Sumbartime – Gunung Marapi, yang terletak di Sumatera Barat, telah mengeluarkan letusan sebanyak dua kali pada Kamis (8/2), dengan ketinggian abu mencapai 500 meter dan 700 meter dari puncaknya.
Meskipun demikian, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut gas beracun SO2 atau sulfur dioksida di kawah Gunung Marapi cenderung menurun secara fluktuatif.
Kepala PVMBG, Hendra Gunawan, menyatakan bahwa setelah 26 Desember 2023, laju emisi gas SO2 dari Gunung Marapi menunjukkan kecenderungan menurun fluktuatif.
“Pada periode evaluasi 22-29 Februari 2024, gas beracun (SO2) terakhir terdeteksi sebesar 775 ton per hari pada 29 Februari 2024,terang Hendra.
Meskipun demikian, PVMBG menegaskan bahwa aktivitas gunung api itu masih tergolong tinggi.
Hendra juga menjelaskan bahwa jika pasokan magma dari kedalaman terus berlangsung dan cenderung meningkat, erupsi dapat terjadi dengan energi yang lebih besar.
“Potensi ancamannya termasuk lontaran material vulkanik berukuran batu (bom), lapili, atau pasir, yang diperkirakan dapat menjangkau wilayah radius 4,5 kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek,”tambahnya.
Potensi ancaman ini menjadi perhatian serius mengingat dampak yang bisa lebih luas jika pasokan magma terus meningkat. Meskipun demikian, PVMBG terus memantau dan memberikan evaluasi terkini terkait aktivitas Gunung Marapi, sebagai upaya mitigasi bencana vulkanik di wilayah tersebut.(R)





















