TIKAM SAMURAI 146

SUMBARTIME.COM-Siti yang sejak tadi hanya memperhatikan apa yang dilakukan si Bungsu, seperti terbangun dari mimpi. Dia bergerak, dan meletakkan cangkir kopi di meja di depan si Bungsu.
”Terimakasih, Siti. Apa tak lebih baik Siti buatkan juga kopi untuk ayah Siti dan Bapak yang satu itu?”

”Ya..ya, akan saya buatkan..” ujar Siti, tapi tiba-tiba dia terhenti. Seperti ingat sesuatu, dengan gugup dan takut dia menoleh pada komandan PRRI itu, kemudian pada kedua anak buahnya. Ketiga mereka tetap tegak tak bergerak sedikitpun, kecuali matanya yang plarak-plirik ke kiri dan ke kanan dengan wajah pucat.

Iklan

”Oh ya, penat juga memegang bedil sambil berdiri terus menerus…” ujar si Bungsu sambil melangkah dan mengambili bedil serta pistol dari tangan ketiga orang itu. Lalu mendudukkan mereka di kursi kayu terdekat.

Sama sekali tak ada perlawanan dari mereka. Usahkan melawan, mempertahankan bedil itu saja untuk tak diambil si Bungsu mereka tak bisa. Kini mereka tetap duduk dengan tangan seolah-olah masih memegang bedil dan pistol. Ketika senjata api itu diletakkan si Bungsu di atas meja di depan si komandan.

”Buatkanlah, bapak-bapak ini takkan mengganggu kita samasekali. Sebelum totokannya pulih, mereka tak bisa mendengar apapun yang kita bicarakan. Selain menotok saraf untuk bergerak, totokan itu juga mengenai saraf pendengaran yang menyebabkan mereka tak bisa mendengar sekaligus tak bisa bicara,” ujar si Bungsu seperti menjawab ketakutan Siti, walinagari maupun ayahnya.

Setelah menatap kepada tiga anggota PRRI yang terduduk seperti orang linglung itu, Siti lalu membuatkan kopi panas untuk ayahnya dan walinagari. Kedua orang itu pindah ke meja panjang di depan si Bungsu duduk.B”Lama kita tak bertemu, Pak..” ujar si Bungsu tatkala ketiga orang itu, walinagari, pemilik kedai dan Siti, duduk di depannya. Dia menyalami ketiga orang itu.

”Masih ingat engkau rupanya pada kami, Bungsu…”
”Bukankah ketika akan pergi dulu, saya berjanji jika pulang ke Situjuh saya akan singgah kemari? Sekarang saya tepati janji saya. Saya pulang ingin ziarah ke makam keluarga. Tak ada bendi yang mau mengantar saya ke Ladang Laweh karena ada peperangan, saya terpaksa jalan kaki.

Hari sudah larut, ketika lewat tadi saya dengar masih ada suara di kedai ini. Itu sebab saya singgah..” ujar si Bungsu sambil menghirup kopi.
”Hmm..enak kopimu, Siti. Sekarang sudah pakai gula..”

Siti tak tersenyum, kendati ucapan si Bungsu mengingatkan dia tatkala dahulu ketika ada empat tentara Jepang di kedai ini. Saat itu, saking ketakutannya dia memberi si Bungsu kopi tanpa gula. Dia tidak tersenyum karena matanya nanap menatap anak muda itu. Dia serasa bermimpi bisa bertemu lagi. ”Kata orang.., maaf..kata orang Uda sudah meninggal…” ujar Siti lirih.

Si Bungsu menatapnya. Ucapan yang sama pernah dia dengar dari mulut Reno Bulan, tunangannya di masa yang sangat remaja, yang kini bersuamikan tukang salung di Bukittinggi. Rupanya kabar yang tersebar itu benar adanya. Kabar yang disebarkan oleh pedagang yang bolak balik dari Payakumbuh ke Pekanbaru dan ke Tanjungpinang. Dia teringat saat bersama pejuang-pejuang dari Desa Buluhcina menyergap tentara Belanda di pendakian Pasirputih. Sebuah tempat antara Dusun Marpoyan dan Desa Buluhcina.

Saat itu dia memang ditembak oleh dua orang tentara Belanda. Dalam situasi amat kritis dia di bawa pejuang-pejuang Buluhcina ke desa mereka. Di sana dia mereka rawat sampai sembuh, lalu baru melanjutkan perjalanannya ke Jepang melalui Singapura. Kabar dia tertembak itulah yang ditafsirkan dia meninggal, yang ternyata menyebar di Pekanbaru, kemudian didengar dan menyebar dari mulut ke mulut diantara pedagang asal Payakumbuh, Bukittinggi dan sekitarnya. Kabar itu ternyata menyebar pula sampai ke kampungnya.

”Ya, banyak orang mendengar kabar seperti itu, Siti. Dan saya memang tertembak dan menduga akan dijeput maut. Tapi Alhamdulillah Tuhan masih memperpanjang umur saya…” ujarnya perlahan.
Setelah lama sepi, si Bungsu tiba-tiba bertanya.
”Pak Wali, mengapa kampung-kampung yang saya lalui banyak rumah yang lapuk seperti tak berpenghuni..?”
”Bukan seperti tidak berpenghuni, Bungsu. Memang tidak lagi ada penghuninya”
”Kemana penghuninya?”

”Ada yang ikut bergerilya ke hutan. Bagi kaum lelaki yang ikut ke hutan, keluarganya diungsikan ke Jawa atau Tanjungpinang dan Pekanbaru. Pokoknya ke tempat yang tidak dilanda perang. Tapi sebagian besar dari penduduk pergi merantau. Mereka meninggalkan negeri yang diamuk perang ini. Itu terjadi di belasan kampung dalam Luhak Limapuluh ini. Ada yang membawa semua anggota keluarga, ada yang lelaki saja duluan.

Kemudian setelah mendapat tompangan di rantau mereka menjemput anak bininya. Soal ada atau tidak ada pekerjaan di rantau itu soal kedua. Yang jelas menghindar dulu dari keadaan yang tak menentu di kampung. Ada yang ke Pekanbaru, ke Tanjungpinang, banyak yang ke Jawa. Tapi ada pula beberapa orang mencoba peruntungan di Negeri Sembilan, Malaya, sebagaimana halnya Sutan Sinaro suami Siti..” Si Bungsu menatap Siti, yang ternyata sudah bersuami. ”Sudah lama Sutan Sinaro ke Malaya, Siti?”

Gadis itu tak segera menjawab. Sesaat dia menatap si Bungsu, lelaki yang entah mengapa selalu dia tunggu sebelum akhirnya memutuskan menikah, setelah dia mendengar orang yang dia harapkan ini terbunuh di Pekanbaru. Kendati telah menikah, namun dia tak pernah bisa melupakan anak muda itu.

Masih dia ingat ketika tangannya digenggam si Bungsu di larut malam ketika akan meninggalkan kedainya ini, setelah membantai empat orang serdadu Jepang. ”Sudah tiga bulan, sudah ada kabar akhir bulan ini dia akan kemari menjemput kami. Uda Sutan mendapat pekerjaan sebagai mandor kecil di perkebunan karet di sana..” ujar Siti perlahan sambil menunduk.

”Syukurlah kalau begitu. Menjadi mandor perkebunan itu suatu pekerjaan terpandang. Di Singapura saya dengar memang sudah mulai banyak orang awak yang mengadu nasib di Malaya. Lagipula, memang sebaiknya merantau dulu selagi kampung kita ini dilanda perang. Di sini nyawa manusia kadangkala tak lebih berhaga dari nyawa seekor ternak…”

Lama mereka sama-sama terdiam. Lalu si Bungsu menoleh kepada tiga anggota PRRI yang masih duduk tak bergerak-gerak itu. Dia berdiri, menghampiri mereka satu persatu, menotok urat di lehernya. Terdengar ada yang batuk, ada yang melenguh. Namun tetap tak bisa bergerak. Mereka hanya sekedar bisa mengerakkan kepala, mendengar dan bicara.

”Nah Sanak bertiga, dengarlah. Sanak pasti sengaja memisahkan diri dari induk pasukan, menyelusup ke kampung-kampung di kaki Gunung Sago ini untuk merampok, bahkan membunuh orang yang melawan kejahatan yang Sanak lakukan. Sanak benar-benar menangguk di air keruh. Dari logat bicara, amat jelas Sanak bukan orang Luhak Limapuluh ini. Saya minta Sanak menyadari bahwa yang kalian lakukan menambah sengsara penduduk yang memang sudah sengsara.

Dulu sengsara di bawah penjajahan Belanda, lalu datang Jepang menambah kesengsaran itu. Kini penduduk sengsara oleh perangai yang Sanak lakukan tanpa setahu induk pasukan Sanak. Kalau mau terus berperang melawan tentara pusat, silahkan. Tapi jangan ganggu penduduk yang tidak berdosa. Sanak ingatlah itu baik-baik…”

Sehabis berkata si Bugsu berdiri, mengambil ketiga bedil di meja. Meletakkannya di pangkuan masing-masing anggota PRRI itu. Kemudian menjentik urat di leher mereka, yang menyebabkan ketiga orang itu terbebas dari totokan. Namun kendati telah bebas dari totokan, dan mereka sudah memegang bedil masing-masing, ketiga orang itu masih duduk termangu-mangu. Sampai akhirnya si komandan yang di pinggangnya tergantung dua pistol itu bicara perlahan.

”Terimakasih, Sanak. Terimakasih. Kemurahan hati dan budi Sanak tidak hanya membuat kami sadar pada kekeliruan kami selama ini, tapi sekaligus juga memperpanjang nyawa kami. Kami yakin, jika Sanak mau sejak tadi dengan mudah kami Sanak bunuh. Semudah membalik telapak tangan. Terimakasih atas nasehat Sanak. Sekali lagi terimakasih, Sanak telah memberi kesempatan bagi kami untuk tetap bisa bertemu dengan anak dan isteri yang menunggu di kampung.

Apapun kebaikan yang kami buat kelak, takkan mampu membayar kebaikan sanak kepada kami. Kepada Bapak dan Siti, juga kepada Pak Wali, kami mohon maaf.,” berkata begitu si komandan lalu mengambil bungkusan saputangan berisi uang dan perhiasan yang tadi diambil anak buahnya dari rumah, kemudian meletakkannya di atas meja di depan pemilik kedai tersebut.

”Sebelum subuh datang, sebaiknya kami pergi…” Sehabis berkata, dengan berlinang air mata karena dibiarkan tetap hidup, si komandan menyalami si Bungsu, pemilik kedai dan walinagari, diikuti kedua anak buahnya. Lalu dengan sekali lagi mengucapkan terimakasih pada si Bungsu, mereka menyelusup keluar dari kedai itu. Lalu lenyap dalam gelap dan embun subuh yang sejak tadi sudah menyelimuti kampung-kampung di kaki Gunug Sago itu. Kesunyian di kedai kecil itu dipecahkan oleh suara lelaki tua pemilik kedai tersebut.

”Dua kali kau menyelamatkan kami, Nak. Engkau seperti malaikat yang dikirimkan Tuhan ke kedai ini, persis di saat-saat yang sangat genting. Kami dua beranak tidak tahu bagaimana membalas budimu…”
Si Bungsu hanya menatap dengan tenang.

”Saya sangat lapar, apakah mungkin saya minta bantuan Siti menanakkan nasi? Saya rasa kita makan dengan Pak Wali bersama-sama. Saya rasa besok belum tentu ada orang yang mau menanakkan nasi buat saya di Situjuh Ladang Laweh. Di sana tak ada lagi sanak famili saya. Mamak saya suami isteri, sudah meninggal. Anaknya Reno Bulan kini berjualan kain di Bukittinggi bersama suaminya.”

Siti hiba hatinya saat si Bungsu berkata ”besok belum tentu ada orang yang mau menanakkan nasi buat saya” .
”Saya akan tanakkan nasi untuk Uda. Tapi … bila Uda bertemu dengan kak Reno? Kabarnya hidupnya susah, dia ikut suaminya yang tukang salung..”

”Saya bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Sebelum peperangan besar melanda Bukittinggi. Dulu suaminya memang tukang salung. Tapi berkat yakin, dari uang yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit, kini mereka sudah berjualan kain di Los Galuang.” Siti menatap lelaki yang tak pernah lenyap dari hatinya itu nanap-nanap.

Kemudian mulai menjerang nasi, menyiangi ikan limbat dan gurami yang dibeli sore tadi dari orang yang memancing di sungai kecil tak jauh dari kampung itu. Kemudian menggorengnya dengan cabe hijau yang dia giling. Sambil menanti Siti bertanak, ketiga lelaki itu terlibat pembicaraan tentang pertempuran PRRI dan APRI di Bukittinggi. Tentang ratusan korban yang bergelimpangan yang dikumpulkan di bawah Jam Gadang, yang tidak jelas apakah penduduk atau tentara PRRI.

Ketika azan subuh terdengar, walinagari minta diri seraya juga mengucapkan terimakasih kepada si Bungsu atas perannya menyelamatkan Siti dan ayahnya, sekaligus menyadarkan ketiga orang PRRI yang sering jadi momok di kampung-kampung di kaki Gunung Sago itu. Si Bungsu menompang sembahyang subuh di rumah itu. Mereka sembahyang berjamah, dengan ayah Siti sebagai Imam. Usai sembahyang Siti meletakkan kopi dan ketan serta pisang goreng yang dia siapkan dengan cepat.

Tapi akhirnya tiba juga saat yang sangat dia takuti, sangat tidak dia ingini. Yaitu saat si Bungsu minta diri. Entah mengapa, dia ingin anak muda itu berada lebih lama lagi di rumahnya. Namun si Bungsu sudah minta diri.
”Saya harus pergi, terimakasih masakanmu Siti. Selamat jalan kalau kelak Bapak dan Siti berangkat ke Negeri Sembilan.

Salam saya kepada suamimu, Sutan Sinaro, Siti…” ujar Si Bungsu. Siti menatap si Bungsu, kemudian tertunduk. Ada manik-manik air mengalir perlahan di pipinya.

”Akan lama Uda di Situjuh?”
”Saya tidak tahu, Siti. Seperti saya katakan tadi, di sana tidak ada lagi sanak famili saya..”
”Kalau sebelum kami pergi Uda lewat di sini, singgahlah. Saya akan menanakkan nasi untuk Uda..”

Rumah Gadang tempat dia lahir dan menjalani masa remaja, rumah dimana ayah, ibu dan kakaknya mati ditangan Saburo dan pasukannya, masih terurus dengan baik. Dia dapat cerita dari Reno Bulan sewaktu di Bukittinggi bahwa rumah itu kini dihuni kemenakan ayahnya. Waktu mereka bertunangan dulu kemenakan ayahnya itu berada di Jambi, menikah dan berdagang di sana.

Si Bungsu tak pernah mengenal kemenakan ayahnya itu. Karenanya dia sengaja tak singgah di rumah tersebut. Kendati hatinya direjam rindu, namun dia hanya melihat dari kejauhan saat akan menuju ke pekuburan. Sudah tiga hari dia di kampungnya ini. Pandam pekuburan kaum dimana keluarganya dimakamkan sudah tak terurus dan ditumbuhi lalang padat.

Dia baru menemukan ketiga kuburan keluarganya itu setelah mencari dengan susah payah. Selama di kampung dia tidur di masjid dimana dulu terjadi keributan karena tentara Jepang akan menangkap Sawal dan Malano, dua pejuang yang sebeumnya mencuri senjata di gudang tentara Jepang di Kubu Gadang.

Peristiwa itu terjadi setelah dia ikut sembahyang berjamah di masjid itu. Sawal adalah anak haji yang menjadi imam di masjid tersebut. Itu adalah hari pertama dia turun dari puncak Gunung Sago. Dan hari itu, untuk membela Saleha, anak kedua Imam masjid dan sekaligus menolong Sawal dan Malano agar tak tertangkap, dia membunuh ketiga Jepang yang datang itu. Itulah kali pertama dia membunuh tentara Jepang.

Kini tak ada lagi orang sembahyang berjamaah di masjid itu. Pergolakan merobah kampung itu, dan juga kampung-kampung lain di pedalaman Minangkabau. Sebagaimana dijelaskan walinagari di kedai Siti, para lelaki sebagian ada yang ikut masuk hutan bergerilya melawan tentara pusat dengan sukarela. Sebagaian lagi ikut dengan terpaksa. Sebagian yang lain lagi pada meninggalkan kampung. Merantau ke Jawa, Tanjung Pinang atau Pekanbaru. Sebagian besar yang tinggal di kampung adalah orang-orang tua, lelaki maupun perempuan.

Jika di kota seperti di Payakumbuh, Bukittinggi dan Batusangkar saja orang jarang sembahyang berjamah ke masjid, apa lagi di kampung-kampung kecil di kaki Gunung Sago itu. Tapi keadaan itu membuat si Bungsu agak tenteram. Karena hampir tak ada orang yang tahu dia berada di kampung itu. Situjuh Ladang Laweh, karena letaknya di pinggang Gunung Sago, situasinya sangat rawan.

Letaknya itu menyebabkan desa tersebut setiap sat dengan mudah didatangi pasukan PRRI. Sebaliknya, pada waktu tertentu tentara pusat yang disebut sebagai APRI itu datang ”membersihkan” desa-desa dari PRRI yang mereka sebut sebagai ”gerombolan”. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here