TIKAM SAMURAI 149

SUMBARTIME.COM-Michiko termenung mengingat kata-kata: “Datanglah sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, Adikku!” Oo, alangkah inginnya dia hal itu terwujud. Alangkah inginnya. Tengah dia menghayalkan hal tersebut tiba-tiba dia dikejutkan suara si Bungsu:
“Michiko-san…”
“Ya…?”
“Kita akan ke Bukittinggi, kan?
“Ya..”
“Secepatnya, kan?”
“Ya..”
“Michiko-san..”
“Ya..?”

Si Bungsu menatapnya. Sepi, Michiko menunggu apa yang akan disampaikan si Bungsu lebih lanjut.
“Di negeri kami ini, yang melamar seorang gadis adalah pihak ibu dan keluarga perempuan pihak lelaki. Tapi saya tidak lagi punya keluarga. Kita sama-sama sebatang kara. Kalau nanti kita sudah di Bukittinggi, saya akan meminta Salma dan Nurdin melamarmu.

Iklan

Engkau akan menjadi tempat aku mengabarkan sakit dan senang, aku tempat engkau mengabarkan sakit dan senang pula. Maukah engkau menjadi isteriku, Michiko-san? “ Michiko menatap si Bungsu, kemudian berdiri. Lalu menghambur ke dalam memeluk lelaki itu. Dia menangis terisak-isak, tenggelam oleh rasa haru dan bahagia yang tak bertepi.
“Hati dan jiwaku milikmu, kekasihku. Milikmu, selamanya-lamanya….!”

Mereka menompang konvoi tentara pusat yang akan berangkat ke Bukittinggi. Di dalam konvoi yang berjumlah belasan truk dan bus itu, selain penompang kalangan sipil terdapat puluhan anak-anak SGKP. Semula ada kekhawatiran diantara penompang akan adanya pencegatan. Tetapi untuk menghilangkan rasa takut dan ketegangan, tentara yang ada di setiap truk menyuruh anak-anak sekolah itu bernyanyi.

Namun lewat Nagari Sicincin mereka pada lelah. Malah ada yang mengantuk. Konvoi itu melaju terus, dengan di depan sekali sebuah jip tentara kemudian dua truk berisi pasukan, ketiganya dibekali dengan senapan mesin, diselang seling bus dan truk berisi anak sekolah dan sipil dan di belakang sekali tiga truk penuh tentara. Sebahagian besar penompang dan tentara masih saling berbicara perlahan tanpa melupakan kewaspadaan.

Lepas dari Kayu Tanam konvoi memperlambat perjalanan karena mulai memasuki areal hutan berbukit di Bukit Tambun Tulang. Tak lama kemduian mereka memasuki kawasan Lembah Anai dengan air terjun yang indah. Sebenarnya saat masih berada di kawasan Bukit Tambun Tulang tiba-tiba saja ada perasaan tak sedap menyelusup ke hati si Bungsu. Matanya menatap ke bukit-bukit batu terjal tatakala memasuki Lembah Anai.

Lalu…tiba-tiba terjadilah tragedi berdarah itu! Dari hutan di bukit-bukit batu curam di kiri kanan lembah itu tiba-tiba saja konvoi disiram tembakan mitraliur. Tidak itu saja, tembakan bazoka melemparkan sebuah truk dan sebuah bus penuh penompang dan tentara ke dalam sungai berbatu.

Si Bungsu dan beberapa penompang sipil dan belasan tentara berada di truk yang terlempar itu! Sebagian dari konvoi itu berhenti mendadak. Jip yang berada di depan sekali, yang berada di tempat terbuka mempercepat larinya mencoba berlindung di tikungan.

Namun serentetan tembakan mitraliur membunuh seluruh isi jip itu, sementara jip itu sendiri baru berhenti tatkala menabrak tebing batu di kirinya. Beberapa bus dan truk tersandar ke tebing batu dalam usaha mengelak dari tembakan membabi buta. Tak ayal lagi, konvoi APRI itu masuk perangkap PRRI! Para penumpang berhamburan turun dan menjauhi bus dan truk. Menghindar dari daerah terbuka agar tidak menjadi sasaran peluru. Untuk itu jalan satu-satunya adalah masuk ke hutan terdekat. Hutan di wilayah itu hanya tumbuh di dinding tebing batu yang curam.

Apa boleh buat mereka terpaksa, dan harus, mendaki hutan di tebing terjal itu. Selain menghindari celaka dari sasaran peluru, sekaligus menghindar dari celaka bila truk atau bus meledak. Michiko berada di dalam bus yang tersandar ke dinding batu dan penompangnya terdiri rombongan anak SGKP yang bertemperasan turun menyelamatkan diri itu! Namun malang memang tengah mengikuti mereka. Peluru yang ditembakkan oleh PRRI dari puncak-puncak tebing, yang sebenarnya ditujukan kepada tentara pusat benar-benar “tak bermata”.

Tidak bisa membedakan mana yang tentara mana yang sipil. Mana yang lelaki mana perempuan. Akibatnya belasan anak-anak SGKP dan penompang sipil lainnya tersungkur dihantam peluru begitu mereka berhamburan turun dari bus astau truk. Belasan lainnya bernasib sama, meski mereka sudah berada di dalam hutan di tebing terjal dalam upaya menyelamatkan diri. Salah seorang di antara korban yang kena tembak itu adalah Michiko!

Hutan di bukit cadas Lembah Anai itu sudah ditelan malam yang kental ketika seorang anggota PRRI berpangkat letnan dan lima anggotanya “membersihkan” hutan itu. Dengan dua buah senter mereka memeriksa lekuk dan tonjolan batu yang mereka lewati. Mereka lewat di sana karena daerah itu memang sudah dipersiapkan sebagai jebakan yang mematikan bagi konvoi tentara pusat yang akan lewat di sana.

PRRI memerlukan waktu sekitar beberapa minggu untuk mempersiapkan jebakan tersebut. Setiap bukit, tebing dan pohon dengan seksama mereka pelajari situasinya. Termasuk mempelajari kemana saja jalan mengundurkan diri atau jalan lari bila terjadi hal-hal yang di luar perhitungan. Termasuk bila terjadi serangan balik dari pihak APRI.

Letnan dan empat anggotanya itu sedang berada di pinggang salah satu tebing terjal di Lembah Anai, tatkala mereka mendengar suara rintihan. Setelah lelah mencari dengan cahaya senter dalam kegelapan itu, mereka menemukan di puncak sebuah tonjolan batu sesosok tubuh wanita. Nampaknya dia dengan susah payah memanjat batu tersebut agar tidak dimangsa binatang buas.“Ini orang asing, Let…” ujar salah seorang yang berpangkat sersan. Mereka menatap wajah perempuan yang tersandar separoh sadar itu.

“Jepang! Ini…Astaghfirullah,…ini pasti gadis Jepang yang mencari si Bungsu..” ujar yang berpangkat letnan. Ketiga mereka memperhatikan Michiko dengan perasaan tak percaya. Cerita tentang si Bungsu dan gadis Jepang yang mencarinya itu, sampai si Bungsu mengalami luka di Situjuh Ladang Laweh dan dirawat di Rumah Sakit Tentara di Padang atas pertolongan dua perwira RPKAD, sudah bersebar dari mulut ke mulut.

“Kita tidak mungkin meninggalkannya di sini, dia memerlukan pertolongan..” ujar si sersan. Kelima mereka menyepakati ucapan si sersan. Mereka lalu membuat tandu darurat dan menandu Michiko makin masuk ke belantara, naik turun bukit arah ke Gunung Singgalang. Jalan itu sudah mereka pelajari dua bulan yang lalu, merupakan jalan terdekat untuk tembus ke kampung Balingka. Selain menandu Michiko mereka juga membawa tiga pucuk senjata yang tertinggal oleh pasukan APRI.

Menjelang subuh mereka sampai di barak darurat yang dibuat di pinggang Gunung Singgalang. Barak itu sengaja dibuat di sana, agar tak terjangkau oleh APRI, dan memudahkan droping senjata oleh helikopter Amerika yang terbang menyelusup dari Laut Cina Selatan. Namun celaka menghadang, pada saat bersamaan dengan kedatangan mereka kebetulan sebuah helikopter Amerika sedang menurunkan senjata. Tapi saat itu pula tiba-tiba pasukan APRI menyerang.

Pasukan APRI ternyata tidak hanya melakukan serangan balik atas peristiwa Lembah Anai yang terjadi kemarin pagi, tapi juga melakukan serangan mendadak ke salah satu tempat rahasia PRRI menerima droping senjata dari Amerika melalui udara. Apri menjadi curiga saat tengah malam ada deru helikopter. Setelah beberapa kali hal itu terjadi, mata-mata yang disebar akhirnya mengetahui maksud kedatangan heli itu, serta di mana lokasi droping senjata dilakukan.

Keadaan benar-benar kacau balau. Di barak darurat di tengah hutan di pinggang Singgalang itu hanya ada satu peleton PRRI. Mereka disiagakan di sana untuk menunggu dan membawa senjata yang didrop secara rahasia itu. Itu sebabnya, ketika APRI belum mengenal bazoka, PRRI sudah menggunakannya. Senjata itu merupakan senjata anti-tank.

Tempat itu dipilih karena letaknya yang tersembunyi, tapi strategis. Ketika serangan datang dengan mudah mereka menyelusup dan lenyap berlindung ke jurang-jurang di sekitarnya.
Dalam peristiwa serangan mendadak menjelang subuh itu, si letnan masih sempat merminta pertolongan kepada pilot helikopter untuk menyelamatkan Michiko yang terluka, dan saat itu tidak sadar diri.

“Tomas, keadaan gadis ini kritis, kalau dibiarkan di sini nyawanya bisa tidak tertolong..” ujar letnan itu. “Tapi saya harus ke Singapura..” jawab pilot bernama Tomas dalam gebalau yang mencekam itu.
“Justru itu, bawalah dia. Dari sana lebih dekat ke negerinya di Jepang sana..” ujar si letnan.

Pembicaraan mereka terputus oleh ledakan peluru mortir. Saat pilot dan copilot heli itu selesai menurunkan peti-peti berisi senjata, dibantu beberapa orang anggota PRRI, si letnan menyuruh anggotanya menaikkan Michiko yang masih belum sadar ke helikopter.Kemudian mengikatkan tubuhnya dengan kuat. Tembakan pasukan APRI terdengar makin dekat. Dengan berkali-kali mengucapkan “shit…shit..shit” pilot Amerika itu melompat ke helikopternya yang mesinnya tidak pernah dimatikan.

Di peti itu ada lima pucuk 12,7 dan 10 buah Bazoka serta dua lusin gren…”teriak si pilot sambil menaikan helikopternya mengudara dan segera menjauh dari pinggang gunung itu,dan lenyap di kegelapan malam.Kembali menuju Laut China Selatan.Si Letnan dan anggotanya yang masih bertahan segera mengamankan peti-peti senjata itu.Mendorongnya ke sebuah goa batu cadas,kemudian mereka ikut masuk kedalamnya.Goa itu pintunya kecil saja,namun makin ke dalam makin besar dan jalannya menurun.

Sekitar lima puluh meter goa itu berkelok ke kanan jalanya kembali mendaki. Ujungnya muncul di seberang pintu yang tadi mereka masuki.Pintu masuk dan pintu keluar itu dipisahkan oleh sebuah jurang yang sangat dalam,goa itu seperti membentuk huruf “U”.Artinya dari mulut goa dimana kini mereka berada dapat mengawasi mulut goa tersembunyi yang tadi mereka masuki, yang jaraknya hanya sekitar 50atau 60 meter,tapi dipisahkan oleh jurang yang amat dalam.

Mereka tak perlu mengawasi apa-apa,sebab pintu masuk itu amat terlindung dan mustahil ditemukan pihak APRI.Yang akan mereka temukan paling-paling barak darurat yang berada sekitar seratus meter dari mulut goa.Mereka lalu tidur kelelahan,bukan pekerjaan yang ringan naik turun tebing terjal dari siang sampai malam,apalagi harus memikul tandu bermuatan orang yang sedang sekarat.

Si Bungsu membuka mata dan dia mendapati dirinya di bangsal sebuah rumah sakit.Itu terlihat dari tempat tidur berderet-deret dan belasan pasien sedang dirawat.dia rasakan kepalanya berdenyut-denyut.Saat dia raba ternyata kepala nya terbungkus perban.Dia coba menggerakan kedua kakinya,kemudian kedua tangannya.Alhamdulillah,tak ada yang patah atau putus.Jadi hanya kepalanya yang cedera,itupun dirasanya tidak terlalu parah.Buktinya dia bisa menolehkan kepalanya perlahan kekiri maupun kekanan,hatinya jadi agak lega.

Dari penjelasan perawat diketahuinya bahwa penumpang konvoi,termasuk para pelajar SGKP,meninggal dan pencegatan itu.Konvoi itu baru bisa lepas dari jebakan setelah sore,yaitu ketika datang sekompi tentara dari padang,di antaranya sepeleton RPKAD yang baru sehari datang dari jakarta.

Selama terjadinya pergolakan sudah dua kali peristiwa yang merenggut begitu banyak korban.Pertama penyerangan ke kota bukittinggi,kedua pencegatan di lembah anai.Dua tragedi itu meninggalkan bekas yang sangat dalam dan tak mudah dilupakan.Apalagi mayoritas yang tewas dan serangan ke bukittinggi adalah penduduk sipil.Sementara mayoritas korban di lembah anai adalah anak-anak sekolah dan juga sipil!Peluru tidak pernah bisa membedakan mana orang yang terlibat pertempuran mana yang tidak.

Si Bungsu mencari informasi keberadaan Michiko.Namun tak seorang pun perawat itu yang mengetahui ada seorang gadis Jepang yang dikirim kerumah sakit itu.Dua anak SGKP yang kebetulan menaiki bus yang sama dengan Michiko juga tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis itu.

“Kami mengetahui keberadaannya di dalam bus,soalnya,selain orang asing,dia amat cantik,ramah dan rendah hati pula.Di Bus dia menjadi sahabat semua orang,tapi ketika sopir tertembak dan bus bersandar ke dinding batu,semua kami pada berhamburan keluar menyelamatkan diri.Beberapa teman termasuk saya terkena tembakan setelah berada di luar.Saat keluar dari bus itu kami tak mengingat apapun,kecuali mencari perlindungan kedalam hutan terdekat….” tutur gadis yang perutnya terkena tembakan itu.

Tapi baik gadis anak SGKP itu maupun dua perempuan lainnya yang berada satu bus dengan michiko,mengatakan bahwa mereka semua mereka mendaki tebing terjal.Mencari pohon atau bebatuan yang bisa dijadikan perlindungan dari terjangan peluru.Malangnya mereka tidak tahu peluru datang nya dari mana,sehingga mereka harus dimana.rasanya tembakan dari depan,belakang, kiri,kanan,bahkan dari atas!nyaris tidak tempat berlindung sama sekali.

Siang itu si Bungsu di beritahu kalau ada dua tamu yang ingin menemuinyai. Ketika tamu datang,dua orang tentara berbaret merah disangkanya letnan faizi dan letnan azhar.Ternyata nya meleset.
Assalamualaikum …”ujar anggota RPKAD berpangkat kapten yang baru datang itu sambil mengulurkan tangan.
Waalaikumsalam…”Jawab si Bungsu sambil menerima salam tentara itu.
“Saya Syafrizal,sanak yang bernama bungsu,kan?” Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here