TIKAM SAMURAI 211

SUMBARTIME.COM- Si Bungsu memang tengah menoleh ke luar jendela menatap belantara dan perbukitan batu terjal. Mendengarkan kicau suara burung dan pekik siamang, yang sayup-sayup sampai ketelinganya.Tiba-tiba bayangan Situjuh Ladang Laweh, dikaki Gunung Sago, kampung halamannya nun jauh diseberang laut sana.

Desa ini tak jauh beda dengan desanya dulu.Di Lingkar hutan dan perbukitan serta berudara sejuk. Hanya saja, hutan disini sangatlah perawan. Sementara hutan yang mengelilingi situjuh ladang laweh, sebahagian sudah dijadikan kebun dan ladang. Dia menarik nafas panjang dan berat.

Iklan

Tak ada siapun yang menantinya di kampung. Dia tak lagi punya sanak famili dekat. Semua sudah pupus. Ada yang tewas dalam perang kemerdekaan, ada pula yang terbunuh dalam pergolakan PRRI. Bagaimana bentuk kampungnya itu kini?

Dia teringat masa kecilnya dikampung dulu.Ketika bermain judi dengan orang- orang yang jauh lebih tua darinya. Mereka berjudi dari kampung ke
kampung. Tak ada penjudi besar disekitar Gunung Sago sampai ke Payakumbuh yang tak ditantangnya.

Dia sering kalah, namun lebih sering pula menang. Jika kalah dan tak punya uang, biasanya dia pergi mencuri kambing, bahkan kerbau dan sapi. Menjualnya kekampung lain atau ke pasar. Uang nya untuk apalagi kalau bukan berjudi.

“Hei,kau suka durian…”tiba-tiba lamunannya di putus suara Han Doi.
Dia menoleh.Ya,sejak masuk kampung tadi pagi dia sudah mencium bau
durian.Suara gedebuk di luar,membuatnya kembali menoleh keluar lewat
jendela.Tak jauh dari rumah ini,rupanya ada dua batang pohon durian yang berbuah lebat.

Si Bungsu baru ingat, sejak duduk di tempatnya tadi, kalau tidak salah tiga atau empat kali dia mendengar suara gedebak-gedebuk di luar sana. Rupanya itu adalah suara durian jatuh dari pohonnya. Dia melihat, betapa besarnya buah- buah durian yang menggantung di dahan itu. Kemudian dia menoleh lagi pada Han Doi, mengangguk sambil tersenyum.

“Tunggu disini,saya ambilkan kebawah…”ujar Han Doi sambil melangkah ke pintu. Pemuda Vietnam itu turun ke halaman. Tak lama kemudian naik lagi membawa dua buah durian besar. Si Bungsu agak kecewa. Kenapa hanya dua buah? Baginya, kalau hanya dua, tiga buah sebesar itu, hanya sekedar kumur-kumur.

“Ayo kita makan. Saya tak begitu suka. Tapi sekedar sebuah jadilah…”ujar Han Doi setelah mengambil parang di dapur, serta mangkuk besar untuk cuci tangan. Han Doi membuka salah satu durian yang kulitnya berwarna hijau itu. Ketika yang sebuah telah terbelah dua, dia membuka yang sebelah lagi. Isi durian itu seperti warna kunyit.

“Ayo makanlah, jika anda memang suka….” ujar Han Doi sambil mencuci tangan dan mengambil setengah ulas isi durian itu. Si Bungsu masih terpana kaget mendengar suara Han Doi. Soalnya,d ia tengah
terpana melihat isi durian itu. Sebelum mengambil durian itu, dia menekan
belahan durian itu, membuka ruangannya semua. Dan apa yang dia lihat makin membuat dia terpana.

Berbeda dengan isi durian di kampung nya, yang setiap ruang biasanya berisi dua, atau tiga biji. Tapi durian di hadapannya ini, setiap ruangnya, hanya berisi satu biji. Memanjang dari ujung ke pangkal. Besar isinya hampir sebesar lengannya. Itulah sebabnya, Han Doi hanya mengambil setengah ulas saja dari isi durian tersebut.

Dia ambil sebuah, panjang seperti lemang. Di makannya sedikit. Alamak, durian ini seperti gelamai. Legit dan nikmat sekali. Di makan lagi dan lagi. Dan terakhir baru dia temukan biji durian tersebut, tak sampai sebesar kelingking. Habis yang di tangannya dia ambil lagi sebuah, dan sebuah lagi. Lalu dia tersadar.

Dia baru memakan tiga setengah ulas. Namun perutnya sudah terasa sesak. Durian yang sebuah itu, yang isinya sudah diambil Han Doi setengah ulas. Dan si Bungsu tiga setengah ulas. Kini tinggal dua ulas lagi. Sementara durian yang satu lagi, masih ternganga, belum disentuh sedikitpun.

Si Bungsu menjadi kalap. Di raihnya yang seulas lagi. Masak durian dua buah saja tak terhabiskan. Sedangkan di kampungnya dulu, ketika dia masih kecil pula, dua tiga buah durian baru sekedar buat cuci mulut. Lima atau tujuh baru agak puas.

Namun sehabis durian yang satu ulas itu, si Bungsu benar-benar tak bisa
bernapas. Mati den… bisik hatinya dengan bersandar ke dinding. Ini durian
gergasi namanya barangkali, pikirnya sambil sendewa dua kali. Di Kampungnya tak pernah dia bersua durian seperti ini. Yang seruangnya hanya berisi satu biji, di semua ruang durian tersebut.

Durian di kampungnya,kalau disebuah ruang ada yang tiga isinya,sudah
hebat.Seringkali di sebuah ruangnya berisi sepuluh sampai,lima belas
isinya.Biji nya beesar-besar,isinya setipis kulit ari.Durian Tumbuang
namanya.Kalau saja durian Vietnam ini di jual di Payakumbuh, pasti mahal
sekali harganya.

Dia memejamkan mata nya,membayangkan dirinya jadi saudagar durian. Dari Vietnam ini dia bawa durian agak lima kapal. Kapal itu tentu harus ke Pekanbaru dulu. Di kota itu dia jual dua kapal, yang tiga kapal itu di bawa truk ke Payakumbuh. Lamunanya terputus oleh pertanyaan Han Doi.

“Mana yang lebih enak,durian ini. Dengan durian di kampungmu?”
“Apa..?”
“Mana yang lebih enak durian ini dari pada durian di kampungmu..”
“Enak durian dikampungku sedikit..”ujarnya sambil memejamkan matanya dan kembali menyandarkan kepalanya ke dinding, lalu menyambung perkataannya tadi dalam hati. Dan durianmu ini enak banyak...

“Ya, saya rasa juga begitu. Soalnya durian yang bagus-bagus itu ada di bukit
sana. Durian yang di kampung ini, jarang orang suka memakannya. Itu sebabnya mana yang jatuh dibiarkan begitu saja..”ujar Han Doi.
Kalera...”rutuk hati si Bungsu tanpa membuka mata nya yang terpejam.

Pantas dia makan setengah ulas,rupanya durian ini durian yang kurang sedap dan jarang di makan orang di kampungnya. Yang tak sedap bagi mereka, sudah juling mataku saking keenakannya. Bagaimana pula bentuk durian yang enak bagi mereka itu?

Si Bungsu jadi malu sendiri,bila diingatnya.Bahwa dia melahap semua isi
durian yang sebesar lengan itu.padahal dia mengatakan lebih enak durian di kampungnya dari durian ini.
“Tak enak,tapi kok banyak juga Anda makan,ya?” tiba-tiba di sentakan lagi oleh pertanyaan Han Doi.

Mata nya terbuka membelalak. Untunglah saat itu Han Doi sedang melangkah kearah tungku, yang menjerang bubur yang telah menggelegak. Harum bubur itu menyebar bersama asap tipis yang keluar dari sela-sela tutup periuk. Bubur itu pasti sangat enak. Baunya saja sudah menunjukan betapa akan sedap rasanya.

Tapi aku takkan memakan bubur itu. Kukatakan saja perut ku kenyang makan durian. Nanti dia tanya lagi, mana yang enak bubur itu atau bubur di kampungnya. Lama-lama kutempeleng juga orang ini, si Bungsu menyumpah- nyumpah dalam hati.

Tapi, kendati mula-mula sudah menolak dengan alasan kenyang, namun begitu melihat Han Doi dengan lahap dan dengan suara berkecipak melahap bubur itu, si Bungsu akhirnya menyerah. Dengan mengubur rasa malu dalam- dalam, dia mengambil mangkuk yang tadi sudah di letakkan didepannya.

Dia isi mangkuknya itu separoh saja,agar tak kelihat rakus. Lalu dia
makan.Wualah..Mak, sedapnya bukan main. Dia sudah berusaha makan pelan- pelan,agar tak kelihatan congok. Namun dalam beberapa suap, isi mangkuknya licin tandas.
“Tambahlah, Habiskan saja isi priuk itu. Malam ini kita akan berjalan jauh
bukan?”ujar Han Doi.

Habiskan isi periuk? Itu menghina namanya.”Tambahlah”saja sudah cukup
menghina baginya, yang tadi menolak makan dengan alasan kenyang. Kini
disuruh pula menghabiskan isi periuk itu. Si Bungsu tersinggung luar biasa.Tapi nikmatnya rasa bubur itu yang sedapnya juga luar biasa, membuat dia terpaksa menyimpn rasa tersinggungnya dalam kocek baju.

Dia tarik periuk itu ke dekatnya. Lalu dia salin isinya. Hampir melimpah mangkuk di depannya. Kemudian dia makan dengan lahap.weleh..weleh..weleh!Si Bungsu
akhirnya tersandar ke dinding. Yang tersisa hanya rasa lemah karena hampir seminggu tak makan apapun.

Ayahnya memperkenalkan si Bungsu pada gadis itu.Gadis itu mula-mula merasa malu dan rendah diri akibat penyakitnya.Namun setelah ayahnya mengatakan,bahwa anak muda inilah yang memberinya obat sehingga cepat pulih,gadis itu menganggukkan kepala kepada si Bungsu,memberi hormat.

Si Bungsu mendekat.Kemudian memegang kening gadis itu.Gadis itu tak mampu menahan tangisnya.Airmatanya mengalir di pipinya.
“Engkau akan segera pulih,dik. Percayalah…”ujar si Bungsu sambil mengusap kepala gadis itu. Gadis itu justru menangis terisak.

“Tenanglah,Tuhan akan membalas orang-orang yang menjahanami ibumu,yang juga menjahanami dirimu,anakku.Yakinlah,Tuhan akan membalas mereka lebih pedih dari apa yang diterima ibumu,dan juga dirimu….”ujar Duc Thio perlahan dengan suara bergetar.

Maksud mereka akan menanyai gadis itu,tentang jalan mana yang harus di tempuh menuju tempat dia di sekap tentara Vietkong itu terpaksa diurungkan sementara.Di Ruang depan,Han Doi akhirnya menceritakan semua peristiwa yang menimpa keluarga pamannya.

Dahulu pamannya adalah seorang pegawai perusahaan ekspor di kota pelabuhan Donghoi,di utara kota Da Nang.Namun ketika kota itu di rebut Vietkong.Mereka kemudian mengungsi jauh keselatan,ke kota saigon.

Namun hanya dua bulan di kota itu,istri pamannya meninggal akibat infeksi yang di deritanya saat di perkosa.Dua abang Thin Binh,yang harus berhenti kuliah karena perang,terbunuh tatkala Saigon di hujani bom oleh artileri Vietkong.

Pamannya memutuskan untuk menyingkir dulu kedesa yang amat jauh ini,sampai perang berakhir.Maksudnya menyingkir kemari adalah untuk menyelamatkan Thi Binh,yang wajahnya jelita dan tubuhnya sedang mekar.Anaknya kini pasti takkan selamat di Saigon,bila kota itu jatuh ketangan Vietkong.

Jika keadaan sudah membaik,mereka akan kembali ke kota.Itu maksud pamannya. Namun baru sekitar delapan bulan menyingkir ke kampungnya yang jauh terpencil ini, tentara Vietkong justru memilih tempat ini sebagai kamp tahanan rahasia mereka untuk menyembunyikan tawanan perang Amerika.

Dan anak gadisnya ternyata benar-benar tidak bisa di selamatkan.
Menjelang tengah malam,ketika Thi Binh kembali minta makan,mereka menunggu gadis itu selesai.Setelah itu,ayahnya menceritakan bahwa si Bungsu berniat menyelamatkan seorang gadis seorang juru rawat Amerika,yang di tawan di kamp di bukit-bukit batu sana.

“Apakah Thi-thi pernah melihat ada seorang wanita Amerika di sana…?”tanya ayahnya.Thi Binh yang sedang menatap si Bungsu menggeleng.

“Saya tak pernah melihatnya.Kamp tempat mereka mengurung kami jauh dari kamp para tentara itu.Tapi saya pernah mendengar tentara-tentara itu membicarakan seorang gadis Amerika yang sering ditiduri komandan mereka.Saya tak tahu,apakah dia juru rawat itu…”ujar Thi Binh perlahan dalam bahasa inggris yang fasih.

“Engkau pernah mendengar mereka menyebut nama wanita itu?”tanya si Bungsu. “Tuan datang dari indonesia?”tiba-tiba gadis itu bertanya.
Tidak hanya si Bungsu, ayahnya dan Han Doi juga kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba tetapi amat tepat itu. Tapi dari mana gadis itu tahu nama’Indonesia’?

“Ya,kenapa?”jawab si Bungsu perlahan.
“Tuan..Apakah Ninja?”kembali gadis itu mengajukan pertanyaan yang mengagetkan. “Tidak.Di Indonesia tidak ada Ninja…”Gadis itu menarik nafas. Wajahnya nampak kecewa.

“Kalau begitu,bukan Tuan orangnya…”ujar gadis itu perlahan.
Semua mereka saling bertukar pandang.Ucapan gadis itu menyebar teka-teki bagi mereka.

“Apa maksud mu,nak…?”tanya Duc Thio pada puterinya.
Thi Binh kembali menatap nanap pada si Bungsu.Kemudian pada ayahnya,lalu pada sepupunya Han Doi.Kemudian sambil menunduk dia berkata.

“Di tempat penyekapan,malam-malam hari saat tidur setelah remuk diperkosa bergantian,saya beberapa kali di datangi mimpi.Mimpi yang sangat memberi harapan…”gadis itu berhenti sesaat.Kepalanya masih menunduk.

“Apa isi mimpimu…?”tanya Han Doi.
“Seorang Ninja datang menyelamatkan saya.Dia mengaku dari Indonesia…”gadis itu berhenti lagi.
“Dia sebutkan namanya padamu dalam mimi itu,Nak?”tanya ayahnya.
Gadis itu menggeleng lemah.

“Tapi wajahnya mirip Tuan ini.Tapi Tuan ini bukan ninja,jadi bukan dia yang datang dalam saya itu….”ujarnya lemah,dan kembali menunduk.
“Dia sebutkan bahwa dirinya adalah Ninja?”tanya Han Doi.
Gadis itu menggeleng.

“Lalu,dari mana kamu tahu dia seorang Ninja?”
“Dia membunuhi tentara Vietkong itu dengan senjata rahasia seperti yang lazim dipakai Ninja.Ada besi tipis,runcing-runcing,ada samurai kecil yang dia selipkan di balik lengan bajunya,dia…”

Suaranya terputus.Diputus oleh gerakan Han Doi yang tiba-tiba.Demikian tiba-tiba dan cepat,sehingga si Bungsu sendiri tak sempat mencegah. Han Doi meraih tangan kanan si Bungsu. Lalu dengan sebuah gerakan, lengan baju pemuda itu dia singkapkan.Mata Thi Binh terbelalak. Di lengan pemuda itu ada sebuah karet tipis. Pada ban karet itu tersisip beberapa samurai kecil dan beberapa lempengan besi tipis persegi enam,yang seginya merupakan sudut yang tajam.

“Senjata seperti ini yang dipakai orang didalam mimpimu itu,Thi Binh?”tanya Han Doi.
Gadis itu terkesima.Begitu juga ayahnya.Wajahnya bergantian menatap antara senjata-senjata itu dengan wajah si Bungsu.
“Sejak tadi saya yakin.Tuanlah yang datang ke dalam mimpi saya itu.Kenapa lama benar Tuan datang untuk menyelamatkan saya?”ujar gadis itu lirih,dengan mata berkaca-kaca.

Si Bungsu tak menjawab.Ada rasa aneh,sekaligus rasa tersedak,yang membuat dia tak mampu bicara.Bagaimana kedatangannya kedesa itu bisa merasuk kemimpi gadis tersebut?

“Tuhan yang mengirimmu kedalam mimpi saya Tuan.Tuhan yang mengirimmu! Dalam derita sepanjang hari di kamp sana saat saya di perkosa bergantian dengan biadap oleh belasan lelaki setiap hari. Saya berdoa agar Tuhan mengirimkan seseorang untuk membunuhi para jahanam itu,dan menyelamatkan diri saya.Dan Tuhan memberikan harapan pada saya dengan berkali-kali mengirmkan Tuan kedalam mimpi saya…”
Tak seorangpun yang bicara setelah itu.Sepi,kecuali isak perlahan Thi Binh.

“Maaf jika saya datang terlambat.Namun barangkali bukan saya yang datang kedalam mimpimu,Dik..”ujar si Bungsu perlahan.
“Dari mana saya tahu nama negeri Tuan adalah Indonesia?Saya tak pernah mengetahui nama itu,baik di buku bacaan atau di sekolah.Terakhir,dua hari sebelum saya di bebaskan dari kamp karena penyakit kotor ini,Tuhan kembali mendatangkan Tuan ke dalam mimpi saya.

Saat itu sipilis sudah menggerogoti diri saya dengan hebat.Tuanlah satu-satunya harapan saya untuk membalaskan dendam.Mimpi itu tak mampu saya ingat keseluruhannya.Di antara demam yang hebat,saya hanya melihat Tuan sepenggal-sepenggal.Kendati demikian,saya mengingatnya dengan baik…”gadis itu berhenti,dia minta minum. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here