Itulah sebabnya kita harus melewati rawa itu agar tak mudah diburu anjing pelacak…” papar si Bungsu.

Mereka berhenti, karena langkah Duc Thio terhambat oleh sebuah pohon besar yang tumbang. Han Doi mengarahkan cahaya senternya ke bahagian ujung. Cukup jauh. Lalu ke bahagian pangkal. Juga cukup jauh, pohon tumbang itu terlalu besar untuk dinaiki agar bisa melintas ke sebelah.

“Boleh saya yang di depan?” tanya si Bungsu.
Duc Thio mengangguk, sambil menyerahkan senter.
“Barangkali Tuan dan Thi Binh bisa memakai senter itu. Saya sudah terbiasa berjalan dalam belantara…” ujar si Bungsu.

Dia mulai melangkah ke kanan, ke arah ujung kayu tumbang itu. Ketiga orang Vietnam anak beranak itu segera menemukan bukti atas ucapan orang asing di depan mereka ini, bahwa dia sudah ‘terbiasa’ berjalan dalam belantara. Lelaki muda itu, dalam gelap yang amat kental, dengan cepat menemukan lorong dan celah untuk melangkah cepat di antara rimbunan semak belukar.

Ketika sampai ke bahagian ujung pohon tumbang itu, di mana tingginya pohon itu tinggal sebatas pinggang, si Bungsu segera meloncat naik.
“Ayo… kita seberangi pohon ini…” ujar si Bungsu sambil mengulurkan tangan pada Han Doi.

Beberapa detik kemudian mereka sudah berada di sebelah pohon besar yang tumbang itu. Si Bungsu berhenti. Menunduk dan mendekapkan telinga kanannya ke tanah. Ketiga orang Vietnam itu menatapnya dengan diam.

“Belum ada tanda-tanda bahwa kita sudah mulai dikejar. Kita harus cepat sampai ke rawa tersebut…” ujar si Bungsu sambil berdiri.
Kembali ketiga Vietnam itu hanya bisa saling menatap. Mereka pernah mendengar cerita, bahwa ada tentara yang ahli mendengarkan kedatangan musuh dengan mendekapkan telinga ke tanah.

Tapi kini mereka tidak hanya sekedar mendengar cerita, tapi melihat sendiri buktinya.
“Mari kita terus…” ujar si Bungsu sambil melangkah duluan.

Mereka berjalan dalam jarak sejangkauan tangan. Bagi si Bungsu aroma belantara berikut pepohonannya yang menjulang dan semak belukar adalah tempat yang dirindukannya. Bagi dia, dan juga bagi beberapa perimba, belantara di mana pun tempatnya, memiliki sifat yang hampir sama. Dia hafal akan hal tersebut. Dia seolah-olah “pulang ke rumah”.

Dengan nalurinya yang amat tajam dengan mudah dia mencari jalan, kendati malam dipagut gelap yang amat kental. Dia mrenunjukkan ke mana harus melangkah, menghindari semak berduri atau pohon tumbang yang tak mudah dilewati.
“Saya lelah, dapatkah kita istirahat sebentar?” tiba-tiba terdengar suara Thi Binh.

Gadis itu bicara dengan nafas sesak, sementara tangannya menjangkau ke depan, bergantung pada tangan si Bungsu. Si Bungsu menghentikan langkahnya. Tiga orang lainnya juga berhenti. Ternyata nafas mereka juga pada sesak semua. Namun yang paling lelah tentu saja Thi Binh. Gadis itu belum pulih benar dari sakitnya.

Si Bungsu duduk berlutut dengan lutut kiri di tanah. Kemudian kembali dia mendekatkan telinga ke bumi. Ada beberapa saat dia berlaku demikian. Kemudian dia mengangkat kepala. Lalu mem bersihkan dedaunan kering, sehingga terlihat tanah dimana mereka berada.

Ke tanah itu si Bungsu kembali mendekapkan telinganya. Sementara ketiga orang Vietnam itu menatap dengan diam. Lalu dia berdiri. Menatap kepada tiga orang temanya itu dengan diam.

“Mereka sudah mulai memburu kita. Saya tak tahu berapa jumlahnya. Namun mereka membawa anjing pelacak. Masih cukup jauh, belum sampai ke pohon besar yang tumbang itu. Kita bisa istirahat sebentar, tapi setelah itu kita harus menambah kecepatan dua kali lipat….”
“Tidak kita terus saja. Saya bisa berjalan…” ujar Thi Binh.

Si Bungsu menatap gadis itu. Jarak mereka hanya setengah depa. Kendati malam amat gelap. Namun dalam jarak yang demikian dekat, mereka bisa saling tatap.

“Kita terus atau istirahat?” tanya si Bungsu pada ayah Thi Binh dan Han Doi.
“Sebaiknya kita terus…” ujar Han Doi.
“Kalau terus, harus ada yang menggendong Thi Binh…” ujar si Bungsu.
Tak ada yang bersuara.

“Saya bisa… berjalan…” ujar Thi Binh sambil mengencangkan pegangan tangannya ke lengan si Bungsu.
“Baik kita akan maju terus. Saya rasa rawa itu tak berapa jauh lagi.”
“Itu suara salak anjing…” tiba-tiba suara Han Doi memutus ucapan si Bungsu.

Mereka semua pada memasang telinga. Dan sayup-sayup terdengar salak anjing sahut bersahut. Suasana tegang segera saja menyergap ketiga orang Vietnam tersebut.
“Kita harus berjalan cepat. Maukah engkau kugendong, Nona…?” ujar si Bungsu pada Thi Binh.

Gadis itu tak menjawab, saking kagetnya. Bagaimana mungkin orang asing ini mau menggendong seorang yang jelas-jelas kena spilis, pikirnya. Namun, dia tak sempat berfikir banyak si Bungsu bergerak cepat. Tiba-tiba gadis itu sudah berada dalam pangkuannya. Dan dia segera mulai melangkah.

Han Doi dan Duc Thio terpana melihat gerak lelaki dari Indonesia yang berjalan di depan mereka itu. Kendati memangku tubuh Thi Binh namun kecepatan geraknya tak berkurang sedikit pun dibanding saat dia tak membawa beban tadi.

Thi Binh melingkarkan kedua tanganya ke leher si Bungsu. Sementara kepalanya dia sandarkan ke dada lelaki tersebut. Kendati dia yakin bahwa suatu saat pasti bertemu dengan lelaki yang selalu datang ke dalam mimpinya ini, namun tak pernah terlintas dalam fikirannya bahwa dia juga akan berada dalam pelukan lelaki perkasa ini.

Apalagi lelaki ini tahu bahwa dia adalah penderita spilis. Ingat pada penyakitnya dan keikhlasan lelaki ini menggendong tubuhnya, tanpa dapat ditahan air matanya mengalir perlahan.
“Jangan menangis, Thi Binh. Penyakitmu akan sembuh, dan kecantikanmu akan kembali seperti biasa…” bisik si Bungsu sambil menyeruak belantara.

Thi Binh kaget separoh mati bagaimana lelaki ini tahu bahwa dia menangis? Dia menangis tanpa bersuara sedikit pun. Dan kagetnya semakin menjadi-jadi, tatkala si Bungsu kembali berbisik.
“Tak sulit untuk mengetahui bahwa engkau menangis Dik, kendati tak ada isak tangismu. Air matamu menembus baju, terasa hangat di dadaku….”

Thi Binh merasa terharu. Dia pererat pelukannya ke leher si Bungsu, dan dipejamkannya matanya. Dia merasa amat tentram berada dalam pelukan lelaki tersebut. Tak lama kemudian mereka sampai ke tepi rawa yang amat luas. Rawa itu, sebagaimana diceritakan Han Doi, selain amat luas, juga dipenuhi hutan belantara. Perlahan si Bungsu menurunkan tubuh Thi Binh.

Dia meminta senter dari Duc Thio. Menyoroti rawa berwajah hitam itu beberapa saat kemudian melangkah memasuki air. Sekitar sedepa memasuki rawa, dia mematah kan sebuah kayu yang sebahagian daunnya yang berwarna merah terendam dalam air. Di pinggir rawa, dipetiknya belasan daun kayu berwarna merah itu, kemudian diremas nya beberapa saat.

“Lumurkan getah daun ini ke sekujur tubuh kalian. Selain mampu menghangatkan tubuh, getahnya juga bisa menyelamatkan kita dari hisapan lintah dan nyamuk…” ujarnya sambil membagikan daun yang sudah diremas itu pada ketiga orang Vietnam tersebut.

Tak seorang pun yang membantah. Mereka menuruti perintah si Bungsu. Mengoleskan daun yang sudah diremas itu ke sekujur kaki, tangan dan bahagian tubuh lainnya. Saat mereka sedang mengoleskan daun ke tubuh masing-masing itu si Bungsu menurunkan bedil yang disandangnya sejak tadi.

Sebuah tembakan menggelegar. Membuat semua mereka terkejut, terutama Thi Binh. Sebab peluru itu seolah-olah hanya berjarak seinci dari telinganya, artinya, tembakan itu seolah-olah memang diarahkan ke kepalanya.

Gadis itu menatap pada si Bungsu. Dan saat itu dia mendengar bunyi menggelosoh sedepa di belakangnya. Dia menoleh, tak ada apapun yang terlihat dalam gelap itu. Si Bungsu menghidupkan senter, menyorot ke belakang gadis itu.

Thi Binh terpekik dan melompat memeluk ayahnya tatkala melihat seekor ular belang merah hitam sebesar betis lelaki dewasa menggeliat-geliat meregang nyawa di tanah. Ular itu, sebelum peluru si Bungsu menghabisi nyawanya, berada persis di dahan rendah sedepa di belakang Thi Binh!

“Engkau membawa parang?” tanya si Bungsu pada Han Doi.
Han Doi, yang juga seperti terbang semangatnya mendengar tembakan dan melihat ular yang panjangnya tak kurang dari lima depa itu, mengangguk.

“Bawa kemari…” ujar si Bungsu.
Han Doi mencabut parang yang dia sisipkan di bahagian belakang tubuhnya. Si Bungsu memberikan senter kepada Duc Thio. Di bawah sorotan cahaya senter, si Bungsu memotong ular itu menjadi dua bahagian. Kemudian membelah tubuh ular tersebut.

“Han Doi, seret yang sepotong ini ke arah sana sekitar lima puluh meter, dan letakkan saja di tanah. Saya akan menyeret sisanya ini kebahagian sana…” ujar si Bungsu.

Dia sendiri segera menyeret bangkai ular itu ke arah yang berlawanan dari arah yang ditunjuknya untuk Han Doi. Sepanjang jalan yang ditempuh saat menarik bangkai ular itu, darah ular tersebut berserakan di dedaunan kering di tanah.

Tak lama kemudian mereka berkumpul lagi.Si Bungsu kembali menghidupkan senter.Menerawangi rawa itu sekali lagi beberapa saat kemudian.Saat gonggongan anjing pelacak mulai agak jelas terdengar,dia memberi isyarat kepada ketiga temannya.

Dengan si Bungsu dibahagian depan,mereka mulai memasuki rawa tersebut.Mula-mula sekitar dua puluh meter dari tempat mereka masuk,airnya sebatas lutut.Ketika air mulai mencapai pinggang,si Bungsu membawa rombongannya berbelok kebagian kiri,sejajar dengan tepi rawa.

Sekitar lima puluh meter,dia kembali berbelok kearah tengah rawa. Mereka memasuki air setinggi pinggang,makin ketengah makin kedalam. Kemudian mencapai batas leher si Bungsu membawa rombongannya ke dalam sebuah palunan belukar.

Saat itulah mereka mendengar suara anjing menyalak sahut-sahutan ditepi rawa,disusul cahaya lima atau enam senter dengan cahaya yang amat terang,berseliweran menerangi beberapa pelosok rawa gelap tersebut.Suara tembakan si Bungsu membunuh ular tadi mempercepat pencarian tentara Vietkong tersebut.

Di antara salak anjing dan terkaman cahaya senter kesetiap sudut,terdengar teriakan-teriakan tentara Vietkong itu.Kemudian salak anjing hilang seperti ditelan hantu.Yang tersisa adalah teriakan tentara dan cahaya senter yang simpang siur.
“Mengapa anjing-anjing itu berhenti menyalak?”bisik Duc Thio yang tetap saja merasa was-was.

“Mereka sedang berpesta dengan daging ular tadi.Untuk sementara anjing itu tidak akan bergerak sebelum daging ular itu habis.Kita harus bergerak sejauh mungkin,sebelum anjing-anjing itu memburu.Tetaplah bergerak dijalan yang saya tempuh.Senjata jangan sampai basah.di air berhati-hati terhadap batang yang bergerak mungkin saja itu buaya.Di pohon,hati-hati melihat dahan yang bergerak,bisa saja itu adalah ular….”ujar si Bungsu mulai melangkah.

Di pinggir rawa yang baru saja mereka tinggalkan,sekitar dua lusin tentara Vietkong yang memburu pelarian itu tegak dengan tak sabar melihat anjing-anjing itu makan bangkai ular itu.Komandan mereka,yang merasa tak sabar,segera memerintahkan lima orang anggotanya untuk mengarungi rawa tersebut.Salah diantaranya di kenal mahir mencari jejak.

Kelima orang itu segera memasuki rawa yang airnya sebatas betis.Dengan pertolongan senter,dengan mudaj mereka mengikuti jejak yang ditinggalkan si Bungsu dan kawan-kawnnya.

“Nampaknya mereka tetap dalam satu kelompok,tidak berpencar.Dari sini mereka menuju ketengah rawa…”ujar si pencari jejak pada empat temannya yang lain.

“Mereka menuju ketengah rawa…!”seru sersan dalam rombongan beranggotakan lima orang dirawa itu kepada komandannya,yang masih tegak sekitar dua puluh meter di tepi rawa sana. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here