BUKITTINGGI – Di balik ramainya kicau burung dan tawa anak-anak di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK), tersimpan satu ruang yang tak hanya memamerkan sejarah, tetapi juga menanamkan akar budaya sejak dini.
Rumah Gadang Nan Baanjuang, museum kebanggaan Kota Bukittinggi, kini menjadi panggung edukasi budaya Minangkabau bagi generasi cilik.
Edukator Rumah Gadang Nan Baanjuang, Santi Indriani, menyebut kunjungan anak-anak ke museum yang berada di kawasan kebun binatang TMSBK ini sebagai langkah cerdas dalam wisata edukasi.
“Sangat positif jika anak-anak diajak ke kebun binatang TMSBK, khususnya berkunjung ke Rumah Gadang. Karena di sini mereka akan mengenal budaya Minangkabau sejak usia dini,” ujar Santi usai memaparkan koleksi budaya dan sejarah kepada siswa/i TK Pembina Kamang Magek, Kabupaten Agam, Kamis (15/1/2026).
Bangunan Museum Rumah Gadang Nan Baanjuang sendiri bukan sekadar replika rumah adat. Ini adalah museum kebudayaan yang menyimpan sekitar 800 jenis peninggalan penting sejak masa prasejarah Minangkabau.
Lokasinya berada di dalam kawasan TMSBK, sementara pengelolaan bangunannya berada di bawah kewenangan Bidang Cagar Budaya Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi.
Menurut Santi, pendekatan edukasi untuk anak usia dini dilakukan dengan cara bercerita yang ringan dan mudah dipahami. Mulai dari mengenalkan bentuk gonjong atap rumah gadang, bahan ijuk sebagai penutup atap, hingga peralatan prasejarah yang dikisahkan sesuai tingkat pemahaman anak-anak.
“Lebih hebat lagi jika anak usia dini dikenalkan wisata edukasi. Mereka jadi tahu dari hal sederhana, dari bentuk atap sampai bahan bangunannya. Semua kami ceritakan menyesuaikan usia mereka,” katanya.
Tak hanya informatif, suasana edukasi pun terasa hangat. Di akhir sesi, Santi menutup pertemuan dengan pantun khas Minangkabau yang mengundang senyum para guru dan siswa.
“Jalan-jalan ka Jam Gadang,
Jan lupo singgah ka Rumah Gadang.
Kami panduduak Rumah Gadang,
Siap manunggu urang rantau nan ka pulang”.
Rumah Gadang Nan Baanjuang sendiri dibangun pada tahun 1935 M. Dari ratusan koleksi yang dimiliki, koleksi tertua adalah kertas bertulis (manuskrip) berusia puluhan tahun, sementara koleksi termuda berupa mata uang kertas tahun 1977.
Seluruh koleksi menjadi saksi bahwa budaya Minangkabau lahir dari interaksi manusia dengan alam, sejalan dengan falsafah adat. “Alam Takambang Jadi Guru.”
Keindahan filosofi Minangkabau juga tercermin pada detail ukiran bangunan museum. Pada jendela digunakan ukiran Saluak Laka, pada bandul jendela terdapat ukiran Itiak Pulang Patang, serta beragam ukiran lainnya yang masing-masing memiliki makna dan nilai kehidupan tersendiri.
Melalui Rumah Gadang Nan Baanjuang, TMSBK bukan hanya tempat melihat satwa, tetapi juga ruang belajar budaya. Di sinilah anak-anak tidak sekadar berwisata, tetapi menanamkan ingatan tentang jati diri, bahwa budaya bukan untuk dihafal, melainkan untuk dikenali, dirasakan, dan diwariskan. (Aa)

















