Tokoh Adat Minangkabau Menyikapi Polemik Pernyataan Menteri Yaqut Kholil Qoumas

Tokoh Adat Minangkabau Menyikapi Polemik Pernyataan Menteri Yaqut Kholil Qoumas

Sumbartime.com, Bukittinggi-, Rabu 16 Maret 2022, Salah seorang Tokoh Adat Minangkabau sekaligus Pucuk Bulek Alam Minangkabau Tengku Irwansyah,SH, Dt. Katumanggungan menyikapi tentang Permasalahan yang terjadi mengenai pernyataan Menteri Agama Yaqut Kholil Qoumas.

Tengku Irwansyah mengatakan saat diwawancarai awak media, menyikapi masalah statement dari Menteri Agama hanya masalah volume yang ada di tempat ibadah yang rapat ditengah Kota itu, bisa dilakukan pengurangan Volume untuk ke kusyukan beribadah, akan tetapi berbeda halnya dengan tempat ibadah yang ada di pedesaan yang mana kondisi penduduknya yang saling berjauhan dengan mesjid/Mushalla tentu tidak bisa Volume suara Azan itu di kecilkan. Ketika sunnah Rasul itu mewajibkan laki – laki untuk segera ke mesjid apabila terdengar suara seruan Azan ini.

Iklan

Sedangkan permasalahan pernyataan Menteri Agama itu menganologikan dengan gonggongan anjing itu tidak bisa juga disamakan suara azan dengan suara gonggongan anjing karena suara azan itu tidak ada pengaruhnya dengan suara keributan lain. Bagaimanapun sesuai dengan syariat islam apabila mendengar suara azan,seluruh kegiatan harus dihentikan, artinya tidak ada keributan lagi hanya suara azan yang harus kita dengarkan.

Kalau pernyataan menteri Agama seperti itu dipermasalahkan, itu sudah sewajarnya secara kita selaku umat islam, akan tetapi kalau dia berbicara sebagai Menteri Agama secara toleransinya itu boleh – boleh aja dia berbicara seperti itu intinya dia tidak merobah azan dan tidak menghentikan azan.

Kalau kalimat Menteri Agama itu menganalogikan suara azan dengan suara lolongan anjing itu juga tidak benar, akan tetapi saya rasa pernyataan menteri agama itu mengibaratkan dengan keributan sehingga Kekhusyukan beribadah menjadi terganggu, itulah yang menyebabkan salah persepsi dan salah penafsiran.

Analogi yang disampaikan menteri agama itu adalah merupakan kekhilafan dan kealfaan selaku manusia sehingga mungkin diluar kesadarannya dia memberikan analogi seperti itu dan itupun sudah banyak yang mengecam, mengkritisi dan bahkan sudah ada yang melaporkan ke pihak yang berwajib.

Jadi kesimpulannya kita sebagai umat Islam wajib merasa keberatan atas pernyataan Menag tersebut, kalau hanya masalah kebisingan itu sudah biasa tapi kalau menganalogikan suara azan sama dengan suara anjing itu tergantung pada oknumnya, dan kita sepakat kalau terjadi kekhilafan itu, kita sebagai umat islam wajib mengkritisinya.

Mengenai Ketua LKAAM mengharamkan Menag menginjak Tanah Minangkabau Tengku Irwansyah mengatakan, Ketua LKAAM itu tidak ada kapasitasnya karena pernyataaan halal dan haramnya ditentukan oleh MUI SUMBAR bukan Ketua LKAAM.

Ninik Mamak itu sebagai penyejuk dan mencari solusi didalam menyelesaikan masalah. Kalau urusan Agama itu diselesaikan oleh MUI dan kalau urusan adat di selesaikan oleh Ninik Mamak. Pangkas Tengku Irwansyah.

Dengan telah bertemunya, Fauzi bahar sebagai LKAAM dengan Prof Ganefri, sebagai Ketua NU Sumbar pada beberapa hari yang lalu, itu juga merupakan bentuk – bentuk dari satu sama lainnya sudah saling menghargai posisi dan memahami adanya kondisional kemanusiaan sebagai sesama ummat dan berbangsa dalam hubungan dinamika komunikasi yang telah terjadi itu. Pangkas Tengku Irwansyah. (Alex/Defrijon,Dt. RSA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here