BUKITTINGGI – Ramah, bersahaja, namun sigap bertindak. Itulah kesan yang melekat pada sosok Neni Anita, anggota DPRD Kota Bukittinggi dari Fraksi NasDem.
Bagi warga, ia bukan sekadar wakil rakyat di balik meja rapat, tetapi hadir nyata di lapangan terutama saat suara masyarakat butuh jawaban cepat.
Hal itu terlihat pada Kamis (15/1/2026), ketika Neni Anita turun langsung ke kawasan Kubu Ateh, Kelurahan Kubu Gulai Bancah, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan (MKS).
Ia datang, mendengar dan mencatat keluhan warga yang beberapa hari terakhir resah akibat matinya aliran air PDAM. Keran-keran yang biasanya menjadi denyut kehidupan rumah tangga, mendadak sunyi.
Tak ingin laporan hanya berhenti di atas kertas, Neni mendatangi warga untuk mengecek dan berdiskusi langsung kondisi di lapangan.
“Kami turun langsung bersama untuk mengecek dan mengidentifikasi kendala yang terjadi,” ujarnya di sela peninjauan.
Menurutnya, aspirasi masyarakat adalah prioritas utama. Pelayanan air bersih, kata dia, bukan sekadar fasilitas, tetapi kebutuhan dasar yang harus dirasakan merata oleh seluruh warga.
“Kami ingin memastikan pelayanan air bersih dapat kembali berjalan dengan baik dan dirasakan secara adil oleh masyarakat,” tegasnya.
Bukittinggi, kota berhawa sejuk dengan 24 kelurahan dan tiga kecamatan, dikenal sebagai daerah yang aman, damai, dan penuh semangat kebersamaan.
Dengan luas sekitar 25,5 kilometer persegi, kota Jam Gadang ini tak hanya mengandalkan keindahan alam dan wisata, tetapi juga sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat dalam menjaga ketertiban serta menyelesaikan persoalan sosial.
Salah satu wajah kolaborasi itu terlihat di Kelurahan Kubu Gulai Bancah, kawasan yang dikenal aktif mengedepankan solusi bersama ketimbang konflik.
Masalah air bersih yang terjadi belakangan ini pun menjadi bukti bahwa komunikasi dan gotong royong masih menjadi ruh kehidupan warga.
Lurah Kubu Gulai Bancah, Indra Sukma, mengakui bahwa persoalan distribusi air PDAM di kawasan Kubu Ateh bukan hal baru. Namun, dengan perhatian langsung dari DPRD dan pihak terkait, ia optimistis persoalan ini dapat menemukan jalan keluar.
“Persoalan air bersih ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Mudah-mudahan dengan kebersamaan, kita bisa mengatasinya di masa mendatang,” ungkapnya.
Kehadiran Neni Anita di tengah warga Kubu Ateh memberi harapan baru. Di saat sebagian masyarakat mulai lelah menanti air mengalir, hadirnya wakil rakyat yang mau mendengar dan bertindak langsung menjadi oase tersendiri.
Di Kota Bukittinggi yang sejuk udaranya, ternyata kepedulian sosial pun ikut menyejukkan hati warganya. Dan di antara lorong-lorong Kubu Ateh, harapan kini mengalir kembali, menunggu air bersih menyusul datang. (Aa)

















