Hanya saja, PR-nya menyatukan pasangan ini memang butuh effort yang luar biasa.
Satu karena dinamika masa lalu, janji (yang diduga), dan apakah bisa menyatu dua kutub yang sangat berbeda ini.
Yang kedua, pilih mana antara buya Marfendi dengan yang lain? Hitung-hitungan di atas kertas, buya Marfendi lebih menjanjikan dibandingkan yang lain.
Meskipun basis massa mereka berdua cenderung beda, tapi bpk Ramlan lebih kuat plus bisa membawa gerbong PKS untuk memberikan dukungan kepada buya Marfendi.
Demokrat+PKS sudah delapan kursi, cukuplah perahu itu berlayar. Selain itu, bpk Ramlan dan buya Marfendi punya mesin partai yang memang bisa digerakan ketika tombol start dimulai.
Militansi gerbong PKS sudah teruji, bisa diandalkan, minimal 10.000 suara bisa dihasilkan oleh buya Marfendi (dari total perolehan suara pileg 2024 yang mencapai belasan ribuan suara).
Nah..!! Ada lagi beberapa opsi, dari nama-nama beken yang berkembang saat ini, memang agak sulit memilihnya, kalau boleh dibilang ini 50-50 lah kekuatannya, kalau gak mau dibilang 49-51, hehehe.
Juga opsi dari Asril, SE agak popular lah sebagai tokoh yang mumpuni dan sukses memanajerialkan dimana tempat dia bertugas.
Yang paling sahih adalah Asril, SE sukses membawa peningkatan bagi NasDem di DPRD Kota Bukittinggi.
Perolehan suara NasDem di 2024 ini, menembus batas dan sejarahnya menjadi partai yang mampu memperoleh empat kursi saat ini.
Ini terjadi setelah NasDem berada di bawah kepemimpinannya (walaupun ada nama-nama keren di belakangnya).
Terlepas dari itu semua, Asril, SE dinilai sukses dimana pun dia berada dan memimpin, sentuhan tangannya selalu memberikan kebaikan dan peningkatan yang luar biasa.
Terbukti, pembukaan pendaftaran bakal calon walikota dan bakal calon wakil walikota dari NasDem laris manis didatangi para kandidat.





















