TIKAM SAMURAI 125

SUMBARTIME.COM-Siang itu Overste Nurdin yang tengah duduk disertai isteri dan anaknya kedatangan seorang tamu. Staf Konsulat memberitahukan kedatangan tamu itu ke kamarnya di tingkat atas gedung konsulat. “Ada tamu untuk bapak dan ibu…” staf itu berkata.
“Tamu…?”
“Ya..”
“Silahkan masuk..”

Staf konsulat itu berjalan ke sebelah. Cukup lama Nurdin dan isterinya menanti. Kemudian pintu terbuka perlahan-lahan. Dan di pintu, dengan keheranan baik Nurdin maupun Salma menatap, seorang gadis cantik tegak disana. Mirip gadis Jepang. “Selamat siang, apakah saya berhadapan dengan tuan Overste Nurdin..?” gadis itu bicara dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Iklan

“Ya. Sayalah orangnya. Silahkan masuk. Ini isteri saya. Maaf, saya tak bisa bangkit…” Gadis itu melangkah masuk. Salma berdiri menyambutnya. Kedua perempuan cantik itu bersalaman dan saling pandang.
Gadis itu mengambil tempat duduk di depan Salma. “Nampaknya anda baru dari Indonesia. Apakah yang bisa saya perbuat?” Nurdin bertanya.
Gadis cantik itu sekali lagi melayangkan pandangannya pada Salma. Kemudian pada Overste Nurdin.

“Tidak. Saya tidak dari Indonesia. Saya dari Kyoto, Jepang” suara gadis itu bergetar perlahan. Ada rasa heran dan kaget menyelinap dihati Nurdin dan Salma. “O, alangkah jauhnya perjalanan nona, adakah yang bisa saya bantu?”

“Nama saya Michiko. Saya mencari seseorang yang barangkali tuan dan nyonya mengenalnya” Salma dan Nurdin bertukar pandang. Hati Salma berdetak. Jantungnya berdegup kencang. Si Bungsu, pikirnya. Pastilah gadis cantik ini mencari si Bungsu. hati perempuannya berbisik. Dia tatap gadis itu. O, alangkah cantiknya. “Saya mencari,…seorang lelaki bernama Bungsu. Apakah saya bisa menemuinya?”

Overste Nurdin tercengan benar. Dia menatap pada isterinya. Namun saat itu Salma masih menatap pada Michiko. Sadar bahwa nyonya Overste itu menatap terus padanya, Michiko menoleh pula. Kedua wanita itu kembali saling pandang. O, inikah perempuan yang memberikan cincin pada Bungsu-san itu? Alangkah cantiknya, pikir Michiko.

Namun hatinya sedikit lega. Sebab ternyata perempuan cantik itu telah menikah. Ya, pastilah nyonya ini yang bernama Salma, bisik hati Michiko pula. Akhirnya Nurdin bicara: “Ya. Kami mengenalnya. Anak muda itu adalah sahabat saya. Sahabat keluarga kami. Dahulu dia tinggal bersama kami ketika kami masih di Brash Basah. Tapi kini tidak lagi. Kalau kami boleh tahu, apakah anda temannya ketika dia ke Jepang dahulu?”

“Ya. Saya adalah bekas sahabatnya…” Nurdin mengerutkan kening.
“Maaf, saya kurang mengerti dengan ucapan nona. Kenapa harus memakai kalimat “bekas” sahabatnya?…apakah…”
“Ya…saya memang bekas sahabatnya dalam arti sesungguhnya. Saya malah banyak berhutang budi padanya. Dia telah menolong saya dari cemar dan aib yang tak terhingga….’

Nurdin menatap pada isterinya. Salma menatap pula padanya.
“Lalu, kalau kini nona tidak bersahabat lagi dengannya, ada keperluan apakah kiranya, hingga jauh-jauh mencarinya. Atau barangkali anda kebetulan singgah di kota ini?”
“Tidak. Saya memang datang dari Jepang khusus untuk mencarinya. Jika dia tak disini, saya akan mencarinya sampai bertemu….”

“Alangkah pentingnya urusan itu. Tapi, baiklah, itu urusan anda nona. Hanya sayang, anda datang terlambat…” Michiko menatap Overste itu. Terlambat, apa maksudnya, pikir gadis itu. “Maksud tuan?”
“Dia tak di kota ini lagi…”
“Tak di kota ini?”
“Tidak. Dia sudah berangkat seminggu yang lalu…”

Wajah Michiko tiba-tiba jadi sangat murung. Dia kelihatan sangat kecewa. Dan perobabahan air mukanya diperhatikan dengan seksama oleh Salma.
Hati wanitanya mulai menghitung dan mereka-reka. Hubungan apakah sebenarnya yang terjalin antara si Bungsu dengan gadis cantik ini, pikirnya. Apakah mereka telah bertunangan, atau baru berkasih-kasihan, lalu si Bungsu pergi, dan gadis ini mencarinya untuk menikah? Semuanya mungkin saja, pikir Salma.

“Saya mendengar tuan adalah sahabat si Bungsu. begitu pula dengan nyonya…”
“Hmm. Darimana anda tahu. Bukankah anda baru tiba di kota ini?” Nurdin bertanya heran. “Saya mendapat informasi dari staf konsulat…”
“Hmm begitu. Ya. Kami adalah sahabatnya. Tapi apa yang saya sampaikan pada nona adalah hal yang sebenarnya. Dia telah pergi seminggu yang lalu…’

“Dia kembali ke kampungnya? Ke Situjuh Ladang Laweh di kaki Gunung Sago itu?” Salma dan Nurdin bertukar pandang. Situjuh Ladang Laweh!
Gadis Jepang ini tahu dengan pasti tentang Situjuh Ladang Laweh. Alangkah banyaknya yang diketahuinya tentang si Bungsu. Nurdin kemudian menatap pada Michiko. Alangkah cantiknya gadis Jepang ini, pikirnya.

Dan sebagai seorang lelaki, dia juga punya dugaan, bahwa antara si Bungsu dengan gadis cantik ini pastilah ada hubungan selain sekedar teman biasa.
“Tidak nona. Dia tak kembali ke sana”
“Lalu, kemana dia? Apakah ke Jakarta?”
“Juga tidak..”
“Maksud tuan?”
“Dia ke Australia”
“Ke Australia?”
“Ya. Ke Australia”

“Alangkah jauhnya. Saya tak mengerti kenapa dia harus pergi sejauh itu…’
“Dia mengantarkan mayat seseorang”
“Mayat?”
“Ya. Mayat seorang sahabatnya..” Michiko masih tak mengerti. Dia menatap pada Salma. Salma masih tetap menatap pada Michiko. Dia tengah mematut-matut. Sejauh mana hubungan antara si Bungsu dengan gadis Jepang ini?

Pastilah ada sesuatu yang istimewa dalam hubungan itu. Jika tak ada yang istimewa, mustahil gadis ini akan mencarinya sejauh itu.
“Ada seorang anak muda Australia…” suara Overste Nurdin mengejutkan Michiko yang tengah bertatapan dengan Salma, “ dia berteman dengan si Bungsu. dan anak Australia itu mati tertembak. Dia minta agar jenazahnya diantarkan pada ibunya di Australia. Nah, itulah yang dilakukan oleh si Bungsu. mengantarkan jenazah temannya itu kesana…”

“Apakah dia lama disana?” Overste Nurdin menarik nafas.
“Kami tak tahu nona. Tak ada yang bisa menebak apakah dia akan berada lama disuatu tempat atau tidak. Barangkali nona tahu bahwa dia adalah seorang pengembara. Seorang lelaki sunyi dan hidup sebatang kara…”
“Ya. Saya tahu….” Suara Michiko terdengar perlahan.

“Dan dia pergi dari suatu kota ke kota lain untuk membunuh rasa sepinya…”
“Ya…..” suara Michiko makin perlahan. Setelah ucapan Michiko yang terakhir itu, suasana lalu jadi sepi. Michiko menunduk. Salma masih menatapnya. Begitu pula Overste Nurdin. Mereka sama-sama diam. Lalu :
“Apakah dia mengatakan kemana dia akan pergi setelah mengantarkan jenazah temannya itu?”

Michiko masih berusaha untuk mengetahui rencana perjalanan si Bungsu.
Kali ini tidak Nurdin yang bicara. Dia memberi isyarat pada isterinya untuk menjelaskan. “Ada. Dia memang mengatakan kemana dia akan pergi. Yaitu kalau dia bisa cepat meninggalkan Australia. Katanya dia ingin pulang ke kampungnya…’ “Ke kampungnya?” “Ya. Ke Situjuh Ladang Laweh. Ke kaki Gunung Sago di Payakumbuh seperti yang nona katakan tadi…”

berkata dan tersenyum lembut. Wajah Michiko jadi berseri. Dan itu semua tak luput dari amatan Salma. Tapi tiba-tiba wajah Michiko jadi murung lagi.
“Apakah…apakah disana ada….” Dia terhenti. Nurdin dan Salma saling pandang dan menanti apa yang ingin ditanyakan gadis itu. Tapi Michiko tak kunjung mengucapkan apa yang tersirat dihatinya. Salma segera saja bisa menebak.

“Nona maksudkan, apakah dikampungnya dia punya seorang kekasih atau tunangan…?’ Wajah Michiko terangkat cepat. Separoh kaget. Namun begitu matanya bertemu dengan tatapan Salma, cepat-cepat dia menundukkan kepala. Wajahnya segera menjadi murung. “Ya. Bukankah dia mempunyai seorang kekasih disana?” gadis itu akhirnya berkata setelah lama berdiam diri. “Tidak. Dia tak punyai siapa-siapa dikampungnya itu….” Salma menjelaskan.

“Ah, kalau begitu nyonya belum mengenal si Bungsu seperti saya mengenalnya….” Suara Michiko terdengar perlahan. Muka Salma jadi berona merah. Entah kenapa, hatinya jadi tak sedap dikatakan gadis Jepang ini “belum mengenal si Bungsu sebagaimana Michiko mengenalnya..!.” ini keterlaluan. Sampai dimana benar gadis Jepang ini mengenalnya, pikir Salma. Namun dia ingin tahu juga, makanya dia memancing.

“Barangkali kami memang tak begitu mengenalnya. Apakah nona mengetahui ada seorang gadis yang menantinya di kampung?” Michiko mengangguk. Salma dan Nurdin berpandangan. “Ini baru berita. Ini berita baru…” Nurdin berkata dengan jujur dan takjub. Sebab dia memang tak pernah mengetahui akan hal itu. Michiko memandang padanya separoh heran.

“Benar, ini berita baru bagi kami nona. Siapa gadis yang menantinya itu?” Nurdin bertanya antusias. Sebab dia tahu dengan pasti, atau katakanlah, bahwa dia hanya tahu si Bungsu hanya mencintai Salma, yang secara tak diduga menjadi isterinya. Bila kini ada orang lain yang mengatakan bahwa ada kekasih si Bungsu dikampungnya, bukankah itu berita menarik baginya?

Sedang bagi Salma sendiri berita itu tak kurang mengejutkannya.
Sebab dia sendiri selama ini tahu dan menduga bahwa anak muda yang pernah dia cintai itu, hanya punya seorang kekasih. Dan gadis itu, yang jadi kekasih si Bungsu itu, juga membalas cinta si Bungsu dengan sepenuh hati. Gadis itu adalah dirinya sendiri. Tapi itu dulu. Lalu kini ada saja gadis lain, yang dia duga punya hubungan dengan si Bungsu, yang mengatakan bahwa ada lagi gadis lain dihati si Bungsu. nah, diam-diam perasaan cemburunya muncul.

Perasaan bahwa selama ini dia dibohongi si Bungsu. “Ya…” kata Michiko menyambung penjelasannya..” saya tahu hal itu dengan pasti. Karenanya dia menceritakannya pada saya…”
“Apakah dia sebutkan nama gadis itu pada nona?” Overste Nurdin bertanya ingin tahu. “Ya. Dia sebutkan….namanya, kalau saya tak salah adalah Salma….” Jantung Salma seperti akan meledak. Dia menunduk. Malu, bangga dan khawatir berbaur menjadi satu.

Dia kawatir akan perasaan suaminya yang akan jadi tersinggung. Namun Overste itu tersenyum. Bahkan dari mulutnya kemudian terdengar tertawa renyai. “Kenapa tuan jadi tertawa?” Michiko heran. Salma makin menunduk. “Apakah benar itu gadis yang jadi kekasih si Bungsu, yang menantinya dikampungnya?”
“Ya. Itulah nama yang dia sebutkan…”
“Nona, kalau begitu nona tak usah khawatir. Kekasihnya itu sudah menikah…” kata Nurdin sambil tersenyum.

Michiko heran dan menatapnya dengan perasaan ingin tahu. “Ya. Gadis yang nona sebutkan itu telah menikah. Apakah tadi nona tak mendengarkan ketika saya memperkenalkan nama isteri saya ini…?”
Michiko menatap makin heran.
“Saya mendengarnya. Nama nyonya ini…Salma..”
“Ya. Namanya Salma…”
“Apa hubungannya dengan Salma yang saya sebutkan tadi?” Michiko balas bertanya heran.

Nurdin dan Salma saling pandang. Tapi Nurdin masih coba tersenyum.
“Nona, jangan khawatir. Tak ada seorang gadispun yang menanti si Bungsu dikampungnya. Salma yang dia sebut pada anda itu adalah isteri saya ini…”
Michiko terngangak. Menatap pada Nurdin dan Salma bergantian. Bermain-mainkah orang ini, pikirnya. Namun kedua orang itu memang tak sedikitpun bermain-main. Mereka memang bersungguh-sungguh. Dan Michiko dapat membaca kesungguhan mereka itu.

Dan kalau tadi Michiko menatap Salma, dia hanya merasa betapa cantiknya isteri Overtse itu. Dan dia membandingkan, adakah Salma kekasih si Bungsu itu secantik Salma ini pula? Samasekali tak terlintas dalam kepalanya bahwa inilah Salma yang kekasih si Bungsu itu. Dia tak menduga karena masih berfikir pola Jepang. Di Jepang memang tak sedikit orang yang senama.

Yang senama dengannya, yaitu nama Michiko, di Universitas Tokyo dimana dia kuliah dulu, ada sekitar seratus orang. Tapi nama depan tak jadi soal disana. Seorang lebih dikenal dengan nama keluarganya. Seperti dirinya adalah anak Saburo Matsuyama. Maka dia lebih dikenal dengan sebutan nona Matsuyama. Persamaan nama dinegerinya tak ada persoalan. Dan bukan hal yang aneh.

Nah, tadipun ketika Nurdin mengenalkan Salma padanya, dia hanya menyangka bahwa Salma yang senama dengan Salma yang kekasih si Bungsu. siapa nyana, bahwa Salma yang kekasih si Bungsu dengan Salma yang ini orangnya adalah satu. “Oh, maaf. Saya tak tahu. Maaf…” katanya gugup. “Tak ada yang harus dimaafkan nona. Saya sendiri ketika menikah dahulu, tak tahu samasekali bahwa calon isteri saya ini adalah kekasih teman saya.

Dan isteri saya juga tak pernah menduga bahwa calon suaminya adalah sahabat kekasihnya. Semua baru jadi jelas tatkala si Bungsu muncul di kota ini lima bulan yang lalu. Dan tak seorang pun diantara kami yang harus dipersalahkan. Nasib yang diatur oleh Yang Maha Kuasa telah menyebabkan hal ini. Begitu bukan?”

Michiko mengangguk perlahan. Dan Salma dapat membaca pada air muka gadis itu bahwa gadis Jepang ini jadi lega hatinya. Ketika tak ada lagi yang akan dibicarakan, dan Michiko sudah merasa cukup mendapat informasi, dia lalu pamitan.

Dia diantar ke ruang bawah oleh Salma.Dan di ruang bawah, kesempatan bagi Salma untuk bicara dengan Michiko. Mereka berhenti, dan saling pandang. Seperti ada persepakatan antara kedua perempuan cantik itu untuk saling bertanya. Salma lah yang terlebih dahulu membuka suara:
“Apakah si Bungsu bercerita tentang hubungan kami…?”Michiko menatap Salma. Kemudian mengangguk.

“Dia memang tak bercerita banyak tentang nyonya…’
“Panggil saja nama saya, Salma. Tak usah pakai sebutan nyonya…”
“Ya, dia hanya bercerita tentang seorang gadis yang dia cintai. Tapi dia mengatakan bahwa gadis itu, maksud saya anda, mencintai dirinya. Saya melihat cincin dijarinya. Dan ketika saya tanyakan dia akui cincin itu pemberian anda…”

Salma menarik nafas. Ada kebahagian menyelundup dihatinya. Si Bungsu bercerita pada gadis secantik ini, bahwa dia mencintai dirinya. Oh….alangkah!

“Apakah anda mencintainya?” tiba-tiba Michiko dikagetkan oleh pertanyaan Salma. Dia tatap nyonya atase militer itu. Dia ingin menyelidik, apakah dalam pertanyaan itu ada nada cemburu. Namun mata perempuan itu alangkah beningnya. Dan yang terlihat didalam pancaran matanya hanyalah keikhlasan.

“Saya tak tahu….”
“Tak tahu? Alangkah ganjilnya. Engkau telah menurutnya sekian jauh. Mencarinya kemana-mana, tanpa engkau ketahui apakah engkau mencintainya atau tidak. Jika bukan karena cinta untuk apa engkau mencarinya sejauh ini, Michiko?”
“Dia berhutang padaku….” Suara Michiko perlahan. Kepalanya menunduk. Salma mengerutkan kening.

“Hutang?” “Ya. Dia berhutang padaku…!” “Alangkah ganjilnya terasa. Engkau mencarinya hanya untuk meminta piutang saja. Berapa kah piutang yang dia buat sehingga engkau menghabiskan waktu dan biaya sebesar ini..”
“Terlalu besar untuk disebutkan…”
“Maaf. Saya masih tak bisa mengerti, hutang yang telah dia perbuat padamu…”

“Hutang nyawa…” suara Michiko masih perlahan dan kepalanya masih menunduk. Salma yang jadi kaget. Terkejut bukan main. Demikian kagetnya dia, hingga buat sesaat dia tak bisa buka suara. “Ya, untuk itulah dia saya cari, Salma. Dia telah membunuh ayah saya. Meski secara tak langsung. Tapi dialah penyebabnya. Dan saya akan menuntut kematian itu padanya…”

Buat sesaat Salma masih belum bisa bicara. Lama kemudian, ketika Michiko masih menunduk, Salma kembali bertanya. “Hutang nyawa secara tak langsung. Apa yang anda maksud Michiko?” Michiko menatap pada Salma. Sudut matanya basah. “Apakah dahulu Bungsu-san tak pernah bercerita pada anda untuk apa dia datang ke Jepang?”

Salma mengalihkan pandangan ke luar. Ke pohon-pohon Akasia yang berjajar disepanjang tepi jalan. Dan ingatannya surut kembali kemasa lalunya. Kewaktu dia masih merawat si Bungsu di Panorama Bukittinggi. Dan suatu hari, ketika lukanya telah sembuh, si Bungsu pernah mengatakan padanya, bahwa dia akan ke Jepang.

“Saya akan mencari opsir yang telah membunuh ayah dan ibu saya. Yang telah menodai dan sekaligus juga membunuh kakak saya. Perjalanan saya mungkin akan jauh dan lama sekali, Salma..” Bayangan itu melintas. Kemudian dia menatap pada Michiko.

“Ya. Saya ingat, Michiko. Dia kenegrimu untuk mencari seorang opsir yang membunuh keluarganya…” Michiko menarik nafas panjang. Kemudian menunduk lagi. Lalu suaranya terdengar perlahan. “Ya, itulah persoalannya Salma. Ah, saya sudah terlalu lama mengganggu anda. Saya harus pergi…’ Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here