Payakumbuh, Adipura dan Sekelumit Persoalan@ By : Riza Falepi

Seonggok sampah ditengah pusat Kota Payakumbuh

SUMBARTIME.COM-Sudah terlalu sering Payakumbuh mendapat Adipura, bahkan lebih dari 10 kali, jauh meninggalkan Bukittinggi, bahkan Bandung pun hanya mendapat sesekali. Dalam hal ini patut kita berbangga hati.

Namun dibalik kebanggaan itu saya sebenarnya dalam hati masih prihatin. Kebiasaan kita ketika juri Adipura datang baru bersiap- siap. Semua dibersihkan, pasar digelontor, tenda tenda pasar diturunkan, sekolah dan toa ditata, sehingga nilai kita tinggi.

Iklan
Loading...

Kebiasaan ini sudah menjadi rutinitas dan budaya bagi kita selama ini. Mulai dari Kelurahan, Kecamatan, pasar, sekolah dan Dinas berbenah ketika juri adipura datang. Secara umum ini bagus tapi kebersihan ternyata belum menjadi budaya bagi daerah kita.

Budaya bersih belum menjadi pilihan hidup sebagian warga Payakumbuh. Baru sebagian kecil yang siap dengan budaya bersih. Saban hari sering kita lihat sampah dibuang sembarangan oleh orang yang membawa mobil, bahkan mobil mewah sekalipun. Mereka seenaknya membuang sampah ke sungai, membuang sampah ke drainase, dan irigasi.

Mereka membuang sampah sesuka hati mereka saja. Bahkan pagi pagi yang buang sampah sambil bawa motor ketika sampai di dekat tong sampah lempar saja sehingga berserakan tidak karu karuan. Kita berharap apa salahnya berhenti dan masukkan baik baik.

Jangan kita berpikiran, ah kan pasukan kuning yang nanti akan membersihkan. Bahkan di bak sampah pinggir kota pun dijadikan tempat buang sampah orang kabupaten sambil ke kota pagi pagi. Ada lagi kadang kadang atau tiba tiba sudah ada tumpukan sampah di pinggir jalan padahal bukan tempatnya. Ketika satu orang buang sampah di sana, maka yang lain juga akan mengikuti.

Menyedihkan sekaligus memprihatinkan. Rasanya bagi saya Adipura kekurangan makna. Kita sebenarnya sangat prihatin. Kita langganan Adipura tapi perilaku warganya tidak sesuai dengan penghargaan yang kita dapatkan. Kadang kadang sebagai Walikota saya membatin dalam hati, apakah warga payakumbuh ini cinta dengan kotanya atau memang kecintaannya hanya sebatas mulut saja?

Namun saya selalu menghibur diri  jika pasti warga Payakumbuh sangat mencintai kampung halamannya. Akan tetapi saya juga berfikir pasti ada yang salah dengan pendidikan kita terkait tentang kebersihan lingkungan dan, bagaimana menjaga kepentingan bersama.

Saya akan minta Kadis Pendidikan  untuk meninjau dan mengevaluasi agar  jangan hanya kurikulum saja yang diutamakan  atau dengan kata lain jangan hanya mengedepankan sisi pengajaran saja. Akan tetapi juga harus memperkuat sistem pendidikan karakter.

Banyak tenaga pendidik sering lupa dengan hal yang begini, dan mohon maaf saya katakan sepertinya mereka hanya sibuk mengejar jam sertifikasi target mengajar. Inilah tantangan kita dan harus cepat diselesaikan.

Pada kesempatan ini saya minta dengan tegas Satpol PP, Dinas Pasar, Dinas LH dan Pendidikan, agar serius membenahi persoalan kebersihan lingkungan. Serta Dinas PU sebagai leading sektor untuk bisa dan serius berkoordinasi bersama aparat Kelurahan dan Kecamatan agar kebersihan menjadi budaya di lingkungan warga sekitar.

Sebenarnya Payakumbuh saat ini tetap bersih karena pengelolaan sampahnya sudah memenuhi syarat sesuai standar juri Adipura, tapi untuk menjadi budaya seperti di jepang, eropa dan negara maju masih butuh usaha lebih. Inilah yang saya inginkan di Payakumbuh.

Ke depan akan ada penegakan hukum yang akan disosialisasikan terkait kebersihan lingkungan. Penegakan hukum bagi mereka yang buang sampah sembarangan untuk dipenjara atau denda. Mohon maaf kepada warga Payakumbuh kalau saya terpaksa represif demi menjaga kepentingan kita bersama dan demi kebaikan warga Payakumbuh semua. Bravo Payakumbuh menang.**

Penulis Adalah Walikota Payakumbuh*

Loading...
Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here