TIKAM SAMURAI 148

SUMBARTIME.COM-”Maafkan aku, Bungsu-san. Maafkan aku…” ujarnya terisak sambil meraih tangan si Bungsu dan kembali menciumnya.
”Jangan menangis, Michiko san…jangan menangis… Kemarilah, peluk aku..” ujar si Bungsu sambil menarik tangan Michiko dengan lembut.

Michiko merebahkan kepalanya ke dada si Bungsu. Si Bungsu membelai rambut gadis itu dengan lembut. ”Ingat malam itu di kereta api dari Gamagori menuju Nagoya?..?” ujar si Bungsu perlahan.
Michiko mengangkat kepalanya, menatap si Bungsu, kemudian berbisik.

Iklan

”Takkan pernah kulupakan saat itu, Bungsu-san. Itulah sat paling bahagia dalam hidupku. Kau peluk bahuku, dan aku tertdiur di bahumu dari senja hingga tengah malam,” ujar Michiko sambil kembali merebahkan kepalanya di dada si Bungsu.

”Engkau mau mendengarkan nyanyianku…?”
Michiko mengangguk di dada si Bungsu, pertanyan itu sama persis dengan pertanyan yang diucapkan anak muda itu di kereta api bertahun yang lalu.
“Ya, saya suka. Menyanyilah Bungsu-san…”

Bisiknya, menirukan kata-kata yang juga persis sama dengan yang dia ucapkan saat menjawab pertanyan anak muda itu, berbilang tahun yang lalu, dalam kereta api yang meluncur dari Gamagori menuju Nagoya. Dengan masih memeluk bahu gadis itu Si Bungsu mulai batuk-batuk kecil mengatur suara, lalu dengan suara yang berat dan lembut terdengar nyanyiannya:

“Ame ga fuuttemo
watashi wa ikimasu
nakanaide kudasai
watashi o
wasurenaide kudasai
sayonara….”

(Meskipun turun hujan,
saya akan pergi
jangan menangis
jangan lupakan saya
selamat tinggal…)

Di kereta dahulu, Michiko mengangkat kepalanya begitu lagu itu berakhir. Menatap mata anak muda itu tepat-tepat. Tapi kini, dia tidak mengangkat kepalanya, dia mengulangi lagi kata-katanya kala itu: “Anata wa Nippon no uta o shitte imasu…Anda mengetahui lagu Jepang”

“Hai, sukoshi dekimasu…Ya, saya mengetahui sedikit..” jawab si Bungsu, juga mengulang secara amat persis ucapannya di kereta menuju Nagoya dahulu. Michiko mengangkat wajahnya begitu ucapan si Bungsu selesai. Dia menatap anak muda itu tepat-tepat. Si Bungsu melihat air mata mengalir perlahan di pipi gadis itu.

”Nakanaide kudasi, Michiko-san. Jangan menangis, Michiko..” ujar si Bungsu sambil menghapus air mata di pipi Michiko dengan jemarinya dengan lembut. Michiko meraih tangan si Bungsu menciumnya, lalu berkata di antara isaknya yang tertahan. ”Berjanjilah tidak lagi meninggalkan aku, Bungsu san. Berjanjilah..”

Si Bungsu meraih wajah Michiko, menariknya mendekati wajahnya. Kemudian dengan lembut dia cium keningnya, matanya dan..bibirnya. Michiko menggigil dalam pelukan anak muda itu. Menggigil karena haru dan bahagia.

”Itu janjiku, Michiko-san…Itu janjiku..” bisik si Bungsu sambil memeluk gadis itu dengan lembut. Dalam posisi seperti itu kedua anak manusia yang berasal dari negeri yang amat berjauhan itu tertidur.

Besoknya si Bungsu kedatangan dua orang tamu. Keduanya berbaret merah. Si Bungsu sudah bisa duduk, namun belum dibolehkan berjalan. Tunggu sehari dua lagi, sampai luka di dada benar-benar pulih, begitu kata dokter. Dia merasa surprise saat mengetahui tamu yang datang adalah Letnan Fauzi dan Letnan Azhar dari RPKAD.

Mereka bersalaman dan berpelukan dengan akrab. Si Bungsu mengenalkan kedua perwira itu dengan Michiko. Keduanya membungkuk dengan hormat sebelum menyalami gadis cantik itu. Si Bungsu mencegah Michiko yang akan keluar, maksud gadis itu agar dia bisa berbicara bebas dengan kedua temannya itu.

“Tak ada rahasia antara kami, kedua beliau sahabat saya. Karena itu juga sahabatmu Michiko-san..” ujar si Bungsu. Dan merekapun ngobrol berempat. Dari obrolan itu menjadi jelas bagi si Bungsu maupun Michiko, apa sebab mereka sampai ke Rumah Sakit Tentara di Padang ini. Padahal sebelumnya mereka berada di Situjuh Ladang Laweh.

Ternyata saat mereka berhadap-hadapan di puncak pendakian dekat makam kaum di Situjuh Ladang Laweh itu dua minggu yang lalu, APRI sedang melakukan operasi pembersihan ke beberapa kantong PRRI di pinggang Gunung Sago itu. Yang memimpin operasi itu adalah peleton yang dipimpin Letnan Fauzi dan peleton Letnan Azhar.

Pasukan mereka sampai ke pemakaman itu karena akan mengambil jalan pintas memotong jalur pelarian empat orang anggota PRRI yang melarikan diri dari penyergapan di salah satu rumah di Situjuh Ladang Laweh. Semula dua anggota pasukannya menyangka lelaki dan perempuan yang mereka temukan di puncak pendakian itu sudah tewas terkena peluru nyasar. Soalnya keduanya berlumur darah. Tapi begitu didekati, saat kedua tubuh itu disorot lampu senter, dua orang anak buahnya terkejut.

Dia sangat mengenal wajah orang yang terluka dalam pelukan perempuan Jepang yang juga pingsan itu. Dia mengenalnya karena dia adalah salah seorang anggota RPKAD yang melihat orang itu bertarung dengan komandannya. “Bungsu, ini si Bungsu..!” serunya sambil berseru dan beberapa kali memberi isyarat kepada Letnan Fauzi lewat cahaya lampu senter.

Saat Letnan Fauzi sampai di sana, dengan terkejut dikenalinya orang yang pernah bertarung dengannya itu.
“Berikan bantuan darurat, periksa wanita ini. Panggil tandu …” perintah Letnan Fauzi.

Tak lama kemudian Letnan Azhar sampai di sana. Mereka tak heran kenapa si Bungsu dan gadis Jepang itu ada di sana. Mereka telah membaca laporan intelijen tentang kedua orang ini. Riwayat si Bungsu hampir lengkap dimuat di laporan intelijen itu. Mulai saat pembantaian keluarganya sebelum kemerdekaan, sampai saat dia “gentanyangan” membunuhi Jepang dan Belanda di Payakumbuh, Bukittinggi dan Pekanbaru.

Termasuk di dalam laporan itu bahan yang dikirimkan oleh Overste Nurdin, Atase Militer Indonesia di Malaya yang berkedudukan di Singapura. Mereka juga mendapat data intelijen dari Konsul RI di Australia. Tentang Michiko, selain informasi dari Overste Nurdin, juga didapat informasi dari Jakarta. Dalam pergolakan ini dia dinilai militer sebagai orang yang sangat netral.

Dalam kasus tertentu dia melabrak anggota APRI yang tidak benar. Dalam kasus lain dia menghantam orang PRRI yang berbuat aniaya kepada rakyat. Kenetralan yang sangat terjaga dan karenanya sangat dihormati. Tentang apa sebab dan apa tujuan Michiko mencari si Bungsu, informasinya mereka peroleh juga dari laporan Overste Nurdin.

Laporan itu tidak begitu lengkap, hanya dituliskan bahwa selain membawa-bawa dendam, Michiko sebenarnya mencintai si Bungsu. Laporan dari Overste Nurdin dikirim ke Jakarta via telegram. Diteruskan ke perwira tertentu yang berada di Sumatera Barat.

“Kau boleh tangguh dan menang bertarung dengan selusin lelaki, Bungsu. Termasuk dengan aku. Tapi kami sudah menduga, kau takkan berdaya menghadapi Michiko…” ujar Letnan Fauzi bergurau.
“Dan itu sudah kami buktikan ketika menemukan engkau sekarat di Situjuh..” sambung Letnan Azhar.

Si Bungsu tersenyum dan memandang pada Michiko. Gadis itu, yang sudah amat fasih berbahasa Indonesia, karena belajar dari Salma dan Nurdin saat di Singapura, tunduk tersipu-sipu.
“Lain kali, kalau kita harus melawan Bungsu lagi, kita minta tolong saja pada Michiko..” ujar Letnan Azhar, disambut tawa berderai Letnan Fauzi.

Si Bungsu yang ikut tertawa tiba-tiba terpekik, karena lengannya dicubit Michiko. Cubit dan pekik itu menyebabkan tawa mereka makin berderai di dalam kamar rawat inap itu. Lepas dari pertemuan dan senda gurau yang membahagiakan itu, menjadi jelas pula bagi Bungsu dan Michiko, pada malam terjadinya peristiwa terlukanya si Bungsu itu mereka berdua dilarikan dengan memakai truk pengangkut tentara ke Payakumbuh. Kemudian atas perintah kedua letnan RPKAD itu dia dilarikan ke Rumah Sakit Tentara di Padang.

Dengan truk yang dilengkapi kasur malam itu juga melarikan mereka ke Padang, dikawal oleh selusin anggota RPKAD. Hal itu dilakukan kedua perwira RPKAD itu setelah terjadi “uji tanding” antara si Bungsu dengan Letnan Fauzi. Jika sebelumnya mereka hanya menerima laporan intelijen tentang apa dan mengapa si Bungsu dan Michiko, tiga hari setelah uji tanding itu datang sebuah daftar dari Markas APRI berisi nama dua tiga orang di Sumatera Barat yang diberi kode HD, “Harus Dilindungi”.

Di antara sedikit nama yang diberi kode HD itu terdapat nama Kari Basa dan Bungsu! Untuk melaksanakan perintah berlabel HD itu tentu saja mereka tak boleh kehilangan jejak orang-orang tersebut. Namun letnan itu kelabakan mencari dimana keberadan si Bungsu. Ketika Michiko muncul di Bukittinggi, akhirnya diputuskan untuk mengawasi gadis itu dari jauh. Mereka yakin, kedua orang itu pasti akan bertemu. Karenanya diam-diam Michiko dijadikan sebagai “penunjuk jalan” dalam mencari si Bungsu.

Namun adanya perintah berkode HD itu, berikut menjadikan Michiko sebagai penunjuk jalan, tak pernah diungkapkan kedua letnan itu kepada siapapun, tentu saja termasuk kepada si Bungsu dan Michiko. Dari pertemuan hari itu pula si Bungsu mengetahui, bahwa ke Sumatera Barat ini RPKAD yang dikirim hanya dua peleton yang dipimpin Fauzi dan Azhar. Sementara ke Riau dikirim satu batalyon, berkekuatan lebih kurang seribu orang.

Hal itu disebabkan pemerintah Pusat mengamankan PT CALTEX yang berkantor di pinggiran kota Pekanbaru, serta ladang-ladang minyaknya yang bertebaran di dalam belantara Riau tersebut. Letnan Fauzi dan Letnan Azhar memerlukan datang menemui si Bungsu, karena dua peleton RPKAD yang mereka pimpin akan kembali ke Jakarta. Masa tugas mereka selama tiga bulan di daerah ini sudah berakhir.

“Terimakasih, Letnan. Aku berhutang nyawa pada kalian…” ujar si Bungsu dengan nada bergetar.
“Kalau kalian nikah nanti jangan lupa mengundang kami, awas kalau lupa..” ujar Fauzi saat akan meninggalkan ruangan itu. Dan para sahabat itupun berpisah dalam suasana penuh haru.

Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit si Bungsu sangat terkejut ketika mendengar kabar bahwa ayah Salma yang bernama Kari Basa mati tertembak di Bukttinggi. Dia ditembak malam hari, saat akan masuk ke rumahnya. Sampai sekarang tidak diketahui pihak mana yang menembaknya. Overste Nurdin dan Salma isterinya telah sampai di Bukittinggi dua hari yang lalu.

Mereka terbang langsung dari New Delhi dimana Nurdin bertugas ke Jakarta, kemudian ke Padang dan diantar pakai jip yang dikawal dua truk tentara ke Bukittinggi. Si Bungsu, termasuk Michiko, memutuskan untuk datang ke Bukittinggi menemui kedua sahabatnya itu.

Sementara Michiko kembali teringat ucapan Salma di Airport Changi, saat akan berangkat ke Jakarta, untuk seterusnya mencari si Bungsu ke kampungnya. Saat itu Salma berkata: “Sebagai sesama perempuan, Michiko, saya ingin mengatakan padamu.

Engkau punya kesempatan untuk bertemu dengan lelaki yang sama-sama kita cintai. Engkau yang memiliki kesempatan paling besar untuk mendapatkan dirinya. Jangan engkau sampai dikuasai oleh dendam keparat itu. Itu nonsens sama sekali. Berfikirlah dengan akal sehat.

Dia takkan mau melawanmu, aku tahu itu bukan sifatnya. Bila dia engkau bunuh Michiko, sama artinya engkau membunuh harapanmu sendiri. Kau akan menyesal seumur hidupmu. Kalian kini sama-sama sebatangkara. Yang kalian butuhkan adalah kasih sayang. Bukan perkelahian dan saling bunuh.

Sebagai seorang yang lebih tua darimu, Michiko san, saya ingin engkau bahagia. Saya ingin si Bungsu bahagia. Dan saya yakin, kebahagiaan itu takkan kalian peroleh kalau kalian tidak bersama. Saya ingin mendengar kabar bahwa kalian menikah. Saya akan menanti kalian di sini. Datanglah sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, Adikku!” Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here