• AD ART Sumbartime.com
  • Advertorial
  • Disclaimer
  • Home
  • Home
  • Iklan
  • Pedoman Berita
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Sitemap
  • Tentang Kami
  • Visi Misi
Sumbartime.com
Advertisement
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sumbartime.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Sumbar
  • Peristiwa
  • Kriminal
  • Nasional
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Video
  • Wisata
ADVERTISEMENT
Home Cerbung

TIKAM SAMURAI 250

Sumbar Time by Sumbar Time
22 Agustus 2021
in Cerbung, Tikam Samurai
A A
0
0
SHARES
119
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
ADVERTISEMENT

SUMBARTIME.COM-Atau ke dadanya yang seakan-akan mau pecah karena tertekan ke lantai. Nampaknya si lelaki sedang membicarakan peristiwa tadi, yang membuat wanita itu terpekik-pekik.

ADVERTISEMENT

Si wanita nampaknya memang centil, atau katakanlah dia termasuk wanita jongkek. Sebab tiap sebentar, bila ada yang agak lucu atau yang tak dapat dia komentari, tangannya mencubit paha lelaki tersebut. Akan halnya lelaki, yang masih berusaha bertahan duduk, nampaknya berprinsip “Bukan kaba sambarang kaba, kaba dibao mantiko muncak. Bukan saba sambarang saba, saba mananti kutiko rancak”.

ADVERTISEMENT

Dan saat kutiko rancak itu tiba, yaitu saat darahnya sudah naik ke ubun-ubun, dia menjerembabkan diri ke atas tubuh perempuan jongkek yang sok-sok mene lungkup itu. Perempuan itu terpekik kecil. Bukan pekik terkejut apalagi pekik marah.

Dari pekiknya saja orang pasti bisa menebak dia memang jongkek. Sebab pekiknya hanya perlahan, diiringi erangan, entah apa yang dierangkannya. Pokoknya dia mengerang. Si lelaki yang juga bertubuh agak kurus, segera membuat pekerjaan tangan. Maksudnya tangannya bekerja ke bawah, ke atas. Meraba meremas.

BacaJuga

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021

Dan si perempuan nampaknya memang mengharap kan semua yang diperbuat si lelaki. Dia menelentangkan diri. Kemudian dia pula yang mendahului membuka baju si lelaki.

“Suara seperti itu pasti suara poyok…” ujar Tim Smith menggerendeng.

Ke empat lelaki lain dalam lobang sekapan itu hanya berdiam diri. Dari atas sana makin jelas terdengar suara wanita dan lelaki. Mengerang, mendesah. Makin lama makin keras, makin lama makin cepat. Kemudian suara pekik panjang perempuan, kemudian suara pekik panjang lelaki. Lalu diam.

“Ayo main tebak-tebakan. Kenapa mereka memekik?” tiba-tiba kesunyian di dalam lubang itu dipecahkan oleh suara Tim Smith, sersan yang rambutnya hampir botak dan tukang carut itu.

Pertanyaan yang dia lontarkan mau tak mau membuat semua yang ada dalam lobang itu nyengir. Jarang sekali mereka bisa tersenyum. Hal itu disebabkan tak satupun yang bisa dianggap lucu, atau tak satupun bisa menghibur hati mereka selama berada dalam lobang terkutuk itu. Namun ucapan yang dilontarkan Tim Smith sebentar ini, ajakan untuk main tebak-tebakan kenapa kedua orang di atas sana memekik-mekik, benar-benar memaksa mereka untuk tersenyum.

Meski senyum yang lebih tepat disebut nye­ngir. Sebab, betapapun bentuk senyum yang tergurat di wajah orang-orang seperti mereka, yang kelihatan adalah guratan muram. Segala bentuk ekspresi, termasuk ekspresi marah, menjadi berbeda tampilnya di wajah, karena dirobah oleh ketegangan dan derita selama bertahun di dalam penyekapan.

“Ayo, siapa bisa menerka. Kenapa mereka memekik?” kembali Smith melontarkan pertanyaan.

Tak ada yang menjawab, selain senyum tergurat di wajah setiap orang dalam lobang itu, termasuk si Bungsu. Sampai akhirnya Kopral Jock Graham, petugas bahagian radio yang sama-sama diangkut dengan truk bersama si Bungsu, memberikan jawaban.

“Mereka dicekik hantu…” ujarnya.

Jawaban itu membuat senyum semakin lebar di wajah kelima lelaki tersebut.

“Mereka bukan dicekik hantu, tapi pekik menyindir. Kau yang disindirnya, Smith…” ujar Sersan Mike Clark.

Mereka tersenyum lagi. Smith yang semula tertegun, tiba-tiba terkekeh.

“Bukan, bukan aku yang mereka sindir de­ngan pekiknya itu. Mereka menyindir kita semua…” ujar Smith.

Mereka kemudian pada tertawa. Tetapi setelah itu, hari-hari mereka lalui dengan kesunyian dan derita panjang. Memang tak ada penyiksaan dalam bentuk pemukulan. Tapi apa yang mereka alami dalam lobang itu tak kalah dahsyatnya dari penyiksaan dalam bentuk sepak dan terjang. Akan halnya sepak, terjang atau cabut kuku, itu mereka alami di tahun pertama mereka tertangkap. Co­wie misalnya, giginya copot dua buah akibat dihajar popor senapan.

Smith kalau berjalan pasti tak lurus. Tulang kering kaki kanannya patah dihajar, juga dengan popor bedil. Kini memang sudah sembuh, tapi tulang keringnya itu bertaut secara tak benar. Kalau dia berjalan, jalannya tak normal. Setelah si Bungsu berada di hari kelima di dalam kurungan itu, barulah orang Vietnam memberi mereka makanan.

Makanan berupa sisa yang terdiri dari rebus ubi kayu, keladi dan ikan asin itu dimasukkan ke dalam sejenis kambut. Kemudian dilempar begitu saja ke dalam lobang penyekapan tersebut. Cowie yang pangkatnya memang tertinggi, mengatur agar semua mereka tidak berebutan.

Sebab pengalaman sudah mengajarkan, ketika bulan-bulan pertama disekap, sebahagian dari mereka babak belur saling pukul karena berebut makanan, yang selain tak memenuhi syarat, jumlahnya pun amat sedikit.

“Makanlah, karena mana tahu ini adalah makanan terakhir bagi salah seorang di antara kita…” ujar Cowie.
Mereka makan dengan diam tapi dengan cepat. Hanya beberapa saat, makanan yang menjadi bahagian masing-masing itu habis. Smith malah menjilati tangannya, merasakan nikmatnya rasa asin ikan yang tertinggal di jari-jarinya.

Kemudian mereka meminum air yang dikirim bersama makanan itu. Air mentah, tapi jernih, barangkali air sungai atau air sumur, yang dibungkus dengan kantong plastik. Cowie memberi jatah air dua teguk seorang, kemudian tempat air digantung pada sebuah ranting yang ditancapkan di dinding tanah napal itu.

Tak ada yang membantah aturan yang ditetapkan Cowie, karena aturan itu amat mereka perlukan. Mereka tak mungkin meminum air setinggi dada dalam lobang dimana mereka disekap. Selain airnya kuning dan kental karena lumpur, air itu juga sudah kotor dan bau sekali.

Maklum, di lobang tersebut sudah lebih dari enam atau tujuh orang yang mati. Setiap ada yang mati, mayatnya tak segera diangkat orang Vietnam. Ada yang sehari, ada yang dua hari, malah seperti mayat terakhir baru pada hari ketiga diangkat. Namun makanan yang mereka terima itu ternyata tak bisa menolong Sersan Mike Clark.

Kondisi sersan itu sudah demikian buruknya sebelum dipindahkan ke lobang laknat ini. Kondisi kesehatannya yang buruk itu diperburuk oleh bau mayat selama tiga hari di dalam lobang 4 x 4 meter itu. Tak lama setelah usai makan, dia diserang demam.

Nampaknya dia terkena tularan kawannya dua minggu yang lalu. Dia menggigil dan mengigau. Tiap sebentar tubuhnya melorot dan terbenam ke dalam air. Cowie sudah berkali-kali menyangga badan temannya itu agar tak terbenam. Si Bungsu menyesal kehabisan ramuan tradisionalnya.

Kalau saja dia mendapat sedikit dedaunan atau lumut yang cocok untuk obat, dia yakin dia bisa menolong Mike Clark. Namun dalam kondisi seperti sekarang kemana dia harus mencari dedaunan atau lumut? Tubuh sersan itu dipegangi Jock Graham.

Mereka tak berusaha berteriak meminta bantuan kepada dua penjaga yang ada di atas. Teriakan atau panggilan dalam bentuk apa pun takkan pernah diacuhkan. Memanggil atau berteriak hanya akan menghabis-habiskan tenaga. Mereka sudah berkali-kali mengalami hal seperti itu.

Berkali-kali pula yang sakit di dalam lobang penyekapan ini harus menyerahkan nyawa mereka benar-benar pada takdir Tuhan. Hanya ada satu di antara dua kemungkinan yang harus mereka tunggu. Sembuh dengan sendirinya, atau mati.

ADVERTISEMENT

Untuk kemungkinan pertama, bukannya tak ada. Baik Cowie maupun Tim Smith pernah menderita demam berhari-hari. Namun karena demam mereka stadiumnya masih rendah, akhirnya mereka sembuh sendiri. Tetapi sebahagian besar lainnya, demam memang mengantar mereka ke pintu kubur.

Sersan Mike Clark sudah benar-benar tak sadar pada dirinya. Tubuhnya menggigil terguncang-guncang. Setiap satu jam mereka bergiliran memegang tubuh sersan itu agar tak tenggelam. Dan menjelang larut malam, hanya sekitar enam jam setelah mereka mendapat jatah makanan, tubuh sersan itu sudah tak bergerak.

Kebetulan saat itu yang mendapat giliran untuk memegangi tubuh sersan tersebut adalah si Bungsu dan Tim Smith. Si Bungsu memegangi Clark pada bahagian kepala dan punggung, sementara Smith memegangi bahagian pinggul dan paha.

Dengan kedua tangan berada di bahagian bawah tubuh yang ditelentangkan itulah mereka menjaga agar si sakit tidak tenggelam. Sebenarnya, dengan bantuan air menahan tubuh orang agar tak tenggelam tidaklah begitu berat.

Apalagi semua mereka di dalam lobang itu, kecuali si Bungsu, badannya pada kurus kerempeng. Kalau saja dinaikkan ke timbangan, beratnya rata-rata mungkin hanya sekitar 40an kilogram. Dengan tubuh di atas 175 cm, berat badan sekian membuat mereka seperti kerangka hidup. Menjelang larut malam itu, si Bungsu merasa tak ada gerakan apapun lagi pada tubuh Clark.

Perlahan tangannya yang memegang kepala Clark, meraba nadi di leher sersan itu. Tak ada gerakan, tak ada denyut sehalus apa pun. Dia tak perlu meraba atau mendengarkan degup jantung sersan itu untuk memastikan apakah dia benar-benar sudah mati atau masih hidup. Tidak, dia sudah belasan kali menghadapi orang yang berada dalam keadaan sakratul maut.

Dari pengalaman itu dia sangat yakin sersan ini sudah mati. Dan dia yakin, bagi mereka yang sudah bertahun dalam sekapan ini, kematian merupakan anugerah, dibanding harus mati setelah menderita dalam waktu yang amat panjang.

Si Bungsu kembali meluruskan badannya bersandar ke dinding. Dia menoleh ke arah Smith. Tak ada yang kelihatan, kendati jarak antara mereka berdua hanya sehasta. Kegelapan yang kental menyebabkan suasana di dalam lobang itu tenggelam dalam kelam yang tak terbayangkan.

Namun dia tahu Smith masih tegak di sisinya, juga bersandar ke dinding. Suara nafas lelaki itu dia dengar teratur. Dia juga tahu Smith sedang tidur. Hampir dua tahun disekap seperti ini, membuat tentara Amerika itu benar-benar terlatih dan tahu bagaimana tidur dalam segala kondisi.

Pendengarannya yang tajam juga menangkap dengkur perlahan Letnan Cowie dan Kopral Jock Graham. Perlahan dia berbisik, memanggil Smith yang tegak di sisinya.
“Smith….”
“Ya….” jawab Smith, juga berbisik tanpa membuka mata.
“Orang ini sudah mati….”
Tak ada jawaban.

Dari kegelapan di atas sana sayup-sayup terdengar suara burung malam.
“Apa…?”
“Clark sudah mati….”
Smith menarik nafas panjang.
“Kau yakin?”
“Ya…”

Tak ada jawaban dari Smith. Yang dia lakukan, justru melepaskan pegangan kedua tangannya di paha Mike Clark yang tubuhnya mengapung di permukaan air.
“Lepaskan saja…” ujar Smith perlahan sambil menggeliat.
Saat si Bungsu melepaskan pegangannya pada punggung bahagian atas tubuh Clark, juga pegangan di bahagian kepala. Smith masih menggeliat panjang. Dia meregangkan kedua tangannya yang hampir kesemutan tinggi-tinggi ke atas.

Lalu dia melemaskan jari-jarinya. Menarik jari itu bergantian satu demi satu, sehingga buku-buku jarinya memperdengarkan bunyi gemeletuk. Kemudian dia menguap panjang dan menegakkan tubuhnya yang bersandar hampir sepanjang malam. Lalu memutar badan bahagian atasnya, melemaskah pinggang dan otot-ototnya yang semua terasa kaku.

Si Bungsu juga melakukan hal yang sama. Meluruskan tegak dari posisi bersandar. Menggeliat dengan meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas. Lalu memutar tubuh bahagian atasnya ke kiri, ke kanan dan sedikit membungkuk.

Mereka jelas tak bisa membungkuk benar, karena air di dalam lobang itu tingginya hampir mencapai leher mereka masing-masing. Dalam kegelapan yang kental tersebut, mayat Clark yang mengapung perlahan ke bahagian tengah lobang penyekapan itu, tak kelihatan sama sekali.

Bagi orang-orang di atas sana, bahkan bagi hampir separuh rakyat Amerika; perang Vietnam sudah berbulan-bulan usai. Namun bagi mereka yang berada dalam lobang penyekapan ini, dan bagi ratusan tawanan perang Amerika yang dinyatakan sebagai MIA, yang disekap di puluhan tempat rahasia, perang Vietnam benar-benar belum selesai.

Memang tak ada peluru berdesingan atau bom yang menggelegar. Karena mereka yang tertawan dan disekap memang tak memiliki senjata dalam bentuk yang paling purba sekalipun. Tetapi, dalam peperangan ada kata-kata yang dihafal hampir seluruh prajurit yang maju ke me­dan tempur. Kata-kata nasehat sekaligus peringatan itu bermula dari saat latihan.

“Lebih baik bermandi keringat dalam latihan, daripada bermandi darah dalam pertempuran”. Kemudian jika mereka benar-benar sudah berada di medan tempur, ada kata-kata. “Peperangan hanyalah latihan. Menjadi tawanan musuh adalah pertempuran sesungguhnya”.

Hanya bagi mereka yang pernah ditawan Vietnam, yang sangat memahami kebenaran kata-kata peringatan itu. Sebagaimana halnya dialami oleh mereka yang kini berada dalam lobang penyekapan bersama si Bungsu, yang disekap di wilayah Vietnam yang mereka tak ketahui di mana lokasinya.

Mendengar ada suara perlahan, Cowie yang juga sedang tidur berdiri, segera terbangun. Membuka mata atau tidak, dalam sergapan gelap seperti sekarang, bagi mereka sama saja. Yang kelihatan hanya hitam kelam. Bahkan mereka juga takkan melihat jari-jari mereka sendiri, kendati mereka meletakkan jari jari tangannya persis di depan mata.

“Smith…” imbau Cowie perlahan.
“Yes, Sir….”
“Clark mati?”
“Yes, Sir! Si Bungsu memastikan hal itu….”
“Bungsu….”
“Ya, Letnan….”
“Sudah berapa lama dia mati?”
“Sekitar sepuluh menit yang lalu, Letnan….”

Letnan Cowie, dan juga Kopral Jock Graham yang ikut terbangun dalam kegelapan yang kental itu, termenung.
“Bungsu…” ujar Cowie perlahan, setelah mereka lama saling berdiam diri dalam kegelapan tersebut.
“Ya, Letnan….”
“Terimakasih, Anda telah ikut bersusah-susah memegangi Sersan Clark.…”

Si Bungsu menarik nafas panjang. Dia merasa tak perlu mengomentari ucapan terimakasih Co­wie. Fikirannya melayang, sampai kapan mereka berada dalam sekapan ini? Sampai nyawa mereka tercabut satu demi satu, seperti Clark dan yang mati pertama karena malaria itu? Dia tidak ingat sudah berapa belas hari dia berada di dalam lobang sekapan maut ini.

Dia tak pernah menghitung. Tetapi ada juga pelajaran yang dia peroleh dari Cowie dan Smith, bagaimana cara melepaskan lelah dalam air berlumpur tersebut. Jika penat berdiri atau bersandar di dalam air yang hampir mencapai dada itu, mereka lalu mengapungkan diri.

Menelentang atau menelungkup di air. Karena airnya kental, berat jenis air itu lebih besar dari berat jenis air sungai yang jernih. Dengan berat jenis air yang lebih besar itu tubuh mereka yang memang sudah kurus dengan mudah mengapung lebih lama dibanding jika mereka mengapungkan diri di sungai.

Jika ada yang melihat ke dalam lobang itu pada saat mereka “istirahat” di atas air, ke empat lelaki tersebut akan nampak seperti mayat yang berapungan di air. Mayat Clark ternyata lebih baik nasibnya dari mayat-mayat sebelumnya yang mati dalam lobang tersebut. Bersambung>>>

ADVERTISEMENT
Previous Post

Unit Reskrim Polsek Suliki Ringkus Pelaku Curanmor di Limbanang Limapuluh Kota

Next Post

Kecelakaan Maut Merenggut Satu Nyawa Terjadi di Padang Pariaman

Sumbar Time

Sumbar Time

Setiap Waktu Bernilai Informasi

BacaJuga

Cerbung

TIKAM SAMURAI 260 (TAMAT)

14 Februari 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 259

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 258

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 257

22 Agustus 2021
Cerbung

TIKAM SAMURAI 256

22 Agustus 2021
Next Post
Kecelakaan Maut Merenggut Satu Nyawa Terjadi di Padang Pariaman

Kecelakaan Maut Merenggut Satu Nyawa Terjadi di Padang Pariaman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Justictalk ” Ngobrol santai melek hukum”

https://youtu.be/r3p0YSm3qWE
ADVERTISEMENT
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

Aviary Terbesar di Asia Tenggara Ada di Kota Bukittinggi Salah Satunya

7 Juni 2024
Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

Lebih Dari 1000 Orang Mengantri di Rumah Dinas Walikota Bukittinggi

30 Desember 2023
Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

Ini Dampak Digratiskan Objek Wisata Di Bukittinggi

23 Desember 2023
Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

Viral Membawa Berkah di Objek Wisata Negeri Diatas Awan

5 Mei 2024
Rumah Warga di Jorong Rimbo Data Ludes Terbakar

Rumah Warga di Jorong Rimbo Data Ludes Terbakar

0
Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

Musda DPD PAN Payakumbuh,Empat Nama Diputuskan DPW Menjadi Pimpinan Pengurus DPD PAN Kota Payakumbuh

0
Safaruddin Dt. Bandaro Rajo : Bamus DPRD Bukan Hanya Membahas Ranperda SOPD Semata

Safaruddin Dt. Bandaro Rajo : Bamus DPRD Bukan Hanya Membahas Ranperda SOPD Semata

0
MTB JELAJAH GUNUNG BUNGSU BERTABUR HADIAH

MTB JELAJAH GUNUNG BUNGSU BERTABUR HADIAH

0
Rumah Warga di Jorong Rimbo Data Ludes Terbakar

Rumah Warga di Jorong Rimbo Data Ludes Terbakar

19 Juni 2026
Sejarah yang Terlupakan Siap Diangkat ke Layar, Tim Dimensia Creatif Bedah Jejak PRRI di Bukittinggi

Sejarah yang Terlupakan Siap Diangkat ke Layar, Tim Dimensia Creatif Bedah Jejak PRRI di Bukittinggi

16 Juni 2026
SDA Melimpah, Rakyat Masih Susah? Ekspor Ratusan Miliar Dolar dan Misteri Kebocoran Kekayaan Negeri

SDA Melimpah, Rakyat Masih Susah? Ekspor Ratusan Miliar Dolar dan Misteri Kebocoran Kekayaan Negeri

16 Juni 2026
Wartawan Bukittinggi Terima Penghargaan, Kolaborasi Pendidikan dan Media Tuai Apresiasi

Wartawan Bukittinggi Terima Penghargaan, Kolaborasi Pendidikan dan Media Tuai Apresiasi

16 Juni 2026

Berita Terbaru

Rumah Warga di Jorong Rimbo Data Ludes Terbakar

Rumah Warga di Jorong Rimbo Data Ludes Terbakar

19 Juni 2026
Sejarah yang Terlupakan Siap Diangkat ke Layar, Tim Dimensia Creatif Bedah Jejak PRRI di Bukittinggi

Sejarah yang Terlupakan Siap Diangkat ke Layar, Tim Dimensia Creatif Bedah Jejak PRRI di Bukittinggi

16 Juni 2026
SDA Melimpah, Rakyat Masih Susah? Ekspor Ratusan Miliar Dolar dan Misteri Kebocoran Kekayaan Negeri

SDA Melimpah, Rakyat Masih Susah? Ekspor Ratusan Miliar Dolar dan Misteri Kebocoran Kekayaan Negeri

16 Juni 2026
Wartawan Bukittinggi Terima Penghargaan, Kolaborasi Pendidikan dan Media Tuai Apresiasi

Wartawan Bukittinggi Terima Penghargaan, Kolaborasi Pendidikan dan Media Tuai Apresiasi

16 Juni 2026
ADVERTISEMENT
Sumbartime.com

Sumbartime.com -"Setiap Waktu Bernilai Informasi"

Ikuti Kami

  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.

No Result
View All Result
  • Redaksi Sumbartime.com
  • Pedoman Berita
  • Disclaimer
  • Iklan

© 2025 sumbartime.com - Design By rudDesign.