Ini Klarifikasi Pihak Keluarga Almarhumah Yang Dimakamkan Dengan Protap Covid 19 di Payakumbuh

gambar pihak keluarga almarhumah

SUMBARTIME.COM-Pasca pemakaman seorang warga asal Payakumbuh dengan standar Protap Covid 19 pada Sabtu 4 April 2020 kemaren, yang dilakukan Tim Gugus Penanggulangan, warga masyarakat setempat dan sekitarnya sempat geger dan heboh.

Banyak spekulasi serta informasi yang simpang siur terkait meninggalnya pasien wanita yang sempat dirujuk dari Yarsi Ibnu Sina Payakumbuh ke RSUD Ahmad Muchtar Bukittinggi tersebut. Ada yang mengatakan Pasien Dalam Pantuan (PDP) ada juga yang mengatakan pasien meninggal karena diduga suspect Corona.

Namun menurut pihak keluarga Almarhumah, inisial B, melalui pesan WA nya kepada awak media, Minggu (5/4) malam, menuturkan awal mula Almarhumah dibawa ke Yarsi Ibnu Sina dan dirujuk ke RSUD Ahmad Muchtar, hingga meninggal dunia dan dimakamkan dengan standar Protap Covid 19 di Payakumbuh.

Menurut B, pihak keluarga menjelaskan jika sebelumnya pada Sabtu (4/4) subuh, Almarhumah dilarikan ke Rs Yarsi Ibnu Sina Payakumbuh karena mengalami gejala sakit kepala yang hebat di sertai sedikit diare. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan darah dan cek tensi. Dari hasil cek tensi diketahui jika almarhumah memiliki tensi mencapai 225. Namun saat itu suhu tubuhnya normal dan tidak ada gejala batuk disertai flu.

Oleh pihak Yarsi Payakumbuh, saat itu Almarhumah diasumsikan mengalami gejala Stroke dan bukan terpapar suspect Corona sehingga penaganan pasien tidak perlu memakai Alat Pelindung Diri (APD), ungkapnya.

Pihak medis Ibnu Sina mengatakan jika saat itu pasien diduga mengalami pecah pembuluh darah. Untuk memastikan hal tersebut, Almarhumah direkomendasikan untuk dirujuk ke RSUD Ahmad Muchtar Bukittinggi, papar B.

Sekira pukul 08.00 WIB, Sabtu (4/4) pagi, Almarhumah dilarikan ke Ahmad Muchtar dan langsung masuk ke dalam ruangan IGD untuk melakukan cek darah dan rongent paru paru. Saat itu menurut keterangan pihak dokter dari hasil pemeriksaan, paru paru Almarhumah bersih dan tidak ada cairan seperti pemberitaan.

Perlu diingat di Ahmad Muchtar Almarhumah saat dilakukan pemeriksaan dan perawatan, para medis tidak memakai APD dan yang bersangkutan tidak ditempatkan di dalam ruangan isolasi, tutur B lagi.

Sekira pukul 11.00 WIB pihak keluarga mendapat kabar jika orang tua mereka meninggal dunia di RSUD Ahmad Muchtar. Selanjutnya pihak keluarga bersiap siap untuk menuju ke pemakaman di Kawasan Nan Kodok, Payakumbuh Utara.

Namun saat meminta izin kepada RT setempat tutur B, dirinya sempat berdebat dengan pengurus. Menurutnya saat itu pihak RT mengatakan jika orang tua mereka meninggal diduga terpapar Corona.

“Namun kami menyanggahnya dengan mengatakan jika almarhumah meninggal bukan karena Corona namun akibat gejala stroke,” paparnya lagi.

Selanjutnya saat masih dilakukan pengalian kuburan, datang telepon dari pihak kepolisian yang menanyakan apakah pihak keluarga merasa keberatan jika almarhumah dimakamkan dengan memakai standar Protap Covid 19 dengan alasan jika penyebab meninggalnya dicurigai karena suspect Covid 19.

Mendapatkan keterangan via telepon dari aparat terkait cara penanganan almarhumah dimakamkan memakai protap Covid 19, pihak keluarga tidak merasa keberatan. Namun yang mereka protes adalah tidak diizinkannya pihak keluarga untuk ikut mengali kuburan untuk pemakaman Almarhumah, tandas B mengatakan.

Persoalan tersebut sempat ditengahi dan diselesaikan oleh Pemko sehingga proses pemakaman berjalan dengan baik. Namun ujar B lagi, usai alamarhumah dimakamkan, mereka melihat di sosial media viral informasi yang berseliweran tentang almarhumah. Berbagai macam cerita muncul di sosmed.

Ada yang menyebutkan jika orang tua mereka Pasien Dalam Pantauan (PDP), hingga ada yang menyebutkan positif Covid 19. Padahal ungkapnya lagi hasil Swab pemeriksaan orang tua mereka belum keluar.

B juga mengungkapkan, bahwa tentang informasi soal Almarhumah yang pernah kontak dengan tamu yang baru datang dari Jakarta, menurutnya tamu tersebut adalah keponakannya atau cucu dari almarhum sendiri.

Keponakannya tersebut datang dari Jakarta bukanlah pada Tanggal 23 Maret 2020 seperti informasi yang beredar. Namun yang bersangkutan datang pada Tanggal 20 Februari 2020, dari Jakarta. Namun sebelum datang ke Payakumbuh, keponakannya sempat berada di Bukittinggi lebih kurang 1 bulan.

Saat keponakannya tersebut datang ke Payakumbuh, yang bersangkutan langsung memeriksakan diri ke posko Corona yang bereda di depan Bank BRI, dan hasil pemeriksaan oleh petugas keponakannya negatif. Dilanjutkan B lagi, keponakan serta keluarga mereka yang lain selalu bersama almarhumah sampai saat ini sehat dan baik baik saja.

Namun walaupun demikian, pihaknya keluarga Almarhumah sangat patuh atas himbauan pemerintah untuk melakukan isolasi diri secara mandiri di dalam rumah dan tidak melakukan kontak dengan warga sekitar. Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat agar mereka jangan dianggap seperti monster yang menakutkan, ungkap B.

Dirinya sebagai keluarga Almarhumah juga berharap agar warga masyarakat jangan memvonis mereka sebagai biang pembawa virus yang harus dikucilkan dan harus mendapatkan bully. Sebab bagaimanapun juga saat ini pihaknya masih menunggu hasil labor keluar tentang penyakit yang dialami oleh Almarhumah, tutupnya mengatakan. (aa)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here