TIKAM SAMURAI 143

SUMBARTIME.COM-Suaranya yang mengerikan itu terdengar bergumam. Michiko menggertakkan gigi. Dia bangkit dan memegang samurainya yang telanjang dengan kukuh di tangan kanan! Cina itu tersenyum. Senyum yang mirip seringai. ”Ya. Tanggalkan pakaiannya satu demi satu, Hok Giam! Saya tadi telah melihat tubuhnya tak berkain sehelai pun di hotel. Ketika Husein akan melahapnya. Tubuhnya bukan main. Ayo tanggalkan, Hok!”

Yang bicara ini adalah si gemuk. Suaranya yang mirip lenguh kerbau itu bergema dari tempatnya duduk. Michiko meludah. Perlahan tangan kirinya memegang bahagian bawah samurainya. Kini hulu samurai dia pegang dengan dua tangan. Dia harus hati-hati. Lawannya amat tangguh.
”Heh, Jepang busuk!. Ingin mencoba kehebatan nenek moyangmu dari daratan Tiongkok?” lelaki kurus yang bernama Hok Giam itu bersuara.

Iklan

Nadanya seperti ada dendam antara Jepang dengan Tiongkok. Kedua tangannya terangkat tinggi di atas kepala. Kemudian kesepuluh jari-jarinya ditekuk ke bawah. Persis cakar garuda. Aneh. Dalam posisi demikian, kedua tangan terangkat tinggi, berarti membiarkan bahagian seluruh tubuh terbuka untuk diserang.

Apalagi diserang dengan senjata panjang. Benar-benar posisi yang berbahaya. Namun Michiko tak berani bergerak sembarangan. Dia tak mengenal lawannya ini kecuali dalam tiga gebrakannya. Gebrakan pertama dan kedua ketika memukul samurai kecil dan pisau. Gebrakan ketiga ketika menghantamnya dari belakang tadi.

Dia menanti. Yang dikhawatirkannya hanya satu, yaitu kalau-kalau Cina kurus ini memang memiliki tenaga dalam yang bisa mencelakakan orang dari jarak jauh. Kalau itu benar, maka binasalah dia. Karenanya dia tetap diam menanti.

Dia agak yakin juga, sebab tadi hanya dengan kibasan tangan saja, Cina itu berhasil merubah arah samurai dan luncuran pisau yang akan menghabisi nyawa si gembrot bajingan itu. Tangan Cina itu bergerak. Aneh, Michiko melihat tangan Cina itu seperti bergetar. Jumlah tangannya makin banyak. Lalu Cina itu melangkah maju.

Michiko menyilangkan samurai di depan dadanya. Tangan Cina itu tiba-tiba bergerak dan seperti menyambar ke arah Michiko. Michiko dengan tetap tegak memegang samurai melangkah surut. Dia yakin dalam jarak demikian, cakaran Cina itu tak bakal mengenai tubuhnya. Namun dia merasa mendengar suara kain robek. Dia melihat ke dadanya.

Wajahnya jadi pucat. Bajunya robek tentang dada! Kutangnya kelihatan ketat menahan dadanya yang membusung! Si babah gemuk tertegak. Matanya melotot menatap dada Michiko. Michiko menggertakkan gigi. Seharusnya tangannya menutup dadanya. Tapi itu tak dia lakukan.

Dia tak mau kehilangan konsentrasi atas samurainya dengan melepaskan salah satu tangannya dari gagang samurai itu. Tangan Cina itu gentanyangan lagi. Seperti memukul bolak balik. Kini rok Michiko robek! Tergantung-gantung. Menampakkan pahanya yang putih dan celana dalamnya yang berwarna merah jambu!

Michiko masih tegak dengan diam dan bersandar ke dinding. Dia tak perduli berpakaian atau tidak. Pokoknya dia tak mau melepaskan samurainya. Dia akan mempertahankan kehormatannya dengan itu. Si babah melangkah ke depan. Ingin melihat lebih jelas tubuh Michiko. Michiko tegak dengan kukuh.

Cina itu menggerakkan tangannya lagi. Waktu itulah Michiko menggulingkan tubuhnya ke lantai. Bergulingan cepat ke depan sambil menebaskan samurainya seperti kitiran angin ke arah kaki Cina kurus itu. Namun Cina itu seperti sudah sangat arif.

Tubuhnya melenting ke atas namun samurai michiko lebih dulu membelah tubuh nya menjadi dua,dan ketika michiko memandang ke babah gemuk itu dia sudah berada di pintu siap melarikan diri.namun tiba2 dari belakang tubuhnya dia merasakan sesuatu menikam tubuhnya hingga tembus ke dadanya.Babah cina itu mati di karenakan tidak bisa menahan napsu bejat nya terhadap perempuan..!

=====++====

Michiko memandang ke arah yang ditunjukkan sersan itu. Dia melihat rumah hijau yang ditunjukkan tersebut. Di depannya dia melihat sepeleton tentara tengah bersiap-siap untuk berangkat. Ada yang memakai topi baja. Ada yang memakai baret kuning tua. Harapannya untuk segera tiba di Minangkabau timbul lagi.

”Terimakasih. Bapak baik sekali. Saya takkan melupakannya…” katanya pada sersan mayor itu.
”Ah, saya tak membantu apa-apa Nona. Saya hanya menunjukkan jalan. Barangkali saja Nona bisa ikut. Saya doakan….”
”Terimakasih….” ujar Michiko sambil mengulurkan tangan.

Sersan itu tersenyum dan menyambut salam Michiko. Gadis itu menenteng buntalan pakaiannya menuju ke rumah hijau itu. Kehadirannya di sana jelas saja menarik perhatian. Tentara yang ada di depan rumah itu terdiri dari pasukan-pasukan PGT dan tentara Infantri.

”Bisa kami membantu Nona?” seorang letnan bertanya.
”Terimakasih. Saya ingin ikut ke Sumatera Barat. Ke Padang. Dapatkah saya bertemu dengan pimpinan Tuan?”
”Akan ke Padang?”
”Ya, kalau bisa…”
”Silahkan masuk. Komandan ada di kamar nomor dua itu…”

Si Letnan menunjukkan kepada Michiko tempat yang di maksud. Gadis itu masuk, diantar oleh si Letnan. Letnan itu mengetuk pintu. Ketika ada suara menyuruh masuk, Letnan itu masuk duluan. Menutupkan pintu di belakangnya. Michiko menanti di luar. Tak lama kemudian Letnan itu keluar lagi.
”Silahkan….”
Michiko masuk. Di dalam kamar itu ada beberapa orang tentara. Seorang mayor duduk di balik sebuah meja.

”Selamat siang…” kata Michiko.
Mayor itu menanggalkan kacamatanya.
”Oh, ya. Silahkan duduk. Silahkan…” suaranya terdengar ramah.
Michiko mengambil tempat duduk.
”Ada yang bisa kami bantu untuk Nona?”
”Saya ingin ke Padang. Dua hari yang lalu saya telah mendaftarkan diri di penerbangan sipil. Ternyata penerbangan hari ini dibatalkan.

Dari bahagian penerbangan sipil itu saya mendapat informasi bahwa ada pesawat militer yang akan berangkat siang ini ke sana. Saya berharap bisa ikut dengan pesawat itu…”
”Ya. Memang ada pesawat militer yang akan ke sana. Maaf, apakah Nona ada membawa surat keterangan?”
”Ada…”
Michiko lalu membuka sebuah tas kecil. Mengeluarkan pasport, visa dan beberapa surat keterangan lainnya. Lalu menyerahkan pada mayor itu.

”Anda seorang turis?”
”Ya”
”Aneh. Maaf, maksud saya, adalah sesuatu yang agak luar biasa kalau memilih Sumatera Barat sebagai tempat melancong dalam situasi yang begini. Negeri itu sebenarnya memang negeri yang indah, Nona. Gunung berjejer. Sawah berjenjang. Ada ngarai dan air terjun. Bunga mekar sepanjang tahun. Tapi saat ini masih bergolak. Kalau saya boleh menyarankan, barangkali bisa memilih Bali atau Danau Toba. Yaitu kalau ingin sekedar jalan-jalan….”
Michiko menunduk.

”Ada seseorang yang saya cari di sana, Mayor….” akhirnya dia membuka kartu.
”Nah. Saya sebenarnya telah menduga hal itu. Kalau demikian lain persoalan. Apakah dia seorang yang telah lama di Sumatera Barat?”
”Dahulu dia dilahirkan di sana. Tapi saya mengenalnya di Jepang. Dia baru datang dari Australia. Barangkali baru sepekan dua ini….”
”Dari Jepang dan Australia?”

”Ya”
Mayor itu mengerutkan kening. Menatap pada Michiko seperti menyelidik.
”Apakah dia bekas seorang sahabat?” tanyanya.
Michiko ragu, tapi kemudian mengangguk.
”Seorang pemuda?”

Michiko tak menjawab.”Maaf. Saya hanya ingin memudahkan urusan Nona” ujar mayor itu ramah. ”Ya. Dia seorang pemuda…”
Mayor itu mengangguk maklum. Kemudian menoleh pada seorang staf yang duduk di meja di kanannya. Mengatakan sesuatu. Stafnya itu, seorang letnan, lalu berdiri.

Membuka sebuah lemari yang dipenuhi laci-laci. Melihat sederatan map yang diberi kode bernomor-nomor. Mengambil sebuah di antaranya. Map berwarna biru. Menyerahkannya pada Mayor tersebut yang lalu membuka map tersebut. Menatap sebuah halaman berfoto. Kemudian menatap kembali pada Michiko.

”Pemuda itu bernama Bungsu?”
Ujar Mayor itu perlahan. Michiko kaget. Jantungnya seperti berhenti berdegup.
”Apakah memang benar dia orang yang Nona cari?”
Michiko masih belum bisa bersuara. Namun akhirnya dia mengangguk dan balik bertanya.

”Apakah dia memang berada di Sumatera Barat?”
”Ya, dia memang kembali ke sana. Dulu dia juga menompang pesawat khusus yang mengangkut militer. Pesawat Hercules yang sebentar lagi akan berangkat. Maaf, ini fotonya, bukan?” mayor itu memperlihatkan map tersebut.

Michiko melihat foto si Bungsu di sana. ”Ya…” katanya antara terdengar dan tidak, sementara jantungnya berdegub kencang melihat foto itu.
Mayor itu menarik nafas panjang. Menutup map di tangannya.

”Saya tidak tahu apa maksud Nona mencarinya, mudah-mudahan untuk kebaikan kalian berdua. Kalau benar dia yang ingin Nona temui di daerah bergolak itu, Nona bisa ikut dengan pesawat militer yang akan berangkat sebentar lagi…” ujar mayor itu akhirnya.

Michiko menarik nafas lega. Dan siang itu dia memang berangkat dengan pesawat Hercules menuju Padang. Ikut bersama prajurit-prajurit PGT dan Infantri yang akan betugas di sana. Bahkan sesampai di Padang dia mendapat tompangan dengan jip militer yang kebetulan langsung ke Bukittinggi dari lapangan Tabing. Jip militer itu mengantarkannya sampai ke Hotel Indonesia, di daerah Stasiun Kota Bukittinggi. Disanalah dia menginap, sambil mencari informasi di mana si Bungsu, musuh besarnya!

=====++=====

Pagi itu, ketika si Bungsu keluar hotel, setelah subuh tadi didatangi mimpi yang amat menakutkan, di hotel yang sama Michiko memang telah lebih dahulu keluar. Gadis itu menikmati udara pagi yang amat sejuk. Hari itu hari Sabtu. Hari dimana pasar besar di kota tersebut. Dari hotel Michiko berjalan perlahan ke arah pasar. Hari masih pagi benar. Embun masih menebarkan dirinya seperti awan tipis. Menggantung rendah di permukaan bumi. Tapi orang sudah ramai. Berjalan bergegas.

Ada yang menjunjung bakul di kepala. Ada yang menolak gerobak beroda satu yang sarat oleh sayur-sayuran. Semua bergegas seperti memburu sesuatu. Beberapa orang di antara mereka menoleh pada Michiko. Barangkali merasa sedikit heran melihat seorang gadis berjalan sendirian di pagi buta begitu. Sesuatu yang kurang lazim di kota tersebut.

Pagi itu si Bungsu mengurungkan niatnya untuk pulang ke Situjuh. Kedatangan Michiko merobah niatnya itu. Apapun maksud kedatangan gadis itu, satu hal adalah pasti. Yaitu mencari dirinya. Dan dia tahu, bahwa gadis itu akan menuntut balas kematian ayahnya. Dia tak boleh pergi. Betapapun hebatnya kepandaian gadis itu, seperti halnya dalam mimpi malam tadi, misalnya, namun dia tak boleh meninggalkannya.

Itu bisa dianggap melarikan diri. Melarikan diri? Hm, apakah dia sudah demikian penakutnya, sehingga harus melarikan diri dari seorang perempuan? Namun satu hal pasti pula, dahulu dialah yang memburu lawannya. Kini kejadiannya jadi terbalik. Dialah yang diburu. Dia tak boleh melarikan diri. Dia tak mencek lagi pada petugas hotel tentang kebenaran menginapnya Michiko di hotel itu. Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here