TIKAM SAMURAI 255

SUMBARTIME.COM-Hanya sesaat, lalu terdengar tembakan balasan dari belasan bedil yang lain. Demikian ramainya, seolah-solah akan merobek belantara tersebut.

“Kita pergi, sekarang…!” ujar Cowie sambil bangkit memapah Jock Graham.
“Saya bisa berjalan. Kondisi saya sudah jauh lebih baik…” ujar Jock Graham yang memang merasakan kondisinya tubuhnya lebih memadai setelah menelan dedaunan yang diberikan si Bungsu.
“Kalau begitu kita pergi. Jangan terpisah terlalu jauh. Go! Go….!” bisik Cowie.

Iklan

Dengan merunduk dia menyelusup diiringi Jock dan Smith di bahagian belakang sekali. Mereka keluar dari belukar lebat tempat mereka bersembunyi sejak senja tadi. Dari belakang mereka masih terus mendengar tembakan beruntun.

Kemudian disusul tembakan balasan satu-satu. Tidaklah diperlukan pengalaman perang yang berlebihan untuk mengetahui bahwa tembakan dari belasan bedil itu berlawanan arah dengan tempat mereka. Artinya, si Bungsu telah mengatur posisi mengalihkan perhatian tentara Vietnam ke arah yang berlawanan dari ke tiga tentara Amerika yang melarikan diri itu.

Ketiga tentara Amerika tersebut tahu bahwa tembakan salvo, tembakan satu-satu dari dua bedil yang dibawa si Bungsu ganti berganti, adalah upaya orang Indonesia itu untuk mengecoh tentara Vietnam. Dengan tembakan salvo dari dua bedil tersebut, ada dua hal yang difahami Cowie.

Pertama, orang-orang Vietnam tersebut tahu bahwa tembakan salvo itu dalam upaya para pelarian menghemat peluru. Kedua, dua bedil itu memberikan kesan, bahwa ke empat orang tersebut masih berkelompok. Dugaan Cowie itulah yang memang termakan oleh komandan pasukan Vietnam tersebut.

Dia memang menduga ke empat pelarian tersebut masih mengelompok. Cowie mendengar tembakan salvo si Bungsu mau pun tembakan balasan dari lima sampai enam bedil orang-orang Vietnam itu secara bergantian, semakin lama semakin jauh dari posisi mereka. Cowie tahu, hal itu disebabkan dua hal. Pertama, mereka memang sedang bergerak menjauhi tempat mereka terkepung tadi.

Kedua, si Bungsu berhasil memancing tentara Vietnam tersebut memburu dirinya yang semakin ke arah timur. Ke arah yang berlawanan dengan arah larinya Cowie dan dua temannya.

Si Bungsu sebenarnya dengan mudah bisa berputar dan tiba-tiba berada di belakang salah seorang para pemburunya. Dia mengenal belantara seperti mengenal garis di telapak tangannya.

Namun dia tak melakukan hal itu. Karena tujuannya hanya ingin memperjauh jarak antara tentara Vietnam ini dengan Cowie, Smith dan Jock Graham. Tujuannya bukan untuk membunuh. Kemudian beberapa tembakan balasan menghajar kayu besar tempatnya berlindung, si Bungsu memekik. Kemudian diam.

“Mereka kena…!” desis komandan regu Vietnam kepada sersan di sebelahnya.
“Sudah dua yang kena…” ujar sersan tersebut.
Sebab tadi dia juga mendengar pekik kesakitan dalam kecamuk tembakan.
“Tinggal dua lagi. Saya yakin dua orang yang kena tembak itu segera mati. Kondisi mereka sudah amat buruk saat di lobang penyekapan…” ujar si komandan.

Melalui perintah beranting, dari mulut ke mulut, dia menyuruh cek berapa pasukannya yang tertembak. Tak berapa lama, pesan beranting itu sampai kembali kepada si komandan. Ada dua anak buahnya yang tak diketahui nasibnya dan sembilan orang mereka yang tertembak. Namun sembilan yang tertembak itu nampaknya bernasib baik. Tak seorang pun yang mati.

“Siapa kedua orang yang tak bertemu itu?” tanya si komandan.
Sersan yang berada di sebelahnya menyebut dua nama. Tak seorang pun di antara mereka yang tahu, bahwa kedua teman mereka itu tergeletak lumpuh kena totok.Pengejaran dan pengepungan ini amat melelahkan. Ke empat tentara Amerika yang mereka buru seperti tahu saja di mana posisi mereka. Tembakan ke empat orang itu hampir bisa dipastikan selalu memakan korban.

Si komandan melihat jam tangannya. kegelapan yang mencekam yang angka-angka dan jarumnya memakai radium yang menyebabkan angka dan jarum jam tersebut bersinar hijau dalam kegelapan. Semakin gelap hari, semakin jelas cahaya yang dipancarkan radium pada angka dan jarum jam tersebut.“Sudah pukul empat lewat…” ujarnya.

Dia lalu kembali memberi perintah beranting untuk memperkecil jepitan pengepungan dengan sistem tapal kuda. Dia memerintahkan ada yang ditangkap hidup-hidup untuk diinterogasi. Kini tugas utama adalah memperkecil jepitan kepungan, kemudian tunggu matahari terbit. Baru disergap.

Menjelang itu, bertahan sambil berjaga agar tak ada yang lolos. Bisik berisi perintah itu diteruskan si sersan secara berantai. Orang pertama yang mendengar pesan itu segera merayap atau berjalan membungkuk-bungkuk lima atau enam depan ke sampingnya, sampai bertemu dengan temannya yang lain.

Lalu menyampaikan pesan si komandan. Saat pesan kedua bergerak ke kanan atau ke kiri untuk menyampaikan pesan pada orang berikutnya, yang menyampaikan pesan pertama kembali ke posisi semula.

Demikian cara menyampaikan pesan beranting dalam pertempuran dimanatak ada radio atau isyarat lain yang bisa di lihat. Ketika si komandan merasa isyaratnya sampai kesayap kiri maupun ke sayap kanan, dia melakukan uji coba untuk mengetahui apakah buruan mereka masih berada di titik sasaran yang mereka perkirakan. Dia memuntahkan beberapa tembakan ke arah yang mereka perkirakan. Dia memuntahkan beberapa tembakan ke arah yang mereka perkirakan itu.

Kemudian mereka menanti.Tak berapa lama, dua tembakan balasan terdengar menggema. Dan si komandan bercarut marut dengan wajah pucat, karena salah satu peluru nyaris menyambar pipinya.Tapi dia merasa lega. Orang yang mereka buru masih berada di depan sana.

“Sebentar lagi! Tunggulah sebentar lagi! Begitu cahaya pagi turun kau ku
bekuk. Dan kau harus menjilat pantatku. Harus! Jika tidak, akan ku sayat daging pipi, paha dan betismu. Akan ku patahkan jari kakak dan jari tanganmu satu persatu. Akan ku cabuti gigimu satu demi satu…”desis si komandan dengan kebencian memenuhi hampir seluruh pembuluh darahnya.

Betapa dia takkan dendam, dia sudah bisa menebak hukuman atau paling
tidak cemooh yang akan dia terima sekembalinya ke markas besok. Memburu empat pelarian yang kurus kerempeng, sakit-sakitan dan kelaparan, ada sembilan anak buahnya yang luka tertembak. Yang dua lagi mungkin sudah mati, cemooh semakin tak bisa di bayangkan.

Masih untung kalau dia hanya mendapat cemooh bisa-bisa turun pangkat dan tak di beri jabatan apapun. Dia bersandar di pohon besar sambil memejamkan mata.

Dia yakin buruan mereka takkan lolos. Dia yakin anak buahnya sudah
melakukan kepungan yang ketat. Tak mudah orang bisa meloloskan diri. Dia yakin itu, karena mereka sudah sangat terlatih bertempur, mengepung dan menjebak tentara Amerika dalam pertempuran belantara begini. Baik siang maupun malam hari. Sudah belasan kali mereka melewati peperangan di belantara seperti ini. Malah kali ini sebenarnya sungguh sebuah pertempuran yang sangat ringan.

Biasanya, dalam setiap pertempuran mereka selalu di hujani peluru mortir
atau peluru senapan mesin. Lagi pula, biasanya musuh mereka jumlahnya
selalu lebih banyak! kini, yang mereka hadapi hanya empat orang. Itupun
keadaannya hanya compang-camping.

Usahkan mortir ataupun senapan mesin senapan semi otomatis yang mereka miliki pun nampaknya sudah kehabisan peluru. Itu di buktikan dari beberapa kali tembakan balasan yang terdengar dari orang yang mereka kejar. Malah ketika dia perintahkan pasukannya tidak menembak,t etap tak ada tembakan balasan.

Waktu merangkak perlahan.S komandan tersentak saat si sersan mencowel
bahunya.Rupanya dia tertidur.Sayup-sayup terdengar kokok ayam hutan.Dia melihat jam tangannya. Sudah pukul lima lewat, namun hutan itu masih sangat gelap. Di menoleh kearah di mana pelarian itu di duga sudah mereka’kunci’.

Tak ada yang kelihatan, masih sangat gelap. Di luar belantara cahaya sudah cukup terang. Dia mengambil sebuah ranting kecil. Mematahkannya jadi dua potong, masing-masing sepanjang dua jengkal. Yang satu di bagikan kepada sersan yang di kiri, satunya kepada yang kanan.

Tanpa sepatah katapun, karena sudah memahami yang di inginkan sang
komandan, kedua sersan itu merayap. Yang kiri ke arah kiri, yang kanan ke arah kanan. Setelah merayap beberapa jauh mereka bertemu dengan teman mereka, mereka serahkan ranting tersebut. Seperti meneruskan pesan lisan berantai sebelumnya, terutama saat terkepung maupun mengepung. Saling membangunkan dan atau untuk mengontrol.

Mengontrol apakah jumlah personel masih lengkap atau tidak. Memakan
waktu hanya setengah jam, kedua ranting itu kebali ke tangan sang
komandan. Si letnan mengambil penples air di pinggangnya. Dia memang sudah menyuruh bagian dapur untuk selalu mengisi penplesnya itu dengan kopi yang di beri gula sedikit. Di teguk kopi itu dengan nikmat. Kedua sersan yang ada di kiri kanan nya berbuat hal yang sama.

Hari sudah pukul enam lewat saat sang komandan memberi perintah dengan suara tembakan, untuk memulai penyerangan ke arah pelarian yang sejak semalam sudah mereka”kunci”. Hanya beberapa detik setelah tembakan pertama si letnan, kesunyian belantara itu di robek oleh dengan suara-suara letusan bedil.

Dalam cahaya pagi yang sudah mulai terang-terang tanah, mereka melihat tempat yang di jadikan pelarian tentara Amerika itu adalah sebuah pohon besar yang tumbang melintang panjang.

Bukan main,rupanya mereka mendapat tempat perlindungan yang kokoh. Si letnan membari perintah agar pasukannya yang berada di belakang pohon tersebut segera merengsek maju, sementara dia dan belasan tentara lainnya melindungi dari tempat mereka, demikian cara denikian tak ada lagi celah bagi pelarian itu untuk lolos. Dari arah kiri dan kanan delapan tentara Vietnam itu merengsek maju ke tempat perlindungan tentara Amerika tersebut.

Saat kedelapan tentara itu mendapatkan posisi yang baik, ganti ujung lainnya yang maju dan mereka pula yang melindungi. Karena belantara sudah cukup terang, dengan cepat mereka bisa maju. Dalam tiga kali bergerak tiap ujung yang menjepit itu, mereka kini sampai ke dekat pohon itu. Salah satu tentara yang maju itu melihat sebuah ujung bedil di balik pohon besar itu.

Tentu saja dia tahu kalau di ujung pangkal bedil itu pasti ada orangnya. Dengan gerakan yng cepat dia melangkah kearah kanan sambil melepaskan tembakan gencar ke arah semak ujung pangkal bedil itu. Mereka juga bergerak cepat dengan menghujani tembakan ke arah persembunyian pelarian itu, tapi mereka lupa pesan komandannya tadi malam kalau salah satu dari pelarian itu harus di biarkan hidup.

Mereka berfikir, daripada orang yang mereka buru lolos, atau malah balas menembak, sehingga nyawa mereka pula yang terancam, lebih baik membunuh saja keempat pelarian itu! Usai rentetan tembakan yang panjang itu tiba-tiba suasana menjadi sepi! Mereka menunggu.

Tak ada reaksi atau balasan apapun dari keempat pelarian tersebut. Usah kan balasan tembakan, gerakan saja pun tak terlihat dari arah sekitar bedil tersebut. Kedua bedil itu sudah terpental ketika kena hajaran peluru. Mereka lalu menyergap dengan bedil terhunus ke tempat itu.
Dan…

Mereka semua, sekitar dua belas tentara Vietnam yang merangsek maju ke dekat pohon tumbang itu, pada tertegak kaku! Si Komandan, yang memperhatikan dari jarak sekitar dua puluh depa, menatap dengan tegang ke arah anak buahnya tersebut.

Dia menjadi agak heran juga, melihat belasan anak buahnya itu tiba-tiba tertegak diam di seberang pohon besar yang tumbang itu. Dia memberi isyarat kepada anak buahnya, menanyakan apakah keadaan aman. Anak buahnya yang tak berada dekat pohon tumbang itu memberi isyarat aman.

Si letnan segera melangkah ke lokasi yang sudah dikepung belasan prajuritnya. Dia faham sudah, ke empat pelarian itu sudah jadi mayat. Tak apalah. Yang penting perburuan yang melelahkan ini selesai sudah. Walau pun dia tak bisa mewujudkan niatnya, tak apalah. Yang jelas dia bisa kembali dengan membawa kepala ke empat pelarian itu. Kepalanya saja! Bikin apa membawa-bawa tubuh mereka. Menambah-nambah beban saja. Bukankah komandan mereka sudah memerintahkan agar membawa kepala para pelarian itu ke markas?

Si letnan pun sampai ke tempat tersebut. Dia melompat naik ke kayu besar yang tumbang itu. Dari sana dia menatap ke bawah, ke arah tempat yang sudah dikerumuni belasan pasukannya. Dan, sebagaimana anak buahnya, dia juga ikut tertegun tatkala melihat tempat yang dikepung itu.

Kecuali dua buah bedil yang sudah sompeng popornya dimakan peluru, tak ada siapa pun di sana! Jangankan empat pelarian yang mereka buru, kentut pelarian itu pun tak lagi terlihat! Dia hampir tak mempercayai penglihatannya. Di tempat itu memang ada belasan selongsong peluru, dan bekas orang tiarap.

Memang tak ada kentut, tapi yang membuat sakit hati si komandan adalah ketika melihat di antara bekas belasan selongsong peluru itu, orang yang mereka buru ternyata meninggalkan embahnya kentut.

Sungguh mati, di sana mereka melihat seonggok tahi manusia! Benar-benar tahi manusia! Dan onggokan tahi itu ternyata sudah cerai berai oleh hajaran peluru anak buahnya. Ooo, sakitnya hati si letnan. Ooo remuk redam jantungnya terasa. Dulu dia dikhianati pacarnya. Sakiiiiit.. sekali. Tapi, apa yang dia lihat sekarang, sakitnya seribu eh.. sejuta kali lebih sakit dari dikhianati pacarnya dulu.
Sakiiiit sekali!

Dengan muka sebentar merah dan sebentar hijau, lalu sebentar kebiru-biruan, si letnan menatap hilir mudik. Ke arah pangkal kayu besar itu, kemudian ke arah ujungnya. Berharap di salah satu tempat yang dia lihat ada kepala atau telinga salah seorang pelarian tersebut. Agak seorang jadilah. Tapi, dia memang lagi sial.

Apa yang sudah dia bayangkan, pulang membawa empat kepala pelarian itu, habis terbenam dalam tahi yang sudah kocar-kacir oleh peluru anak buahnya. Tak ada seorang pun pelarian itu di sana.

Bahkan jejaknya, kecuali tahi dan selongsong peluru itu, lenyap seperti ditelan hantu rimba. Tubuh si letnan menggigil. Mungkin menahan marah, mungkin menahan malu. Matanya melirik ke kanan, ada air mengalir sedalam lebih kurang setengah meter dengan lebar aliran satu meter. Dia menyumpah dalam hatinya.

Orang yang mereka buru itu nampaknya sengaja meninggalkan “induk kentut”nya. Sebab, lazimnya orang akan buang air besar di air yang mengalir. Sekalian bisa membersihkan dirinya usai buang hajat. Tapi orang ini nampaknya sengaja buang air di darat.

Agak jauh dari air yang mengalir, dengan maksud mempermalukan para pemburunya. Oo sakitnya hulu jantung si letnan.
“Buru mereka….!!” hardiknya dengan muka merah padam.
Salah seorang pasukannya, seorang berpangkat sersan yang ahli pencari jejak, menghampirinya. Bicara perlahan. Letnan itu mendelik. Bicara beberapa patah. Si sersan memberikan penjelasan, sambil menunjuk ke satu arah. Si letnan menoleh ke arah yang ditunjuk. Puluhan anak buahnya menanti.

“Apakah waang tidak salah?” hardiknya berang.
“Tidak, Let! Saya sudah periksa semua penjuru dengan sangat teliti. Jejak orang itu hilang di batang besar ini. Hanya ada dua kemungkinan kenapa hal itu bisa terjadi. Pertama punya sayap, sehingga bisa terbang….”

Ucapannya terhenti karena sebuah tempelengan dari letnan itu mendarat di pipinya. Bibir sersan pencari jejak tersebut pecah dan darah merembes perlahan. Dia dianggap berolok-olok dalam situasi gawat dan memalukan itu, dengan mengatakan ada manusia bersayap dan bisa terbang. Si sersan memahami kekeliruannya. Dia mengambil sikap sempurna. Kemudian meminta maaf, lalu melanjutkan penjelasan

“Saya bisa memastikan yang berada di sini malam tadi hanya seorang di antara empat pelarian itu, Letnan. Dia sengaja memancing kita memburu dirinya, sehingga tiga temannya yang lain punya kesempatan lolos dari pengejaran. Dan orang yang seorang ini adalah orang yang sangat mengenal belantara. Demikian mahirnya dia, sehingga kami tak bisa melihat sebuah tempat pun di sini, bekas yang diinjaknya, kecuali tempat dia bertahan, kemudian buang air besar itu….”

Si sersan mengakhiri penjelasannya. Letnan tersebut menoleh kepada seorang kopral, anggota pencari jejak yang satunya lagi. Di pasukannya itu memang ada dua pencari jejak. Namun yang amat mahir adalah si sersan yang barusan melapor. Si kopral mengangguk, membenarkan urai­an sersan tadi.
“Kalian tak menemukan jejaknya sedikit pun…?”

“Jejaknya tidak, Letnan. Tapi saya bisa menduga, dia kembali ke tempat awal di mana kita pertama membuat formasi berbanjar untuk mengejar mereka senja kemarin. Di sana dia berpisah dengan teman-temannya.

Dia sengaja memancing kita dengan membawa dua bedil dan peluru yang memadai, sehingga kita menyangka mereka masih tetap empat orang. Pada saat kita mengejarnya ke arah ini, teman-temannya punya kesempatan melarikan diri ke arah yang berlawanan.

Saya rasa mereka sudah sangat jauh. Mengenai orang yang tadi malam bertahan di sini, melihat ke mahirannya memancing kita kemari, dan kemahirannya mengenal setiap lekuk liku belantara ini, saya rasa sudah hampir mencapai ketiga orang lainnya itu. Dengan kemahirannya dia pasti bisa berjalan dengan cepat sekali dalam belantara lebat ini…” ujar si sersan mengkhiri penjelasannya.

Bukan main sakitnya hati si letnan. Bukan mendengar uraian pencari jejak tersebut. Melainkan pada kebodohan dirinya, yang mudah saja dikecoh. Tadi pun, sebelum si sersan bertutur, dia sudah menduga-duga seperti itu. Namun dalam hal mencari jejak di belantara, dia memang mengandalkan si sersan.

Kini dia benar-benar tak tahu apa yang harus dia lakukan. Bagaimana mungkin dia bisa kembali ke markas mereka? Kembali dengan membawa cerita bahwa di akhir pengepungan mereka hanya berhasil menemukan seungguk induk kentut? Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here