BUKITTINGGI – Subuh yang biasanya sunyi di Jorong PGRM, Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, mendadak berubah menjadi kepanikan kecil bercampur haru. Kamis (15/1/2026) sekitar pukul 05.45 WIB, suara tangisan bayi memecah udara pagi. Bukan dari dalam rumah, melainkan dari sebuah kardus yang tergeletak di depan kontrakan warga.
Kapolresta Bukittinggi Kombes Pol Ruly Indra Wijayanto, S.H., S.I.K., M.H., membenarkan peristiwa penemuan seorang bayi perempuan yang diperkirakan baru berusia kurang dari satu hari.
“Bayi ditemukan dalam kondisi hidup, diletakkan di dalam kardus dan terbalut kain panjang di depan rumah kontrakan warga,” ungkap Kapolresta.
Saksi pertama, NF (21), penghuni kontrakan, menjadi orang yang pertama kali mendengar tangisan tersebut. Rasa penasaran bercampur khawatir membuatnya keluar rumah. Betapa terkejutnya ia saat mendapati seorang bayi mungil terbaring sendirian.
NF segera memanggil pemilik kontrakan, Er (65), yang kemudian bersama-sama melaporkan kejadian itu kepada Walijorong PGRM untuk ditindaklanjuti oleh pihak berwenang.
Tak menunggu lama, bayi tersebut langsung dibawa ke Puskesmas Pakan Kamis untuk mendapatkan pemeriksaan medis. Sekitar pukul 08.00 WIB, bayi perempuan itu tiba di fasilitas kesehatan dan kini masih dalam pantauan tenaga medis.
Pihak Puskesmas menyampaikan bahwa bayi diperkirakan lahir belum sampai 24 jam. Hal itu terlihat dari kondisi tali pusar yang masih lunak dan berdarah, serta adanya lendir di bagian leher dan punggung bayi. Meski demikian, kondisi bayi dinyatakan sehat, dengan berat badan sekitar 3 kilogram dan panjang 50 sentimeter.
“Untuk sementara bayi dirawat di Puskesmas sampai ada pihak yang bersedia dan memenuhi syarat untuk merawatnya,” jelas petugas medis.
Sementara itu, aparat kepolisian tengah melakukan penyelidikan guna mengetahui siapa pihak yang meninggalkan bayi tersebut, sekaligus memastikan langkah perlindungan terbaik bagi sang bayi.
Peristiwa ini menyisakan tanya besar, namun juga menghadirkan harapan. Di balik kardus sederhana itu, ada nyawa kecil yang masih diberi kesempatan untuk tumbuh dan masyarakat Bukittinggi kini menanti, semoga ia kelak tumbuh dalam dekapan kasih, bukan lagi dalam kesendirian subuh itu. (Aa)

















