Warga Lareh Sago Halaban Mengeluh Soal Kerusakan Jalan, Puluhan Truck Pengangkut Batu Split Lalu Lalang Setiap Hari

Warga mengeluh soal rusak parahnya jalan di kawasan Lareh Sago Halaban. (Foto berasal dari Liputan Sumbar.com)

SUMBARTIME.COM-Wajah muram dan jengkel tergambar dari para pengendara roda dua maupun roda empat saat melewati KM 12 Pakan Raba’a Gadut Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota.

Pasalnya, ruas jalan Propinsi yang menghubungkan Limapuluh Kota dengan Lintau tersebut mengalami rusak parah hingga lebih kurang sepanjang 8 km. Saat awak media mencoba melakukan investigasi langsung ke lokasi, Kamis (27/6) siang, ditemukan kondisi sarana transportasi warga tersebut amat miris dan memprihatinkan.

Iklan

Bahkan tepat di depan sebuah Bank BPR terdapat lubang menganga yang cukup lebar siap menjemput maut para pengendara sepeda motor. Menurut keterangan dari warga sekitar, kondisi ruas jalan yang rusak parah tersebut sudah terjadi beberapa bulan belakangan tanpa adanya solusi yang berarti dari pihak terkait.

Menurut Erlan, salah satu warga mengungkapkan sudah sering para pengendara motor mengalami kecelakaan di lokasi sarana transportasi warga yang rusak parah tersebut. Ironis ujarnya lagi, andil terbesar penyumbang kerusakan jalan tersebut berasal dari lalu lalangnya puluhan truck dari perusahaan batu split yang membawa puluhan ton muatan setiap harinya, ungkapnya mengatakan kepada awak media.

Hal itu juga diperkuat oleh keterangan salah seorang warga Lareh Sago lainnya, Ucok. Menurutnya, puluhan truck pengangkut batu split yang berasal dari sebuah perusahaan lalu lalang setiap harinya. Puluhan truck yang bertonase besar dan tidak mampu ditampung oleh daya ketahanan ruas jalan tersebut diduga keras penyumbang terbesar kerusakan sarana transportasi warga di kawasan Lareh Sago Halaban tersebut.

” Harusnya pihak perusahaan pengangkut batu split tersebut harus mengkaji Amdal serta dampak kerusakan lingkungan sebelum beroperasi di Kawasan Lareh Sago Halaban,” tuturnya.

Di jelaskan Ucok lagi, jika mengacu kepada Undang Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 277, kendaraan yang bermuatan lebih atau obesitas dan overdimensi dapat diancam dengan hukuman 1 tahun penjara. Namun sepertinya, intensitas kegiatan lalu lalangnya truck bermuatan besar di kawasan tersebut seperti dibiarkan saja tanpa adanya peneguran dari pihak terkait paparnya menjelaskan.

Sementara itu dari keterangan warga sekitar lainnya, mereka berharap banyak agar kondisi rusak parahnya jalan tersebut cepat diatasi baik oleh Pemkab Limapuluh Kota, dengan menyampaikan secepat mungkin kepada Pemprov sebagai penanggung jawab perbaikan jalan. Mereka juga berharap agar Dinas Perhubungan Propinsi Sumbar juga bisa turun ke lokasi menegur serta memberikan sanksi terhadap perusahaan pemilik puluhan kendaraan yang berkelebihan muatan, harap warga. (aa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here