TIKAM SAMURAI 215

SUMBARTIME.COM-Matanya mendelik. Dia lupa di tangannya ada bedil. Si Bungsu yang kemudian ikut menoleh ke belakang, segera membekap mulut Han Doi kuat-kuat. Bekapan itu menyebabkan pekik orang Vietnam itu tertahan di tenggorokan.

“Jangan bersuara, jangan bergerak…” bisik si Bungsu dengan suara hampir menggigil. Semula, tatkala berjarak sekitar dua puluh depa dari tepi rawa, mereka terhalang oleh sebuah batang kayu panjang, yang nampaknya sudah lama mati dan terendam di rawa tersebut.

Iklan

Sambil tetap bercerita mereka melewati batang kayu yang mungkin besarnya sebesar paha lelaki dewasa, dan panjangnya sekitar belasan depa itu, dengan cara menyelam dan muncul di sebelahnya.

Ternyata, kayu itu adalah seekor ular raksasa yang bahagian kepalanya melilit ke sebuah kayu besar. Mungkin ketika mereka menyelam di bawah tubuh ular itu, si ular merasa terusik, dan menggeliat bangun!

Ular raksasa itulah yang pertama tertatap oleh Han Doi saat menolehkan kepala ke belakang. Ujung ‘kayu’ itu seperti segi tiga pipih, yang lebarnya tak kurang sedepa. Dari mulutnya yang pipih lancip itu tiap sebentar menjulur lidahnya yang bercabang.

Si Bungsu masih tetap membekap mulut Han Doi, dan tubuh mereka tetap mengapung diam mematung di permukaan air rawa. Menatap dengan jantung menggigil pada monster raksasa penunggu rawa dahsyat itu.

Setelah menggeliat,raksasa itu meluncur ke arah tengah rawa. Mereka masih tak mampu bergerak dari tempatnya, kendati bahagian ekor monster menakutkan itu sudah lama lenyap ke dalam kabut di bahagian tengah rawa.
“Kita harus segera bergerak…” ujar si Bungsu tanpa dapat menyembunyikan suaranya yang menggigil.
“Iy… iya…” ujar Han Doi yang tak mampu menahan kencingnya untuk tak terpancar sesaat setelah melihat raksasa dahsyat itu tadi.
Mereka bergerak cepat ke tepi rawa.

“Mencari apa kita kemari…” tanya Han Doi setelah mengikuti si Bungsi berputar-putar beberapa saat di dalam hutan di pinggir rawa tersebut.
“Mencari kayu itu…” ujar si Bungsu sambil menunjuk batang kayu kuning keputih-putihan sebesar dua kali pelukan manusia dewasa.

“Kayu ini besar daya apungnya di air. Bisa kita jadikan rakit untuk menerobos rawa ini ke hulunya,” ujar si Bungsu tatkala mereka mulai menebang kayu besar tersebut.

Han Doi merasa takjub pada pengetahuan lelaki Indonesia ini tengah rimba belantara dan jenis kayu yang tumbuh di dalamnya. Sebab, ketika menebang kayu besar itu parangnya seperti memakan kayu gabus. Dalam waktu yang tak begitu lama, dan tanpa harus membuang tenaga banyak, kayu itu segera tumbang arah ke danau.

“Potong-potong sepanjang tiga depa, sebatang kayu ini bisa dapat tiga potong. Saya akan mencari sesuatu…” ujar si Bungsu sambil meninggalkan Han Doi.

“Hei, jangan tinggalkan saya. Nanti monster di rawa itu datang lagi kemari…” ujar Han Doi.
“Kalau dia datang, suruh tunggu saya sebentar…” ujar si Bungsu sambil menyelinap ke dalam hutan.

Han Doi menggerutu panjang pendek, sembari tiap sebentar menoleh ke arah rawa, di mana tadi dia baru saja melihat monster yang teramat dahsyat. Setelah kayu itu terpotong menjadi tiga bahagian, Han Doi mencari rotan dan mengapitnya dengan kayu sebesar-besar betis. Si Bungsu tiba dengan memikul nangka hutan, pisang dan empat buah durian.

“Hei dari kebun mana kau panen buah-buahan itu?” ujar Han Doi berseloroh.

“Kau makanlah, saya akan merampungkan rakitmu ini…” ujar si Bungsu.
Dia mendekati rumpun bambu kuning yang tumbuh tak jauh dari tepi rawa. Memotongnya belasan batang. Kemudian dengan cepat mengikatnya menjadi lantai di bahagian atas rakit tersebut. Han Doi terkesima ketika melihat betapa bagusnya rakit itu kini.
“Mari kita apungkan ke air…” ujar si Bungsu.

Dengan mudah mereka berdua memikul rakit itu ke air. Ketika diletakkan di air, rakit itu mengapung dengan bagusnya.
“Ayo ambil buah-buahan tadi, kita jemput Thi Binh dan ayahnya…” ujar si Bungsu sambil membersihkan tiga batang bambu, masing-masing sepanjang sepuluh depa, untuk galah menjalankan rakit tersebut.

Mereka naik ke rakit itu. Kemudian perlahan si Bungsu yang tegak di bahagian depan rakit menancapkan bambu panjang itu ke dasar rawa. Dengan menekan bambu tersebut si Bungsu berjalan sepanjang pinggir rakit tiga meter itu ke belakang.
Rakit itu segera meluncur di atas air.

Si Bungsu kemudian mencabut bambu itu, lalu berjalan ke depan. Menancapkan kembali, dan menekannya sambil berjalan ke belakang. Dengan cara demikian rakit itu meluncur cepat ke depan.

Hanya sekitar lima belas menit bergalah, mereka sampai ke pohon yang dimana Thi Binh dan ayahnya menunggu. Kedua anak beranak itu tercengang melihat rakit berlantai bambu kuning, yang terlihat amat elok tersebut.

“Kita akan memulai perjalanan ke selatan. Kita akan bergantian bergalah. Saya duluan. Namun yang lain harus memperhatikan dengan seksama setiap dahan dan cabang yang menggantung, serta setiap pohon atau dahan yang mengapung di air.

Dalam rawa angker ini, benda-benda itu bisa saja bukan cabang, dahan atau pohon melainkan ular, buaya atau makhluk berbahaya lainnya, yang mungkin belum pernah kita temui…” ujar si Bungsu tatkala Thi Binh dan Duc Thio sudah berada di rakit tersebut.

Ketika si Bungsu bergalah, dan rakit itu bergerak maju di antara pepohonan rakasa, Thi Binh melahap durian dan nangka hutan yang amat harum dan nikmat rasanya itu. Setelah beberapa saat bergalah, dan melihat Thi Binh masih saja memakan buah-buahan itu dengan nikmat, si Bungsu tiba-tiba ikut merasa amat lapar. Dia menyerahkan galah kepada Han Doi.

“Hindari lewat di bawah cabang-cabang kayu, hindari menerobos belukar. Hindari kayu-kayu besar yang mengapung. Hindari kabut yang terlalu tebal. Tetaplah pertahankan posisi ke arah matahari terbenam,” ujar si Bungsu pada Han Doi, saat dia akan duduk bersila di bahagian belakang rakit berhadap-hadapan dengan Thi Binh.

Si Bungsu segera ikut melahap durian yang isinya sebesar-besar lengannya itu. Dalam sebuah ruang hanya ada seulas atau sebuah isi durian. Bijinya tak sampai sebesar jempol tangan. Isi durian itu liat seperti ketan. Rasanya nikmat luar biasa.
“Di Indonesia ada buah seperti ini?” tanya Thi Binh ketika melihat betapa si Bungsu melahap buah yang kulitnya berduri itu seperti orang kalap.

Si Bungsu hanya mengangguk setelah menelan ulas ke empat, kemudian sendawa. Kemudian menatap ke depan. Han Doi yang tegak di sisi kanan rakit sedang menancapkan galahnya.

Dari bahagian galah yang tersisa di bahagian atas, si Bungsu tahu rakit mereka kini berada di tempat yang tak begitu dalam airnya. Paling-paling hanya sebatas paha. Sekitar lima depa di bahagian kiri mereka ada belukar lebat yang memanjang ke depan.

Di depan, sekitar sepuluh depa dari rakit mereka, terdapat kumpulan kabut tebal. Han Doi tengah menggalah rakit menuju arah kabut tersebut. si Bungsu mencuci tangannya ke air rawa. Matanya nanap menatap kabut tebal yang mengapung di atas pepohonan di permukaan rawa di depan sana.

Thi Binh yang sejak tadi menatap si Bungsu melihat sikap aneh lelaki Indonesia tersebut. Kening lelaki itu berkerinyit. matanya disipitkan seolah-olah ingin menembus ketebalan kabut di depan sana, yang makin lama makin didekati rakit.
“Ada apa?” tanya Thi Binh perlahan.

Si Bungsu menggeleng. Namun tatapan matanya yang tajam tetap diarahkan ke depan. Sesaat dia mengalihkan tatapannya ke kiri. Kemudian ke kanan, kemudian ke kabut tebal itu. Dia berdiri.
“Berpegang erat-erat ke bambu lantai rakit…” ujarnya perlahan pada Thi Binh. Kemudian kepada Han Doi yang sedang bergalah dia berbisik.
“Han Doi… Hentikan rakit….”

Han Doi tak perlu bertanya lagi kenapa rakit harus dihentikan. Dia yakin, bahwa si Bungsu pasti mempunyai alasan yang kuat sekali untuk menyuruh menghentikan rakit.Dia lihat si Bungsu mengambil bedil yang terletak di samping Thi Binh.

Sementara Duc Thio segera pula paham,lelaki Indonesia ini mencium bahaya. Dia juga menyiapkan bedilnya serta matanya berusaha menatap keliling.

Si Bungsu menatap kepepohonan tinggi diatas kabut itu.Tak ada gerak
apapun.Dia menatap ke kanan,dan disana ada beberapa burung di dahan. Ada kupu-kupu di permukaan rawa.tapi di pohon-pohon di atas kabut itu,seperti tak ada kehidupan apapun.

Si Bungsu dengan cepat mencoba menaksir,berapa jauh sudah jarak yang
mereka tempuh dari tempat mereka tersobok ular besar ketika akan membuat rakit tadi, dengan tempat mereka berada sekarang.
Mungkin sudah jauh.Ular besar itu pun bergerak ketempat yang berlawanan dengan posisi mereka sekarang. Namun apa yang ada di balik kabut itu?

Dia yakin ada bahaya.Nalurinya membisikkan,bahaya itu adalah ular raksasa tadi.
“Belokkan rakit kearah kanan..perlahan…”bisik si Bungsu kepada Han Doi.
Han Doi mengangkat galahnya,menancapkannya kedasar rawa.Kemudian
menekannya.

Haluan rakit berputar beberapa derajat.Kemudian bergerak ke arah kanan, menjauhi kabut tebal yang tinggal hanya beberapa meter dari depan mereka. Dalam kesunyian yang amat mencekam rakit itu bergerak perlahan.

Si Bungsu berjongkok,kemudian menatap ke air rawa yang merah kehitam-
hitaman itu.Ada beberapa daun kayu tua mengapung.Dia mencoba
menemukan sesuatu di dalam air tersebut.Tidak ada yang dapat dilihat di
karenakan kentalnya air.Si Bungsu kembali menatap ke arah pepohonan besar yang kini berada di sebelah kiri mereka, yang dipenuhi kabut.

“Han Doi,Duc thio,duduklah berjongkok…jangan berdiri….”bisik si Bungsu
sambil menatap tajam kedalam kabut. Han Doi dan Duc Thio kembali tak membantah.Perlahan mereka menurunkan tubuh, Duc thio tetap memegang bedilnya erat-erat. Tapi sebelum kedua orang
itu sempurna berjongkok tiba-tiba bencana yang diduga si Bungsu segera
menampakkan wujud!

Dari balik kabut,sekitar dua depa dari air,dari palunan dedaunan yang tak
terlihat dari rakit,tiba-tiba meluncur sebuah benda berbentuk pipih segi tiga dengan bahagian depan ternganga lebar dan memperlihatkan taring-taring besar dan lidah bercabang! Dengan suara mendesis tajam, kepala monster raksasa itu menyambar dengan tajam cepat ke arah rakit.
“Tiarap….!!”teriak si Bungsu.

Bersama dengan teriakan itu,bedil yang sudah ditangan kanannya
memuntahkan peluru.Dalam detik yang sama pula,tangan kirinya merangkul tubuh Thi Binh saat dia menjatuhkan diri kelantai rakit.

Duc Thio dan Han Doi memekik histeris melihat besarnya kepala monster
dengan panjang moncong lebih dari dua meter itu menyapu dengan cepat
kearah mereka.Senjata Duc Thio juga menyalak.Namun pelurunya menghujam kedalam rawa, Duc Thio tanpa sadar menembak ketika dia sudah menelungkup dirakit.

Namun kemudian kepala ular itu lenyap kembali masuk kedalam palunan
dedaunan dua meter diatas permukaan air,yang memutih dipagut kabut
tebal.si Bungsu segera memuntahkan peluru kearah palunan dedaunan ke
mana makhluk itu lenyap. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here