TIKAM SAMURAI 145

SUMBARTIME.COM-Dia meraung dipelasah para penompang yang sudah muak melihat kekejamannya. Akhirnya, massa baru kembali ke tempatnya setelah Datuk itu tergelimpang mereka hakimi sampai kepalanya pecah dan leher hampir putus, mata mendelik dan lidah terjulur!

Itulah akhir riwayat orang Minang yang menjadi penjahat amat sadis dalam kecamuk perang saudara. Datuk pemakan masak mentah, orang kampungnya sendiri dia jahanami. Berakhir sudah sebuah kelompok penjahat yang amat kejam, ditakuti sekaligus dibenci masyarakat di tanah Minang selama pergolakan itu.

Iklan

Saat itu pula kereta berhenti di stasiun Payakumbuh. Polisi yang bertiga itu mencari anak muda yang tadi melumpuhkan kedua begal di gerbong tersebut. Mereka ingin mengucapkan terimakasih. Namun si Bungsu sudah berbaur di dalam orang ramai yang turun di stasiun.

Dia ke pasar dan lenyap dalam palunan orang ramai. Kemudian segera menuju ke perhentian bendi. Dia ingin segera sampai ke kampungnya, Situjuh Ladang Laweh. Niatnya pulang ke kampung hanya satu, ziarah ke makam ibu, ayah dan kakaknya!

Hari sudah malam. Di dalam sebuah kedai kecil kelihatan berkumpul walinagari dan lelaki tua pemilik kedai serta anak gadisnya. Selain itu ada tiga orang lelaki berbedil. Mereka nampaknya dari pasukan PRRI. Hal itu jelas kelihatan dari pakaian yang dikenakan ketiganya. Yang satu pimpinan di antara mereka, di pinggangnya tersisip dua pistol.

Satu di kiri dan satu di kanan. Yang dua lagi memakai senapan laras panjang. Mereka tidak memakai pakaian seragam. Ketiganya menatap kepada pemilik kedai itu dengan muka tak bersahabat. Sementara lelaki tua pemilik kedai dan anak gadisnya duduk dengan wajah kecut. Ketiga anggota PRRI itu nampaknya sedang mengorek keterangan dari si pemilik kedai.

Soalnya seminggu yang lalu seregu pasukan APRI datang ke kampung ini dan ke dua kampung lagi yang berdekatan. Beberapa dari mereka singgah di kedai ini, cukup lama. Sehari kemudian dua buah rumah di kampung ini disergap sepeleton tentara APRI. Mereka menangkap tiga anggota PRRI dari rumah itu, berikut lima bedil yang ada di sana.

Setelah penggerebekan, sebagian pasukan kembali ke Payakumbuh. Sebagian lagi berjaga-jaga di kampung itu. Empat orang di antaranya kembali masuk ke kedai tersebut. Cukup lama. Mereka baru keluar setelah berada di dalam kedai itu sekitar dua jam.

Kedua anak beranak itu dikumpulkan di kedai mereka, dijaga oleh seorang anggota PRRI. Sementara yang dua lagi naik mengobrak-abrik dua kamar di rumah. Mereka menemukan kaleng tempat menyimpan uang, kemudian gelang, subang dan kalung emas.

Semuanya dibungkus dengan saputangan dan dibawa ke kedai lalu diserahkan kepada si komandan. Kedua anak beranak itu hanya menatap dengan diam dan ketakutan. Melawan bisa mendatangkan celaka. Dalam negeri bergolak ini hukum ada di ujung bedil.

Mereka tak berani menyanggah apapun, sebab kemaren ketiga orang ini pula yang menembak mati Amir dan isterinya di dalam rumah mereka tak jauh dari kedai mereka ini. Amir dan isterinya adalah pedagang yang menggelar dagangannya di kampung-kampung pada hari balai. Jika misalnya hari Kamis balai di Gaduik, mereka berjualan di Gaduik. Tapi hari Rabu dan Sabtu mereka berjualan di Bukittinggi, karena hari itu adalah hari pasar di kota tersebut.

Kedua suami isteri itu dituduh sebagai ”mata-mata tentara Pusat”. Tapi semua orang dikampung itu tahu, kedua mereka sudah lama dijadikan ketiga orang ini sebagai sapi perahan. Dimintai beras, uang, lauk-pauk, pakaian dan lain-lain. Bisik-bisik yang beredar mengatakan mereka dibunuh karena menolak dijadikan sapi perah.

Dikabarkan mereka akan melapor kepada komandan pasukan PRRI atas sikap ketiga orang itu. Sebelum sempat melapor, mereka dibunuh dengan tuduhan mata-mata pusat! Pemilik kedai itu tak mau nasib yang sama menimpanya, karena itu dia pasrah saja ketika rumahnya digeledah dan uang serta perhiasan anaknya diambil.

”Nah jelaskan apa tujuan tentara kapir itu singgah ke kedai ini..!” ujar si komandan memulai interogasi.
”Mereka singgah di sini meminta ditanakkan nasi..” ujar lelaki tua pemilik kedai.”Kedai ini kan bukan rumah makan..”

”Saya sudah jelaskan hal itu, Ngku. Tapi mereka tetap menyuruh Siti bertanak, bagaimana kami harus menolak?”
”Apa saja yang mereka tanyakan?”
”Tidak ada…”

Jawaban lelaki itu terputus, sebuah tinju mendarat di bibirnya. Lelaki itu terhuyung, darah mengalir dari bibirnya yang percah, anak gadisnya terpekik dan memeluk ayahnya.

”Jika tidak ada yang berkhianat, takkan terjadi penangkapan tiga orang anggota kami di kampung ini. Sehari setelah mereka makan di kedai ini terjadi penangkapan di dua rumah. Jelas tentara-tentara kapir itu telah mendapat informasi. Dan informasi itu datang dari kalian di kedai ini..”
”Demi Tuhan, sa…”

Ucapan lelaki tua itu terputus lagi oleh sebuah tendangan yang mendarat telak di dadanya. Menyebabkan dia terjatuh dan muntah darah. Anak gadisya memekik. Namun tubuhnya disentakkan oleh salah seorang anggota PRRI tersebut.

”PRRI juga sering minta ditanakkan nasi di sini. Dan selalu saya tanakkan, kendati malam telah amat larut. Kami tak pernah menolak orang minta tolong. Tapi hanya itu, kami tidak memberikan informasi apapun, karena kami tidak tahu apapun. Pak Wali, tolong ayah saya..” mohon gadis itu dalam tangisnya kepada walinagari yang duduk terdiam dengan wajah kecut.

Walinagari itu ingin membela, dia tahu lelaki tua pemilik kedai ini takkan berkhianat pada siapapun. Ke kedai ini tidak hanya anggota APRI yang singgah, tapi juga anggota PRRI. Itu disebabkan di desa kecil ini hanya inilah satu-satunya kedai yang ada. Kedai kecil menjual pisang dan ubi goreng, kerupuk jangek dan kerupuk palembang, kemudian kopi dan teh.

Pagi sekali penduduk kampung ini selalu singgah minum kopi dan makan pisang goreng sebelum mereka berangkat ke sawah atau ke Payakumbuh. Sore, terkadang malam hari, mereka juga sering ngumpul di kedai ini untuk main domino sebagai satu-satunya hiburan. Biasanya ada hiburan mendengarkan siaran radio, tapi yang punya radio transistor di kampung ini hanya seorang, Amir. Dan dia sudah mati ditembak. Radio transistornya dibawa PRRI entah kemana.

Walinagari berpikir, bagaimana dia akan menjelaskan bahwa pemilik kedai ini tidak berkhianat pada siapa pun? Salah-salah dia pula yang akan dituduh berkomplot sebagai mata-mata pusat. Apalagi mereka masih punya hubungan saudara. ”Ikut kami ke markas di gunung..” ujar si komandan yang di pinggangnya tergantung dua pistol.

Lelaki tua itu jadi pucat, anaknya meratap-ratap. Suara ratapnya terdengar ke rumah-rumah berdekatan. Namun dalam malam gelap seperti sekarang, tak seorangpun yang berani keluar dari rumahnya untuk melihat apa yang terjadi. Apalagi mereka tahu, setelah isa tadi tiga anggota PRRI masuk ke kedai itu bersama walinagari. Mereka sudah maklum akan apa yang telah dan akan terjadi, bila ada anggota PRRI yang datang ke salah satu rumah di malam hari.

Siti masih meratap dan meronta dari pegangan salah seorang anggota PRRI itu saat terdengar pintu kedai dibuka dari luar, dan suara mengucap salam. Semua menoleh ke pintu yang baru terbuka, semua melihat seorang lelaki masuk tanpa menunggu salamnya dijawab. Orang yang baru masuk itu menyapu semua yang hadir dengan tatapan matanya. Hanya sesaat, kemudian perlahan dia menuju ke kursi kayu panjang di dalam kedai itu.

”Sudah larut sekali, untung Bapak belum tidur. Boleh saya memesan kopi panas?” ujar orang itu sambil meletakkan tongkatnya di meja.
Semua yang ada dalam kedai kecil itu menatap terheran-heran kepada orang yang baru masuk itu, yang nyelonong saja masuk dan duduk tanpa permisi.”He Sanak, kedai sudah tutup. Tak tahu sudah larut malam?!” sergah si komandan ”Sudah larut dan sudah tutup, tapi Sanak masih di sini. Itu tanda kedai masih buka kan?”

Si komandan memberi isyarat pada salah seorang anak buahnya, untuk mengusir orang itu keluar. Anak buahnya mendatangi meja lelaki yang baru masuk itu. Dengan geram yang ditahan-tahan dia lalu berkata dari seberang meja,

”Jangan mencari persoalan, Sanak keluarlah selagi masih sempat..”
Lelaki itu menatap anggota PRRI itu dengan pandangan biasa-biasa saja. Lalu dia menoleh dan bicara anak si pemilik kedai.
”Bisa saya memesan secangkir kopi Siti..? ”

Gadis yang ditanya tertegun. Suara dan pertanyaan yang hampir sama rasanya pernah dia dengar. Suara yang nyaris tak pernah dia lupakan. Tapi alangkah sudah lamanya zaman berlalu. ”Baiklah, nampaknya kehadiran saya di sini memang tidak diingini. Maafkan saya…” ujarnya sambil berdiri dan meraih tongkatnya yang terletak di meja.

”Tunggu, ss…saya buatkan kopi. Masih ada air panas di termos..” ujar Siti tergagap sambil bergegas ke dekat meja tempat dia biasa membuatkan kopi untuk tamu.”Keluarlah, sebelum sanak celaka!” desis anggota PRRI yang tadi menyuruhnya keluar. Tamu itu menatapnya sesaat. Kemudian sambil tersenyum dia kembali duduk.

”Izinkan saya minum kopi dulu, sudah lama sekali saya tidak singgah di kedai ini. Hei, mulut Bapak berdarah..kenapa? Masih ingat pada saya Pak?”
”Bungsu….” ujar lelaki tua pemilik kedai itu seperti tak mempercayai pandangannya. Mendengar nama itu Siti terhenti, dia menatap tamu yang duduk itu dengan dada berdebar.

”He! Waang mata-mata Pusat ya?!” hardik si komandan sambil mencabut pistolnya. Tindakannya diikuti oleh kedua anak buahnya dengan mengokang bedil. Seperti tidak mengacuhkan hardikan itu, si Bungsu berkata pada Siti yang tegak di seberang meja di depannya.
”Apapun yang akan terjadi, Siti, lihat saja dan tetaplah diam…”

Siti seperti mendengar kembali kata-kata yang sama, yang diucapkan oleh orang yang sama dari masa lalu yang amat jauh. Kala itu empat serdadu Jepang akan melaknatinya, lelaki ini tiba-tiba saja muncul menyelamatkannya. Keempat serdadu Jepang itu mati dimakan samurainya! Siti nanap menatap lelaki yang bertahun lamanya berada dalam hatinya, dalam mimpinya.

Seperti dahulu, dia mengangguk perlahan. Si Bungsu lalu berkata pada komandan yang menghardiknya. ”Sanak, Bapak ini sudah menyebutkan siapa nama saya. Kampung saya sedikit di atas kampung ini. Di Situjuh Ladang Laweh. Saya tidak..!”
”Diam! Tembak mata-mata jahanam ini..!” hardik si komandan memutus perkataan si Bungsu.

Kedua anak buahnya serentak mengangkat bedil dan mengacungkannya ke arah si Bungsu, kemudian bersamaan menarik pelatuk bedil mereka. Siti tertegak kaku, cangkir kopi masih di tangannya, belum sempat dia taruh di meja di depan si Bungsu. Tapi, seperti berhadapan dengan empat tentara Jepang dahulu, terjadilah apa yang harus terjadi.

Si Bungsu mengibaskan tangan kirinya. Dua detik berlalu, lima… enam..sepuluh detik! Tak sebuah letusanpun yang terdengar. Yang terdengar hanya suara seperti jatuhnya sebuah kerikil kecil ke lantai. Hanya itu! Ketujuh orang di dalam kedai kecil itu terdiam di tempatnya masing-masing.

Orang pertama, lelaki tua pemilik kedai, terduduk di kursi kayu dua depa dari tempat si Bungsu. Duduk diam dengan sisai-sisa darah masih mengalir dari mulutnya. Orang kedua si walinagari, duduk tak jauh dari tempat duduk pemilik kedai itu.

Di sampingnya, antara walinagari dengan pemilik kedai, tegak orang ketiga yaitu si komandan, dalam posisi masih mengacungkan pistol ke arah si Bungsu. Di depan agak ke kanan si Bungsu, serta di belakangnya tegak orang keempat dan kelima, yaitu anggota PRRI dengan telunjuk di pelatuk bedil yang bedilnya diarahkan ke kepala si Bungsu.

Orang ke enam adalah Siti, yang masih tertegak diam di seberang meja di depan si Bungsu. Di tangannya masih terpegang secangkir kopi panas yang mengepulkan asap dalam udara dingin di pinggang Gunung Sago itu. Orang ketujuh adalah si Bungsu.

Setelah mengibaskan tangannnya dia lalu mendekati pemilik kedai yang mulutnya masih berdarah itu. Dari kantongnya dia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil. Dari sana dia mengambil semacam daun dan kulit kayu yang sudah dikemas sebesar anak korek api.
”Telanlah ini, Pak…” ujarnya.

Lelaki itu, dengan masih berdiam diri menelan obat yang disodorkan si Bungsu ke tangannya. Beberapa kali, dengan perasaan amat ketakutan, dia melihat bergantian kepada ketiga anggota PRRI yang ada di dalam kedainya.

Namun ketiga orang itu masih tegak dengan diam, mata melotot, namun tak bergerak seperti kena sihir. Saat kembali ke kursinya si Bungsu memungut sesuatu di lantai di dekat ketiga anggota PRRI itu. Nampaknya benda yang tadi terdengar seperti kerikil jatuh ke lantai.

Benda itu tak lain dari samurai kecil yang selalu tersisip di sebuah sarung kulit di lengannya. Samurai itu tadi yang dia gunakan saat mengibaskan tangan kanannya kepada ketiga orang itu. Hanya biasanya yang dia pergunakan untuk membunuh orang adalah ujung samurai kecil itu, yang luar biasa runcing.

Kibasan tangannya dengan tehnik khusus menyebabkan samurai kecil itu, tiga dikiri dan tiga di kanan, meluncur amat cepat bisa membunuh orang jika diarahkan ke antara dua mata, ke dada tentang jantung, atau ke urat nadi utama di leher.

Tapi kepada ketiga anggota PRRI itu dia tidak mau menurunkan tangan kejam. Hanya hulu samurai kecil itu yang dia pergunakan menghantam urat nadi di bahu ketiga lelaki itu. Lemaparan itu membuat mereka tertotok lumpuh.

Setelah menyisipkan ketiga samurai kecil itu di lengannya, kemudian ditutup dengan lengan baju panjang yang dia pakai, si Bungsu kembali ke kursinya semula. Duduk dengan tenang menunggu kopi panas yang dia pesan. Karena kopinya belum juga diletakkan, dia lalu bertanya.
”Menunggu kopi itu dingin, baru diberikan pada saya, Siti?” Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here