BUKITTINGGI – Pernahkah Anda bertanya, ke mana darah pergi setelah jarum donor dilepas dari lengan? Apakah langsung mengalir ke tubuh pasien? Atau ada perjalanan panjang penuh uji dan pengawasan ketat?
Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Bukittinggi akhirnya membuka “tabir dapur darah” itu ke hadapan publik. Bukan lagi misteri. Bukan lagi asumsi. Semua dijelaskan gamblang.
Penjelasan tersebut disampaikan Kepala UDD PMI Bukittinggi, Dr. Herijon, M.Kes, saat Penyerahan Piagam Penghargaan Donor Darah Sukarela 50 dan 75 kali, sekaligus Launching Website Resmi UDD PMI Bukittinggi, di Hotel Royal Denai, Senin (19/1/2026).
“Donor darah bukan sekadar menyumbangkan setetes darah. Ada proses ketat dan berlapis untuk memastikan darah yang keluar dari tubuh pendonor benar-benar aman saat masuk ke tubuh pasien,” tegas Herijon.
Ia membeberkan alur yang selama ini jarang diketahui masyarakat. Dimulai dari pendaftaran, pemeriksaan kesehatan awal, pengambilan darah, hingga uji laboratorium untuk skrining HIV, Hepatitis, Malaria, Sifilis, serta penentuan golongan darah.
Namun perjalanan darah belum selesai.
Kantong darah kemudian masuk ke ruang pengolahan komponen. Di sini, darah dipisahkan menjadi sel darah merah, plasma, dan trombosit, karena setiap pasien membutuhkan komponen yang berbeda.
Setelah itu, darah disimpan di suhu khusus, dikontrol ketat, sebelum akhirnya disalurkan ke rumah sakit berdasarkan permintaan pasien. Terakhir, dilakukan crossmatch, uji pamungkas untuk memastikan kecocokan darah donor dan penerima.
“Semua proses ini memastikan darah aman, steril, dan berkualitas. Tidak ada ruang untuk kesalahan,” jelasnya.
Target 2.500, Realisasi 6.000 Kantong: Bukittinggi Lampaui Standar Nasional
Herijon menegaskan, darah adalah urat nadi layanan kesehatan. Karena itu, UDD PMI Bukittinggi berkomitmen menjaga stok tanpa kompromi.
“Secara nasional, target Bukittinggi hanya 2.500 kantong per tahun. Alhamdulillah, kita tembus 5.000 hingga 6.000 kantong per tahun,” ujarnya, disambut aplaus hadirin.
Capaian ini mengantar UDD PMI Bukittinggi meraih penghargaan nasional dari Kementerian Kesehatan RI atas pemenuhan kuota darah terbaik.
Piagam diterima oleh Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, di Jakarta beberapa waktu lalu.
Meluruskan Persepsi Keliru: Darah Tidak Dijual. Di hadapan publik, Herijon juga membongkar sejumlah miskonsepsi yang masih beredar di masyarakat.
Pertama, anggapan bahwa pasien harus membawa “darah pengganti”.
Kedua, asumsi bahwa darah di PMI adalah darah lama dan bisa langsung dipakai tanpa proses. Ketiga, tudingan bahwa PMI “menjual” darah.
“Itu semua persepsi keliru dan merugikan banyak pihak. UDD PMI tidak pernah menjual darah,” tegasnya lugas.
Ia menjelaskan, darah donor diberikan gratis oleh pendonor. Namun pasien dikenakan Biaya Pengganti Pengolahan Darah (BPPD) untuk menutup biaya operasional: uji saring penyakit, kantong darah, alat medis, penyimpanan, hingga pengolahan komponen.
Sesuai regulasi Kementerian Kesehatan RI, besarannya berkisar Rp360 ribu hingga Rp750 ribu per kantong, tergantung jenis layanan.
Era Digital: Stok Darah Kini Bisa Dipantau Online. Tak hanya membuka dapur darah, UDD PMI Bukittinggi juga melompat ke era digital. Pada acara itu, resmi diluncurkan website dan aplikasi layanan darah: pmikotabukittinggi.id
Platform ini memungkinkan masyarakat memantau stok darah, jadwal donor, hingga permintaan darah rumah sakit secara real time.
“Kami ingin layanan darah lebih cepat, transparan, dan mudah dijangkau masyarakat,” tutup Herijon.
Dari Lengan Pendonor, Menuju Harapan Pasien. Di balik setiap kantong darah yang tersimpan rapi, ada denyut kepedulian pendonor, ketelitian petugas laboratorium, dan doa pasien yang menggantungkan hidup.
Perjalanan darah bukan perkara sederhana. Ia melewati saringan ketat, proses ilmiah, dan sistem profesional. Dari lengan pendonor hingga menyelamatkan nyawa, itulah misi sunyi namun vital UDD PMI Kota Bukittinggi.
Dan kini, dapur





















