TIKAM SAMURAI 214

SUMBARTIME.COM-Beberapa tentara di tepi rawa tersebut,yang tegak didekat si komandan,menerangi kelima tentara di rawa itu dengan cahaya senter.Saat itu si pencari jejak merasa ada yang ganjil di air.dia sorot sesuatu yang ganjil yang membuatnya tidak tentram.
Di air rawa ada cairan lain yang tak senyawa.Dia raba cairan yang kehitam-hitaman di sekitar mereka tegak itu,yang berbeda dari air di bahagian lain.

Ketika air itu dia sauk dengan telapak tangan,kemudian membawanya keatas dan menyorotinya dengan cahaya senter,tiba-tiba bulu kuduknya meriinding.

Iklan

“Darah…”Desisnya.
Bagi keempat temannya yang lain,yang sama-sama berada di air setinggi paha mereka,ucapan si pencari jejak tak begitu menarik.
“Darah apa…?”tanya sersan yang tadi berteriak.

Namun si pencari jejak tak menjawab.Bulu tengkuknya merinding.Dia sudah pernah kerawa ini sekali.Dan dia tahu persis,rawa ini merupakan sarang buaya. Di dalam air,buaya mampu mencium kehadiran darah dari jarak ratusan meter.

“Jebakan!ini sebuah Jebakan!”bisik hatinya dengan mata nyalang menatap semak-semak di sekitarnya. Si pencari jejak ini segera arif, bahwa salah satu dari empat orang yang mereka buru ini pastilah orang yang sangat mengenal hutan belantara, rawa dan seluruh penghuninya.

Itu bisa di buktikan,pertama jejak mereka yang sulit di cari di dalam hutan tadi.jika tanpa bantuan abjing pelacak dan suara tembakan,belum tentu mereka sampai di tepi rawa ini.Mungkin mereka masih berputar-putar didalam hutan.

Sebab jejak yang ditinggalkan pelarian itu sangat susah untuk di temukan.Kemudian cara orang ini menjebak anjing-anjing pelacak dengan daging ular yang amat gurih dan harum itu.Tak sembarang orang bisa mengetahui hanya dengan daging ular yang bisa menahan seekor anjing pelacak.

Kemudian darah dirawa ini.Dia yakin,darah ini bukan darah salah seorang pelarian.Ini adalah darah yang sengaja diserakkan untuk memancing kedatangan mereka.Dan darah ini disebar ditempat ini,bukan di pinggir rawa tentulah dengan maksud tertentu.

Kalau di pinggir rawa,tak kan ada yang celaka.sebab,orang bisa dengan mudah lari kedarat.Tapi tempat ini sudah sekitar dua puluh meter dari tepi rawa.Air sudah setinggi paha.Sudah tak mudah untuk berlari kencang.

Si pencari jejak yang faham bahwa mereka sedang di jebak menyorotkan senternya ke air.Apa yang dia takutkan benar-benar terjadi.Di bahagian kirirnya ada dua batang yang bergerak,makin lama makin cepat.
“Awas,buaya!Lari…!!”serunya sambil ambil langkah seribu.

Namun terlambat sudah,tempat mereka berdiri sudah di kepung oleh lima atau enam buaya yang memang datang ketempat itu karena mencium darah.pencari jejak itu tak bisa mengelak tatkala seekor buaya menyambar pahanya dengan cepat dan menariknya kedalam air.

Empat temannya yang tadi tak begitu terkejut,namun karena melihat si pencari jejak lenyap,mereka mulai panik.Sebelum mereka tahu penyebab si pencari jejak lenyap,giliran si sersan yang tadi berteriak-teriak tiba-tiba tersentak tubuhnya,dia meraung.Tubuhnya di tarik ketengah rawa.
“Tolooong…tembakkk…..!!Tembak buaya iniii..!!”pekik si sersan.

Tangan kanannya yang berbedil menggapai-gapai.Bedil itu tak bisa dipergunakan.Tangan kirinya yang memegang senter yang masih menyala di pukul-pukulkan kekepala buaya besar yang mencengkram pahanya.

Namun ketiga temannya hanya terlongo-longo
Mereka masih dicekam rasa kaget dan terkesima.Dan saat itu pula dua buaya menyambar dua tentara yang masih menatap ketubuh si sersan,yang sedang timbul tenggelam di seret buaya ketengah rawa sana.Kedua mereka tadi sudah memegang bedil terkokang.

Begitu kakinya disambar buaya telunjuknya tertarik picu bedil.Rentetan tembakan diiringi lolong dan pekik panjang segera memecah kesunyian malam.Pekik dan tembakan itu menyebabkan belasan teman mereka yang masih berada di tepi rawa pada berkerumunan dan menatap ketengah rawa di mana mereka berada.

“Lari!lari!Ayo kembali kemari…!”ujar para tentara itu pada satu-satunya teman mereka yang masih tegak di tengah rawa tersebut.
Si tentara yang seorang ini segera sadar,bencana yang menimpa teman-temannya segera bisa menimpa dirinya pula.mendengar teriakan temannya,dia segera menghambur berlari kedalam air setinggi paha itu.

Malangnya dia salah dalam memilih tempat menghambur. Dia memutar badan ke arah belakang, bermaksud lari ke arah dari mana mereka tadi datang. Tapi itulah kesalahannya. Sebab di belakangnya seekor buaya besar sudah sejak tadi menanti dengan mengangakan mulutnya lebar-lebar.

Si tentara yang sudah memutar badan, dan sudah mengayunkan langkah lebar untuk kabur, pada detik terakhir baru tahu bahwa di belakangnya ada neraka yang amat menakutkan. Padahal langkah sudah diayunkan sekuat tenaga untuk lari.
Dia mencoba merubah arah ke kanan, agar langkahnya tak langsung menuju ke mulut buaya itu. Namun karena sudah dicekam takut kakinya yang berada di dalam air tergelincir. Dia kehilangan keseimbangan.

Tanpa ampun tubuhnya justru jatuh ke dalam mulut buaya yang sedang ternganga lebar itu. Mulut bergigi seperti gergaji itu segera terkatup dengan kepala si tentara persis berada di dalam!
Dalam waktu sekejap rawa itu sepi. Ada tiga buah senter yang tenggelam ke dasar danau yang dangkal. Cahayanya nampak menari-nari dalam air yang berge-lombang akibat pergumulan manusia dengan hewan.

Pergulatan kelima orang itu dengan buaya, disaksikan oleh komandannya dan belasan teman-temannya yang lain dari tepi rawa. Tak satu pun bantuan yang bisa mereka berikan. Mereka mahir menembak. Tapi ke arah mana tembakan harus diarahkan?

Sungguh suatu pemandangan yang tak bisa dibayangkan betapa dahsyat dan mengerikannya, tatkala melihat teman-teman sepasukan lenyap satu demi satu ke dalam air, diseret buaya untuk dijadikan santapannya!

Matinya si pencari jejak tersebut sangat menguntungkan pelarian si Bungsu dan teman-temannya. Kalau mereka selamat, mereka pasti melaporkan kepada komandannya bahwa ada jebakan di dalam rawa tersebut.

Namun dengan matinya si pencari jejak bersama empat temannya yang lain di rawa maut itu, tidak hanya memu dahkan pelarian mereka, tetapi sekaligus juga menyebabkan pemburuan diakhiri.

“Tak seorang pun yang bisa selamat memasuki rawa ini. Mereka yang kita buru itu juga pasti sudah terlebih dahulu menjadi santapan buaya atau ular…” ujar si komandan yang memimpin pengejaran itu, setelah menyenter permukaan rawa belantara tersebut beberapa saat.

Ketika subuh hampir turun, dia memerintahkan seluruh pasukan pemburu itu segera meninggalkan pinggir rawa, kembali ke markas mereka. Saat itu, di tengah rawa sana, hanya sekitar dua ratus meter dari tempat belasan tentara Vietnam itu menarik diri, para pelarian tersebut sedang berada di dahan kayu, sekitar semeter dari permukaan air. Namun mereka hanya bertiga.

Si Bungsu tak ada di sana. Rawa itu sudah mulai terang-terang tanggung oleh cahaya subuh yang mulai datang. Pandangan mereka hanya mampu menembus beberapa meter ke depan. Kabut akibat uap air nampak menggantung rendah di permukaan air rawa.

Mereka sungguh dibuat takjub oleh ramuan yang malam tadi disuruh si Bungsu agar diusapkan ke tubuh mereka.
Semula mereka menuruti perintah itu dengan perasaan antara percaya dan tidak.

Ternyata apa yang dikatakan lelaki dari Indonesia itu benar belaka adanya. Usapan getah daun berwarna merah, yang diambil si Bungsu dari dalam air rawa, yang kemudian diremasnya, ternyata tidak hanya menyebabkan mereka tak didekati nyamuk atau lintah, bahkan mereka tak merasa kedinginan sedikit pun.

AWALNYA, ketika masih dalam perjalanan mengarungi danau, rombongan si Bungsu dikejutkan oleh suara pekik dan tembakan dari pinggir danau. Si Bungsu berhenti sesaat, orang-orang di belakangnya juga berhenti. Dalam gelap dan suasana mencekam mereka menanti dengan diam.
“Tadi, saat akan memutar arah, untuk apa Tuan melemparkan kepala ular yang terpotong lehernya itu ke dalam rawa?” bisik Thi Binh yang masih berada dalam bopongan si Bungsu.

“Darah amat merangsang penciuman buaya. Mereka mampu mencium bau darah di dalam air dari jarak dua ratus sampai tiga ratus meter. Mereka pasti akan memburu ke sana. Dengan demikian, kita bisa aman bisa buat sementara, karena perhatian dan selera mereka tersedot ke arah darah dari kepala ular itu.

Mudah-mudahan tentara yang memburu kita juga menuruti jejak kita tadi. Mereka ke tempat kepala ular itu, baru kemudian melihat arah kita berbelok. Jika itu yang terjadi, mereka sesungguhnya sedang memasuki sarang buaya…” bisik si Bungsu.

“Apakah danau ini memang banyak buaya?” bisik Thi Binh.
“Barangkali ada dua atau tiga ratus ekor…” ujar si Bungsu.
Thi Binh merasa merinding mendengar jawaban itu. Dia menyurukkan mukanya ke dada anak muda itu. Dalam cahaya senter si

Bungsu melihat tiga depa di kanan ada pohon bercabang banyak, yang dahannya sekitar semeter dari permukaan air. Dia memperhatikan pohon itu dengan seksama.
“Tunggu di sini saya periksa pohon itu. Barangkali bisa tempat beristirahat sementara…” bisik si Bungsu pada Thi Binh sambil akan menurunkan gadis itu.

“Saya ikut…” ujar gadis itu.
“Di sana ada ular….” bisik si Bungsu.
“Biarin….” ujar gadis itu.
“Di sana ada buaya…”
“Biarin, biariiin!! Pokoknya aku ikut kemana Tuan pergi…” ujar Thi Binh.

Namun ucapan itu disampaikan Thi Binh tetap dalam berbisik, dan tangannya tetap memeluk leher si Bungsu. Si Bungsu mengalah.
Dalam posisi membopong Thi Binh itu si Bungsu beringsut perlahan mendekati pohon tersebut. Sesampainya di pohon, tangan kirinya meraba-raba dahan pohon itu. Memegang dahan itu beberapa saat, dan menatap ke rimbunan daun di atasnya.

“Oke, tempat ini aman. Kau naik ke atas…” ujar si Bungsu.
Sebelum Thi Binh faham benar apa yang dimaksud si Bungsu, dia merasa pinggulnya ditekan oleh kedua tangan lelaki dari Indonesia itu. Detik berikutnya tubuhnya sudah terangkat dan didudukkan di dahan rendah itu.

“Hei….!” protesnya.
“Diam di sini bersama abang dan ayah mu…” bisik si Bungsu, sambil memberi isyarat pada Duc Thio dan Han Doi agar mendekat.
“Naik ke dahan itu. Pohon ini aman, tak ada ular atau binatang berbisa lainnya. Tunggu saya di sini….”

Sebelum kedua lelaki itu naik ke dahan, si Bungsu sudah melangkah. Dia kembali mengikuti jejak darimana mereka tadi datang. Tak lama kemudian, sekitar lima puluh meter dari pohon yang mereka naiki, mereka mendengar pekikan dan rentetan tembakan dari tentara Vietnam yang disambar buaya itu.

Si Bungsu tak berapa jauh dari sana. Setelah tentara yang memburu mereka balik kanan, dia kembali ke tempat kawan-kawannya. Dalam perjalanan menuju pohon di mana kawan-kawannya menunggu, dia mendengar desir dan kecipak air. Dia hafal, kecipak air itu muncul akibat buaya melahap mangsanya.

Dia bergegas. Mereka harus menjauhi tempat ini, sejauh yang bisa mereka lakukan. Sebab, buaya-buaya yang lain dari berbagai penjuru rawa kini sedang menuju ke daerah penjagalan tentara Vietnam itu. Mereka datang karena terangsang oleh bau darah yang membanjir di dalam rawa, yang tumpah dari tubuh beberapa manusia yang kini tengah dilahap buaya-buaya tersebut.

“Naiklah ke dahan yang lebih tinggi…” ujarnya kepada Thi Binh dan Han Doi, sesampainya dia di pohon di mana teman-temanya itu menanti.
Dia sendiri ikut naik dan duduk berjuntai di dahan sekitar dua meter di atas air. Akan halnya Thi Binh, begitu si Bungsu duduk, dia segera meninggalkan cabang dimana dia berada. Dia duduk di belakang si Bungsu, kemudian memeluk pinggang anak muda itu dari belakang.

Tak berapa menit kemudian, rawa itu sudah agak terang karena pagi sudah datang. Si Bungsu memberi isyarat kepada Duc Thio dan Han Doi. Dia menunjuk ke bawah, dimana tadi mereka berdiri.
Air di bawah dahan dimana mereka kini berada mereka lihat bergerak. Dari gerigi yang muncul di permukaan air, mereka segera tahu, bahwa gerak air itu disebabkan buaya besar yang tengah menuju ke arah dimana malam tadi mereka datang.

Si Bungsu kembali memberi isyarat dengan telunjuk ke arah kanan dari pohon tempat mereka berada. Dengan terkejut Han Doi dan Duc Thio melihat betapa ada sekitar lima sampai tujuh ekor buaya sedang meluncur ke arah yang sama.

“Ya Tuhan. Rawa ini ternyata memang sarang buaya…” ujar Han Doi.
“Bagaimana kita meninggalkan tempat ini?” bisik Thi Binh dari belakang.
“Kita tunggu berapa saat lagi. Mereka pasti memperebutkan bangkai tentara Vietnam yang terjebak tadi. Perebutan itu juga akan menyebabkan dua sampai empat ekor buaya itu akan mati berkelahi sesamanya.

Mereka akan menyantap bangkai teman mereka sendiri. Itulah saatnya kita meninggalkan tempat ini. Dan dalam cuaca yang agak terang, kita bisa lebih bebas mencari jalan yang aman dalam rawa maut ini…” ujar si Bungsu.

Bisikannya yang cukup keras itu tak hanya di dengar Thi Binh di belakangnya, tetapi juga didengar Han Doi dan Duc Thio. Mereka masih nanap melihat buaya-buaya yang meluncur cepat ke arah hilir sana.

Tak lama kemudian, ketika tak ada lagi gerakan air di permukaan rawa, dan ketika rawa itu sudah cukup terang oleh terobosan cahaya matahari, si Bungsu memperhatikan rawa tersebut dari utara ke barat, dari selatan ke timur.

Semua mereka terpana melihat rawa dahsyat itu. Sesayup-sayup mata memandang kemana pun tatapan diarahkan, yang terlihat hanyalah air merah ke hitam-hitaman di antara belantara yang tegak mematung. Di permukaan air rawa, di sela-sela belukar maupun pohon-pohon raksasa yang tegak menjulang, mengapung kabut tipis.

Kabut itu seolah-olah ingin menutupi misteri yang tersembunyi di bawah permukaan air merah kehitam-hitaman tersebut. Air merah kehitam-hitaman itu nyaris tak bergerak, tak beriak sedikitpun.

Air gelap itu baru beriak jika ada daun atau buah kayu yang jatuh. Setelah riak-riak bundar akibat sesuatu yang jatuh ke air itu, yang makin lama makin besar dan kemudian lenyap, air rawa itu akan kembali rata. Diam seolah-olah membeku, seperti lantai batu marmer berwarna gelap dan dingin.
“Sampai kapan kita di sini?” tiba-tiba Thi Binh bertanya lagi.

Si Bungsu menoleh ke belakang. Kepada Thi Binh yang duduk dan masih saja memeluk tubuhnya. Gadis itu menatap padanya dari jarak hanya sekitar sejengkal.
“Kalau lapar…” ujar si Bungsu.

Thi Binh menatap lelaki Indonesia itu beberapa jenak. Kemudian mengangguk.
“Saya lapar sekali…” desah Thi Binh sambil menyandarkan wajahnya ke bahu si Bungsu.

Duc Thio segera membuka tas kerunjut kain yang dia sandang. Dari dalamnya dia mengeluarkan ayam yang biasanya digantung di atas tungku. Ayam itu setelah dipotong direbus, kemudian diberi bumbu, lalu dikeringkan di atas tungku.

Duc Thio menyayat daging ayam itu dengan pisau yang dia bawa. Kemudian menyerahkan sayatan terbesar kepada Thi Binh. Sayatan kedua diserahkannya kepada si Bungsu. Lalu kepada Han Doi. Kemudian dia menyayatnya untuk dirinya sendiri. Sisanya dia masukkan kembali ke dalam tas kain, bercampur dengan dua potong pakaiannya dan pakaian Thi Binh.

“Engkau tinggal di sini bersama ayahmu. Kami akan pergi mencari sesuatu untuk dijadikan sampan…” ujar si Bungsu kepada Thi Binh.
Gadis remaja itu menatap si Bungsu sambil mengunyah dendeng ayamnya, kemudian mengangguk. Kemudian melepaskan pelukan tangan kirinya dari pinggang si Bungsu.

“Tetap sajalah di sini. Pergunakan senapan ini jika ada bahaya. Saya akan pergi bersama Han Doi…” ujar si Bungsu kepada Duc Thio.

Dengan berbekal dua buah parang milik Duc Thio dan Han Doi, kemudian masing-masing sebuah bedil, si Bungsu dan Han Doi turun dari kayu tersebut. Di dalam air setinggi dada, mereka bergerak perlahan ke arah utara, yaitu ke arah pinggir rawa. Namun si Bungsu mengambil jalan memutar, yang berlawanan arah dengan tempat buaya-buaya memangsa tentara Vietkong itu.

“Engkau pernah bertempur di rawa seperti ini, Han Doi?” tanya si Bungsu, tatkala mereka berenang, karena rawa yang mereka lewati airnya sudah sangat dalam.

“Tidak. Dahulu saya hanya bertugas di desa-desa sekitar Da Nang. Hanya dua tahun bertugas sebagai tentara saya direkrut untuk menjadi mata-mata oleh Ame…” suara Han Doi tersekat di tenggorokan, setelah dia menoleh ke belakang karena mendengar ada suara aneh di belakangnya. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here