BUKITTINGGI – Ladang Rupa Balairung Sari, Pulai Anak Air, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan (MKS) Kota Bukittinggi, menjadi saksi hidupnya kembali semangat Chairil Anwar dalam peringatan Hari Puisi Indonesia (HPI), Sabtu (26/7/2025).
Momentum ini dirayakan oleh para penyair, penulis, dan penggiat literasi dari berbagai daerah di Sumatera Barat dalam suasana yang sarat makna.
Hari Puisi Indonesia yang diperingati setiap tanggal 26 Juli didasarkan pada hari lahir sang maestro puisi Indonesia, Chairil Anwar.
Tokoh yang dikenal dengan julukan Si Binatang Jalang ini lahir di Medan pada 26 Juli 1922 dan meninggal dunia di usia muda, 27 tahun, pada 28 April 1949.
Kendati singkat, karya-karya Chairil telah mengubah wajah sastra Indonesia, memberi arah baru yang lebih ekspresif, individualis, namun penuh perlawanan dan semangat hidup.
“Asal-usul Hari Puisi Indonesia ini bermula pada 22 November 2012, saat sejumlah sastrawan mendeklarasikannya di Riau. Mereka sepakat memilih 26 Juli, tanggal lahir Chairil Anwar, sebagai hari penghormatan terhadap semangat dan pengaruh beliau dalam dunia puisi Indonesia,” jelas Asraferi Sabri, penggagas acara di Bukittinggi.
Asraferi menegaskan bahwa HPI bukan sekadar mengenang, tapi juga menghidupkan kembali semangat cipta dan perlawanan melalui puisi.
“Negara Indonesia sangat berterima kasih atas semangat dan cipta karya Chairil Anwar. Ketenangannya menjadi ilham, semangatnya menjadi nyala bagi kita,” ujarnya.
Suara Sastra, Suara Perubahan
Acara HPI ini tak hanya berisi pembacaan puisi, tetapi juga diskusi hangat tentang peran pemerintah dalam mendukung kebijakan yang berpihak pada seni dan sastra.
Salah seorang tamu bahkan menyinggung bagaimana kebijakan kultural bisa memberi dampak luas bagi generasi muda.
“Salah satu contoh, ketika Bapak Fauzi Bahar menjabat Wali Kota Padang, ia menginstruksikan agar seluruh siswi mengenakan jilbab. Itu bentuk keberpihakan budaya. Hal yang sama perlu dilakukan untuk puisi dan seni,” ungkapnya.
Diskusi juga menghadirkan tokoh penggerak literasi Bukittinggi, Indra Utama, yang memperkenalkan komunitas Bukittinggi Art Event Initiator (BAEI).
“Saya, Asraferi Sabri, dan Ted Ramnes telah lama berdiskusi tentang pengembangan ekosistem seni di kota ini. Mulai dari sastra, musik, seni rupa, kuliner hingga pameran budaya. Mimpi kita masih terus berproses, dan saat ini sastra dan puisi menjadi langkah awal,” ujarnya. Ia didampingi oleh akademisi sastra dari Universitas Andalas, Dr. Ivan Adima, M.Hum.
Warisan Chairil yang Abadi
Chairil Anwar, putra dari Toeloes dan Saleha, menulis puisi pertamanya “Nisan” pada 1942, terinspirasi dari kematian sang nenek.
Ia dikenal luas setelah puisinya seperti Aku, Karawang-Bekasi, dan Derai-derai Cemara menjadi simbol perlawanan, eksistensi, dan renungan mendalam atas hidup dan mati.
Beberapa kutipan puisinya yang dibacakan itu pun membungkam suasana:
Aku, sendiri, sia-sia,
Karawang – Bekasi,
Penghidupan, tak sepadan, suara malam.
Perayaan Hari Puisi Indonesia di Bukittinggi menjadi penegas bahwa semangat Chairil Anwar masih hidup. Tidak hanya dalam buku, tapi dalam denyut para penyair muda dan penggiat seni yang terus menyuarakan kemerdekaan lewat kata-kata.
Penulis: Alex.jr
Bukittinggi, Sabtu, 26 Juli 2025

















