TIKAM SAMURAI 6

SUMBARTIME.COM-Padahal Datuk Maruhun adalah pesilat tangguh dari aliran silat Lintau. Dia dapat melihat dengan matanya yang setajam burung elang gerakan silat yang bagaimanapun cepatnya. Namun kali ini dia harus mengakui secara jujur, bahwa matanya ternyata masih kurang tajam.

Seorang lagi tentara Jepang masuk ke tengah sasaran. Jepang ini bertubuh kurus jangkung. Kelihatannya angkuh. Sesampai di tengah sasaran dia menghunus samurainya. Berbeda dengan serdadu pertama tadi yang tetap membiarkan samurainya dalam sarang dan tersisip di pinggang. Yang ini memegang hulu samurai itu erat-erat dengan kedua tangannya. Komandan Jepang yang bertubuh gemuk itu kembali bicara.

“Tadi kalian saya lihat berlatih mengelakkan serangan samurai. Bahkan coba membalasnya. Itu yang kalian maksud dengan mempergunakan kayu panjang ini sebagai alat latihan bukan? Nah, kini Zenkuro akan mengajar kalian bagaimana mestinya latihan mengelakkan samurai. Kalian yang berdua di ujung itu majulah …!”Kedua pesilat yang di tunjuk itu saling berpandangan.”Kami akan maju Datuk. Mohon maafkan kesalahan kami …,” mereka berkata perlahan.

Nampaknya mereka telah yakin akan mati. Namun mereka menghadapinya dengan tabah.”Kita akan mati bersama di sini. Hanya kalian terpilih lebih duluan. Majulah, Tuhan bersama kalian …,” Datuk Maruhun berkata perlahan.Kedua lelaki itu maju. Yang satu memegang tombak. Yang satu memegang pedang.

Namun sebelum mereka mulai, komandan bertubuh gemuk itu berkata pada salah seorang anak buahnya.”Hei, mana monyet tadi. Lemparkan kemari agar dia melihat pertarungan ini …”Tak sampai beberapa hitungan, ”monyet” yang dimaksud oleh Komandan itu segera didorong ke depan dari balik semak-semak. Dan kelima lelaki itu seperti ditembak petir saking terkejutnya tatkala melihat siapa yang dikatakan ”monyet” itu.”Bungsu!!” Datuk Maruhun berseru kaget.”Bungsu!” Lelaki yang maju dengan tombak di tangan itu juga berseru.

Dan tiba-tiba kelima mereka dapat menebak kenapa Jepang-Jepang ini sampai mengetahui tempat sasaran yang mereka rahasiakan ini.”Jahanam kau Bungsu. Kau tidak hanya melumuri kepala ayahmu dengan taik, tapi juga melumuri kampung ini dengan kotoran. Berapa kau dibayar Jepang untuk menunjukkan tempat ini?” Datuk Maruhun membentak.Anak muda itu hanya menarik nafas panjang. Wajahnya yang murung, matanya yang sayu, menatap kelima lelaki orang kampungnya itu dengan tenang.

Dan ketenangan ini membuat kelima mereka rasa akan muntah saking jijik dan berangnya. Yang memegang tombak tiba-tiba mengangkat tombaknya dan menghayunkan pada si Bungsu. Namun samurai di tangan si Jepang bergerak. Tombak itu potong dua sebelum sempat dilemparkan.”Terkutuk kau Bungsu. Untung anakku tak jadi kawin denganmu. Tujuh keturunan kau kami sumpahi. Laknat jahanam!!” Datuk Maruhun menyumpah saking berangnya.Namun anak muda itu tetap saja tegak dengan diam.

Komandan Jepang itu memberi perintah pada si Jangkung di tengah sasaran. Kepada kedua lelaki itu dia lalu berkata:”Nah, kalau tadi kalian menyerang, kini tangkislah serangan Zenkuro…”Sebelum ucapannya habis, si Jangkung yang memegang hulu samurai dengan kedua tangannya, mulai menyerang. Serangan nampak biasa saja, membabat kaki, perut dan leher. Serangan begini dengan mudah dielakkan oleh kedua pesilat itu. Malah mereka bisa balas menyerang.

Beberapa kali pedang dan tangan di tangan pesilat yang satu beradu dengan samurai di tangan Jepang itu. Bunga api memercik dari benturan kedua baja tersebut. Kedua pesilat ini mengitari tubuh si Jangkung dengan melangkah berlawanan arah. Jadi dia dipaksa untuk memecah kosentrasinya. Sepuluh jurus berlalu.Tak kelihatan pihak mana yang akan menang. Datuk Maruhun dan kedua temannya merasa gembira dan berdoa agar teman mereka menang. Namun posisi itu tak bertahan lama.

Si Komandan memberi petunjuk dengan bahasa kampung mereka. Jepang Jangkung itu tiba-tiba tegak dengan diam. Dan ketika tiba-tiba kedua pesilat itu menyerang lagi, dia bergerak berputar dengan cepat. Terdengar pekikan beruntun. Kedua pesilat itu rubuh mandi darah. Mati saat itu juga. Yang tadi memegang tombak buntung itu, dadanya robek lebar. Yang memegang pedang kepalanya seperti akan belah dua.Sasaran itu kini bergenang darah dalam hujan rintik yang makin lebat.

“Nah, kalian sudah lihat. Bahwa silat kalian tak ada artinya jika melawan Samurai. Karena itu jangan coba-coba membangkang perintah kami. Kini kalian yang masih hidup ayo ikut kami kembali ke kampung. Tunjukkan di mana teman-teman kalian yang lainnya. Termasuk Ayah monyet ini,…”Datuk Maruhun menatap pada si Bungsu yang disebut sebagai beruk oleh komandan Jepang itu.

“Waang tidak hanya pantas disebut beruk buyung. Tapi waang memang seekor beruk yang paling jahanam di dunia ini. Kenapa tak waang katakan sekaligus di mana Ayah waang bersembunyi pada Jepang-Jepang ini?”Dia bertanya dengan penuh rasa benci pada si Bungsu.

Namun anak muda itu tetap diam. Berjalan dengan kepala tunduk, mata sayu dan wajah murung. Kalau saja dia tak dibatasi oleh tiga orang serdadu, mungkin dia telah mati ditikam oleh ketiga lelaki itu. Bahkan kalau ayahnya ada di sana, mereka yakin bahwa Datuk Berbangsa yang akan membunuh anaknya ini.Sudah bisa dipastikan, bahwa untuk mendapatkan uang untuk berjudi, anak celaka ini telah membuka rahasia tentang latihan yang diadakan di kampungnya pada Jepang, berikut di mana latihan diadakan.

Bisa diterima akal betapa berangnya penduduk padanya.Kabar tentang khianatnya si Bungsu segera menjalar seperti api dalam sekam di kampung itu. Belum dua bulan yang lalu dia diberitakan dari mulut ke mulut perkara pertunangannya yang diputus pihak Reno, kini dia kembali diberitakan dari mulut ke mulut soal khianatnya.

Namun tak ada yang berani turun tangan secara langsung. Di kampung itu kini ditempatkan lima orang serdadu Jepang.Jepang-jepang itu tak berhasil menemukan Datuk Berbangsa dan teman-temannya. Untuk itu mereka menempatkan lima orang serdadunya untuk menjaga dan menangkap kalau-kalau Datuk itu muncul sewaktu-waktu.

Sementara Datuk Maruhun serta kedua temannya yang tertangkap di sasaran itu, dibawa ke Bukittinggi. Ditahan di sana. Tapi ada yang mengatakan bahwa ketiga mereka telah dikirim ke Logas. Di berbagai daerah, perang melawan serdadu Jepang belum lagi mulai. Sebab Jepang baru saja menggantikan kedudukan tentara Belanda. Bersambung>>>


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here