SUMBARTIME.COM-Usai Marsanova Andesra salah satu anggota DPRD Kabupaten Limapuluh Kota menyentil keberadaan Pondok pesantren Insan Cendikia Boarding School (ICBS), giliran Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Nagari Tarantang Harau mengkritisi keberadaan sekolah milik yayasan tersebut.
Senin (6/1) siang, Ketua LPM Nagari Tarantang, Harnopen, menjelaskan kepada awak media jika apa yang dikatakan oleh salah satu anggota DPRD Limapuluh Kota terkait keberadaan ICBS di Jorong Lubuak Limpato, Nagari Tarantang Harau, benarlah adanya, ungkapnya mengatakan.
Berita Terkait : Marsanova Andesra Sebut Jika ICBS Harau Ilegal
” Apa yang dikatakan oleh Saudara Andes merupakan dari aspirasi warga Tarantang terutama Jorong Lubuak Limpato,” ujar Harnopen.
Menurutnya, warga sekitar mengeluhkan tentang keberadaan ICBS tersebut. Disamping berdiri di lokasi yang kurang tepat dan dalam kawasan resapan air, juga terkait hubungan sosial pihak yayasan terhadap warga.
Harnopen menjelaskan jika selama berdirinya ponpes ICBS di Kawasan lembah Harau itu, nyaris tidak ada kontrobusinya bagi masyarakat sekitar, terutama warga Jorong Lubuak Limpato. Sempat warga masyarakat sekitar mengundang pihak ICBS untuk bermusyawarah duduk bersama, namun tidak pernah ditanggapi dan ini menunjukan jika pihak yayasan memposisikan diri mereka sebagai kelompok ekslusif dan tertutup, terangnya.
Terkait keberadaan ponpes ICBS bagi masyarakat sekitar terutama di bidang pendidikan bagi Putra Daerah, boleh dikatakan nyaris tidak ada sama sekali. Hanya 2 orang warga asli yang bisa bersekolah di lokasi tersebut dari ribuan siswa yang diterima oleh pihak yayasan.
” Hanya 2 orang warga asli yang bisa mengenyam pendidikan di ICBS dan itupun tidak setiap tahun diterima dengan alasan tidak lulus tes seleksi,” tandas Harnopen.
Namun masih menurutnya lagi, secara jelas Ketua LPM menyebutkan jika dia meragukan alasan putra daerah tidak diterima karena faktor IQ semata. Akan tetapi dirinya mengungkapkan tidak banyaknya anak Nagari diterima di sekolah berbiaya mahal tersebut lantaran faktor fulus serta angka angka.
Untuk itu, dia bersama warga lainnya sangat menyesalkan sikap ponpes yang lebih mengedepankan provit dari pada pendidikan yang sebenarnya, papar Harnopen kepada awak media.
Terpisah, menjawab tudingan negatif yang dialamtkan ke ICBS, humas Yasyasan Insan Cendikia Boarding School, Sony, membantah dengan tegas tudingan miring kepada pihaknya.
Kepada awak media, pada Senin (6/1) malam, dirinya menjelaskan jika tidak benar informasi miring yang dialamatkan kepada mereka. Menurutnya justru keberadaan ICBS yang berdiri sejak Tahun 2015 silam, telah mampu mengangkat faktor ekonomi masyarakat dan daerah terutama dibidang Pariwisata.
Walau dirinya mengakui jika lokasi keberadaan IBCS belum memiliki segala perizinan, namun bukan ilegal seperti yang dikatakan.
” Kami menolak jika dikatakan ilegal. Betul izin belum kami miliki. Namun beberapa waktu yang lalu kami telah melakukan audensi dengan Pemkab Kabupaten terkait persoalan perizinan operasional. Dan pihak Pemkab mempersilahkan kami untuk beraktifitas sambil menunggu proses perizinan keluar,” ungkap Sony.
Terkait keberadaan ICBS, jelasnya lagi, secara langsung kami telah memberikan kontribusi di bidang wisata dengan membladaknya kedatangan para pelancong ke objek wisata kawasan Lembah Harau setiap minggunya.
“Yang jelas ratusan orang tua siswa setiap minggu datang mengunjungi anak anak mereka ke pondok,” ungkap Sony.
Hal itu makin diperkuat dengan keberadaan kampung Eropa di samping ICBS yang tiap minggu terutama musim liburan sangat ramai di kunjungi pelaku wisata. Dan itu jelas sangat memberikan kontribusi bagi peningkatan pariwisata daerah di Lembah Harau, paparnya.
Adapun ICBS dianggap tidak bermasyarakat dan menutup diri, menurut Sony itu perlu diluruskan, Menurutnya pihaknya sering memberikan bantuan sosial bagi masyarakat sekitar melalui Pemerintah Nagari setempat.
” Saat ini setiap bulan Yayasan ICBS selalu memberikan santunan kepada anakyatim sekitar dengan total Rp 4 Juta an perbulan,”ungkapnya.
Selain memberikan santunan kepada anak yatim, pihak ICBS juga memberikan bantuan paket sembako terutama menjelang lebaran setiap tahun dengan nilai Rp 60 Juta. Itu semua kami salurkan melalui Pemerintahan Nagari Setempat.
Dengan itu semua, tidaklah benar jika ICBS menutup diri terhadap masyarakat sekitar seperti tudingan miring yang diarahkan kepada kami, tutup Sony mengatakan. (aa)





















