Mengelola Sumber Mata Air yang Baik, Sebuah Renungan Untuk Sungai Kamuyang@ By Riza Falepi

Btang Tabik aiarnya jernih, Ikannya jinak

Sumbartime-Nagari Sungai Kamuyang adalah sebongkah Sorga yang turun ke dunia. Tanahnya luas, sumber airnya bagus, dan sangat layak menjadi daerah yang cukup makmur. Namun disayangkan sampai hari ini, kemakmuran itu masih jauh panggang dari api.

Kito sebagai orang  Luhak 50 tentu sedih melihat kenyataan ini. Sebuah kenyataan dimana air Batang Tabik yang merupakan sumber berkah dan hamparan tanah yang subur malah mendatangkan perpecahan diantara anak nagari.

Iklan

Artikel Terkait :

Perpecahan terjadi karena belum bisa menyikapi segala perbedaan diantara mereka. Akibatnya timbul ketidakpercayaan dan saling curiga yang hebat diantara mereka.  Persoalan tersebut juga terjadi antara urang rantau dengan yang di kampung juga terimbas pada masalah yang sama.

Ketidakpercayaan muncul karena sikap yang dibangun adalah sikap nafsi nafsi. Sebagai orang Luhak 50 kita cemas jangan-jangan Allah telah mencabut berkah di nagari tersebut? akibat kurangnya rasa bersyukur akan nikmat yang ada.

Jika kita bersyukur nikmat itu akan ditambah oleh Allah SWT, tapi kalau kita kurang bersyukur ingatlah akan azab Allah yang pedih. Kalau bersyukur tentu tahu mengelola dengan prinsip-prinsip yang baik.

Atau, dalam bahasa Nabi Yusuf ketika ditanya oleh Raja Mesir sewaktu hendak dijadikan bendahara negara,, “Mengapa harus engkau yang jadi bendahara negara?” Jawab Nabi Yusuf, “karena saya hafidzun ‘alim. Hafidz artinya memelihara dengan amanah, alim artinya tahu bagaimana menjalankan dengan kaidah-kaidah yang baik, dan lebih menghasilkan kemakmuran dengan cara-cara manajemen dan strategi yang lebih tinggi tanpa mencederai relasi bisnis yang ada.

Karena harus diingat dalam bisnis yang pertama bukanlah uang, tapi kepercayaan atau trust. Contoh kasus terakhir adalah bagaimana Nagari Sungai Kamuyang membangun kerjasama dengan Pemda Payakumbuh.

Selama ini saya sebagai Walikota sudah berusaha telah menaikan harga kompensasi sedemikian tinggi, namun sepertinya kami tidak diperlakukan dengan cara yang lebih santun dalam rangka membangun kepercayaan dan hubungan bisnis yang lebih baik.

Contoh kasus negosiasi harga pembelian sumber air Sungai Kamuyang dengan PDAM Payakumbuh. Berawal saat kami di datangi oleh petinggi Sungai Kamuyang untuk menaikkan harga air di awal pemerintahan saya.,

Saat itu, mereka diterima dengan baik dan kami berjanji akan meninjau soal kenaikan harga. Hasilnya Juni 2016 permintaan para Petinggi Sungai Kamuyang untuk menaikan harga kompensasi air kami kabulkan. Bahkan dalam perjanjian saat itu pihak Niniak Mamak meminta agar segala perjanjian harus ditinjau setiap per dua tahun dan juga meminta ada anak nagari Sungai Kamuyang untuk diterima bekerja di PDAM Payakumbuh.

Dan sebagai rasa hormat dan terima kasih kami, segala permintaan Niniak Mamak Nagari Sungai Kamuyang kami kabulkan dengan baik dan istimewa. Namun tanpa ada hujan tanpa ada angin pihak Nagari Sungai Kamuyang perjanjian sekali dua tahun yang harusnya berakhir pada Juni 2018, mereka minta dipercepat.

Bagi kami ini sungguh mengherankan, sebab ini sama saja bak ibarat syair lagu, ” Kau yang mulai, dan Kau yang mengakhiri. Dan kehendak yang dilakukan terkesan dengan cara cara pemaksaan ini tanpa prosedur yang jelas dan tidak menghormati kesepakatan perjanjian anatar kedua belah pihak yang telah disepakati.

Dan jika ini dipaksakan tentu akan terjadi wan prestasi atau melanggar perjanjian yang di buat sendiri dengan PDAM yang saat itu Dirutnya pak Faisal Mustafa atau Pak Can.

Bahwa pernah ada orang Sungai Kamuyang  yang datang dan meminta harga air dinaikkan per 1 Januari 2018 ke kami benar. Saat itu mereka berharap agar saya selaku Walikota Payakumbuh agar bisa merealisasikan hal tersebut.

Namun saat itu saya hanya berkata kepada mereka sepanjang sesuai dengan perjanjian yang sebelumnya telah di serpakati bersama. Namun anehnya kami kemudian dianggap ingkar janji kepada Nagari Sungai Kamuyang. Padahal, kami bekerja sesai dengan aturan serta dasar hukum yang ada.

Tanpa menghormati perjanjian sebelumnya yang notabene dibuat atas permintaan pihak Sungai Kamuyang dan sudah kami penuhi, lantas  saat sekarang ini kami dianggap telah melakukan ingkar janji. Tentu kami menganggap ini merupakan suatu sikap bisnis yang sangat sulit  untuk diterima oleh kebanyakan dunia usaha di manapun.

Saya akui dan saya katakan dengan tegas, benar kami ingkar janji demi menghormati kesepakatan yang telah dibuat bersama. Untuk itu, mari kita sama sama menghormati perjanjian. Tidak ada yang kita cederai.

Secara jujur, justru di zaman pemerintahan kami telah menaikan sebanyak dua kali harga pembelian air, yaitu dari 6 persen di zaman wako sebelumnya menjadi 8 persen yang ditandatangani Juni 2016 dan rencananya setelah selesai 2 tahun perjanjian akan dinaikkan menjadi 12 persen.

Kami berharap dan menghimbau kepada pihak Sungai Kamuyang untuk bisa menahan diri dengan mengeluarkan ancaman pemutusan pasokan suplai air ke PDAM Payakumbuh. Tentu hal ini akan berdampak pada persoalan supply air warga kota Payakumbuh jika benar benar dilakukan.

Sementara di satu sisi, usaha kami untuk mencari alternatif dengan membangun Water Treatment sendiri sebagai jalan keluar adalah hal yang wajar dan patut diapresiasi. Ini adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk bisa melayani warganya, sementara sungai kamuyang merasa arogan tanpa punya sikap bisnis yang ramah dan elegan.

Kita tidak pernah berniat memutuskan hubungan dengan Sungai Kamuyang. Tapi tentu saja  hubungan perjanjian bisnis yang tidak jelas merupakan persoalan bagi kami yang secara bisnis harus diselesaikan oleh saya sebagai Walikota dengan mencari kepastian yang lebih jelas soal pasokan air.

Seandainya degan debit air yang baru 8 persen sebenarnya Sungai Kamuyang bisa menjual air dengan volume sampai 25 persen. Dan itu tidak akan mengeringkan sawah sawah sepanjang penggunaan air diatur dengan baik. Sekarang kembali pada Nagari agar lebih hati hati mengambil keputusan untuk kepentingan rakyat banyak dan kemenakan yang kita cintai. Selebihnya kita pulangkan pada mereka yang merasa punya hak tersebut.**

  • Penulis merupakan Walikota Payakumbuh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here