Sumbartime.com,- Perubahan signifikan dalam logika dan analisis politik di Kota Bukittinggi saat ini menjadi topik yang menarik perhatian dari berbagai golongan. Kota kecil ini, dengan populasi padat dan berdekatan terlalu cepat dalam hal informasi publik.
Baru-baru ini, berita menarik datang dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang resmi mengusung Ramlan Nurmatias dan Ibnu Azis sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bukittinggi untuk periode 2024-2029.
Keputusan ini didukung oleh Surat Keputusan (SK) Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS yang secara resmi merekomendasikan pasangan ini. SK tersebut diserahkan langsung oleh Presiden PKS, Ustaz Ahmad Syaikhu.
Dengan munculnya Ramlan Nurmatias yang diusung oleh PKS, jelas terlihat bahwa dinamika politik semakin memanas. Ramlan Nurmatias yang sebelumnya mungkin berafiliasi dengan Partai Amanat Nasional (PAN) kini bersama PKS, menandakan adanya pergeseran signifikan dalam dukungan politik.
Di sisi lain, incumbent Walikota Bukittinggi, Erman Safar, yang telah mendaftarkan dirinya ke hampir seluruh partai kecuali PKS, tetap memiliki peluang besar.
Kehadiran Ramdalel Bagindo Ibrahim sebagai calon yang berpotensi besar untuk posisi Wakil Walikota, jadi pilihan bersama dari 5 atau bahkan 7 partai yang lainnya bersama incumbent, karena akan sama-sama mendaulatkan diri dan mengupayakan sebagai kandidat usungan partai partai diluar PKS. Ini semakin memperkuat kompetisi. Ramdalel, dengan hashtag #WAWAyangBAIK, berpotensi untuk ditarik oleh incumbent guna memperkuat dukungan.
Dengan mendaftar dan meneruskan komitmen, Ramdalel, sebagaimana yang ditunjukkan ke Nasdem, dimana dia nya, juga diikutkan sebagai kandidat yang disurvey popularitas dan elektabilitas nya sebagai kandidat wakil walikota usungan Nasdem.
Jika Ramlan Nurmatias dan Ibnu Asis maju bersama PKS, koalisi ini akan menjadi kekuatan politik yang signifikan. Namun, dinamika politik yang cepat berubah ini juga menuntut para politisi untuk selalu menjaga “kartu” dukungan mereka dengan hati-hati. Dalam politik, kepercayaan rakyat harus dikelola dengan baik demi kepentingan bersama.
Pertanyaan besar yang muncul adalah, apakah mungkin terjadi pertarungan langsung (head to head) antara kandidat yang ada? Jika calon independen seperti Nofil Anoverta gagal dalam verifikasi faktual oleh KPU, besar kemungkinan incumbent akan melenggang mulus untuk periode keduanya.
Kesimpulannya, dinamika politik Bukittinggi sangatlah dinamis dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Ramlan Nurmatias dengan PKS tampaknya telah meninggalkan klaim koalisi lima partai sebelumnya, menciptakan peta politik baru yang harus diantisipasi oleh semua pihak menjelang Pilkada 2024.
Untuk diketahui kota Bukittinggi memiliki Pusat-pusat perdagangan utamanya seperti Pasar Ateh, Pasar Bawah, dan Pasar Aur Kuning, menjadi tulang punggung ekonomi kota ini dengan lebih dari 80% masyarakatnya terlibat dalam UMKM.
Sudah dulu ya, nanti kita lanjut lagi analisanya. Artinya saya menulis ini butuh waktu untuk istirahat.
Waktu yang cukup lama untuk menulis sebuah analisa yang sudah ada di kepala. Artinya apa? Maknai sendiri. Intinya jangan sampai kartu kamu mati.(*)


















