Social Distance, Warga: “Pak Pemimpin dan Pak Dewan Dengarlah Keluhan Serta Jeritan Kami”

gambar ilustrasi

SUMBARTIME.COM-Hampir 2 minggu sudah Pemerintah menerapkan Social Distance atau melakukan isolasi secara mandiri di rumah masing masing dengan cara berdiam diri di rumah dan tidak melakukan aktifitas luar jika tidak ada kepentingan yang mendesak, mulai menimbulkan masalah baru di tengah masyarakat.

Di Payakumbuh dan Limapuluh Kota, pada intinya warga setuju jika program Isolasi diri secara mandiri di rumah masing masing itu demi memutus mata rantai pandemi Covid 19 seperti yang disarankan Pemerintah daerah.

Hal itu ditandai dengan menurun drastisnya lokasi lokasi yang selama ini ramai dikunjungi warga baik Pasar maupun warung warung kopi serta kafe yang tumbuh berjejeran di jalan jalan utama Kota Payakumbuh.

Begitu juga di Kawasan Limapuluh Kota, sebelumnya jika sebelum pandemi Covid 19 melanda, tempat tempat wisata terutama jika hari libur cukup ramai didatangi oleh para keluarga yang ingin bersantai, namun sejak ada anjuran dari pihak Pemkab untuk melakukan isolasi diri dan menutup lokasi objek wisata, warga pun mematuhi dengan nyaris tidak adanya aktifias keramaian dari mereka.

Jalan jalan mulai sepi terutama di malam hari. Mayoritas warga di dua daerah lebih senang berkumpul di rumah mereka masing seperti yang dianjurkan oleh Pemerintah.

Namun persoalan baru mulai muncul kepermukaan. Terutama bagi pelaku ekonomi menengah ke bawah yang menggantungkan hidup mereka dari aktifitas sehari hari mulai merasakan kepanikan yang sama seperti paniknya mereka terhadap bahaya virus corona.

Warga masyarakat dari golongan ekonomi menengah ke bawah, mulai ada yang menjerit dan mengeluh. Menurut mereka, sejak diberlakukannya Social Distance, nyaris ekonomi kelurga mereka menjadi lumpuh, terutama bagi warga yang menggantungkan hidup dari pendapatan sehari hari.

Hal itu diungkapkan oleh Mon (48) salah satu warga Kota Payakumbuh yang sehari hari berprofesi sebagai sopir Antar daerah dalam Propinsi. Kepada awak media, Minggu (5/4) siang, dirinya mengeluhkan dengan kondisi yang terjadi saat ini.

Menurutnya, sebagai seorang kepala keluarga yang mempunyai tanggungan hidup dengan satu istri dan tiga orang anak, dirinya mengaku merasakan pahit kondisi ekonomi rumah tangganya terlebih dalam masa menganggur. Mon mengaku sudah 1 minggu dirinya tidak melakukan aktifitas profesi sebagai sopir antar kota dalam propinsi. Hal itu disebabkan hampir tidak ada lagi penumpang yang akan diantar karena takut untuk berpergian.

Sementara kebutuhan hidup sehari hari anak istri yang menjadi tanggungannya wajib dia penuhi. Atas persoalan ekonomi inilah yang membuat dirinya pusing serta uring uringan memikirkan tentang biaya hidup yang harus dia dapatkan.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ida (42) warga asal Tanjung Pati. Wanita yang sehari hari berprofesi sebagai pedagang sembako keliling ini, kepada awak media juga mengaku untuk sementara waktu berhenti melaksanakan kegiatan usahanya.

Dia menjelaskan, sejak diberlakukannya isolasi diri secara mandiri omset pendapatannya terjun hingga mencapai 30 persen dari biasanya. Keluhan yang sama juga datang dari petugas Parkir yang biasa mencari hidup di kawasan Pasar Payakumbuh.

Rata rata para juru parkir tersebut saat ini mengeluhkan dengan penghasilan yang dia dapatkan. Menurut mereka, sejak pandemi Covid 19 ini para pengunjung pasar sangat menurun tajam. Saat ini di pasar perekonomian terasa lesu dan sepi. Warga lebih suka berdiam diri di rumah lantaran takut, papar mereka.

Kondisi perekonomian lesu, tidak hanya dirasakan oleh kalangan pelaku ekonomi bawah. Namun pelaku usaha ekonomi menengah seperti pemilik kafe juga merasakan hal yang sama. Seperti yang ditulis oleh salah satu pemilik kafe di Jalan Soekarno Hatta Kota Payakumbuh.

Dalam akun sosmednya dengan berat hati dan sangat terpaksa, dirinya telah menutup segala aktifitas terkait keberadaan kafenya akibat sepi dan nyaris tidak ada lagi pengunjung yang datang memesan makanan dan minuman.

Walaupun dirinya memahami kondisi yang terjadi saat ini, namun dirinya juga tidak dapat memungkiri kondisi nasib beberapa pekerjanya setelah kafe ditutup untuk sementara waktu dalam batas yang belum bisa ditentukan, tulisnya.

Cerita keluhan dan jeritan tentang sopir, penjual sembako keliling, tukang parkir serta para pelaku usaha menengah ke bawah yang mengandalkan pendapatan sehari hari tersebut adalah sebuah realita yang kini terjadi di tengah tengah masyarakat.

Mereka berharap jika benar Pemerintah daerah baik Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota telah menganggarkan bantuan untuk warga terdampak langsung atau tidak langsung Covid 19, agar segera merealisasikan tanpa adanya aturan birokrasi yang berbelit dikarekan kondisi yang darurat, ujar mereka.

Kepada awak media, para pelaku usaha menengah kebawah tersebut meminta menyampaikan pesan kepada pak pemimpin dan pak dewan, agar bisa mendengarkan keluhan serta jeritan warga serta bisa mencarikan solusi terbaik untuk warga masyarakat, papar mereka. (aa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here