Hari Ini Kita Bersedih @By: Riza Falepi

SUMBARTIME.COM-Sekitar setahun yang lalu kami diundang ke Bandung oleh sahabat dekat. Dia orang Asli Bandung, istrinya urang awak, anak beliau seorang yang masih terhitung artis dan mendapatkan suami anak seorang Dirut BUMN terbesar di negara ini.

Kami dengan gembira datang ke Bandung menghadiri pernikahan anak beliau, serta turut memberikan restu. Pernikahan inipun dihadiri oleh hampir sebagian besar pejabat besar di negara ini. Aleknya sangat meriah di hotel berbintang, sangat luar biasa dan tentu menjadi kebanggaan orang tuanya.

Iklan
Loading...

Selang tiga bulan setelah itu teman kami ini bertemu kami lagi di Bandung ketuka waktu itu kami menghadiri sebuah kegiatan dinas di Bandung. Awalnya kami sangat gembira bertemu sampai kami menanyakan apakah udah ada tanda tanda mau momong cucu.

Namun alangkah terkejutnya kami bahwa jawabannya di luar dugaan kami. Beliau mengatakan boro boro mau ada tanda bakal punya cucu, sudah 3 bulan berumah tangga anaknya belum pernah disentuh.

Kemudian berceritalah teman ini bahwa mantunya adalah seorang Gay dan tidak “berselera” pada putrinya. Padahal kurang apa cantiknya anak beliau, artis, pernah memenangkan pemilihan Putri Sunsilk, dan cerdas.

Kuliahnya saja dulu di perguruan tinggi terkenal di Indonesia dan sudah S2. Jarang jarang yang bisa mendapatkan anugrah kesempurnaan itu. Tapi malang tak dapat ditolak, mujur tak bisa diraih, ternyata suami dari putrinya adalah pengidap paham seks menyimpang.

Ternyata suaminya seorang gay, dan terakhir mantunya tersebut mengaku sudah mengidap virus HIV. Awalnya sang teman ( Mertua si gay) bingung bagaimana caranya bicara baik baik dengan besannya untuk bisa anak anak mereka bercerai dengan alasan anak sang besan adalah seorang gay.

Namun saat diungkapkan apa alasan yang sebenarnya, sang besan dari teman saya ini kaget bukan kepalang. Ternyata bapak dari suami anaknya baru tahu jika anaknya adalah seorang gay. Dan makin terkaget kaget lagi jika anaknya itu telah mengidap penyakit HIV.

Bayangkan seorang Dirut BUMN terbesar di negeri ini, begitu berkuasa dan menentukan begitu banyak hajat hidup orang banyak namun dia kecolongan juga jika anaknya ternyata sudah lama diincar dan “digarap” segerombolan Gay.

Mengetahui fakta ini membuat mental sang Dirut terpukul hebat. Sebab dirinya baru mengetahi jika anaknya bagian dari kelompok gay aat anaknya tersebut sudah menikah. Orang tua mana yg tudak terpukul, dan ibu mana yang tidak kecewa dan bersedih tiada tara jika anka yang dibsarkan dan dirawat sedari kecil ternyata adalah seorang gay.

Tentu saja fenomena yang terjadi itu membuat kita sedih melihatnya. Dan terkait liku liku kehidupan para penikmat seks menyimpang begitu banyak yang berakhir dengan cara kematian yang menyedihkan.

Karena HIV AIDS akibat pergaulan bebas dan seks menyimpang harus berakhir pada kematian yang cukup tragis. Unutk itu, sudah saatnya kita tidak hanya fokus merawat dan memilihara anak perempuan saja, namun anak lelaki pun harus kita rawat dan kita jaga,apalagi di zaman now ini.

Jangan sampai cerita diatas juga dialami oleh kita, jangan sampai anak anak yang kita besarkan ikut menjadi bagian dari LGBT.

Adapun kesedihan lain yang kami rasakan hari ini adalah begitu banyak narkoba yang memperkosa masa depan anak anak kita di tengah tengah masyarakat. Mulai dari yang sederhana seperti menghisap lem,kemudian ganja dan sampai yang lebih berat seperti ekstasi, sabu dll.

Sudah lebih dari 4 juta masyarakat indonesia yang terkapar oleh obat psikotropika ini, namun kadang kita tidak sadar. Di mana ketahanan bangsa kita, di mana masa depan bangsa kita.

Sudah lebih dari 30 Triliyun pertahun uang yang beredar untuk memberi obat obat terlarang tersebut. Kalau itu dipakai untuk yang lebih bermanfaat tentu akan lebih baik. Uang segitu untuk Payakumbuh sangat lebih dari cukup bahkan untuk Sumbar sekalipun.

Sayang sekali duit itu hanya hilang untuk barang haram. Ini kalau kita biarkan lama lama bangsa ini hancur tanpa harus berperang, hancur tanpa harus satupun musuh musuh kita mengeluarkan peluru dan dengan kondisi yang hancur ini maka semua sumber daya alam bangsa kita yg sangat kaya ini sudah pasti diambil oleh bangsa lain. Sedih sekali kita bahwa dengan tekad NKRI harga mati malah berakhir begini.

Kesedihan kita berikutnya kadang kita sudah tidak tahu mana lagi yang benar dan salah. Kemarin kami dikeluhkan guru guru bahwa sekarang mereka takut mendidik anak anaknya karena atas alasan HAM yang belum tentu benar.

Saat ini para guru dihantui oleh sosok yang bernama HAM dan undang undang perlindungan anak. Apabila guru atas nama mendidik anak jika melakukan sedikit saja kekerasan walaupun bersifat mendidik bisa dipolisikan atau berhadapan dengan HAM.

Lama lama kami berpikir juga fungsi pendidikan dan pengajaran seorang guru akhirnya tinggal fungsi pengajaran. Ini sangat berbahaya manakala dibiarkan kalau seorang anak diajar pintar tapi memiliki karakter dan mental yang minim akibat tidak adanya fungsi pendidikan, namun itulah yang terjadi dan telah menjadi UU yang telah disyahkan. Begitulah kerja wakil rakyat kita di Senayan, untuk itu mohonlah kiranya lebih hati hati kita memilih mereka, biar kita tidak kecolobgan lagi. Sekali lagi itulah yg mengatasnamakan HAM, dan kembalilah kita bertanya pada diri kita sendiri mau diapakan anak negeri ini, anak bangsa ini, sedih sekali kita.

Banyak kesedihan lain yang tidak bisa kami ungkap di sini, semoga kita diberi kekuatan untuk tetap bisa berjuang. Mari tetap berjuang dan kurangi segala yang membuang waktu. Bagi pemimpin di mana saja berikanlah yang terbaik untuk bangsa ini, kurangilah kerja yang kurang berguna apalagi hanya sekedar Selfie maupun pencitraan yang tidak perlu.

Mari pimpin rakyat ini untuk membawanya ke jalan yang lebih baik, kita merindukan kejayaan bangsa ini, merindukan kesejahteraan rakyat ini dan merindukan pemimpin yang mampu memujudkan mimpi menjadikannya nyata.*

-Penulis adalah Walikota Payakumbuh-

Loading...
Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here