SUMBARTIME.COM-Ditengah serangan pandemi Corona yang mulai merambah kawasan Kabupaten Limapuluh Kota dalam beberapa hari belakangan ini, publik setempat dibuat gelang gelang kepala serta heran dengan tingkah serta aksi manuver para elite politiknya.
Masing masing elite yang semestinya sangat berkompeten memutus mata rantai penyebaran Covid 19 di Limapuluh Kota, terkesan saling adu panggung serta saling intai dan saling bermanuver sendiri sendiri dalam melawan musuh yang sama bernama Corona.
Berawal dari aksi selebrasi Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan dalam menangani penanggulangan pandemi Covid 19 di daerahnya dengan manuver manuver yang mengundang kontroversial serta polemik di tengah masyarakat.
Beberapa kali Wakil Bupati nyentrik tersebut membuat stamen di media massa yang bikin merah kuping Pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota. Tidak hanya sekedar statmen, namun manuver serta aksi lapangan yang dilakukan Ferizal Ridwan membuat Tim Gugus Covid 19 Kabupaten Limapuluh Kota kelabakan serta kedodoran.
Menurut Ferizal Ridwan saat di hubungi pada Selasa (12/5) siang, menurtnya aksi cepat yang dia lakukan tersebut diakuinya sebagai jawaban atas lambatnya kinerja yang dilakukan oleh tim Gugus Covid 19 Kabupaten yang diketuai oleh atasannya sendiri Bupati Irfendi Arbi.
Menurutnya dalam kondisi darurat, tidak masanya lagi bermain seremonial pencitraan ala birokrasi. Sebab masyarakat butuh penanganan cepat dalam rangka memutus mata rantai penyebaran wabah corona yang mulai merambah daerah, timpalnya.
Puncak aksi manuver yang dilakukan oleh Wakil Bupati tersebut adalah dengan menggandeng Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, Deni Asra, tanpa melakukan koordinasi dengan Tim Gugus Kabupaten Limapuluh Kota, mereka mengibarkan bendera putih dan meminta bantuan ke Daerah tetangga yakni Kota Payakumbuh dalam rangka tracking serta penanggulangan pandemi Covid 19.
Tentu saja aksi manuver mengibarkan bendera putih dengan meminta bantuan ke Kota Payakumbuh dinilai oleh beberapa masyarakat serta pengamat adalah aksi blunder. Seperti dikutip dari komentar Adi Surya Tama mantan Ketua LBH Padang melalui sebuah media Koraninvestigasi.online, yang bersangkutan mengatakan jika langkah yang dilakukan oleh Ketua DPRD dan Wakil Bupati Limapuluh Kota dinilai tidak tepat.
Dijelaskan lagi olehnya, jika kalaupun Pemkab Limapuluh Kota meminta bantuan, penyalurannya adalah ke Propinsi dan bukan ke Payakumbuh, ujarnya.
Sementara itu Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi, yang biasanya adem, kali ini ikut terbakar dan terpancing dan terkesan meladani manuver wakilnya tersebut.
Melalui relise berita humas yang terbit Selasa 12 Mai 2020, seakan menyindir aksi manuver angkat bendera putih wakilnya tersebut, Bupati menceritakan dan menerangkan perjuangan tenaga Kesehatan Kabupaten Limapuluh Kota sebagai garda terdepan dalam penanggulangan pandemi Corona, siang malam bekerja tak henti dalam memutus mata rantai penyebaran Covid 19 di daerahnya. Dalam pemberitaan relise tersebut, Bupati bahkan memberikan apresiasi kepada tenaga Medisnya tersebut.
Tentu saja aksi dari masing masing Kepala daerah serta Wakilnya tersebut bagi publik dinilai saling tolak belakang dan membingungkan. Disatu sisi Ferizal Ridwan yang menganggap tim Kesehatan Kabupaten dibawah Komando Irfendi Arbi dinilai gagal sehingga dirinya harus meminta bantuan ke Kota Payakumbuh. Namun di sisi lain Irfendi Arbi, malah memberikan apresiasi kepada tim Medis Kabupaten yang dianggap telah berhasil berjuang menyelamatkan warga Kabupaten Limapuluh Kota.
Sementara itu Ketua DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, Deni Asra yang ikut melakukan manuver meminta bantuan ke Payakumbuh malah disorot dan diserang oleh rekan kerjanya sendiri di lembaga Legeslatif tersebut.
Adalah Marsanova Andesra politisi dari PAN yang duduk di komisi 2 menyoroti langkah Deni Asra sebagai pucuk pimpinan tertinggi di DPRD Kabupaten Limapuluh Kota blunder. Menurutnya setiap personal sudah ada jabatan masing masing sesuai dalam tugas Protap Covid 19 di Limapuluh Kota.
Seharusnya masing masing diri tahu dengan tupoksi masing masing, paparnya lagi. Dengan Tajam Marsanova Andesra mengatakan jika masing masing daerah memiliki Kepala Daerah sendiri dan diataur dalam Undang Undang. Limapuluh Kota adalah merupakan pemerintahan yang syah dan resmi.
Menurutnya Ketua DPRD dan Wakil Bupati tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan tanpa melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan pemenrintahan sendiri, ucapnya pedas kepada awak media.
Sebaliknya, tak mau diserang dan disudutkan, Ketua DPRD Deni Asramembuat klarifikasi yang diduga publik ditujukan kepada Marsanova Andesra. Di dalam sebuah WAG, pada Selasa (12/5) sore, yang bersangkutan mengatakan langkah yang dia ambil bersama Wakil Bupati tersebut merupakan langkah penyelamatan terhadap warga masyarakat Limapuluh Kota.
Menurutnya dalam rangka penyelamatan warga dari terkaman Corona di Limapuluh Kota tidak cukup hanya sekedar saja. Dan itu harus dilakukan dengan serius. Jika Limapuluh kota tidak mampu bekerja karena disebabkan kekurangan alat dan tenaga medis apa salahnya minta bantu ke daerah tetangga, ujarnya.
” Apa kita harus biarkan keselamatan masyarakat terancam demi mempertahankan ego” tulisnya seperti menyindir Bupati serta Rekan kerjanya yang menyorot langkah manuvernya bersama Ferizal Ridwan.
Dari paparan di atas, jelas saat ini sedang terjadi krisis kepercayaan antar sesama elite di Kabupaten Limapuluh Kota. Masing masing mereka terindikasi saling adu stamen berbalas pantun dan saling bermanuver ditengah kecemasan masyarakat akan wabah Corona yang sedang mengintai mereka.
Ketidak singkronan antar elite itu terlihat semakin jelas terbaca ketika gagalnya puluhan warga Manggilang melakukan chek point pada Selasa (12/5) siang seperti yang dijanjikan oleh elite sehari sebelumnya.
Kegagalan tes kesehatan yang membuat puluhan warga emosi lantaran kebijakan Wakil Bupati yang tidak didukung oleh Tim Gugus Kabupaten Limapuluh Kota. Dalam kegiatan yang rencananya melibatkan tim tenaga kesehatan Kota Payakumbuh tersebut, tak satupun hadir baik perangkat Kecamatan maupun tim Gugus Covid 19 Kabupaten yang mendampingi sang maestro Ferizal Ridwan, lantas beginikah penanganan Pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota yang sebenarnya terkait memutus mata rantai pandemi Corona?? (aa)




















