TIKAM SAMURAI 123

SUMBARTIME.COM-Sementara itu pasukan Kapten Fabian telah sampai ke markas sindikat itu. Mereka menyebar di keliling rumah tersebut. Tongky merayap mendekat. Melihat ke dalam. Lalu merayap lagi ke dekat Kapten Fabian. “Hanya ada seorang di dalam sana….”

“Kemana yang lain?”
“Saya rasa sudah dipelabuhan sana…’
Dari kejauhan terdengar suara ombak.
“Oke. Suruh Fred menyudahi orang itu. Kita menyergap mereka di pelabuhan…’

Iklan

Perintah Kapten itu disampaikan secara berbisik pada Fred. Orang Inggris yang satu ini adalah ahli karate. Dia segera menyelusup mendekati markas itu begitu teman-temannya yang lain bergerak menuju pelabuhan.
Dia menyandarkan senjatanya di pintu luar. Kemudian mendorong pintu sampai terbuka perlahan. Orang yang di dalam itu adalah seorang kulit putih. Mungkin orang Itali. Bertubuh besar bertelanjang dada.

Senjatanya sepucuk Mauser. Terletak di atas meja. Disudut ruangan ada satu set peralatan radio. Nampaknya orang ini adalah seorang Telegrafis
“Hallo frend…’ Fred menegur perlahan. Orang itu menoleh pula perlahan. Tapi gerakkan perlahannya segera berobah begitu menyadari bahaya. Dia tegak dan berusaha melangkah ke meja dimana bedilnya dia letakkan. Jarak antara dia duduk dengan meja dia meletakkan bedilnya sekitar dua meter.

Namun langkahnya terpotong oleh gerakkan Fred yang selincah musang. Sebuah pukulan menghantam rusuk orang itu. Ada pepatah berbunyi: sepandai-panda tupat melompat, sekali waktu jatuh juga!Dan itulah yang dialami Fred malam ini. Dia memang jago karate andalan dalam pasukannya. Tapi sebenarnya dia harus memperhitungkan waktu dan kecepatan. Dia tak boleh mengulur waktu. Dan saat ini, kecepatan bicara banyak.

Rusuk orang itu memang kena dia hantam. Tapi orang itu punya antisipasi yang tangguh pula. Begitu jalannya dihadang, tangannya bergerak. Dan tangan kanannya menghantam hidung Fred. Rusuk orang itu memang kena gebrak kuat. Tapi tak cukup sampai mematahkan tulangnya seperti yang biasa diperbuat Fred terhadap lawan-lawannya.

Orang Itali itu hanya tersurut dengan wajah meringis. Tapi sebaliknya, Fred juga seperti ditendang mundur. Hidungnya pecah dan berdarah! Orang itu ternyata juga seorang karateka! Kini mereka tegak saling berhadapan.
Menyadari bahaya, tangan Fred bergerak ke arah pisau komandonya. Namun wajah orang itu tersenyum sinis. “Hallo boy. Beraninya hanya pakai pisau? Kenapa tak sekalian kau pakai senjataku di meja itu?”

Muka Fred jadi merah. Dia merasa dihina dengan ucapan itu. Orang itu menganggapnya takut berkelahi dengan tangan kosong. Dia tak jadi mencabut pisau komandonya. Dia menggeser tegak. Kini mereka berhadapan. Dari sikap tegak dan cara lelaki itu menempatkannya tangannya, Fred segera tahu, bahwa orang ini adalah karateka seperti dirinya.

Dan Fred lagi-lagi membuat kesalahan. Yaitu dengan membiarkan dirinya terpancing oleh ejekan lawan. Dia sedang berada dalam suatu pasukan. Berarti bukan hanya dirinya yang harus dia selamatkan. Tapi seperti tupai yang pandai melompat tadi, dia juga bisa “gawa”. Kini mereka mengintai langkah lawan. Fred mendahului menyerang dengan sebuah tendangan ke selangkangan orang itu.

Orang itu bergerak cepat ke samping dan mengirimkan sebuah pukulan cepat ke wajah Fred. Fred menarik tendangannya, kemudian berputar. Kali ini kakinya menyerang dalam bentuk berputar ke belakang. Ternyata dia berhasil. Sepatunya menggebrak wajah Itali itu. Orang itu terpelanting ke dinding. Fred memburu. Namun seperti seekor musang. Orang yang terjajar itu tiba-tiba melompat tinggi. Dan sebelum Fred siap benar, sepatunya telah mendarat di dada Fred.

Sebuah tendangan Mae Tobigeri yang sempurna! Akibatnya juga sempurna. Jantung Fred pecah. Dan jatuhlah korban pertama dalam pasukan Baret Hijau malam itu. Fred mati! Sungguh menyedihkan. Fred yang ahli karate itu, justru mati ditangan karateka lainnya. Kalau saja tadi dia tidak terlalu mengandalkan karatenya, yaitu begitu pertama hidungnya pecah, dia segera mempergunakan pisau komando, maka keadaan akan lain jadinya.
Orang Itali ini sudah bisa dia lumpuhkan.

Namun dia terlalu percaya pada diri dan kemampuannya. Dan dia cepat panas kena sindir. Dia membiarkan dirinya terperangkap oleh ejekan orang ini. Tak tahunya orang ini juga seorang karateka yang justru lebih tangguh darinya. Orang Itali itu menatap pada tubuh Fred yang terlentang di lantai. Mulutnya ternganga. Wajahnya membayangkan rasa sakit bercampur heran. Dari mulutnya darah mengalir. Tendangan sambil melompat dia lakukan ketika terdesak tadi sebenarnya tak begitu telak mengenai lelaki ini.

Artinya, lelaki itu tak usah sampai terjajar lima depa ke belakang. Tersandar ke dinding. Itu sebenarnya hanya gerak tipu saja. Yaitu gerak mencari ruang dan waktu untuk mempersiapkan sebuah lompatan. Dan Fred yang ingin segera menyudahi pertarungan itu, ternyata memakan umpan yang diulurkan lawan. Dia maju. Dan saat itulah Itali ini bertumpu dan melompat. Kaki kanannya terjulur lurus ke depan. Kaki kirinya terlipat di bawah paha kanan.

Dan tubuhnya seperti duduk melunjurkan kaki kanan ke samping kanan di udara. Dalam posisi begitulah dia mendarat di dada Fred! Lelaki anggota sindikat ini segera sadar bahwa bahaya besar tengah mengancam dirinya dan teman-temannya. Seluruh pulau dijaga dengan ketat. Perangkap telah dipasang lewat rawa yang diduga pasti akan dilalui oleh musuh mereka. Kini ternyata orang ini bisa menerobos kemari tanpa diketahui oleh penyergap yang mereka pasang.

Apakah yang telah terjadi dengan sembilan orang teman-temannya yang menanti dipinggir rawa? cepat dia menyambar Mausernya yang terletak di meja. Dia menanggalkan granat mauser itu dari ujung Junglenya. Lalu perlahan keluar dari pintu belakang. Gelap! Dia bersuit. Suit isyaratnya membelah malam yang dingin. Suitnya terdengar oleh ke lima teman-temannya yang tertelungkup di bawah todongan bedil Donald dan Miguel. Kedua anggota Baret Hijau itu juga mendengar suit itu.

Dan kedua mereka tahu bahwa suara suitan itu bukan kode dari teman mereka. Kelima anggota sindikat itu sebenarnya ingin membalas isarat itu. Tapi bagaimana mereka bisa, kalau ujung bedil otomatik tetap diarahkan ketengku mereka? Makanya mereka memilih berdiam diri saja. Dan orang Itali itu segera menangkap bahaya atas tak terjawabnya isarat yang dia berikan. Dia lalu menuju ke pelabuhan!

Di pelabuhan orang-orang tengah menurunkan sembilan orang perempuan. Perempuan terakhir, yaitu seorang perempuan dari Muangthai kelihatan dipapah turun. Kemudian dibawa ke rumah kecil dipinggir dermaga. “Kalian telah kami kepung. Menyerahlah!!” Tiba-tiba saja sebuah suara mengoyak kesepian. Dan suara itu datang dari pangkal dermaga! Mereka menoleh, dan disana, tegak seorang lelaki barat dalam pakaian loreng-loreng.

Cahaya lampu di dermaga memantulkan kilat senjata otomatik ditangannya. Orang itu kelihatan sendiri. Tapi enam orang lelaki di dermaga itu mengetahui bahwa lelaki itu pasti tak sendiri. Dan dengan kehadiran lelaki berbaju loreng itu, mereka segera pula menyadari bahwa sembilan orang teman mereka yang memasang perangkap di tepi rawa sana telah dilumpuhkan.

“Jatuhkan senjata kalian. Semua!!” terdengar lagi perintah Kapten Fabian. Ke enam lelaki itu menjatuhkan bedil mereka. Perempuan-perempuan yang masih di dermaga itu jadi panik. Dan kesempatan itu dipergunakan oleh dua orang anggota sindikat tersebut yang masih ada di kapal.
Mereka mengangkat bedil. Kemudian menembak ke arah Kapten Fabian yang tegak di kepala dermaga itu! Tapi dari pinggir kanan.

Tongky dan dua orang temannya yang sejak tadi sudah merayap kesana, dan sejak tadi telah memperhatikan kapal itu, segera meledakkan senjata!
Serentetan tembakan terdengar dimalam yang hampir disambut subuh itu.
Kedua orang itu menggeliat. Lebih dari selusin peluru menerkam tubuh mereka. Wajah mereka cabik-cabik. Pekik perempuan terdengar. Dan pada saat yang sama, Kapten Fabian, terpekik dan terpental jatuh ke dermaga. Punggungnya dilanda peluru dari belakang!

Anggota pasukan Komando itu jadi kaget. Siapa yang di belakang? Dan saat itu perang terbuka tak terhindarkan. Keenam anggota sindikat yang tadi menjatuhkan senjata ke lantai dermaga, begitu perempuan-perempuan memekik, begitu Kapten Fabian yang menodong mereka jatuh dihantam peluru, mereka serentak menjatuhkan diri ke dekat senjata yang tadi mereka jatuhkan!

Dan begitu senjata-senjata berada di tangan mereka, para anggota sindikat penyeludup wanita ini mulai menembak membabi buta. Ya, mereka hanya bisa menembak membabi buta. Sebab selain Kapten Fabian yang tadi menodong mereka di tempat terbuka, maka lawan yang lain tak seorangpun yang kelihatan. Jhonson, orang Inggris selatan yang ahli renang dan berkelahi dalam air, yang tegak tak jauh dari Kapten Fabian, begitu melihat komandannya kena tembak, segera jadi kalap.

Dia memuntahkan pelurunya ke arah belakang. Yaitu ke arah darimana peluru tadi menyambar punggung Kapten Fabian. Sehabis menembak ke belakang, dia menembaki anggota sindikat yang tiarap di lantai dermaga. Lalu dia berlari ke arah Kapten Fabian. Tapi gerakannya yang terakhir ini membawa malapetaka. Yang menembak Kapten Fabian adalah orang Itali yang telah membunuh Fred Willianson dengan tendangan karate di markas mereka tadi.

Setelah dia menembak dia bersembunyi di balik bangunan tua tak jauh dari pangkal dermaga. Saat Jhonson menembak dia tetap bersembunyi. Tapi begitu Jhonson berlari ke arah Kapten Fabian orang Itali ini maju ke depan selangkah. Senapan otomatnya menyalak. Jhonson tersentak-sentak ditembus peluru. Dan tubuhnya jatuh mencebur laut di bawah dermaga! Melihat hal ini, tiga orang sisa pasukan komando di sekitar dermaga segera menyikat sindikat yang ada dan tiarap di dermaga.

Kontan saja mereka jadi bulan-bulanan. Sebab tak ada perlindungan. Anggota sindikat itu membalas membabi buta. Tiga orang mati segera dimakan peluru anak buah Katen Fabian. Namun tembakan yang dilepaskan anggota sindikat itu merenggut pula dua gadis yang ada di dermaga itu. Yang dalam paniknya berlarian tak tentu arah!

Sementara itu, orang Itali yang telah membunuh Fred Willianson dan menembak Kapten Fabian, mengintai sisa pasukan komando itu, dia mengintai dari mana arah tembakan. Kemudian membidikan senjata otomatiknya kesana. Pada saat Jhonson, anggota Baret Hijau dari Inggris yang mati tertembak dan jatuh ke bawah dermaga, si bungsu segera menyadari bahaya yang datang dari belakang mereka.

Firasatnya mengatakan, bahwa Fred yang ditinggal dan disuruh menyelesaikan lawannya di markas itu telah celaka. Dan kini lawannya itulah yang menembak Kapten Fabian dan Jhonson. Sadar akan bahaya ini, anak muda dari gunung Sago itu segera meninggalkan posisinya. Seperti siluman dia menyelinap menuju tempat tembakan yang berasal dari bedil orang Itali itu.

Dan saat itu, orang Itali itu tengah membidik ke arah salah seorang anggota Baret Hijau. Namun orang Itali ini nampaknya punya firasat yang tajam juga. Dia seperti merasa ada orang dekatnya. Dia menoleh ke kiri. Kosong. Ke kanan. Kosong. Namun hatinya tetap tak sedap. Dia melihat ke belakang. Dan darahnya seperti berhenti mengalir. Jantungnya seperti berhenti berdetak.

Di belakangnya, entah kapan datangnya, entah darimana asal muasalnya, telah berdiri saja seorang anggota Baret Hijau. Dan orang yang membuat dia kaget itu tak lain dan tak bukan daripada si Bungsu. Namun Itali ini segera jadi lega. Sebab ditangan orang itu tak tergenggam sepucuk senjata apapun. Ditangannya hanya ada sebuah tongkat kecil. Dia segera berbalik sambil menembakkan bedilnya setinggi pinggang ke arah si Bungsu.

Tapi bedilnya tak pernah menyalak. Tangannya yang memegang bedil itu terasa lumpuh. Sakit dan pedih bukan main. Dan ketika menoleh, dilihatnya tangan kanannya telah putus! Dia hampir tak percaya. Namun si Bungsu juga tak memberi kesempatan pada orang Itali yang telah membunuh Fred Willianson itu untuk percaya. Samurai ditangannya segera melibas lagi. Dan mata samurai itu menyelusup antara dagu dan pangkal leher si Itali.

Darah segera menyembur dari luka yang menganga membelah jakun orang itu. Tubuhnya mengelupur-gelupur, mati seperti babi disembelih. Dan ketika si Bungsu menoleh ke dermaga, pertempuran telah selesai. Semua anggota sindikat yang ada di dermaga itu, kecuali satu orang mati semua.

Ya, kecuali satu orang. Yang satu orang ini adalah orang Cina. Dan dia belum mati. Dia belum mati karena berlindung dibalik tubuh seorang gadis Indonesia. Ditangannya cina itu memegang sebuah pistol. Pistol itu lopnya ditekankan rapat-rapat ke pelipis gadis Indonesia itu. Sementara tangan kirinya memiting leher gadis itu dari belakang dengan kuat. “Jangan menembak! Kalau kalian menembak, gadis ini kubunuh. Gadis ini kupecahkan kepalanya…!” Cina itu menggertak.

Ketiga pasukan Baret Hijau disekitar dermaga itu tertegun. Si Bungsu juga tertegun. Subuh tiba-tiba datang menguak malam yang gulita. Cahaya subuh yang kemerah-merahan. Dermaga itu sendiri telah berkuah darah.
Dengan si Bungsu, maka pasukan Baret Hijau di sekitar dermaga itu hanya tinggal empat orang. Jumlah mereka semua sembilan orang, dua orang yaitu Donald dan Miguel menjaga tawanan dekat rawa. Fred Williamson gugur. Jhonson dan Kapten Fabian juga tertembak.

Cina berperut gendut bertubuh gemuk itu mulai menyeret gadis yang dia jadikan tameng itu ke ujung dermaga. Ke arah kapal! Dia bergerak mundur dengan gadis itu di depannya. Keempat anggota Baret Hijau itu tertegun di tempat mereka masing-masing. Di dermaga, ada sekitar tiga orang gadis yang barangkali mati terkena peluru nyasar. Apakah akan ditambah lagi dengan kematian gadis yang dijadikan tameng itu?

Ditempatnya tegak, si Bungsu menoleh ke tempat Sony. Anggota Baret Hijau dari yang berasal dari Inggris dan ahli menembak dan ahli bahan-bahan peledak itu juga tengah memandang pada si Bungsu. Setelah kematian Kapten Fabian, maka komando kini dipegang oleh “Letnan” itu. Dia memang ahli menembak tepat. Tapi menembak Cina itu dari jarak sejauh ini, dengan mulut pistol yang ditekankan rapat ke pelipis gadis itu, Sony jadi khawatir juga.

Makanya dia menoleh ke arah si Bungsu meminta pendapat.Si Bungsu mengangguk. Dan isyarat itu sudah cukup bagi Sony. Isyarat itu adalah perintah untuk menembak. Sudah tentu dia berusaha melumpuhkan Cina itu tanpa membuat gadis yang disanderanya jadi cidera. Tapi kalaupun akhirnya gadis itu cidera, maka dia takkan dipersalahkan. Sebab perintah langsung dari pimpinan pasukan.

Anak Inggris yang masih muda itu perlahan mengangkat bedilnya. Sepucuk Jenggel semi otomatik. Dia membidik. Dari tempatnya tegak, Cina yang tengah mundur itu kelihatan tubuhnya sedikit dibalik tubuh gadis yang dia jadikan sandera itu. Cina itu nampaknya salah seorang dari pimpinan sindikat penyelundupan ini. Dan ia cukup cerdik. Dia tetap melindungkan dirinya rapat-rapat ke tubuh gadis itu.

Demikian pula kepalanya dia letakkan rapat-rapat di belakang kepala si gadis. Dengan demikian dia memunahkan kemungkinan untuk kena tembak. Sony juga menyadari betapa sulitnya membidik sasaran bergerak dan dalam posisi terlindung begitu. Namun dia sudah dikenal sebagai penembak jitu yang jarang tandingannya dalam pasukannya dan salah satu modal untuk bisa menembak jitu adalah ketenangan dan kesabaran yang luar biasa.

Tangan kirinya yang menopang laras Jengger itu seperti dipakukan. Tak bergerak sedikitpun. Telunjuk kanannya rapat menempel di pelatuk bedil itu. Popor bedil itu menekan bahunya dan menempel rapat dipipi kanannya. Mata kirinya terpicing. Dan dia bernafas lewat mulut dalam jarak waktu yang teratur. Sistim pernafasan begitu membuat dadanya tak begitu berombak ketika bernafas.

Dan dengan demikian, tubuhnya juga tak banyak bergoyang jika dibandingkan dengan kalau dia bernafas lewat hidung seperti biasa.
Cina gemuk itu akhirnya sampai ke tepi dermaga. Nah, dia nampaknya menemui kesulitan. Untuk masuk ke kapal, dia harus menuruni sebuah anak tangga. Bersambung>>>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here