TIKAM SAMURAI 210

SUMBARTIME.COM-Kini mereka sampai di depan sebuah rumah.Rumah-rumah di desa itu menggambarkan kondisi kehidupan warganya.Terbuat dari papan dan bertiang cukup tinggi, hampir semua rumah beratap daun.

Di bahagian bawah dua tiga rumah berkeliaran ternak seperti ayam,babi atau kambing dan kerbau. Si Bungsu tahu berapa pasang menatap langkah mereka.

Iklan

Baik dari balik ceah dinding rumah maupun dari balik jendela yang dari luar kelihatan sepi sekali. Dari depan tangga,Hand Doi memanggil sebuah
nama.Mereka menanti.Han Doi kembali memanggil dengan suara tak begitu keras.Tak lama kemudian,pintu rumah itu berderit dan terbuka.Sebuah wajah muncul di pintu.

“Paman Duc saya membawakan rokok dan kopi untuk mu…”ujar Han Doi
sambil mengangkat buntalan kainnya.
Lelaki separoh baya yang di panggil Han Doi paman itu menatap sesaat kepada si Bungsu. Hanya sesaat, setelah itu dia membukakan pintu lebar-lebar.
“Naiklah….”ujarnya dalam nada parau.

Han Doi mendahului menaiki tangga,disusul si Bungsu. Ketika usai menaiki
enam anak tangga dan berada di rumah,si Bungsu baru dapat melihat bahwa penduduk kampung ini jauh lebih miskin dari gambaran yang diperlihatkan kondisi rumah-rumah mereka.

Rumah itu terbagi dua dengan pembatas papan.Ruang depan merangkap
sebagai ruang tamu dan ruang makan.Ruang disebelahnya,yaitu bahagian
belakang,adalah ruangan tidur keluarga, yang diujungnya terdapat dapur.

Ruang depan dimana kini mereka berada hanya dialas dengan tikar rotan yang sudah compang-camping saking tuanya. Pada dinding yang menjadi pembatas dengan ruang tidur, tersangkut sebuah caping tua dan beberapa potong baju.

“Kenalkan ini temanku.Namanya Bungsu.Dia berbahasa inggris.Bungsu ini
pamanku,Duc Thio…” ujar Han Doi sambil meletakkan dan membuka buntalan kainnya. Si Bungsu membuka caping di kepalanya,kemudian mengulurkan tangan.Duc Thio, paman Han Doi, yang tadinya menatap sekilas saat akan membukakan pintu, menyambut uluran tangannya.

“Senang bertemu dengan anda…”ujar lelaki itu,yang kefasihan bahasa inggrisnya membuat si Bungsu terkejut. Han Doi menyerahkan sebungkus kopi dan tiga slop rokok buatan Amerika, yang diterima pamannya dengan wajah berseri. Dia mencium rokok tersebut sambil memejamkan mata.

“Mana Thi Binh?”tanya Han Doi pada pamannya.Duc Thio menatap
ponakannya itu sesaat,wajahnya berubah murung.
“Dia sakit…”ujarnya perlahan.
“Sakit,dimana?”.

Duc Thio melangkah ke ruang sebelah diikuti Han Doi.Dari kamar sebelah si Bungsu mendengar pembicaraan dua orang itu.
“Kenapa dia ?”tanya Han Doi.
“Sipilis..”
Lama tak terdengar suara.

“Ya Tuhan,badannya panas sekali,kenapa..?”
“Dia di paksa melayani nafsu binatang tentara Vietkong di kamp…”Si Bungsu mendengar suara paman Ham Doi bergetar.
“Apakah tak ada dokter di kamp itu yang bisa membantunya..?”

“Di kamp itu,tak ada obat yang boleh di pergunakan.Kecuali tentara
Vietkong.Siapa yang sakit,tawanan Amerika atau pun orang Vietnam
Selatan,harus meramu obat sendiri.Jika tak ada obat,silahkan menanti ajal…”

Si Bungsu melangkah perlahan kebatas kamar.Dikamar sebelah itu dia melihat sesosok tubuh terbaring.
“Maaf,barangkali saya bisa membantu.Boleh…?”ujarnya perlahan. Kedua orang
lelaki di kamar itu menoleh padanya.

“Anda seorang dokter..?”tanya Han Doi heran.
“Tidak.Tapi,untuk penyakit tertentu mungkin aku bisa membantu.Boleh saya
coba?”ujar si Bungsu.

Dari tempat duduknya Han Doi menatap pamannya.Lelaki itu menatap si
Bungsu kemudian dengan penuh harap dia mengangguk.Si Bungsu
mendekat.Melihat seorang gadis amat belia,barangkali baru berusia lima belas tahun.Wajahnya yang pucat pasi dan bibir nya yang berkudis akibat spilis.tak mampu menyembunyikan wajahnya yang jelita.

“Nampaknya dia sudah empat hari diserang demam panas dan tak bangkit dari pembaringan ini…”ujar si Bungsu perlahan,setelah memperhatikan wajah gadis itu,tanpa menyentuhnya sedikitpun.

“Ya, persis empat hari dengan hari ini…” ujar ayah gadis itu.
Setelah ucapannya itu dia segera sadar dan menjadi heran,sembari menatap si Bungsu dia berfikir, bagaimana orang ini bisa secara persis mengetahui kondisianaknya, padahal dia bukan dokter?

Han Doi juga tak kurang herannya.Dia menatap pamannya,seperti
pamannya,apakah memang sudah empat hari Thi Binh menderita demam dan tak bisa bangkit dari pembaringan. Pamannya, yang faham atas tatapan itu, mengangguk.

“Kita memerlukan air hangat,agak semangkuk…”ujar si Bungsu.
Duc Thio bergegas melangkah kearah tungku di ujung ruangan tersebut.Di sana memang sedang terjarang sebuah periuk berisi air yang sedang mengepulkan asap.

Lelaki separuh baya itu mengambil sebuah mangkuk dari kayu.Kemudian
mengangkat periuk,lalu menuangkang isinya ke dalam mangkuk tersebut.
Mangkuk berisi air panas itu dia bawa kedepan si Bungsu.

“Ada kain pembersih,sapu tangan misalnya?”tanya si Bungsu.
Duc Thio kembali bergerak kesebuah lemari kayu setinggi satu meter yang
terletak di tepi dinding dekat kepala anaknya.Membukanya,mengambil sebuah handuk kecil. Lalu memberikannya pada si Bungsu.

Si Bungsu menuangkan serbuk berwarna kuning kehijau-hijauan dari
bungkusan kecil yang dia keluarkan dari dompetnya itu kesendok.Jumlah yang dia tuangkan hanya sedikit, mungkin secubitan anak-anak.
Lalu dua jari,jari tengah dan telunjuk tangan dia tuangkan ke air di
mangkuk. Kemudian air yang melekat pada jarinya itu dia teteskan ke bubuk yang disendok.

Sekitar empat tetes air air turun membasahi serbuk itu. Bubuk tersebut kemudian larut dalam air yang beberapa tetes di
sendok.Perlahan,dengan tangan kanannya dia bukakan mulut gadis itu yang terbaring diserang sipilis. Kemudian air larutan bubuk obatnya di tuangkan kemulut gadis itu, lalu mulutnya di katupkan lagi.

Si Bungsu kemudian membasahi handuk di tangannya dengan air hangat di
dalam mangkuk.Memerasnya perlahan,kemudian melap wajah gadis itu, yang sejak tadi di penuhi keringat dingin.

“Jika tuhan mengizinkan,anak bapak akan sembuh dalam seminggu-dua
minggu…”ujar si Bungsu pada Duc Thio.
“Terimakasih…”ujar Duc Thio penuh harap,meski amat ragu.

Dari Paman Han Doi siang itu si Bungsu dapat penjelasan lebih jelas dan rinci tentang adanya tawanan Amerika yang tempat penyekapannya amat dirahasiakan Vietkong di sekitar desa kecil ini. Duc Thio bercerita setelah
ponakannya menuturkan bahwa si Bungsu datang kemari untuk membebaskan seorang perawat Amerika, yang tertangkap ketika perang berkecamuk.

Saat Duc Thio bercerita,Han Doi bersandar ke dinding yang ada celahnya. Setiap sebentar dia mengintip lewat celah itu, kalau-kalau ada orang yang
mendekat. Dia tak hanya mengintip lewat celah dinding,tetapi tiap sebentar
juga mengintip lewat celah lantai.Memastikan bahwa tak ada siapa-siapa yang menyelinap kekolong rumah untuk mendengarkan pembicaraan pamannya dengan si Bungsu.

“Mereka disekap,dalam goa-goa batu yang berada di bukit yang terjal di
sebelaj utara sana…”ujar Duc Thio.
“Maaf,disana pula Thi Binh dulu disekap?”tanya si Bungsu mengenai anak
gadis Duc Thio.

“Tidak di goa itu.Vietkong mendirikan kamp dibawah bukit terjal
itu.Anakku,dan beberapa wanita lainnya yang mereka sekap untuk melayani nafsu mereka, juga ditempatkan di balik bukit yang dijaga sekitar sepuluh sampai dua belas tentara…..”ujar Duc Thio sambil berhenti sejenak. Setelah menghela nafas panjang,dia melanjutkan ceritanya.

“Tentara yang ingin memuaskan hasratnya datang bergiliran ke kamp wanita- wanita tersebut. Jadi,Thi Binh maupun wanita-wanita yang lain tak tahu di mana letak kamp tersebut. Hanya orang-orang yang terlatih mendaki yang bisa mencapai goa tempat tentara Amerika itu disekap. Namun selain bahaya ditembaki Vietkong, hampir setiap jengkal bukit itu ditanam ranjau.

Yang tahujalan naiknya,hanya beberapa Komandan pasukan…”
“Berapa tentara Vietkong disana…?”

“Tidak ada yang tahu.Mereka datang kesini setahun yang lalu.Pagi harinya
penduduk di kumpulkan.Lalu di giring ke lembah sekitar setangah kilometer dari sini.

Malam harinya,kami hanya mendengar suara deru truk-truk yang yang datang. Hampir sepanjang malam.Hampir sepanjang malam itulah kami juga tak boleh meninggalkan tempat berkumpul di lembah sana.Subuh-subuh truk-truk itu berangkat, baru siangnya kami dikembalikan ke desa….”

“Penduduk disini bebas pergi kemana saja?”
“Yang masuk kesini ya,sedangkan yang keluar tak boleh sama sekali,kecuali
untuk ke ladang atau kebun dekat-dekat desa..”

“Bagaimana penduduk mencukupi kebutuhannya?”
“Sekali dua minggu ada tentara ada Bin Hoa yang membawa keperluan hidup sehari-sehari. Mereka melakukan barter hasil pertanian dan
perkebunan.dengan kebutuhan sehari-hari penduduk,sedangkan alat-alat
pertanian mereka bagikan dengan cuma-cuma.Sedang…”

Cerita Duc Thio terputus ketika dari kamar sebelah terdengar erangan
halus.Lelaki separoh baya itu segera berdiri.Bergegas kekamar sebelah dimana anak gadis nya terbaring.

“Ayah,saya lapar….”rintih gadis itu perlahan.
Duc Thio untuk sesaat terpana.Seperti tak percaya anaknya bicara.Sudah
empat hari ini anaknya tak sadarkan diri.Kini tiba-tiba anaknya membuka mata dan mengatakan lapar.

“Ayah masakkan bubur untukmu, nak….”ujarnya terbata-bata.
Airmata lelaki itu berlinang.Menjelang menuju dapur dia membelokkan
langkah keruang tengah menatap si Bungsu.

“Terimakasih…Terimakasih anda telah mengobati anak saya…”ujar lelaki itu sembari membungkukkan badan dalam-dalam beberapa kali.
Si Bungsu mengangguk dan tersenyum lembut.Han Doi sendiri berdiri
meninggalkan tempat duduknya,berjalan ketempat anak pamannya itu.

Melihat gadis itu sudah membuka mata dan menatapnya.Wajah gadis itu, yang tadi pucat pasi, kini sudah berona agak kemerah-merahan.

Duc Thio dengan cepat membesarkan api.Memasukan tepung kedalam panci kecil, kemudian memberi air. Lalu menjerangnya di tungku. Setelah itu dia mengambil pisau,s eekor ayam yang sudah di kuliti, dan sudah lama di gantung diatas tungku, dia potong dadanya.

Selanjutnya dia sayat-sayat tipis-tipis,lalu dia masukkan ke panci yang terjerang itu. Kemudian dia memasukkan bawang prai dan daun seledri, garam halus serta merica. Tak lama kemudian bubur itu menggelegak.Duc Thio mengambil sebuah mangkuk, menyalin bubur yang harum itu kedalam mangkuk. Setelah itu dia bergegas kepembaringan anaknya,l au menyuapi anak gadis nya itu sendok demi sendok.

“Han Doi,masak bubur untuk makan kita siang ini…”ujar Duc Thio sambil tetap menyuapi anaknya. Han Doi segera bangkit, dan mengambil sebuah periuk, memasukkan gandum ,memotong-motong ayam, kemudian memasukan rempah, meberi air dan menjerangnya diatas tungku.

Dia mengambil lagi beberapa potong kayu di samping tungku itu, dan menyorongkannya ke tungku. Setelah itu dia menutup periuk tersebut dan menoleh pada si Bungsu yang lagi memandang keluar. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here