Geliat Malam Di Salah Satu Kafe Eksotis Kota Payakumbuh, Dan Kisah Seorang Pemandu Lagu

GAMBAR ILUSTRASI

SUMBARTIME.COM-Pukul 23.00 WIB, Sabtu (28/07) malam, cuaca Kota Payakumbuh cukup dingin. Suasana  Kota Kecil namun cukup padat dengan segala aktifitas warganya, menjadikan kota tersebut pada hampir tengah malam masih kelihtan ramai terutama di Pusat Pasar.

Kami dua orang awak media yang sejak siang harinya berencana dan sepakat untuk menelusuri geliat malam yang menurut desas desus banyak wanita muda di Kota ini jika malam telah datang, berprofesi sebagai wanita pemandu lagu di beberapa kafe penyedia ruangan (rom) karoeke yang ada di Kota kecil ini.

Iklan

Saat sampai di pintu masuk salah di loby karoeke, sapaan hangat langsung menyambut kami dari dua orang wanita muda dengan pakian yang cukup mengundang selera para pria normal.

“Halo, selamat malam,” sapa para wanita muda itu ramah saat kami memasuki ruangan kafe. Penampilan mereka sensual. Dengan blue jins dan pakaian serba ketat menggoda.

Setelah kami duduk di ruangan loby, dua wanita muda yang dikenal dengan sebutan wanita pemandu lagu alias PL. Sering juga disebut purel atau kadang Lady Escort alias LC menawarkan minuman kepada kami.

” Minuman apa bang. Bier atau minuman bersoda ringan?,” ujar salah satu pemandu lagu tersebut.

Setelah sepakat memesan salah satu jenis minuman, sebagai perkataan pembuka kami mengajak dua LC  untuk ngobrol ringan. Sambil menuangkan minuman dari teko kaca ke gelas gelas kami, sang LC pun menjawab setiap pertanyaan dengan nada suara yang manja dan senyum serta cekikan manis.

Selanjutnya para ladiest tersebut menawarkan kepada kami untuk masuk keruangan karoeke dengan harga perjam mencapai ratusan ribu untuk durasi minimal tiga jam. Itu belum termasuk untuk harga minuman serta uang tips pemandu lagu yang menemani tamu.

Penasaran apa saja kegiatan di dalam ruangan karoeke, kamipun setuju dan sepakat untuk menerima tawaran para ladist tersebut untuk berkaroeke ria di dalam ruangan yang bisa dimasuki oleh 6 orang tersebut.

Di dalam ruangan tertutup yang cukup temaram itu, ada sebuah layar LCD cukup besar, satu perangkat mesin pencari lagu, sebuah speaker audio satu unit kursi sova letter L serta sebuah meja kecil di depannya.

Sang gadis pemandu langsung beraksi dengan berbasa basi menanyakan kepada kami para calon pelanggannya mau lagu apa. Dan dengan berbasa basi pun kita menyebutkan dua lagu dangdut yang sedang hit dan sering terdengar diputar oleh para pedagang kaset di jalanan kaki lima pasar Payakumbuh.

Dasar naluri seorang jurnalis, sambil mendengarkan salah satu ladist bernyanyi awak media mempergunakan kesempatan itu untuk mencari informasi seputar kehidupan malam dunia para pemandu lagu.

Adalah Luna (21) nama samaran, dengan paras hitam manis dengan tinggi yang cukup ideal, malam itu berbalut busana casual awalnya dengan halus menolak pertanyaan kami yang sdikit menjurus. Namun dengan semangat juang dan memakai tehnik  wawancara halus, lambat laun Luna serta temannya mau buka suara.

Luna mengaku bukan asli warga Payakumbuh, sebagai pendatang dia mencoba mengadu nasib di Kota kecil ini menjadi pelayan dan pendamping tamu yang sering dimasuki oleh para pria hidung belang.

Dengan paras yang lumayan, serta body yang cukup oke, serta ditunjang suara yang cukup merdu mengaku dirinya banyak mempunyai pelanggan. Rata rata dalam semalam dua hingga tiga kali menemani tamu, baik hanya sekedar untuk menemani minum atau masuk kedalam ruangan karoeke akunya.

Bahkan dirinya mengakau tidak hanya di tempat karoeke tersebut saja dia beroperasi, namun beberapa lokasi karoeke lainnya dia pun sering mangkal, dan tergatung keramian lokasi, tambahnya.

Sekali kencan menemani tamu rata rata Luna dikasih tips Rp100 ribu hingga 200 Ribu. Kadang bisa lebih jika servisnya dianggap memuaskan oleh para tamu.

Dia mengaku penghasilannya sebagai PL mengandalkan tips dari tamu. Karena itu dia berusaha berbaik-baik pada tamu agar royal.

Namun dirinya juga menceritakan sisi buruk dan apes menjadi seorang pemandu karoeke. Menurutnya tidak semua kalangan tamu bisa ramah dan sopan. Terkadang sikap tamu berlebihan terhadap kami, tutur Luna. Disamping cukup kasar, terkadang tangan tangan nakal para tamu yang sudah napsuan menjamah bagian bagian vital tubuh, ujarnya pula.

“Kalau aku digandeng atau dipegang sedikit sih nggak masalah. Tapi ada tamu yang mau pegang yang paling pribadi itu aku tolak. Kesal sih, tapi nepis tangannya pelan-pelan biar nggak tersinggung. Yang penting dia tahu kita nggak suka”, lirih Luna sambil menikmati hembusan rokok mild yang keluar dari bibir bergincunya.

Akan tetapi Luna pun tidak menampik terkadang ada juga beberapa ladist yang berlanjut menjalin hubungan dari ruangan karoeke ke ranjang ranjang, jika memang sebelumnya terjadi kesepakatan suka sama suka dengan tamu.

Tentu saja harus ditambah dengan embel embel uang lembur yang cukup lumayan, timpalnya lagi. Biasanya jika suka sama suka dan harga cocok, maka mereka beranjak keluar dan mencari penginapan di dalam Kota hingga sampai luar kota.

Saat kami mencoba memancing Luna apakah bisa seperti yang lain seperti yang dia ungkapkan, dan dengan suara yang cukup manja serta ditambah dengan kerlingan mata dirinya mengatakan, Lihat saja nanti bagaimana kedepannya.

Kisah Luna hanya satu dari sekian banyak wanita PL yang berprofesi serupa. Rata rata mereka menjalani profesi yang cukup tabu di masyarakat itu lantaran berasal dari ekonomi lemah hingga mudah terjerat dalam dunia eksotis malam. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here