Selamat Datang Mak Tuan

Sehari Bersama H. John Kenedy Azis, SH, MH

SUMBARTIME.COM, Padang – Setelah berkeliling memantau Rumah Tidak Layak Huni atau Rutilahu di berbagai tempat di Kota Pariaman dan Kabupaten Pariaman, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman ‘Ajo’ John Kenedy Azis di Nagari Batu Godang, Kecamatan Sungai Garinggiang, Kabupaten Padang Pariman.

Iklan

Dalam perjalanan Ajo menceritakan tentang program rutilahu tersebut, dimana itu adalah program dari Kementerian Sosial yang tersebar di seluruh Indonesia guna membantu masyarakat yang kesulitan dengan tempat tinggal.

“Jadi bantuannya berupa dana untuk pembelian material sebesar 20 juta rupiah. Sedangkan untuk biaya tukang dan lain-lainnya, itu diharapkan swadaya dari masyarakat, gotong royong. Semua dikoordinir oleh para Wali Nagari,” terang mantan pengacara keluarga Presiden Soeharto ini.

“Ajo berusaha lobby ke Mensos, Ibu Risma langsung. Biar daerah kita dapat banyak. Alhamdulillah kita dikasih kuota lebih dari 100 unit. Dalam waktu dekat sudah cair itu,” sambungnya.

John Kenedy Azis memang dikenal cukup dekat dengan Menteri Sosial, Tri Rismaharini. Bahkan pada waktu banjir di Padang Pariaman bulan September 2021 lalu, Ajo JKA langsung mengajak Menteri Sosial turun ke lapangan untuk melihat langsung dan berikan bantuan.
“Iya, Alhamdulillah Ajo cukup dekat dengan beliau, makanya Ajo manfaatkan untuk membantu sebanyak-banyaknya ke masyarakat kita,” tukas JKA sambil tertawa.

Sekitar jam 16.30 wib, kami sampai di sebuah rumah yang lumayan besar, namun tidak terlihat mewah. Rumah tersebut merupakan rumah dari orang tua John Kenedy Azis, yang saat ini ditempati oleh kemenakan beliau dengan keluarganya. “Kita nginap disini ya Dinda, apa adanya aja.” ujar Ajo JKA.

Namun sebelum masuk kedalam rumah, pria kelahiran 1959 itu terlebih dulu menuju pandam pekuburan, yang terletak tidak jauh dari rumah.
Tanpa berbicara apa-apa, Ajo langsung membersihkan 2 buah kuburan yang ada disitu, namun hanya ada rumput-rumput baru, terlihat kuburan-kuburan sering dibersihkan. Kemudian dengan khusyuk, Ajo berdoa lumayan lama, bahkan sekilas saya melihat ada kilasan air mata yang jatuh. Suasana haru dan khidmat langsung menyeruak.

Saya membaca nama-nama di kuburan tersebut, yaitu, H Bgd. Aziz dan Hj. Rosmaini, sesaat saya tau bahwa itu adalah makam kedua orang tua Ajo.
Dan dari Bapak Asmadi yang selalu mendampingi kami, saya dikasih tau bahwa ini adalah rutinitas, setiap datang kesini atau pulang kampung, Ajo selalu pertama sekali ke pekuburan ini sebelum masuk rumah.
Dari Bapak Asmadi juga saya mengetahui, bahwa Ajo sangat menghormati dan sayang kepada orang tuanya, sebagai anak bungsu dari 4 bersaudara, wajar rasanya semua tumpuan sayang dari keluarga juga bermuara kepada John Kenedy Azis.

Setelah selesai berdoa, Ajo baru melayani orang yang menyambutnya, menyalami satu persatu. “Ini semua keluarga Ajo dinda, ada yang adik, anak, kemenakan, dan lain-lain. Semua keluarga Ajo,” terangnya.

Namun ada yang berbeda dengan sapaan orang-orang disini, jika sebelum John Kenedy Azis banyak disapa Ajo (sapaan Abang bahasa Pariaman), namun khusus disini sapaan berubah menjadi ‘Mak Tuan’. Namun sayang saya lupa menanyakan kepada Ajo apa makna panggilan itu, namun saya perkirakan saja itu adalah panggilan untuk paman, karena di suku Minang, paman itu dipanggil Mamak.

Dan ternyata juga, hampir satu masyarakat Kecamatan Sungai Garinggiang itu menyapa John Kenedy Azis dengan Mak Tuan, sebuah keakraban yang luar biasa, yang tidak mungkin dibangun hanya dalam waktu sebentar.
Itu semua saya ketahui disaat malam harinya, kami menghadiri acara pemberian piala bagi pemenang turnamen sepakbola yang diadakan oleh para pemuda kecamatan tersebut.

Sebuah spanduk besar terpampang, yang isinya ucapan selamat datang di kampung halaman bagi John Kenedy Azis, yang ditulis Mak Tuan.
Tidak hanya masyarakat dan para pemuda, Bupati Padang Pariaman, Suhatri Bur, Wakil Bupati Rahmang, para anggota DPRD Padang Pariaman, serta mantan Bupati Padang Pariaman, Ali Mugni juga menyapa John Kenedy Azis dengan Mak Tuan.

“Kalau bupati dan wakil bupati itu, kadang manggil Ajo kadang Mak Tuan, tapi malam ini mungkin ingin menunjukkan keakraban, jadi panggilnya Mak Tuan juga,” ujar John Kenedy Azis sambil tertawa.
“Kalau Bapak Ali Mugni, itu Kakak Ajo, jadi Ajo panggil beliau itu Ajo, beliau selalu manggi Ajo dengan panggilan adiak,” lanjutnya.

Dalam acara yang dikemas oleh pemuda Sungai Garinggiang itu, saya menyaksikan bagaimana sosok John Kenedy Azis yang sangat merakyat, sederhana dan luwes itu, juga sangat dihormati oleh para pemimpin daerah, persahabatan antara mereka sangat tulus dan penuh kekeluargaan.
Saling memuji antara mereka, bahkan saling merendah juga.

Banyak pelajaran dan nilai yang bisa saya ambil dari mengikuti perjalanan sehari bersama H. John Kenedy Azis, SH, MH. Saya melihat betapa peribahasa ‘Semakin Berisi Semakin Merunduk’ sangat kental sekali terlihat dari sosok beliau. Seorang pengacara terkenal, anggota DPR 2 periode, Ketua DPP Partai Golkar, tapi saat bersama masyarakat dirinya terlihat tidak berjarak, bahkan sangat dekat sekali.
Semoga beliau selalu diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menjalankan amanah, dan tetap selalu bersama masyarakat dalam di hati masyarakat.*

(Ditulis oleh Mhd Perismon, Kontributor lepas Sumbartime.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here