TIKAM SAMURAI 124

SUMBARTIME.COM-Sony membidik. Yang dia bidik bukan kepala atau bagian tubuh yang lain. Yang dia bidik justru siku kanan lelaki itu. Siku kananya menyembur keluar. Hal itu disebabkan karena tangan kanannya memegang pistol yang ujungnya ditekankan ke pelipis gadis itu.

Kalau saja dia bisa menembak dengan tepat, maka telunjuk kanan Cina itu pasti takkan mampu menarik pelatuk karena sikunya remuk. Urat pengatur gerakkan jari berada pada siku dan lipatan siku. Kalau siku itu bisa dia remukkan, maka urat-urat jari itu otomatis lumpuh. Pistol ditangan lelaki itu akan jatuh dengan sendirinyCina itu mundur, setapak kaki kanannya turun ke bawah anak tangga di bawah dermaga.

Iklan

Dan saat itulah letusan bergegar dari loop senjata Sony. Terdengar pekik gebalau dari dermaga. Perempuan itu memekik. Cina itu juga memekik.
Persis seperti perhitungan Sony. Dia berhasil menembak dua jari dari siku Cina itu. Sikunya remuk. Dan menghancurkan sistim kerja seluruh jari kanannya. Pistolnya jatuh tanpa meledak.

Dalam takut dan rasa sakit yang luar biasa, dia coba menarik gadis Indonesia itu dengan tangan kirinya. Namun sebuah lagi tembakkan bergegar. Dan siku kiri Cina itu hancur pula dimakan peluru Sony.
Cina itu meraung dan terjatuh ke belakang. Untung jatuhnya ke dalam kapal dan menimpa tubuh anak buahnya yang tadi telah mati ketika akan menembak Kapten Fabian, tapi didahului oleh pasukan Kapten itu.

Gadis itu sendiri jatuh tertelungkup. Separoh tubuhnya sudah menjulur ke bawah dermaga. Namun dia berusaha menggapai ke atas. Tongky, si Negro yang berada tak jauh dari salah satu tepi dermaga segera melompat dan berlari menolong gadis itu. Untung dia datang tepat pada waktunya. Gadis itu hampir tercebur ke bawah, ketika tangannya yang menggapai disaat terakhir disambar oleh Tongky.

Ada beberapa saat tubuhnya terayun di awang-awang. Baru Tongky bisa mengangkatnya keatas dengan sebuah tarikan kuat. Gadis itu menangis. Dan rubuh ke dalam pelukan Tongky. Dia jatuh pingsan. Sony masih tetap tegak. Jenggel mautnya tetap pada posisi siap tembak seperti tadi. Ujung bedilnya kini dia arahkan ke kapal. Cina gemuk yang memimpin sindikat penyelundupan wanita-wanita di Asia Tenggara itu tergolek kesakitan di lantai kapal.

Mulutnya menyumpah-nyumpah. Kemudian perlahan dia bangkit.
Merangkak. Tapi rubuh lagi, kedua tangannya tak lagi bisa dipakai. Dengan menyumpah dan bercarut marut, dia bangkit. Dan saat itu pula, ketika dia tengah tegak, bedil Sony menyalak lagi. Senapan semi otomatik itu memuntahkan empat peluru berturut-turut dalam jarak dua detik-dua detik.

Tubuh Cina gemuk itu seperti ditendang-tendang gergasi. Terpental-pental. Dan ketika akhirnya tubuh gemuknya itu kecebur ke laut, kepalanya telah rengkah berserak-serak. Lalu sepi. Perlahan Sony menurunkan bedilnya. Menoleh lagi pada si Bungsu. “Letnan” itu tersenyum dan mengangkat jempol. Sony membalas senyumnya dan melambai.

Mereka berjalan ke arah tubuh Kapten Fabian yang tertelungkup mandi darah. “Tongky, ambil tubuh Jhonson di bawah…!” si Bungsu berkata.
“Siap, Let!” Mereka melangkah ke dermaga. Tapi langkah mereka terhenti ketika dari belakang terdengar derap sepatu. Ketika mereka menoleh, kelihatan Miguel dan Donald menggiring keenam tawanannya yang mereka tinggalkan di pinggir rawa tadi.

Dua orang diantara tawanan itu menggotong tubuh Fred Williamson. Rupanya Donald dan Miguel mendengar tembakan-tembakan pertempuran. Mereka segera menyuruh tawanan itu bangkit. Lalu menggiring mereka ke arah markas. Ketika Donald masuk, dia terkejut melihat mayat Fred terlantar. Dari mulut temannya itu mengalir darah segar.

Dari markas itu terdengar suara tembakkan dua kali. Suara tembakan itu adalah suara tembakan Sony yang menghantam siku Cina gemuk yang menyandera gadis Indonesia itu. Mereka memerintahkan dua orang diantara tawanan itu untuk menggotong mayat Fred. Dan dengan menodong mereka dari belakang, kedua anggota Baret Hijau itu membawa tawanan tersebut ke dermaga.

Mayat Fred dan mayat Jhonson segera di baringkan di dermaga. Ketika tubuh Kapten Fabian akan diangkat, terdengar keluhan lemah.
“Dia masih hidup!” si Bungsu berseru. Semua anggota Baret Hijau itu berlarian ke arahnya. Kecuali Miguel yang tetap menodong para tawanannya yang menelungkup di tanah.

Kapten Fabian ternyata memang masih bernafas. Meski denyut jantungnya sudah melemah, tapi dia masih hidup. Itu yang penting.
“Bob, lekas….!” Donald memanggil temannya Bob Hansen orang Irlandia yang ahli dalam obat-obatan. Sersan itu segera membuka ransel kecil di punggungnya, mengeluarkan obat-obatan. Donald dengan hati-hati merobek baju Kapten itu tentang luka dipunggungnya.

Ada dua peluru bersarang di pundak Kapten Itu. Untung yang kena adalah pundak belakang bahagian kanan. Kalau bahagian kiri, Kapten itu takkan tertolong lagi. Bob Hansen mencuci luka di bahu Kapten itu dengan cairan steril dari botol kecil di dalam ranselnya. Kemudian kelihatan lubang peluru di pundak Kapten itu dua buah sebesar ibu jari.

“Pelurunya tertahan oleh tulang belikat. Kita memerlukan pisau yang tajam untuk operasi..” Bob Hansen berkata. Semua anggota pasukan itu segera saja menoleh pada si Bungsu. memandang pada samurai ditangannya.
“Ya, saya memiliki pisau yang tajam…” si Bungsu yang jongkok di dekat mereka berkata. Dan tiba-tiba saja tangan kanannya mengulurkan sebuah samurai kecil.

Tak seorangpun melihat darimana Letnan itu mengambil samurai yang panjangnya sekitar sejengkal itu. Tak ada diantara mereka yang tahu bahwa ada enam samurai semua yang tersimpan dibalik lengan baju loreng si Bungsu. dan sebentar ini ketika Bob Hansen mengatakan memerlukan sebuah pisau tajam, dia menggoyangkan tangan kanannya. Salah satu samurai kecil dilengannya itu meluncur turun. Disambut oleh telapak tangannya.

Bob Hansen yang tak sempat heran karena pikirannya tercurah ke luka Kapten Fabian menerima samurai itu. Baru ketika samurai itu berada ditangannya, dia menatap pisau itu dengan heran. Dia raba matanya. Dengan kaget dia merasakan betapa kulit ibu jarinya dimakan samurai itu. Bukan main tajamnya. Padahal dia hanya menggeser sedikit saja untuk merasakan apakah pisau itu tajam atau tidak.

Tajam dan sangat runcing. Dia menatap pada si Bungsu. si Bungsu mengangguk memberi isyarat agar cepat mengeluarkan peluru di dalam daging Kapten Fabian. Bob Hansen segera mencuci samurai itu dengan cairan steril yang tadi dia pergunakan untuk mencuci luka Kapten itu.
Kemudian dia menyuruh teman-temannya memegang tangan dan tubuh Kapten itu.

Lalu dia mulai membelah kedua luka itu. Memperbesar lobangnya. Dan dengan sebuah jepitan kecil, dia mengeluarkan kedua peluru itu. Memberikan kedua ujung peluru itu kepada si Bungsu. kemudian kembali membersihkan luka tersebut. Dari salah satu botol kecil dia mengeluarkan spiritus. Menyiramkannya ke luka yang menganga. Lalu tangannya merogoh kantong.

“ini akan sangat sakit. Tapi peganglah kuat-kuat. Hanya ini cara yang tercepat untuk menghindarkan infeksi dan mempercepat proses penyembuhan. Lukanya akan kita bakar..” Mereka kemudian memegangi tubuh Kapten itu bersama-sama. Bob Hansen menyulut korek api, melekatkannya ke luka. Spiritus itu menyambar api. Dan terdengar Kapten itu mengerang. Bau daging terbakar tercium hangit.

Si Bungsu memperhatikan dengan seksama cara pengobatan militer ini.
Begitu api padam. Sersan itu mengelurakan perban dan semacam obat penempel. Membalut luka itu dengan seksama. Dan selesailah sudah!
Si Bungsu lalu memerintahkan anak buahnya masuk ke kapal. Tawanan-tawanan diikat satu dengan yang lain. Di kapal mereka ditempatkan didepan sekali. Diikatkan ke tempat putaran sauh.

Mayat Fred Williamson dan Jhonson atas persepakatan bersama dikubur dipulau Pesek itu. Bagi anggota pasukan Baret Hijau itu tak susah untuk menjalankan kapal tersebut. Dalam cahaya pagi yang cerah mereka meninggalkan pulau. Meninggalkan mayat-mayat anggota sindikat itu bergelimpangan di pulau tersebut. Satu jam berlayar, mereka memasuki lagi sungai kecil dimana malam kemaren mereka meninggalkan Jeep.

Tawanan-tawanan mereka biarkan tetap terikat di kapal. Mereka naik ke Jeep. Dan dalam waktu dekat Jeep itu meluncur lagi ke Markas mereka. Donald hapal benar jalan mana yang harus mereka tempuh menuju markas agar tak bertemu dengan orang banyak. Di markas mereka segera saja menelpon Polisi Singapura. Melaporkan tentang ditemukannya sarang penyelundupan wanita di Pulau Pesek.

Mereka memberikan detail dari penangkapan. Dimana polisi bisa menemui enam orang anggota sindikat itu yang terikat di kapal. Dan menyertakan beberapa dokumentasi. Ketika polisi menanyakan siapa yang melaporkan, Tongky yang menelpon meletakkan teleponnya. “Nah, Letnan. Kini anda pegang komando. Apa lagi yang akan kita lakukan?” Donald berkata pada si bungsu yang sejak tadi duduk menatap pada Kapten Fabian yang masih belum sadar.

“Sebaiknya kita tukar pakaian dulu. Kemudian mengantar Kapten Fabian ke rumah sakit..”
“Ya. Ya. Saya rasa itu jalan terbaik yang harus kita ambil saat ini…” Miguel berkata. Dan mereka semua lantas bertukar pakaian. Kembali memakai pakaian sipil seperti sebelum mereka berangkat sore kemarin.
Sebuah taksi yang lewat mereka stop.

Kemudian mereka menelpon Ambulan. Kapten Fabian dibawa dengan ambulans. Sementara mereka naik taksi. Yang berada di Ambulans adalah si Bungsu, Donald dan Tongky. Dalam Ambulan itulah Kapten Fabian mulai sadar. Dia melihat keliling. Terpandang pada Donald, Tongky dan si Bungsu.

“Bagaimana….?” Suaranya bertanya perlahan. Si Bungsu memegang tangan Kapten itu. “Mereka kita ringkus semua, Kapten….” Lalu dia menceritakan secara singkat pertempuran di pelabuhan pulau Pesek itu setelah si Kapten rubuh kena tembak. Dia menceritakan tentang Fred Williamson yang mati dan Jhonson yang kena tembak. Lalu menceritakan pula tentang pemberitahuan kepada polisi Singapura tentang sindikat tersebut.

Kapten Fabian menarik nafas. “Terimakasih Bungsu. anda telah menyelamatkan pasukan kami. Kalau anda tak mencegah kami menyebrang kemaren di rawa itu, maka korban pasti akan lebih banyak. Mungkin semua kita sudah mati. “Itu tugas saya Kapten. Bukankah saya adalah bagian dari pasukan anda?” Kapten Fabian menggenggam tangan si Bungsu.

“Betapapun jua, terimakasih, kawan. Anda sangat layak menjadi seorang anggota Baret Hijau. Kami bangga anda berada satu pasukan dengan kami..”
“Terimakasih. Saya benar-benar mendapat kehormatan memakai Baret Hijau itu…” Kapten Fabian memejamkan mata. Nyata dia masih lelah akibat terlalu banyak kehilangan darah. Kalau saja pertempuran itu berjalan lebih lama lagi, dan pertolongan terlambat sedikit saja diberikan padanya, maka nyawanya tak tertolong.

“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan…” bisik Kapten Fabian perlahan.
“Ini mengenai Letnan robert. Saya tak mungkin bisa menyertai jenazahnya ke Australia. Saya ingin engkau mengiringkan jenazah itu bersama donald kesana…’ Kapten Fabian berhenti, mengatur nafasnya yang sesak.
Si Bungsu kaget mendengar permintaan ini. Namun dia tetap berdiam diri. Donald dan Tongky juga diam mendengarkannya. Kapten itu membuka matanya kembali.

“Pergilah. Dia punya seorang ibu dan seorang tunangan. Sedianya dia akan menikah akhir bulan ini. Dia butuh sedikit uang untuk perongkosan pernikahannya. Uang itu telah kami dapatkan. Sayang dia keburu mati. Engkaulah menggantikan diri saya menyampaikan hal ini pada ibunya, pada tunagannya…” Kapten itu berhenti lagi bicara, Donald, Tongky dan si Bungsu bertukar pandang.

“Jangan menolak Bungsu. Tongky dan Donald akan mengatur perjalanan ini. Engkau dan Donald bawakan pula uang untuk pernikahan itu. Serahkan pada ibunya separoh, pada tunagannya separoh…’
“Tongky…’
“Saya Kapten…”
“Jika Bungsu sudah siap, urus perjalanannya dengan Donald dan pengiriman jenazah Robert, jika bisa besok atau lusa…’

“Saya akan menyiapkannya, Kapten…”
“Bungsu…”
“Saya, Kapten…”
“Saya tidak memaksamu untuk ikut terus bergabung dengan kami dalam pasukan veteran ini. Tapi untuk mengantarkan jenazah Robert, kumintakan benar bantuanmu…” Tak ada alasan bagi si Bungsu untuk menolaknya.

Dia ingat bahwa Robert mati karena menyelamatkan nyawanya. Kalau saja tidak didorong oleh Robert hingga dia jatuh di jalan di depan hotelnya dulu, maka dirinyalah yang kena sasaran peluru otomatik itu. Bukan Letnan Robert. Sudah sepantasnya dia mengiringkan jenazah Robert dan menyampaikan duka pada keluarganya.

“Saya mendapat kehormatan untuk mengiringkan jenazahnya ke Australia, Kapten…” dia berkata perlahan. Kapten itu menarik nafas lega. Benar-benar lega. “Letnan, setelah engkau kembali dari Australia, engkau bisa langsung ke Jakarta. Kemudian ke kampungmu. Atau kemana saja engkau suka. Jika engkau mau ke Singapura ini, bergabung dengan kami, maka kami benar-benar mendapat kehormatan atas hal itu.

Kami yakin, banyak tugas besar yang bisa kita selesaikan jika engkau berada dalam pasukan kami. Kita akan menghantam kaum penghianat, penculik, penipu dan bandit-bandit di seluruh dunia. Kami punya rencana ke Amerika setelah ini. Namun jika engkau tak lagi kembali pada kami, kami mengaturkan banyak terimakasih atas bantuanmu.

Jika engkau memerlukan bantuan kami, dimanapun engkau berada, dan bilapun saatnya, selagi kami masih hidup, meski agak seseorang, kami akan datang membantu. Kirim saja telegram. Meski diujung dunia sekalipun, kami akan datang membantu.

Alamat kami di eropah, di Amerika, di Afrika, di Singapura ini, dapat kau terima dari donald. Kami akan merasa bahagia kalau engkau mengirimkabar pada kami…” Si Bungsu menunduk. Diam. Perkenalannya dengan bekas pasukan Baret Hijau Inggris yang tersohor ini benar-benar luar biasa baginya. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here