TIKAM SAMURAI 144

SUMBARTIME.COM-Hal itu tak perlu dicek lagi. Petugas hotel itu telah mengatakan dengan tepat tentang nama dan ciri-ciri gadis itu. Petugas itu tak mungkin berkhayal atau mengada-ada. Sebab dia tak pernah berjumpa dengan Michiko. Lagipula, firasat si Bungsu mengatakan dengan pasti, bahwa gadis itu memang ada di kota ini. Dia pergi ke rumah makan di seberang Hotel Indonesia itu.

Rumah makan yang letaknya persis di depan stasiun dan di persimpangan Jalan Melati. Memesan secangkir kopi dan sepiring ketan dan goreng pisang. Mengambil tempat duduk yang menghadap langsung ke jalan raya. Perlahan dia menghirup kopi. Mengunyah pisang dan ketan gorengnya.

Iklan

Matanya yang setajam mata burung rajawali sesekali menyapu jalan di depan restoran itu. Memandang ke arah kanan, ke jalan yang melintang menuju Simpang Kangkung. Memandang ke stasiun yang ramai oleh manusia.

Dia tak perlu menanyakan apa warna pakaian yang dipakai Michiko pagi ini. Itu tak diperlukan. Informasi tentang ciri-ciri itu hanya diperlukan bagi orang yang tak pernah dia kenali. Tentang Michiko, hmm, meskipun dia berdiri antara sejuta perempuan, dia segera akan mengenalinya.

Namun sampai habis kopi, ketan dan goreng pisang di piringnya, gadis itu tak pernah dia lihat. Dari rumah makan itu dia juga bisa mengawasi jalan yang ada di depan hotel yang menuju ke selatan. Ke Tangsi Militer di Birugo. Gadis itu tak juga muncul. Akhirnya dia membayar minumannya. Kemudian perlahan melangkah keluar.

Di luar, dia menghirup udara pagi yang segar.Kemudian dia melangkah ke jalan raya. Semula dia berniat untuk ke stasiun. Sekedar melihat orang-orang yang akan berangkat. Tapi aneh, mimpinya malam tadi, perkelahian dengan Michiko di stasiun itu, tiba-tiba saja membuat langkahnya terhenti. Kemudian dia memutar langkah menuju pasar. Takutkah dia ke stasiun?

“MASUKLAH Pak, sebentar lagi kereta berangkat” kata penjual karcis.
Si Bungsu belum sempat mengangguk ketika peluit panjang berbunyi. Tanda kereta akan berangkat. Dia melangkah ke peron. Menyeruak di antara orang-orang ramai. Masuk ke kereta.

Ketika dia terduduk di bangkunya, hatinya terasa agak lega. Kereta itupun mulai bergerak. Suaranya mendesis, gemuruh. Angin dari sawah dari kampung Tengah Sawah yang berada di seberang stasiun menampar-nampar wajahnya.

Perasaan tenteram menyelusup ke hatinya. Dia menarik nafas panjang. Rasanya lega benar meninggalkan kota ini. Makin cepat makin baik. Ah, demikian takutnya kah anak muda ini pada Michiko? Apakah mimpinya malam tadi membuat hatinya jadi goyah?

Tak ada yang tahu dengan pasti. Namun memang benar, bahwa hatinya amat lega dapat cepat-cepat meninggalkan kota itu. Entah mengapa, hatinya amat lega bisa cepat-cepat naik kereta api menuju Payakumbuh, untuk ziarah ke makam keluarganya.

Kereta berlari terus. Saat itu telah melewati sawah-sawah yang membentang di Tanjung Alam. Saat itu pula, di bahagian Belakang, di antara para penompang yang duduk bersesak di gerbong tiga, empat orang lelaki saling berbisik. Kemudian mereka mulai berdiri. Dua orang berjalan ke depan. Dua orang lagi melihat-lihat situasi. Sepuluh menit kemudian mereka berkumpul lagi di gerbong tiga. Kembali berbisik-bisik.

”Ada dua orang polisi di gerbong dua dan seorang di gerbong satu,” bisik yang seorang.”Mereka membawa bedil?” tanya yang seorang dengan tetap berbisik. ”Seorang pakai pistol, dua lainnya berbedil panjang….” bisik yang seorang lagi.

Keempat lelaki itu berunding lagi dengan saling berbisik. Penompang-penompang melihat dengan diam. Tak seorangpun tahu apa yang diperbisikkan mereka di antara deru roda kereta api itu. Namun ada salah seorang di antara polisi menjadi curiga. Dia melihat dua orang lelaki bertampang kasar mondar-mandir dari gerbong dua ke gerbong satu.

Dengan tidak menimbulkan kecurigaan, dia memperhatikan perangai kedua lelaki itu. Mereka nampaknya seperti memperhatikan penompang satu demi satu. Memang tak begitu kentara. Tapi sebagai seorang polisi, dia dapat menangkap maksud tak baik dari gerak gerik kedua lelaki itu.

Ketika kedua lelaki itu bergabung dengan temannya di gerbong tiga, diam-diam polisi itu membuntutinya, lalu melihat dari kejauhan. Tiba-tiba dia seperti teringat pada seseorang. Dia seperti mengenal lelaki bertubuh besar yang tengah berbisik-bisik dengan tiga orang temannya itu. Dia coba mengingat-ingat. Ketika dia teringat siapa lelaki itu, polisi tersebut segera menemui temannya yang duduk di sebelahnya tadi, lalu berbisik. Polisi yang seorang itu tertegun.

”Tak ada teman-teman alat negara lainnya di dalam kereta ini?” bisiknya.
”Di gerbong dua ini hanya kita berdua. Di gerbong tiga tak ada seorangpun. Saya tak tahu apakah ada alat negara lainnya di gerbong satu.”
”Biasanya ada pengawalan tentara. Biar saya lihat, engkau tunggu di sini….” ujar polisi itu seraya tegak.

Dia segera menuju gerbong satu. Benar, di sana tak ada tentara seorangpun. Dia hanya bertemu dengan seorang polisi lagi berpangkat Komandan Muda. Setelah memberi hormat dia berbisik pada polisi yang memakai tanda pangkat dari aluminium dengan dua setengah garis di kelepak bajunya itu. Polisi itu tegak, lalu sama-sama menuju ke gerbong dua. Bergabung dengan polisi yang tadi mengintai ke empat lelaki di gerbong tiga itu.

”Apakah pasti dia Datuk Hitam?” tanya komandan muda itu.
”Benar pak. Saya yakin itu pasti dia. Ada akar bahar melilit di lengan kanannya. Ada codet tanda luka di pipi kirinya. Nampaknya dia mengatur sesuatu bersama tiga temannya di Gerbong tiga.”
”Dia berbahaya. Apakah kita akan bisa menangkapnya?”
”Kita pasti bisa, Pak…”
”Barangkali bisa. Tapi akan banyak jatuh korban di antara penumpang”

Kemungkinan terjadinya hal terburuk itu, yaitu jatuhnya korban di antara penumpang menyebabkan para polisi itu berunding mencari jalan terbaik. Bagaimana penumpang tidak menjadi korban, tapi datuk kalera itu bisa diringkus. Kalau melawan dibunuh saja sekalian. Kereta api meluncur terus. Saat itu sudah hampir sampai di Stasiun Baso.

Ketiga polisi itu duduk kembali. Mereka tak ingin rencana mereka diketahui oleh kawanan Datuk Hitam itu. Ya, lelaki yang sedang berencana dengan ketiga temannya itu memang benar Datuk Hitam. Lelaki yang dulu akan merampas uang yang diberikan oleh si Bungsu pada Reno dan suaminya yang tukang saluang di Los Galuang. Datuk itu adalah seorang penjahat yang baru pulang dari Betawi.

Di ibukota sana dia juga dikenal sebagai pemakan masak matah. Sebenarnya dia tidak bergelar datuk. Dia bukan pula ninik mamak. Tapi karena tubuhnya hitam dan dia kepala begal, maka orang memanggilnya sebagai Datuak Hitam. Semacam sindiran, datuk dari dunia hitam. Kini dialah yang berada di kereta api itu. Kereta memasuki Desa Baso. Polisi itu menyebar ke pintu. Namun mereka terkejut. Penompang-penompang juga heran. Kereta tak dilambatkan oleh masinis, tapi meluncur terus melewati Baso.
”Celaka, ada yang tak beres pada masinis…”

Bisik polisi yang berpangkat komandan muda, dia bergegas menemui temannya.
”Ayo ke depan, temui masinis…” katanya.
”Masinis di belakang…” kata polisi yang seorang.
”Di belakang..?”

”Ya, lokomotifnya berada di belakang, nampaknya kereta ini datang dari Padang Panjang. Biasanya di Bukittinggi kepalanya ditukar, diletakkan di depan. Tapi yang satu ini nampaknya tidak….”
”Kalau begitu mereka telah mengancam masinis….” kata komandan muda itu.

Ucapan polisi itu ternyata benar. Kawanan Datuk Hitam itu rupanya mengetahui bahwa rencana mereka dicium oleh beberapa polisi yang ada dalam kereta api tersebut. Maka salah seorang di antara mereka segera disuruh Datuk Hitam untuk menyergap masinis.

”Jalankan kereta terus…” seorang lelaki bertubuh besar mengancam si masinis. Masinis itu menyangka orang ini bagarah. Dia sudah memperlahan kereta ketika akan memasuki Baso. Tapi sebuah tikaman di lengannya membuat dia terpekik.

”Saya akan tikam jantungmu, kalau kau tak mengikuti perintah saya….” lelaki itu mengancam. Si masinis yakin bahwa orang ini memang tak main-main. Dia jadi kecut, lalu kembali mempercepat keretanya. Orang-orang yang sudah berkumpul di Stasiun Baso merasa heran ketika melihat kereta itu tiba-tiba menambah kecepatan. Lalu semua pada berseru, ketika kereta itu lewat di depan mereka dengan kecepatan yang dipertinggi.
”Tarik rem bahaya….” komandan muda itu berseru.

Dua orang di antara polisi segera menjangkau ke atas mencari tempat rem bahaya. Namun saat itu pula terdengar sebuah letusan. Salah seorang di antara polisi itu terpekik. Tangannya disambar peluru. Lalu terdengar suara mengancam dari arah belakang.

”Jangan main-main. Kalau tak ingin kutembak…”
Mereka menoleh. Di sana berdiri Datuk Hitam dengan pistol di tangan. Orang jadi panik dan mulai berdiri. Kembali terdengar tembakan. Seseorang memekik, lalu rubuh.

”Semua diam di tempat kalau ingin selamat! Diammm…!” terdengar bentakan si Datuk mengguntur. Semua penompang terdiam. Polisi yang dua lagi menghunus senjata. ”Lemparkan senjatamu, Datuk! Kalian tak mungkin membalas. Kami memiliki senjata lebih banyak dari kalian…” komandan muda itu berseru. Sebagai jawabannya, terdengar tawa cemooh.

”Kau polisi kentut! Jangan banyak bicara. Kau lemparkan senjatamu ke mari. Kalau tidak, kami akan mulai membantai penumpang!”
Polisi yang bertiga itu saling pandang di tempat perlindungan mereka, di antara kursi.

”Jangan main gila, Datuk. Kalian akan digantung kalau kalian berani mengganggu penumpang. Di Stanplat Padang Tarok ada satu kompi tentara. Kalian pasti mereka tembak!”
Kembali terdengar tawa penuh cemooh. ”Jangan banyak kecek waang, polisi tumbuang. Kalau kau tak percaya, bahwa kami akan membantai penompang ini, ini buktinya!”

Terdengar sebuah tembakan. Seseorang meraung dan jatuh! Terdengar pekik panik. Lalu bentakan menyuruh diam. Semuanya kembali terdiam.
”Nah, polisi cirik, dengarlah! Kami telah peringatkan kalian. Kalau ada di antara penumpang ini yang mati, maka itu salah kalian.

Bukan salah kami, kalian dengar!? Kalian yang tak mau menuruti perintah kami. Apakah perlu saya tambah jumlah yang mati?”
”Benar-benar anjing yang tak berperikemanusiaan…!” bisik komandan muda itu.

Mereka memang tak berdaya. Disatu pihak mereka ingin menangkap bajingan-bajingan itu. Ingin menyelamatkan penumpang. Tapi ternyata bandit-bandit itu mempunyai pertahanan yang ampuh. Menjadikan penumpang sebagai sandera.

”Saya hitung sampai empat. Kalau kalian tak melemparkan senjata kalian, maka ada empat orang yang akan mati! Satu…!” Datuk Hitam itu segera saja menghitung. ”Baik, kami akan melemparkan senjata kami. Tapi apa kehendakmu, Datuk?”

”Jangan ikut campur urusan kami. Apapun kehendak kami bukan urusanmu. Dua…!” dia melanjutkan hitungannya.
Namun tiba-tiba saja sebuah suara memecah dari arah gerbong yang berada di belakang Datuk Hitam. ”Kau takkan pernah menghitung sampai tiga, Datuk!”

Datuk Hitam menoleh, ke belakangnya. Di sana sebenarnya ada dua anak buahnya yang tegak menodongkan bedil kepada penumpang. Demi malaikat!, kedua anak buahnya itu kini tergeletak dengan kening mengalirkan darah dan mata mendelik. Keduanya tergeletak mati!

Diantara bangkai kedua anak buahnya itu tegak dengan tenang seorang lelaki yang dia kenal betul. Yaitu lelaki yang menghantam kerampangnya di suatu sore di Los Galuang, tatkala dia akan merampas uang yang diberikan lelaki itu kepada tukang salung. Kini lelaki yang menghajarnya itu tegak di sana, dan dialah yang barusan bicara!

Belum habis kagetnya, ketika di ujung gerbong yang satu lagi, yang berada di hadapannya, seorang anak buahnya yang juga tengah menodongkan bedil kena hantam popor senjata polisi yang muncul secara tiba-tiba. Anak buahnya itu jatuh melosoh dan bedilnyadiambil anggota polsi tersebut.

Sadar dirinya dalam bahaya, Datuk itu menarik pelatuk pistol yang sejak tadi larasnya dia arahkan ke kepala seorang perempuan. Namun telunjuknya yang sudah menempel di pelatuk pistol itu tak kunjung bisa dia gerakkan. Bersamaan dengan itu dia merasakan belikatnya linu luar biasa.

Dia tak tahu bahwa sebuah samurai kecil telah tertancap di salah satu bagian belikatnya, yang menyebabkan tangannya lumpuh! Datuk itu kembali menarik pelatuk pistolnya, tapi jangan menariknya, menggerakkan telunjuknya saja dia tak mepunyai kemampuan. Sementara sakit di belikatnya terasa semakin menusuk jantung.

Mengetahui bahwa Datuk Hitam itu tak bisa menggerakkan tangannya, suami perempuan yang sejak tadi menggigil karena ditodong Datuk keparat itu, menyentak parang yang memang dia bawa untuk menjaga diri, tapi sejak tadi takut dia mempergunakannya karena isterinya berada di bawah ancaman moncong pistol.

Parang tajam itu dia tebaskan, dan..tangan Datuk Hitam yang memegang pistol itu putus. Tercampak ke lantai gerbong dengan pistol masih dalam genggaman tangannya yang putus itu! Datuk celaka itu sebenarnya tadi sudah berusaha menjauhkan tangannya dari tebasan itu. Namun entah sihir apa yang mengenai dirinya, tangannya tak mampu dia gerakkan sedikitpun! Lalu, begitu tangannya putus dia meraung-raung kesakitan!

Namun tetap berdiri tak bisa bergerak sedikitpun! Melihat kesempatan itu lelaki dan perempuan yang ada di gerbong tersebut, yang tadi berada di bawah ancaman Datuk itu dan anak buahnya, bangkit serentak merangsek ke arah Datuk yang amat ditakuti dan dibenci itu. Dengan segala apa yang bisa diraih mereka menghantam Datuk tersebut yang tetap saja tegak tak bisa bergerak sedikitpun! Bersambung…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here