SUMBARTIME.COM-Fakta miris yang mencengangkan terungkap dari pengakuan pasangan suami istri (Pasutri) pemilik apotik di salah satu kawasan Kota Padang, inisial I (50) dan S (50).
Tersangka penjual obat keras penggugur kandungan secara bebas (daftar G) itu mengaku dalam sebulan terakhir telah ada 60 wanita muda yang membeli obat untuk aborsi secara ilegal tersebut. Rata rata pembeli obat penggugur kandungan itu adalah para wanita yang hamil di luar nikah
Hal itu dikatakan oleh Kapolresta Padang Kombes Pol Imran Amir, Senin (15/2) siang, saat melakukan konfrensi pers yang bertempat di Mapolresta.
Di jelaskan, pasutri inisial I dan S tersebut menjual obat keras penggugur kandungan secara bebas tanpa resep dokter dengan sasarannya para wanita yang hamil di luar nikah dan ingin menggugurkan kandungan.
Menurut kedua tersangka, apotik miliknya tersebut sudah melayani para konsumen pemesan obat obatan penggugur kandungan sejak tahun 2018 silam. Dalam menjual obat terlarang dijual belikan secara bebas itu, pasutri tersebut menjualnya di atas jam 00.00 WIB, papar Imran.
“Apotik mereka buka selama 24 jam. Khusus yang memesan obat pembunuh janin mereka layani diatas tengah malam,” sambungnya lagi.
Lebih jauh masih menurut keterangan kedua tersangka, sasaran mereaka adalah wanita remaja, yang diketahui hamil diluar nikah karena melakukan hubungan terlarang. Lantaran malu telah hamil duluan, mereka lebih memilih melakukan aborsi melalui perantara obat keras yang dijual kedua tersangka.
Adapun paket obat keras penggugur kandungan itu, dijual kedua tersangka dengan harga yang bervariasi antara Rp 300 Ribu hingga Rp 5 Juta tergantung umur kandungan.
Jika konsumen ingin meminta petunjuk serta arahan bagaimana cara melakukan praktek aborsi kepada pemilik apotik tersebut, maka obat itu dijual seharga Rp 5 Juta, plus bimbingan melakukan aborsi secara aman dari kedua tersangka melalui aplikasi WhatAps.
Patut diduga, kedua pasutri tersebut telah menjual obat keras penggugur kandungan itu kepada ribuan konsumen yang membutuhkan mengingat mereka mulai beroperasi sejak tahun 2018 silam, tutup Imran Amir. (dei)





















