TIKAM SAMURAI 147

SUMBARTIME.COM-Penduduk benar-benar seperti memakan buah simalakama. Mereka tak mungkin menolak bila ada dua atau tiga anggota PRRI yang singgah dan meminta nasi. Namun bagi orang tertentu hal itu digunakan untuk mencari keuntungan bila tentara APRI datang. Bisa saja untuk balas dendam bila orang yang rumahnya didatangi PRRI itu adalah orang yang berseteru dengannya.

Sebaliknya, bila yang naik ke sebuah rumah adalah anggota TNI dari APRI, maka itu juga bisa dijadikan sumber fitnah oleh seterunya. Lapor melapor antar-sesama penduduk seperti itu bukan hal yang jarang terjadi. Itulah yang menyebabkan orang merasa lebih baik angkat kaki dari kampung halaman mereka. Pergi merantau ke Jawa, ke Riau atau ke daerah lain.

Iklan

Si Bungsu tengah menuju ke pemakaman untuk kembali membersihkan kuburan keluarganya itu. Saat lewat di depan rumah milik kedua orang tuanya, dimana dahulu dia hidup di sana, dia lihat seorang lelaki separoh baya tengah membelah-belah kayu di bawah rumah gadang tersebut. Lelaki itu menoleh ke arahnya. Dia cepat-cepat mengalihkan pandangan dan terus berjalan. Dia tahu, lelaki itu adalah kemenakan ayahnya yang menunggu rumah gadang tersebut.

Lewat tengah hari dia selesai membuat ketiga makam keluarganya menjadi amat bersih. Selain ketiga makam itu, dia juga membersihkan tiga atau empat makam di sekeliling makam keluarganya tersebut. Pergolakan tidak hanya membuat kampung menjadi lengang, juga menyebabkan kuburan, kebun, sawah dan ladang menjadi terlantar. Rumah-rumah yang tidak berpenghuni atap ijuknya pada ditumbuhi lumut atau sakek.

Saat akan mengakhiri pekerjaannya membersihkan kuburan itu tiba-tiba jantungnya berdebar. Dia tegak, menatap keliling. Hanya ada belukar yang semakin lebat. Debar jantungnya makin menguat. Biasanya debar seperti itu adalah isyarat datangnya bahaya. Jauh di atas sana dua ekor elang terbang berputar seperti sedang mengintai mangsa. Dia memejamkan mata, memusatkan konsentrasi.

Mencoba mengetahui apakah bahaya yang mengancam nya, yang membuat debar jantungnya berdenyut tidak normal itu, datang dari dalam belukar yang mengelilingi kuburan tersebut. Dalam konsentrasinya dia mencoba menangkap suara sehalus apapun yang datang dari dalam belukar itu. Mungkin desah nafas, mungkin dengus, mungkin suara dedaunan yang tergeser oleh tubuh mahluk apapun. Harimau, beruang atau ular sekalipun.

Dari pengalaman hidup di puncak Gunung Sago dahulu, dia memiliki kemampuan untuk mendengarkan perbedaan sekecil apapun suara yang ditimbulkan. Antara suara daun yang ditiup angin dengan daun yang terkuak oleh lewatnya mahluk hidup. Namun meski beberapa kali dia coba memusatkan kosentrasi tetap saja tak satupun sumber suara yang bisa disimpulkan sebagai ancaman.

Dia hanya mendengar suara beberapa ekor ayam hutan mengais makanan. Kemudian suara desiran seekor ular, mungkin ular tedung yang besarnya tak melebihi lengannya. Suara bergeraknya ular itu, menurut perkiraannya, ada sekitar dua puluh depa dari tempatnya berdiri. Lagipula arah bergerak ular itu menjauhi tempatnya berdiri, bukan ke arahnya. Jadi samasekali bukan ancaman bagi dirinya.

Michiko Sama sekali tak ada niatnya untuk melukai apalagi membunuh si Bungsu, lelaki yang siang malam memenuhi relung hatinya. Satu-satunya lelaki yang pernah merebut hatinya, yang siang malam dia rindukan. Lelaki yang dia cari sampai ke ujung dunia, tanpa mempedulikan apapun rintangannya. Kalau tadi dia menghunus samurai, itu dengan keyakinan yang amat sangat bahwa serangannya dengan amat mudah dapat dielakkan atau ditangkis oleh si Bungsu. Dia sebenarnya sangat berharap dialah yang dilukai dan dilumpuhkan.

Kalau si Bungsu tidak mencintainya, dia rela mati di tangan lelaki yang dia cari ke segenap penjuru ini. Dia memang mencari lelaki itu dengan dendam di hati. Tapi jika ditimbang mana yang berat antara dendam dengan rasa cintanya kepada lelaki itu, perbandingannya bisa satu untuk dendam, sepuluh untuk cinta.

Dia benar-benar tidak menduga sedikitpun, bahwa gerakan si Bungsu di awal tadi adalah gerakan untuk membuang samurai nya. Dalam pikiran nya, serangannya yang tak berbahaya dalam bentuk memancung dari atas kiri ke dada lelaki itu akan mudah digagalkan. Dia tahu, serangannya itu dapat di tangkis siapapun dengan gerakan sederhana sekali, apalagi oleh si Bungsu.

Tapi si Bungsu ternyata samasekali tidak mencabut samurai nya. Dia merasa hiba melihat gadis itu memburunya ke mana-mana untuk membalas dendam. Dia amat menyesal telah menyebabkan Michiko sebagai anak tunggal kehilangan ayah. Kini tak ada lagi tempat gadis itu menggantungkan hidup. Ibunya sudah lama meninggal. Dia dapat merasakan betapa sepi dan terguncang nya jiwa Michiko setelah kematian ayahnya, dia dapat merasakan karena hal yang sama juga menimpa dirinya.

Itulah sebab dia ingin segera mengakhiri dendam turunan itu. Itulah pula sebabnya kenapa dia samasekali tidak mencabut samurai untuk melawan Michiko. Yang dia lakukan justru melemparkan samurai nya ke tanah. Dan saat itu serangan ke dadanya tak lagi sempat ditarik Michiko. Lalu…terjadilah tragedi dan malapetaka itu!

Dalam ketakutan ditinggalkan lelaki yang amat dicintainya itu, Michiko teringat ucapan pendeta Kuil Shimogamo yang menjadi senseinya berlatih samurai, sepeninggal ayahnya. Saat sensei itu tahu Michiko berlatih untuk mencari dan membalas dendam kepada si Bungsu, pendeta itu mengingatkannya dengan lembut:

Saya tahu anak muda bagaimana musuhmu itu Michiko-san. Dia akan membunuh lawan-lawannya. Tapi percayalah, jika engkau bertemu kelak dengannya, dia takkan melawanmu. Dia adalah anak muda yang berbudi. Dia tak akan melawanmu, dia akan merelakan nyawanya di tanganmu. Percayalah, Nak . .

Dia juga teringat penggalan dialognya suatu hari dengan Zato Ichi, pendekar legendaris Jepang yang ternyata juga sudah sangat mengenal si Bungsu setelah peristiwa wafatnya Obosan Saburo Matsuyama.

”Michiko, muridku. Saya dapat menerka, bahwa antara kalian ada salah pengertian . .”
”Maksud bapak?”
”Salah fahaman itu datangnya bukan dari dia. Tapi dari engkau Michiko-san . .”

”Maksud bapak?”
”Maksud saya, kalian sebenarnya saling cinta . .. ”
”Tidak. Dia tak mencintai saya . . ”
”Bagaimana dengan engkau. Apakah engkau mencintainya?”
Saat itu Michiko tak bisa menjawab pertanyaan Zato Ichi.

”Jawablah. Apakah engkau mencintainya?”
”Saya orang Jepang. Dia telah menyebabkan kematian ayah saya. Bagaimana mungkin dengan kedua perbedaan yang amat besar ini saya bisa mencintainya?”
Zato Ichi tertawa bergumam, lalu menarik nafas panjang.

Kalau engkau orang Jepang, apakah itu menjadi halangan untuk mencintai bangsa lain? Ah, sedangkan diriku yang tua tak berfikir sekolot engkau Nak. Yang penting bukan bangsa apa dia. Bukan pula bangsawan atau tidaknya dia. Tapi yang penting apakah engkau mencintainya dan dia mencintaimu. Jika hal ini terjadi timbal balik, maka persetan dengan segala perbedaan yang ada. Apakah tak pernah kau dengar betapa banyaknya orang yang kawin hanya karena mementingkan derajat, kekayaan, martabat, akhirnya perkawinan mereka jadi puing. Perkawinan mereka jadi neraka bagi diri mereka. Ah, saya sudah banyak mendengar perkawinan yang demikian Nak . . . ”

Terakhir, dia teringat dialognya dengan Salma, orang yang dicintai si Bungsu sebelum bertemu dengannya, yang ternyata menjadi isteri sahabatnya, Overste Nurdin, Atase Militer Malaya yang berkedudukan di Kota Singapura. Saat itu dia akan naik pesawat ke Padang melalui Jakarta. Saat itu suami Salma berkata:

Saya berharap akan dapat bertemu dengan kalian berdua, Michiko. Maksud saya engkau dan si Bungsu. Saya tahu, engkau menaruh dendam padanya. Namun, saya benar-benar menginginkan tak satupun di antara kalian yang cedera…”
Kala itu Michiko hanya tersenyum. Senyumnya kelihatan getir. Sebelumnya Salma juga sempat bicara empat mata dengannya.

”Sebagai sesama perempuan, Michiko, saya ingin mengatakan padamu. Engkau punya kesempatan untuk bertemu dengan lelaki yang sama-sama kita cintai. Engkau yang memiliki kesempatan paling besar untuk mendapatkan dirinya.

Jangan engkau sampai dikuasai oleh dendam keparat itu. Itu nonsens sama sekali. Berfikirlah dengan akal sehat. Dia takkan mau melawanmu, aku tahu itu bukan sifatnya. Bila dia engkau bunuh Michiko, sama artinya engkau membunuh harapanmu sendiri. Kau akan menyesal seumur hidupmu.

Kalian kini sama-sama sebatangkara. Yang kalian butuhkan adalah kasih sayang. Bukan perkelahian dan saling bunuh. Sebagai seorang yang lebih tua darimu, Michiko san, saya ingin engkau bahagia. Saya ingin si Bungsu bahagia. Dan saya yakin, kebahagiaan itu takkan kalian peroleh kalau kalian tidak bersama. Saya ingin mendengar kabar bahwa kalian menikah. Saya akan menanti kalian di sini. Datanglah sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, Adikku!”

Michiko tak bisa menahan air matanya. Dia memeluk Salma. Salma juga basah matanya. Kini, lelaki yang dia cintai dan dia cari ke ujung langit itu, bersimbah darah dan sekarat dalam pelukannya karena dimakan mata samurainya! Apa yang pernah diucapkan sesnseinya di Kuil Shimogamo dan Salma, bahwa anak muda itu takkan pernah mau melawannya, akan merelakan nyawanya di tangan Michiko, kini semua terbukti. Semua!

Di antara ratap sesalnya Michiko sayup-sayup seperti mendengar suara ledakan dan tembakan sahut menyahut. Disusul suara gemuruh. Semua suara berdesakan ke dalam kepalanya, susul menyusul dan kacau balau. Hiruk pikuk tak menentu.

Bathinnya yang terpukul amat dahsyat akhirnya membuat pertahanan jiwanya berada di titik paling nadir. Mula-mula semuanya menjadi samar-samar, lalu akhirnya tubuhnya rebah ke jalan berkerikil tak sadarkan diri, dengan tetap memeluk tubuh si Bungsu!

”Dia sadar..” ujar seseorang, disusul suara langkah beberapa orang pada mendekat. Lalu terdengar suara memanggil.
”Bungsu-san…” Si Bungsu membuka mata. ”Bungsu-san. Oh..sukurlah..sukurlah..” ujar Michiko sambil memegang tangan si Bungsu dan menciumnya di bawah tatapan mata beberapa perawat dan dua orang dokter.

”Michiko…”
”Bungsu-san..”
”Dimana ini?”
”Ini Rumah Sakit Tentara, di Padang…” jawab seorang dokter yang juga tentara.

”Di Padang..?”
”Ya, di Padang..”
”Kapan saya dibawa kemari?”
”Sepuluh hari yang lalu..”
”Sepuluh hari..?”

”Ya..”
”Selama itu saya tidak pernah sadar?”
”Tapi sekarang sudah. Keadan Anda semakin amat membaik..” ujar dokter itu sambil memeriksa mata dan denyut nadi si Bungsu.

Para dokter dan para perawat akhirnya meninggalkan ruang itu. Kini hanya tinggal dia dan Michiko. Ditatapnya gadis itu sambil mencoba mengingat kejadian terakhir. Saat itu dia baru keluar dari pemakaman kaum, setelah membersihkan kuburan ayah, ibu dan kakaknya.

Di jalan menanjak dia melihat seseorang berjalan menuju ke pemakaman. Tapi saat hampir sampai di puncak tanjakan dia baru tahu, orang itu tetap tegak menunggunya di puncak tanjakan tersebut.

Setelah jarak mereka hanya sekitar tiga depa, dia baru menyadari bahwa orang yang tegak dipuncak tanjakan itu, yang namapknya sengaja menunggu dia tiba, tak lain dari Michiko. Dan…dia ditantang untuk bertarung. Dia melemparkan samurainya ke jalan, tapi sat itu dadanya terasa amat pedih.

Kemudian dia jatuh dia atas kedua lututnya. Tangannya menekan dadanya yang pedih, tapi darah mengalir keluar. Makin lama makin banyak. Teringat hal itu si Bungsu meraba dadanya. Michiko memahami apa yang ada dalam fikiran si Bungsu. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here