TIKAM SAMURAI 216

SUMBARTIME.COM-Han Doi yang segera dapat menguasai diri juga memungut bedil, lalu ikut memuntahkan peluru ke arah yang sama. Demikian juga dengan Duc Thio. Sepi !

“Ada apa?” bisik Thi Binh yang terlungkup di bawah pelukan tangan kiri si Bungsu di lantai rakit. Thi Binh sangat beruntung karena tak sempat melihat wujud monster yang menyerang rakit mereka sebentar ini.
“Ada bahaya…” bisik si Bungsu sambil matanya menatap ke dedaunan dalam arah kabut yang sudah mereka siram dengan peluru bedil itu.

Iklan

“Tetaplah menelungkup, pejamkan mata dan berpegang erat-erat, Thi Binh…” bisik si Bungsu, kemudian berbisik ke arah Han Doi.
“Han Doi… potong dua galahmu itu. Kayuh rakit ini terus, namun posisimu harus tetap menelungkup…”

Han Doi tak perlu diberitahu sampai dua kali. Sambil tetap menelungkup dia memotong galahnya. Lalu potongan galah itu dia tancapkan ke air, dan menekannya. Rakit bergerak perlahan menjauhi kabut tersebut.

Si Bungsu bangkit. Dia berdiri dan menatap ke arah pepohonan berkabut itu sambil mengerenyitkan kening. Dia yakin monster itu masih menatap ke arah mereka dan menunggu kesempatan.

Tak ada sesuatu yang bergerak di dalam kabut itu. Si Bungsu mengangkat bedil dan menembak. Namun baru peluru pertama yang menyembur, tiba-tiba kepala monster itu muncul secepat kilat dan mendesis dengan mulut menganga lebar, menyambar ke arah rakit.

Duc Thio menembak, namun gerakan melengkung kepala ular itu dari arah kanan ke kiri, seperti gerakan sabit, amat cepat. Bahkan si Bungsu sendiri tak sempat beraksi. Pelurunya dan peluru dari bedil Duc Thio tak mengenai sasaran sebuah pun.

Tragisnya, moncong ternganga dengan taring yang panjangnya hampir setengah meter itu kini menyapu ke arah si Bungsu yang dalam posisi tegak. Si Bungsu tak sempat lagi menembak. Kepala monster yang menganga lebar itu, dengan dua biji mata merah sebesar tinju di kepalanya, hanya tinggal semeter di bahagian kanannya.

Dengan gerakannya yang amat cepat, tubuh si Bungsu hanya tinggal hitungan detik untuk masuk ke dalam moncong makhluk dahsyat itu. Si Bungsu tidak menunduk, dia mencoba berkelit dengan memajukan kaki dan menundukkan badan. Namun sambaran kepala itu sampai sudah.

Kendati dia tidak kena terkam, namun tubuhnya kena sabet ular dahsyat itu. Saat itu si Bungsu melihat bahwa kepala ular besar ini memiliki dua tanduk yang panjang masing-masingnya sejengkal, tertancap tak jauh di atas kelompak matanya.

Hanya itu yang sempat dia ingat. Sebab setelah itu tubuhnya tercampak amat jauh ke air akibat terkena senggolan kepala ular raksasa tersebut. Hanya dalam hitungan detik, kepala raksasa itu kemudian lenyap ke dalam kabut.
“Kayuh rakit itu terus, Han Doi…!” pekiknya sesaat sebelum tubuhnya tercemplung ke air.

Han Doi berhenti mengayuh rakit itu. Dia menatap ke arah si Bungsu yang tercampak sekitar sepuluh depa dari rakit. Thi Binh memekik.
“Menjauh dari sini, Han Doi…!” teriak si Bungsu, yang sudah tegak di dalam air sebatas pinggang.

Namun saat itu pula kepala naga raksasa itu muncul. Kali ini kepalanya menyapu rendah di atas permukaan air, dengan tubuh yang nampaknya melilit ke kayu besar di dalam kabut, moncongnya yang menganga lebar menyabet seperti lengkung sabit ke arah tubuh si Bungsu.

Kali ini si Bungsu juga tetap tak bisa menembak. Waktunya sangat singkat, namun dengan tubuh tegak di dalam air, dia menghadap ke arah datangnya sambaran moncong kepala bertanduk yang amat menjijikkan, sekaligus mengerikan itu.

Baik Duc Thio, Han Doi maupun Thi Binh hanya bisa menatap dengan terpaku di rakit mereka, melihat moncong ular besar itu menganga lebar menyambar ke arah si Bungsu. Menjelang moncong ular besar itu sampai, si Bungsu menegakkan posisi bedilnya lurus-lurus dan merentangkan tangan kanannya yang berbedil itu ke arah datangnya sambaran moncong ular itu.

Thi Binh terpekik, Duc Thio dan Han Doi merasa dilumpuhkan tatkala melihat tubuh si Bungsu disambar ular itu dan terangkat tinggi ke udara. Namun hanya sesaat, tubuh si Bungsu kemudian terlempar kembali ke air. Sementara kepala raksasa itu kelihatan meliuk di udara.

Liukannya kemudian makin keras, menghempas dan membanting serta membuncah kabut, pohon dan dedaunan di mana tubuhnya melilit kukuh.Kini kabut di selingkar pohon kayu besar dimana tubuhnya melilit, terkuak. Ular besar itu tetap menghempas dan mulutnya tetap ternganga. Ternyata mulutnya tak bisa dikatupkan. Tersekang oleh bedil si Bungsu.

Ternyata itulah jalan yang diambil si Bungsu. Dia tak punya kesempatan untuk menembak. Kendati badannya demikian besar, namun gerakan makhluk raksasa ini demikian cepat. Satu-satunya yang terlintas di otak si Bungsu adalah menyekang moncong ular itu dengan bedilnya.

Maka ketika moncong menganga lebar itu menyambar ke arahnya, dia menegakkan bedilnya. Dan siasat serta perangkapnya mengena. Moncong ular itu menyambar dengan cepat, sekaligus bedil di tangan si Bungsu masuk ke moncongnya dan terhenti dengan posisi tegak pada bahagian pangkal moncongnya.

Merasa tubuh si Bungsu sudah berada di moncongnya, ular itu mengatupkan mulutnya, kemudian meliukkan kepala ke atas. Tubuh si Bungsu ikut terangkat karena dia masih memegang bedilnya dengan kuat. Tubuhnya baru terlepas dan tercampak setelah kepala ular itu menghempas-hempas di udara.

Makhluk raksasa itu nampaknya menjadi berang karena tak bisa mengatupkan mulutnya. Tersekang oleh bedil yang masih tertegak di bahagian pangkal kerongkongannya. Dalam keadaan menghempas itu terdengar suara aneh keluar dari moncong makhluk raksasa itu. Perpaduan seperti suara pekik ayam jantan dan pekik monyet.

Si Bungsu dengan cepat berenang kembali ke arah rakit. Duc Thio menolongnya naik. Begitu dia sampai di atas rakit, Thi Binh memeluknya dengan erat. Gadis itu menyurukkan mukanya di dada si Bungsu sambil menangis terisak-isak.

“Jangan tinggalkan aku… demi Tuhan, jangan tinggalkan aku…” bisiknya di antara isak tangis.
Duc Thio menyemburkan peluru ke arah makhluk raksasa yang seolah-olah membuncah hutan belantara di dalam kabut sekitar dua puluh meter dari rakit mereka.

Jangan habiskan peluru. Jika bedil di mulutnya tak terlepas, dia akan mati sendiri. Mungkin dalam sebulan, mungkin dalam dua bulan….” ujar si Bungsu sambil meraih galah.

“Han Doi ambil galah. Kita harus segera menyingkir dari sini. Raksasa ini bukan yang bertemu dengan kita tadi pagi. Ini yang jantannya, kepalanya bertanduk. Yang pagi tadi betinanya. Dia pasti tak jauh dari sini…” ujar si Bungsu.

“Thi Binh…. duduklah, ya. kita harus bergerak cepat…” ujar si Bungsu membujuk gadis itu agar mau melepaskan pelukan dari tubuhnya.

Thi Binh memang melepaskan pelukannya namun tak jauh-jauh. Dia menyelosoh duduk di lantai rakit. Namun kedua tangannya masih memeluk kaki si Bungsu. Si Bungsu dan Han Doi mulai menancapkan galah ke dasar rawa, kemudian menekannya sehingga rakit itu menjauhi neraka yang masih saja membuncah hutan di belakang mereka.

“Makhluk itu ada dua ekor…?” tanya Duc Thio yang masih berlutut di rakit sambil memegang bedil dan menatap kepala ular besar itu yang sebentar-bentar muncul dari dalam kabut.

“Ya. Tadi pagi ketika akan membuat rakit ini saya dan Han Doi bertemu dengan yang betina dalam jarak yang amat dekat…” ujar si Bungsu sambil menekan galah ke arah ke belakang kuat-kuat.

Dengan dua orang lelaki dewasa yang menggalah, rakit itu meluncur dengan cepat menyeruak di antara pepohonan besar, menembus kabut dan dedaunan, menjauh dan meninggalkan tempat yang amat menakutkan itu.
Rawa ini sungguh-sungguh rawa maut.

Nampaknya memang tak seorangpun yang pernah menerobosnya. Mungkin juga tidak pernah dijejak tentara Amerika atau Vietnam Utara maupun Selatan dalam pertempuran dahsyat selama belasan tahun.

“Han, arahkan rakit ke kayu besar itu…” ujar si Bungsu tatkala menjelang sore dia melihat sebuah pohon yang sebahagian daunnya berwarna kuning dan sebahagian lagi berwarna merah di tengah rawa yang maha luas itu.
Han Doi mengarahkan rakit tersebut ke arah kayu yang dimaksud si Bungsu.

Di bawah pohon yang tegak tinggi menjulang itu mereka berhenti. Si Bungsu menatap ke daun-daun kayu yang berserakan dan mengapung di permukaan air. Kemudian memperhatikan bahagian batangnya yang berada di permukaan air.

Batang pohon berwarna putih itu dipenuhi lumut, mulai semeter di atas air sampai ke bahagian bawah yang terendam ke air. Si Bungsu meraih beberapa lembar daun kayu yang mengapung di air itu. Kemudian mendekatkan rakit ke pohon.
“Pinjam saya parangmu…” ujar pada Han Doi.

Dengan parang dia kikis lumut yang tumbuh di pohon tersebut sampai dua genggam. Kemudian dia tatap pohon itu dua kali. Dari bekas tetakan parang kelihatan mengalir getah berwarna kehijau-hijauan dan menyebarkan bau agak harum.

Si Bungsu kembali mengambil lumut pohon itu, lalu mengapungkan lumut di genggamannya ke getah yang menetes perlahan. Setelah merasa cukup, dia menyuruh Han Doi kembali menjalankan rakit. Dia lalu duduk dan meremas-remas daun kayu yang tadi dia ambil dengan lumut yang sudah dilumur getah pohon tersebut. Semua perbuatannya dilihat dengan diam oleh Thi Binh dan Duc Thio.

Kemudian ketika rakit melewati sebuah pohon yang agak rendah, dia memetik sehelai daunnya yang lebar. Ramuan yang dia remas tadi dia letakkan di daun tersebut. membuatnya merata di seluruh lebar daun, kemudian meletakkanya di bahagian belakang rakit.

“Saya tak tahu apa nama pohon itu tadi. Namun pohon itu amat langka. Bahkan di negeri saya pun tak ada. Dari bentuk batang dan daun, dari bau yang disebarkannya, orang yang ahli meramu obat akan tahu bahwa bahagian-bahagian pohon itu amat bermanfaat untuk ramua obat, guna menyembuhkan berbagai bentuk penyakit dan luka…” paparnya sambil menatap pada Duc Thio.

Duc Thio dan Han Doi segera teringat pada ramuan yang diminumkan si Bungsu kepada Thi Binh kemarin malam. Ingat pada ramuan yang diminumkan itu, baik Han Doi maupun Duc Thio menatap pada Thi Binh.

Mereka baru menyadari, bahwa luka mirip kudis berair yang beberapa hari lalu muncul di sudut bibir Thi Binh, kini sudah lenyap sama sekali.
Hanya tersisa sedikit seperti bekas luka yang sudah mengering. Dan kondisi Thi Binh sendiri kelihatan amat sehat. Wajahnya yang kemarin pucat, kini kembali bersemu merah. Kecantikannya seperti pulih.

“Seperti obat yang diberikan pada Thi Binh?”tanya Han Doi sambil menancapkan galah didasar rawa.
“Ya,tapi jauh lebih manjur…”ujar si Bungsu.
“Anda mempelajarinya di Indonesia?”tanya Duc Thio.

“Mula-mula ya.Namun dalam bentuk yang amat sederhana.Pengetahuan yang paling berharga tentang flora yang amat manjur dibuat obat saya pelajari ketika saya di Jepang dan Amerika…”
“Di Jepang dan Amerika?”tanya Duc Thio.

“Ya..”
“Dari para dokter?”
“Tidak,dari seorang Jepang yang bernama Zato Ichi dan Indian bernama Yoshua.Ilmu tentang tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat untuk obat-obatan ini sudah sulit di temukan.Orang-orang yang punya ilmu meramunya lebih sulit lagi di temukan…”tutur si Bungsu.

Dia lalu menuturkan tentang Kina, yang rasa getahnya amat pahit, yang tidak hanya bermanfaat menyembuhkan demam tetapi juga malaria.Obat yang berasal dari tetumbuhan di Indonesia itu kini sudah dikenal di seluruh dunia.

“Bukankah tadi anda bilang,pohon tadi tak anda temukan di Indonesia?”kembali Duc Thio bertanya.

“Ya….”
“Apakah tumbuhan itu Anda temukan di Jepang dan Amerika?”
“Juga tidaak…”
“Lalu,dimana kayu seperti itu pernah anda temui?”tanya duc Thio lagi.
“Tidak pernah,baru di rawa ini…”

“Baru dirawa ini?”
“ya..”
“Apakah anda yakin kayu tadi memang punya manfaat untuk menyembuhkan segala penyakit,termasuk luka?”
“Ya…”

“Bagaimana anda mengetahuinya,padahal baru kali ini anda melihat pohon itu..?”si Bungsu menarik napas,Dia duduk bersila di rakit.
“Itulah yang saya maksud ilmu mengenal tumbuhan dan pohon yang bermanfaat untuk obat-obatan.Ada beberapa orang yang ahli untuk mengenal bentuk bentuk tetumbuhan dan pepohonan yang berkhasiat itu.

Pertama dari baunya,bau pohon yang berkhasiat itu tidak berbau oleh hidung orang awam. kalaupun mereka mencium bau dari pepohanan itu tapi tak tahu arti bau itu untuk obat-obatan.Mungkin mereka tahu pohon itu untuk obat tapi dengan apa diramu dan apa bahan peramunya..”papar si Bungsu. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here