TIKAM SAMURAI 5

Penghianatan

SUMBARTIME.COM-Tapi itu hanya sebentar. Sepekan kemudian segera diketahui bahwa mereka sebenarnya tengah mencari kaum lelaki. Semula dikatakan bahwa kaum lelaki dibutuhkan tenaganya untuk bekerja di kota. Beberapa kantor di Bukittinggi, Payakumbuh, Padang Panjang dan Padang membutuhkan tenaga lelaki.

Begitu menurut kabar yang disiarkan. Namun kabar itu hanya mampu bertahan sebentar. Sebab pekan berikutnya Jepang-jepang itu tak lagi meminta kaum lelaki dengan bujukan.Kini mereka main tangkap. Penduduk segera tahu dari beberapa orang di kota, bahwa lelaki yang ditangkapi dan dibujuk dahulu, ternyata dikirim ke Logas.

Sebuah tempat pendulangan emas di hutan belantara Riau. Selain dipekerjakan di tambang batu bara, kaum lelaki juga dipaksa membuat jalan kereta api. Tidak hanya sampai di situ kekejaman Jepang-jepang tersebut. Mereka mulai mengganggu anak isteri orang. Dalam beberapa kali perkelahian sudah ada dua tiga penduduk yang mati kena tebas samurai.

Sejenis pedang panjang yang tajamnya bukan main, dan baru kali itu mereka lihat.Beberapa lelaki mulai menyusun kekuatan untuk melawan kekejaman Jepang itu. Mereka terutama adalah pesilat-pesilat di bawah pimpinan Datuk Berbangsa, ayah si Bungsu. Mereka berlatih silat di tengah malam buta. Disaat serdadu Jepang tak merondai kampung itu. Tempat mereka latihan juga tersembunyi. Sangat dirahasiakan.

Latihan mereka kini ditambah dengan cara menghindarkan serangan dengan pedang panjang seperti yang dipakai para Jepang itu.Sebelum ini mereka tak pernah berfikir bahwa ada senjata seperti itu. Yang pernah mereka latih adalah menghindarkan tikaman keris yang panjangnya hanya dua tiga jengkal. Atau tebasan pedang yang panjangnya tak sampai dua hasta.Tapi samurai Jepang itu panjangnya luar biasa. Lebih panjang dari kelewang yang selama ini mereka kenal.

Cara mempergunakannya juga luar biasa cepatnya. Serdadu Jepang itu nampaknya juga pesilat-pesilat tangguh menurut ukuran negeri mereka sana. Sebab dalam beberapa kali perkelahian antara Jepang dengan pesilat Minang di kampung mereka, pesilat-pesilat Minang itu pasti mati langkah dibuatnya. Tak sampai beberapa hitungan, si pesilat pasti rubuh dengan dada atau perut robek. Atau dengan leher hampir putus.

Jepang-jepang itu demikian cepat mencabut samurainya. Kemudian demikian cepatnya samurai itu berkelebat. Lalu dalam hitungan yang amat singkat, samurai itu kembali mereka masukkan ke sarungnya. Mulai saat dicabut, sampai memakan korban dua tiga orang, kemudian masuk kembali ke sarungnya, mungkin hanya dalam lima hitungan cepat. Artinya hanya dalam lima detik lebih sedikit! Sebagai pesilat, Datuk Berbangsa dan teman-temannya mengakui secara jujur kecepatan Jepang-Jepang itu mempergunakan senjata tradisionil mereka.

Kini mereka berlatih bagaimana caranya melumpuhkan serangan senjata maut panjang itu. Sebagai alat latihan mereka mempergunakan kayu sebesar ibu jari kaki dan panjangnya hampir sedepa.Malam inipun mereka sedang berlatih di tempat rahasia itu, dipimpin Datuk Maruhun, ayah Renobulan, bekas tunangan si Bungsu. Gerimis turun malam itu. Jumlah yang ikut latihan hanya tujuh orang. Yang lain tengah bertugas menyusun kekuatan di tempat lain. Termasuk ayah si Bungsu.

Datuk Maruhun tengah memberikan petunjuk di tengah sasaran –gelanggang silat– tatkala tiba-tiba mereka dikejutkan oleh cahaya senter. Mereka berusaha menghindar dengan menyebar. Tapi ternyata sasaran itu telah dikepung oleh lebih selusin serdadu Jepang.”Hemmm, latihan silat ya. Latihan menghindarkan serangan Samurai ha!? Bagus! Bagus..!” ujar seorang Jepang berperut gendut bermata sipit sambil maju ke depan.Ke tujuh lelaki itu tegak dengan diam di tengah sasaran.

Di tangan mereka hanya ada keris. Tapi keris itu takkan berdaya menghadapi bedil yang diacungkan pada mereka oleh Jepang-Jepang itu. Satu-satunya jalan terbaik bagi mereka adalah tetap menanti. Menanti apa yang akan terjadi. Mereka berbaris tegak tujuh orang. Menatap ke depan, ke arah si gemuk yang barangkali merupakan komandan penyergapan ini.”Teruslah latihan! Saya suka silat Minang. Bagus banyak, eh banyak bagus”, ujar si gemuk sambil menerkam ketujuh lelaki itu dengan tatapan matanya.

Ketujuh pesilat itu tak bergerak dari tempat mereka.”Dari mana mereka tahu tempat sasaran ini?,” bisik Datuk Maruhun pada lelaki yang tegak di sisinya.Lelaki itu tak menyahut. Semua mereka memang merasa terkejut atas kemunculan serdadu Jepang itu. Tak seorangpun yang mengetahui tempat latihan ini selain anggota mereka.

Apakah di antara mereka ada yang berkhianat?”Ayo mulailah bersilat, atau kalian perlu diajar dengan samurai sebenarnya?” si Gemuk itu bicara lagi.Karena tetap saja tak ada yang menjawab, dia lalu memberi isyarat pada salah seorang anak buahnya. Jepang itu maju. Memberikan bedil panjangnya yang berbayonet kepada temannya. Lalu dengan hanya samurai di pinggang dia masuk ke tengah sasaran.”Hei, kalian berdua! Majulah dan lawan dia … ”Jepang gemuk tadi menunjuk pada dua orang pesilat.”Majulah…. kita memang menyusun kekuatan untuk melawan mereka.

Kini kesempatan itu tiba. Lawanlah dengan segala usaha. Kalau Tuhan menghendaki, esok mati kinipun mati, lebih baik kita mati dalam berjuang, ” bisik Datuk Maruhun pada dua temannya itu.”Doakan kami Datuk… Kalau kami mati duluan tolong anak bini kami..,” lelaki itu balas berbisik perlahan.”Jangan khawatir pada yang tinggal. Majulah, kami doakan … “Dengan mengucap Bismillah, kedua lelaki itu maju dengan keris di tangan mereka. Mereka berdua tegak sedepa di hadapan Jepang itu.

Jepang gemuk yang merupakan Komandan dalam penyergapan itu memberikan petunjuk pada anak buahnya. Anak buahnya kelihatan tegak dengan diam, sementara tangan kanannya berada di gagang samurai yang masih tersisip dalam sarung di pinggangnya.Pesilat yang di sebelah kiri mulai membuka langkah ke kanan. Yang di kanan juga melangkah ke kanan. Itu berarti mereka membuat langkah melingkari Jepang itu arah ke kanan pula.

Jepang itu masih tetap tegak dengan diam.Tiba-tiba pesilat yang ada di depan menyerang dengan sebuah tikaman ke lambung Jepang itu. Pesilat yang satu lagi bergulingan di tanah dan begitu tubuhnya berada dekat tubuh Jepang yang tegak itu, dia mengirimkan sebuah tikaman ke selengkangnya. Beberapa saat Jepang itu masih tegak.Namun tiba-tiba dia bergerak. Gerakannya hanya seperti orang berputar saja. Tangannya tak kelihatan bergerak sedikitpun. Ketika dia berputar tadi tangannya masih di pinggang.

Kinipun tangannya itu masih di pinggang. Di gagang samurainya. Namun pesilat yang menyerang duluan menggeliat. Dan tubuhnya rubuh ke tanah tanpa jeritan. Tengkuk dan punggungnya nampak tergores panjang, darah menyembur dari goresan itu.Pesilat yang berguling di bawah lebih nestapa lagi, tangannya yang tadi menikam ke atas, putus hingga di siku. Lehernya menganga lebar. Keduanya mati saat itu juga. Darah mereka membasahi sasaran.

Datuk Maruhun dan keempat temannya jadi terkejut bukan main. Namun mereka telah berketetapan hati untuk berjuang sampai mati. Mereka tetap tegak dengan diam. Komandan Jepang itu bicara lagi dalam bahasa nenek moyangnya. Jepang yang membelakang itu berputar lagi lambat-lambat. Kemudian berjalan keluar sasaran. Sungguh mati, tak seorangpun di antara kelima lelaki yang masih hidup itu sempat melihat Jepang itu tadi mencabut Samurainya. Tak seorangpun! Dapat dibayangkan betapa cepatnya Jepang itu bergerak. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here