BUKITTINGGI – Ketika legislatif dan eksekutif memilih berjalan seirama, pembangunan tak lagi sekadar wacana di atas meja. Hal itu hadir di jalanan kota, di bibir ngarai, hingga ke instalasi air yang setiap hari menjadi denyut kebutuhan warga.
Itulah semangat yang dibawa Komisi III DPRD Kota Bukittinggi saat melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah titik infrastruktur yang belakangan ramai dikeluhkan masyarakat.
Anggota DPRD Kota Bukittinggi, Yundri Refno Putra, menegaskan bahwa pembangunan yang efektif hanya bisa lahir dari sinergi kuat antara DPRD dan pemerintah daerah.
“Ketika legislatif dan eksekutif seirama, pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik akan lebih tepat, cepat, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga,” ujarnya, Selasa (13/1).
Tak ingin puas dengan laporan di balik meja, Komisi III memilih turun gelanggang. Tidak ada jarak, tidak ada formalitas berlebihan. Dari bibir Ngarai hingga instalasi PDAM, semua ditinjau langsung. Setiap retak, setiap keluhan, setiap persoalan dicatat sebagai bahan kerja, bukan sekadar catatan seremonial.
Kunjungan ini dipimpin Wakil Ketua DPRD Kota Bukittinggi, Beny Yusrial, S.IP, didampingi Anggota Komisi III serta Sekretaris DPRD Drs. H. Hendry, ME, bersama jajaran Sekretariat DPRD. Agenda ini menjadi bagian dari fungsi pengawasan DPRD sekaligus respons konkret atas suara warga yang belakangan kian nyaring soal kondisi infrastruktur kota.
Adapun lokasi yang disambangi meliputi kawasan Bibir Ngarai RW 01 dan RW 02 Kelurahan Belakang Balok, PDAM Kota Bukittinggi, hingga Jalan Kinantan Kelurahan Puhun Pintu Kabun. Di titik-titik tersebut, rombongan melihat langsung kondisi fisik, menghimpun data faktual, serta mendengar masukan dari pihak terkait di lapangan.
Dari pihak Pemerintah Kota Bukittinggi, rombongan DPRD didampingi Plt. Asisten Pemerintahan dan Kesra Drs. Efriadi, M.M, yang juga menjabat Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Pembangunan, bersama OPD teknis terkait. Kehadiran mereka memastikan setiap persoalan yang ditemukan langsung terhubung dengan kewenangan dan solusi yang memungkinkan.
“Kami ingin melihat kondisi nyata di lapangan. Temuan hari ini akan menjadi bahan evaluasi dan tindak lanjut dalam pembahasan bersama eksekutif,” tegas Yundri Refno Putra.
Langkah jemput bola ini memberi pesan jelas, suara masyarakat tidak berhenti di ruang rapat. Ia dibawa ke lapangan, dipadukan dengan fakta, lalu dikembalikan menjadi kebijakan.
Bukittinggi terus bergerak, mendengar, meninjau, lalu bertindak. Bukan sekadar janji, tetapi kerja nyata yang mulai dari tanah yang dipijak warganya sendiri. (Aa)

















