SUMBARTIME.COM-Hanya dalam beberapa hari, retakan tanah selebar 1 meter dan sepanjang 300 lebih di Kawasan Koto Alam, Kabupaten Limapuluh Kota, kini di beberapa bagian berubah menjadi lubang menganga yang mengerikan dengan kedalaman lebih dari satu meter.
Pada beberapa hari yang lalu, beberapa unit rumah hanya mengalami keretakan di bagian pondasi serta dindingnya namun pada Minggu (15/12) siang, beberapa rumah telah runtuh amblas masuk ke dalam tanah.
Kondisi fenomena tanah bergerak dan amblas tersebut sangat mengkuatirkan bagi warga setempat. Saat ini warga pemilik rumah yang mengalami keretakan dan amblas sudah mengungsikan keluarganya ke tempat yang lebih aman.
Warga ketakutan, fenomena tanah bergerak dan amblas tersebut saat ini menghantui mereka terutama warga yang tinggal di Jorong Polong Dua, Jorong, Batu Hampar, serta Jorong Simpang Tiga. Sekurangnya 300 KK saat ini kehidupan mereka dihantui kecemasan yang luar biasa akibat fenoma yang berpotensi bencana tersebut.
Tentu terjadinya fenomena tanah yang bergerak serta amblas tersebut bukannya tak ada penyebab. Mayoritas masyarakat setempat dengan lantang mengatakan jika penyebab utama terjadinya fenomena alam itu diduga keras akibat eksploitasi pertambangan batu andesit dengan menggunakan bahan peledak dinamit.
Seperti yang ditegaskan kembali oleh salah seorang warga tempatan Ilham, kepada awak media, Senin (16/12) siang. Menurutnya bohong besar jika ada yang mengatakan fenomena tanah bergerak serta amblas itu dipicu oleh tingginya intensitas curah hujan dalam beberapa hari terakhir ini ujarnya.
“Hujan hanyalah penunjang tanah amblas, penyebab utamnya diduga keras adalah ledakan dinamait pihak perusahaan tambang yang melakukan ekspolitasi kekayaan tanah Koto Alam,” tukuknya keras mengatakan.
Sebelumnya, pihak perangkat Nagari mengatakan seperti yang diinformasikan media, jika penyebab keretakan tanah serta amblas itu adalah karna tingginya intensitas curah hujan yang melanda kawasan setempat. Hal itu diperkuat dengan kondisi areal memiliki kemiringan hingga 45 derjad, ujar Walinagari setempat.
Pernyataan Walinagari tersebut langsung dibantah sendiri oleh Ilham serta puluhan warga lainnya dengan mengatakan kalau wartawan mencari informasi baiknya langsung saja menuju puluhan rumah rumah warga yang terdampak dan tidak perlu datang ke kantor Walinagari, ujar mereka bersamaan.
Sementara itu, peristiwa tanah bergerak serta amblas yang diduga akibat eksploitasi pertambangan batu dengan menggunakan bahan peledak telah menimbulkan masalah baru di Limapuluh Kota. Seperti yang diungkapkan oleh tokoh KNPI Limapuluh Kota, Bambang Nasrul. Menurutnya, sengkarut tanah bergerak dan amblas itu patut diduga akibat eksploitasi perusahaan tambang yang gila gilaan di wilayah Koto Alam.
Dia mengatakan berdasarkan informasi warga setempat kepada dirinya ada oknum yang bermain di lokasi setempat bekerja sama dengan pihak pertambangan untuk meredam penolakan warga. Oknum tersebut ditenggarai merupakan tokoh masyarakat setempat, ujarnya saat diskusi di salah satu grub WA sosmed.
Bahkan dengan tegas tokoh muda Limapuluh Kota itu mengatakan diduga ada beking kuat yang melindungi eksploitasi pihak perusahaan untuk menguras kekayaan alam setempat sehingga pihak Pemkab tak mampu menjamah, ujarnya tegas.
Namun, menurut salah seorang pimpinan DPRD Kabupaten Limapuluh Kota, Syamsul Mikar, meski dia mengakui jika ada indikasi penyebab utama rusaknya ekosistem di kawasan Koto Alam diduga akibat eksploitasi pertambangan batu andesit, namun dia mengakui sampai saat ini belum ada masyarakat yang datang secara resmi ke lembaganya.
Bahkan lebih jauh Syamsul Mikar menjelaskan pernah ada kejadian serupa di kawasan yang sama, dan saat pihak Pemerintahan setempat mengumpulkan seluruh masyarakat tidak ada satupun warga yang menyebutkan jika penyebabnya adalah akibat ekspolitasi pertambangan, tukuknya mengatakan.
Terpisah, Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan ketika dikonfirmasi terkait persoalan sengkarut tersebut, secara implisit mengakui patut diduga keras penyebab retak serta amblasnya tanah serta perumahan warga diduga keras akibat eksploitasi pertambangan dengan menggunakan bahan peledak dinamait, ujarnya, Senin (16/12) sore.
Namun hal ini perlu kajian khusus oleh tim ahli untuk memastikan penyebabnya, ujar Ferizal lagi. Walaupun demikian dirinya tetap dengan tegas meminta pihak Propinsi melalui dinas terkait untuk bisa mengevaluasi izin belasan perusahaan pertambangan yang beroperasi di Koto Alam.
” Jika nanti terbukti penyebab utama dari kerusakan akibat aktifitas pertambangan, maka kami atas nama pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota, meminta Propinsi untuk mencabut Izin Usaha Pertambangan,” tegasnya.
Dirinya geram serta emosi melihat nasib rakyat yang kini sedang dipermainkan oleh oknum oknum yang tak bertanggung jawab dan hanya mementingkan kantong pundinya sendiri.
Sebab menurut Ferizal Ridwan lagi apaguna investasi dari luar kalau hanya membuat ekosistem alam Limapuluh Kota rusak parah dan berpotensi “membunuh rakyatnya” sendiri, tutupnya melalui jaringan telepon. (aa)





















