TIKAM SAMURAI 256

SUMBARTIME.COM-Letnan itu memutuskan meneruskan pengejaran. Dia tahu, pengejaran harus dia lakukan. Sebab dia sudah mendengar perintah komandannya, sebelum berhasil menangkap ke empat pelarian itu mereka tak dibolehkan pulang ke markas!

Letnan Cowie memutuskan istirahat di balik sebuah jeram air terjun. Belantara yang sudah mereka lewati sepanjang dua hari dua malam ini nampaknya benar-benar belum pernah disentuh kaki manusia. Dia dengan teguh menuruti petunjuk si Bungsu, agar menjaga arah pelarian, tetap menuju ke arah barat.

Iklan

Kendati medan yang harus mereka tempuh semakin berat, namun dia tetap mengarahkan jalan ke arah matahari terbenam. Di hari ketiga, menjelang tengah hari mereka sudah meninggalkan belantara yang datar dan berawa. Dari kejauhan mereka melihat bukit-bukit yang menjulang.

Ketika menemui sebuah sungai yang cukup besar dan berair jernih, mereka mengikuti alur sungai itu ke arah hulu. Semakin jauh ke hulu semakin sulit medan yang harus mereka tempuh. Mendaki bukit batu cadas terjal dan menuruni tebing curam.

Namun mereka semua yakin, apa yang diucapkan lelaki Indonesia itu tentang helikopter tempur yang menjemput Kolonel MacMahon. Helikopter itu datang dan pergi ke arah barat, ke arah perbatasan Kamboja.

Lewat tengah hari, mereka tiba-tiba menemukan sebuah air terjun dua tingkat yang selain tinggi dan terjal, juga sangat indah. Di bahagian bawah, di mana air terjun itu terhempas, tercipta sebuah danau selebar lapangan bola volli. Di seluruh tepinya adalah hamparan pasir putih yang landai. Sedikit bahagian yang terjal dan berbatu-batu besar ada di bahagian air itu menghujam dari ketinggian sekitar lima puluh meter.

Di bahagian itu pula tercipta pelangi yang melengkung dari sisi kanan ke sisi kiri. Seolah-olah sebuah jembatan yang terbuat dari selendang. Sungguh-sungguh teramat indah.

Baik di danau kecil tempat air itu menghujam maupun di sungai yang dalamnya hanya sekitar dua meter, yang mengalirkan air yang amat jernih ke arah danau berpelangi itu, terlihat dengan jelas ikan-ikan mulai dari sebesar telapak tangan sampai sebesar paha lelaki dewasa hilir mudik. Jumlahnya ratusan!

“Ya Tuhan, saya hampir tak yakin bahwa ada tempat yang begini indah di tengah belantara yang belum pernah ditempuh manusia ini…” desis Cowie sembari menatap dengan mulut separuh ternganga ke arah air terjun tersebut.

Lalu ketiga mereka, termasuk Jock Graham yang demamnya sudah benar-benar sembuh, segera mencebur ke sungai dengan dasar pasir yang amat putih itu. Minum air tawar sepuas hati mereka, sembari mencoba menangkap ikan yang kelihatannya seperti jinak-jinak merpati. Smith yang gagal menangkap ikan, segera kumat lagi penyakit bercarut-carut dan sumpah serapahnya.

Semua sumpah serapah yang sudah beberapa hari istirahat dari mulutnya, kini berham buran. Dimakinya ikan-ikan sebesar betis yang lepas dan lepas lagi, padahal sudah tersentuh oleh tangannya.

Makian dan sumpah serapahnya sungguh teramat lengkap. Mulai dari ikan berpantat kurap, ikan kena sipilis, ikan pukimak, ikan impoten, ikan panau, ikan mirip beruk, monyet-gorila. Hampir delapan tahun bertugas bersama Smith, Cowie tahu makian anak buahnya itu hanya asbun, asal bunyi.

Kegembiraan yang sangat, bebas dari buruan dan berada di tempat yang seolah-olah sebuah sudut sorga di atas dunia ini, menyebabkan mereka semua melupakan segala rasa penat dan rasa takut. Apalagi di bahagian kanan air terjun itu ada hutan pisang emas dan beberapa pohon durian yang buahnya sedang ranum.

Tuhan nampaknya memang melimpahi sepenggal wilayah jauh di tengah belantara Vietnam Selatan itu dengan rahmat yang amat luar biasa. Sebagai tentara yang sudah malang melintang dalam berbagai medan tempur, yang sudah menjelajahi banyak sekali wilayah, Cowie yakin di balik tirai air terjun itu pasti ada tempat yang aman untuk berteduh. Dia segera melangkah ke sana. Dari sisi sebelah timur dia menyelinap di antara air terjun dengan dinding batu.
Benar!

Di belakang air terjun itu ada sebuah goa berbentuk ruangan sekitar tiga kali tiga meter. Lantainya memang tak begitu datar, namun tempat itu merupakan tempat yang luar biasa indah dan nyaman untuk tempat tinggal. Ruangan di balik air terjun itu tak kelihatan dari luar.

Tertutup oleh curahan air terjun yang tak putus-putusnya, yang lebarnya sekitar enam meter. Namun dari dalam goa kecil itu pemandangan bisa menembus air terjun tersebut. Semua yang ada di bahagian depan, hamparan pasir empat meter di kiri dan empat meter di kanan sungai kecil tersebut, sejauh lima puluh meter ke hilir sungai kelihatan dengan jelas.
Menemukan sorga di tengah belantara itu, ketiga pelarian tentara Amerika tersebut benar-benar bergembira, memekik-mekik seperti kanak-kanak yang mendapat permainan baru.

“Saya akan membangun istana di sini. Akan cari cewek Vietnam untuk isteri…” ujar Smith.
“Saya akan jadi nelayan. Ikan-ikan ini akan saya kembangbiakan, untuk dijual ke Washington…” ujar Jock Graham.

“Kalau begitu saya akan menjadi eksportir pisang dan durian. Saya akan menjual pisang dan durian ini ke New York dan Hollywood. Agar bintang-bintang film Hollywood tak berkurap pantatnya. Hei, Cowie! Apakah ada bintang Hollywood yang tak berkurap pantatnya…?”

Cowie yang sedang berbaring di pasir putih itu hanya tersenyum. Namun semua kegembiraan itu lenyap tiba-tiba, menguap seperti kabut pagi disergap terik matahari. Begitu Tim Smith usai dengan sumpah serapahnya, tiga tembakan menghajar sekitar tempat mereka.

Cowie sampai terlambung saking kagetnya, Tim Smith ternganga dan menggigil di dalam air. Durian di mulutnya sampai terlompat keluar. Jock Graham yang sedang menyusun-nyusun kayu kering untuk perapian membakar ikan, langsung melompat ke balik pohon pisang, tak jauh dari tempatnya tadi menyusun kayu perapian.

Smith tak berani bergerak dari dalam air. Kepalanya saja yang nongol di permukaan air. Matanya liar menatap ke kiri dan kanan. Dia merasa tak ada gunanya lari ke darat, sudah terlambat. Jika dia bangkit, dia akan menjadi sasaran tembak. Cowie berlindung di balik sebatang kayu, tak jauh dari Jock Graham.

Suasana tiba-tiba dicekam sepi yang mencekik. Cowie merasa heran, arah tembakan itu rasanya berasal dari goa di balik air terjun. Yaitu tempat di mana mereka meninggalkan dua buah bedil rampasan yang mereka bawa dalam pelarian selama dua hari ini. Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah air terjun tersebut.
“Hallo…..”

Semua masih terdiam karena terguncang oleh ketakutan yang sangat tiba-tiba. Lalu… di balik tirai air itu, kelihatan seseorang muncul memegang bedil. Begitu melihat orang yang baru menembak mereka itu, yang tak lain dari si Bungsu, terdengar makian Tim Smith bertubi-tubi.
“Pukimak! Sundal! Sipilis! Monyet kurap! Pantat kurap….!”

Cowie dan Jock Graham juga menyumpah panjang pendek. Namun Cowie segera sadar, apa yang dilakukan orang itu adalah peringatan halus pada mereka. Bahwa adalah suatu pekerjaan sia-sia berada di hutan liar ini tanpa bedil. Apalagi meninggalkan bedil di tempat yang jauh dari mereka.

Mereka berdiri dan berjalan menyongsong si Bungsu dengan senyum lebar karena lega. Tidak demikian halnya dengan Smith. Dia menyelam, kemudian muncul dengan sengenggam pasir. Pasir itu dia lemparkan ke arah si Bungsu. Berkali-kali dia lakukan hal itu, sambil mulutnya tetap saja bercarut panjang pendek.

Bahkan, dia tetap saja melempari si Bungsu dengan pasir, tatkala Cowie dan Jock Graham memeluk si Bungsu. Ketiga orang tersebut dibuatnya mandi pasir. Tapi akhirnya dia juga tak mau ketinggalan. Dia melompati ketiga orang yang tengah berpelukan itu.

Kendati tubuhnya kurus kerempeng, namun akibat terpaan loncatan tersebut semua mereka jatuh saling tindih dan berguling-guling di pasir putih dan landai tersebut, diiringi gelak tawa berderai. Sungguh ini pertemuan yang luar biasa. Mereka tak menyangka akan bisa disusul dan ditemukan si Bungsu secepat itu.

Namun, sebagaimana sudah dijanjikan si Bungsu, dia akan segera menyusul dan menemukan mereka, hal itu bisa dibuktikan kini. Baik Cowie, Smith maupun Jock Graham tak bisa lain dari pada mengakui bahwa orang Indonesia yang sepintas kelihatan “biasa-biasa saja” ini sesungguhnya adalah seorang yang amat luar biasa.

Mereka bisa lolos tanpa hadangan sedikit pun dari puluhan tentara Vietnam malam itu benar-benar berkat keahlian orang Indonesia ini mengecoh para pemburu tersebut. Ketika baru berangkat, mereka mendengar tembakan sahut bersahut di belakang mereka.

Cowie mengajak kedua temannya untuk berdoa bagi keselamatan lelaki dari Indonesia itu. Sesaat mereka berhenti dalam kegelapan. Kemudian membaca doa untuk keselamatan orang yang menolong mereka itu, yang kini sedang dihujani tembakan, dan menutup doa dengan tangan mereka membuat tanda salib di kening dada masing-masing.

Setelah itu tanpa menoleh lagi, mereka segera merunduk-runduk. Menghindar dari tempat itu secepat dan sejauh mungkin!

Kini keempat mereka sudah berkumpul. Ketika ditanya mengapa secepat itu dia bisa menyusul, si Bungsu bercerita ala kadarnya. Semula, beberapa saat setelah dia menyuruh ketiga orang itu melarikan diri arah ke barat, dia bertahan di balik sebuah pohon besar yang tumbang. Dari sana dia menembaki tentara Vietnam, untuk mengalihkan perhatian mereka.

Saat akan pergi dari kayu besar tempat dia bertahan itu, tiba-tiba saja perutnya memilin-milin. Kalau saja sabut dimasukkan ke perutnya yang memilin-milin itu, hampir bisa dipastikan akan dihasilkan tali yang alot, saking kuatnya perutnya memilin. Di antara tembakan yang dar…dor… der… darrrr…. dia teringat baru saja memakan buah rukam yang ranum. Rukam yang batangnya penuh duri itu buahnya persis buah anggur.

Hanya bedanya, jika anggur manis, maka rasa buah rukam berbaur antara sepat, asam dan manis. Yang paling mendominasi di antara ketiga rasa itu tentu saja sepat dan asam. Manisnya hanya sedikit, sekedar pelepas tanya.

Karena lapar, apalagi semasa di Gunung Sago dulu buah rukam adalah menu makanannya setiap hari, maka dia segera saja memetik belasan buah tersebut. Sambil berlindung dari incaran tentara Vietnam, dia menikmati buah rukam itu. Eh, akibat terlalu banyak makan buah rukam perutnya menjadi memilin-milin.

Dia sudah akan melangkah ke batang kayu besar tempat dia berlindung. Namun pilin perutnya sungguh kalera. Tak mau kompromi. Perutnya seolah-olah berpihak pada tentara Vietnam. Apa boleh buat, sambil membalas tembakan dua kali ke sembarang tempat. Dia lalu melorotkan celana. Lalu mencongkong.

Ketika ada balasan tembakan. Dia merunduk di balik batang tumbang itu. Diangkatnya bedilnya ke atas kayu, sambil menunduk dua tiga kali. Kemudian kedua bedil yang sudah habis pelurunya itu dia sandarkan ke kayu besar tersebut. Lalu dia pergi ke sungai kecil itu, cebok di sana.

Di antara cecaran tembakan dari tentara Vietnam, dia kembali memakai celananya. Lalu, dalam kegelapan tersebut dia naik ke kayu besar yang tumbang itu. Dengan amat mudah dia berjalan ke bahagian ujung. Di sana ada sebuah pohon besar, dengan beberapa akar besar menjulai ke bawah. Ditariknya akar itu, dia memejamkan mata.

Lalu tiba-tiba dengan bergantung di akar besar itu, tubuhnya melayang ke arah barat, melewati sela-sela batang kayu yang tumbuh rapat sekali di belantara tersebut. Beberapa orang tentara Vietnam mendengar suara mendesis di atas kepala mereka. “Kelelawar atau enggang…” bisik hati mereka.

Padahal, kalau saja hari sedikit terang, mereka mungkin akan ternganga. Sebab suara mendesis itu bukan enggang, apalagi kelelawar. Yang melintas di atas batok kepala mereka justru salah seorang dari empat pelarian yang mereka buru! Si Bungsu mirip tarzan yang berayun dari pohon ke pohon dengan mempergunakan akar, yang lazimnya disebut sebagai akar angin.

Kendati hanya sekali bisa memanfaatkan akar kayu itu, namun akar kayu itu telah membawanya keluar dari kepungan tersebut. Dia meninggalkan kepungan dengan sekaligus mening galkan seungguk “induk kentut” yang esoknya membuat komandan Vietnam yang melakukan pengepungan menjadi murka.

Dengan pengalamannya selama bertahun-tahun hidup di belantara Gunung Sago, dia tahu kapan ayunan akar kayu itu akan berhenti. Ketika ayunan akar itu dia rasa melemah, tangan kirinya masih memegang akar itu agar tubuhnya tak jatuh seperti goni buruk ke tanah.

Sementara tangan kanannya menggapai ke sisi, mencari dahan atau pohon yang bisa dipegang. Tangannya menangkap dahan yang lumayan besar. Tubuhnya bertahan di sana. Untuk sesaat tubuhnya masih berada di dahan yang baru dia pegang. Lalu akar pohon yang baru dia pergunakan untuk meloloskan diri itu dia ikatkan ke dahan di mana tangan kanannya kini berpegang.

Dengan demikian, akar itu tak kembali ke tempat awal. Hal itu perlu, sebab kalau akar itu kembali ke tempat semula, pencari jejak andal yang biasanya dimiliki tiap pasukan Vietnam, dengan mudah bisa melacak bagaimana dan kemana dia meloloskan diri. Dalam kegelapan dia naik dan menelungkup di dahan yang besarnya sebesar betis lekaki dewasa tersebut.

Bertahan dengan diam dan memusatkan konsentrasi. Dia mendengar tentara yang gelisah diserang nyamuk jauh di utara sana. Jarak antara dia dengan tentara terdekat dia perkirakan sekitar dua puluh meter. Itu berarti ayunan akar kayu itu sudah mengantarnya ketempat lain sejauh lebih kurang tiga puluh meter, kemudian dia mencari jalan untuk segera turun.

Setelah itu mulai melangkah meninggalkan tempat tersebut. Dalam waktu tak begitu lama dia berhasil menemukan tempat di mana dia meninggalkan Cowie, Jock dan Smith. Dia bisa menemukan setiap jejak yang di tinggalkan ketiga orang tersebut. Menjelang siang dia memanjat sebuah pohon besar dan tinggi.

Dari pohon itu dia memandang ke arah dari mana dia datang. Melihat kalau-kalau tentara Vietnam itu menyusul. Ada sekitar satu jam dia di pohon besar dan rindang itu, namun tak ada gerakan apapun yang dia lihat. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here