BUKITTINGGI — Bukan hanya lampu-lampu kota yang bersiap menyambut malam-malam ibadah, tetapi juga hati para insan pers yang memilih berhenti sejenak, membersihkan niat sebelum kembali melangkah.
Menjelang masuknya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, denyut batin kota wisata ini terasa berbeda.
Di salah satu restoran ternama di pusat kota, DPC Pro Jurnalismedia Siber (PJS) Kota Bukittinggi menggelar jabat salam dan saling memaafkan, Sabtu (14/2/2026). Sebuah pertemuan sederhana, namun sarat makna dan refleksi.
Ini bukan agenda seremonial pengisi kalender organisasi. Lebih dari itu, forum tersebut menjelma menjadi ruang sunyi untuk menata ulang kejujuran batin, merajut silaturahmi, serta meneguhkan kembali integritas profesi, tepat di ambang bulan penuh ujian dan keberkahan.
Kegiatan yang berlangsung khidmat itu turut dihadiri Ketua DPD PJS Sumatera Barat, Al Imran. Dalam suasana akrab dan dialog yang mengalir tanpa sekat, pembahasan berputar pada nilai kebersamaan, keikhlasan memaafkan, hingga tanggung jawab moral jurnalis menjaga amanah publik.
Al Imran menegaskan, momentum menjelang Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan titik nol untuk membangun harmoni internal organisasi.
“Hati yang bersih melahirkan kerja yang jernih. Jika hubungan rukun, maka tugas kelembagaan dan peran sosial selama Ramadan akan terasa lebih ringan dan insyaallah penuh berkah,” ujarnya.
Penekanan kuat juga disampaikan pada pentingnya membersihkan hati sebelum menahan lapar dan dahaga.
Silaturahmi yang diperkuat diyakini menjadi fondasi utama agar ibadah berjalan khusyuk, sekaligus menjaga marwah jurnalistik yang beretika, berimbang, dan bertanggung jawab, terutama di bulan yang menuntut kejujuran lebih dari sekadar kata.
Ketua DPC PJS Kota Bukittinggi, Hamriadi, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, jabat salam dan saling memaafkan bukan sekadar tradisi sosial, melainkan kebutuhan moral insan pers di tengah derasnya arus informasi.
“Semoga Ramadan kali ini membawa kedamaian, keberkahan, dan kebahagiaan untuk kita semua. Aamiin,” tutup Hamriadi.
Doa itu pun mengalir bersama senyum, genggaman tangan, dan tekad yang diperbarui, menjadikan Ramadan bukan hanya soal ibadah personal, tetapi juga komitmen profesional yang lebih bermartabat. (Alex.jr)





















