SUMBARTIME.COM-Sekitar pukul sepuluh esoknya,dua milisi vietnam datang mengantar makanan untuk mereka.Seperti biasa,jatah mereka tetap saja nasi sisa dan sedikit basi.Di Tambah ikan asin dan rebus umbi keladi, lalu air minum yang di bungkus plastik.
Cowie yang sedikit-sedikit bisa berbahasa Vietnam,memberi tahu kedua milisi itu tentang kematian Clark.Karena sudah tiga hari tidak ada yang melihat ke lobang itu,Cowie mengatakan sudah tiga hari dia meninggal.
Kedua Vietnam itu menatap kepada mayat Clark.Kemudian menghilang,tanpa sepatah katapun.Tak lama setelah mereka selesai makan jatah mereka,kedua milisi tadi datang lagi berama tiga orang tentara.
“Telentangkan dia..”ujar seorang tentara Vietnam itu dalam bahasa Inggris yang cukup baik.
Cowie menuruti perintah itu.Ketiga tentara di atas,yang tegak sambil menodongkan bedil,memperhatikan wajah Clark.Mayat itu memang sudah kaku.Mulutnya ternganga,kedua tangannya kaku dan membengkok keatas.Salah seorang dari tentara itu melemparkan tali nilon sebesar empat jari kaki.
“Ikatkan tali itu di bagian lehernya…” ujar si tentara.
Keempat orang didalam lobang itu mengerti, kalau itu sikap berjaga jaga, kalau kalau tentara itu hanya pura-pura mati. Cowie membuat jeratan di ujung tali itu, kemudian mengalungkan nya ke leher sersan Mike Clark. Ketiga tentara yang di atas menarik tubuh Clark sampai setengah lobang.kemudian membiarkannya tergantung sambil di perhatikan dengan seksama,apakah tubuh yang di gantung itu ada sedikit gerakan.
Tentu saja tubuh itu tak bergerak,karena Clark memang sudah meninggal dari malam kemaren.Setelah beberapa lama memperhatikan,kalau mulut dan tangan mayat itu tak bergerak sedikitpun, barulah tentara yang bisa berbahasa inggris itu memerintahkan untuk menarik mayat itu sampai keatas.
Setelah itu peristiwa yang rutin kembali mereka saksikan. Loteng bambu diatas kembali di tutup.Tiga kayu pemberat sebesar tiga kali tubuh manusia kembali di himpitkan di atasnya.Lalu semak dan dedaunan kembali di timbunkan.
Kemudian mereka kembali di cekam suasana sunyi.Si Bungsu menatap air yang seperti biasa disisakan Cowie untuk cadangan.Air itu berada di kantong plastik berbentuk tas kresek berwarna hitam.Sejak dia berada di dalam tahanan ini,entah sudah berapa belas hari,kalau dia tak salah sudah empat kali pengiriman makanan disertai minuman dengan tas plastik tersebut.
Jika isinya sudah habis,tas itu dia buang begitu saja ke air,kemudian tenggelam perlahan dan lenyap.Sekali lagi si Bungsu menatap tas plastik yang tergantung di dinding dekat Cowie.
Disangkutkan di ranting yang di tancapkan ke tanah dinding lobang tersebut.Tas yang masih menggelembung di bagian bawahnya.Tak ada air yang menetes,karena pori plastik itu demikian rapatnya.
“Apakah mereka selalu mengirimkan makanan dan minuman dengan tas plastik itu?”tanya si Bungsu pada Cowie dari tempatnya bersandar.
Letnan PL Cowie yang tadi sedang menengadah keatas,mengalihkan tatapanya kepada si Bungsu.Kemudian mengalihkan pandangannya pada tas plastik yang tergantung di dinding itu.Lalu menatap kembali pada si Bungsu,kemudian mengangguk.
“Mengapa..?”
Si Bungsu menggeleng. Namun dengan kakinya dia meraba-raba dasar lobang di sekitar tempatnya tegak.Tak begitu lama meraba-raba,hanya berapa kali mencungkil lumpur, jarinya tersentuh pada sebuah kantong kresek itu.Dengan jari-jari kakinya dia jepit plastik itu,kemudian mengangkatnya ke atas,kemudian tangannya masuk ke lumpur meraih plastik itu,lalu dia perhatikan plastik itu dengan seksama.
Di genggam dan di luruskannya sehingga membentuk sebuah tali yang panjangnya sekitar dua setengah jengkal.Lalu dia pegang kedua ujung nya,di tariknya perlahan. Dia tahu’tali’dari kantong plastik itu cukup kuat dan alot.
Takkan putus ditarik.Namun dia tetap ingin mencoba.Ingin membuktikan sekuat apa’tali’ itu.Ternyata liat sekali. ditariknya dengan kuat, tetap tak putus. Cowie yang dari tadi memperhatikan,tiba-tiba tersadar. Dia faham benar apa yang dipikirkan si Bungsu.
“Anda benar…”desis Cowie sembari menatap dengan mata melotot ke arah’tali’plastik yang tengah di tarik sekuat tenaga oleh si Bungsu.
Kopral Jock Graham dan sersan Tim Smith juga terbelalak setelah mendengar ucapan Cowie,kemudian menatap kepada tali yang ada di tangan si Bungsu.
“Kumpulkan semua kantong plastik yang ada dalam lobang ini….”bisik Cowie kepada sersan dan kopral itu.
Dalam beberapa detik,ketiga tentara itu,yang sudah kering kerempeng tersebut segera saja lenyap dari pandangan si Bungsu.Mereka menyelam dan tangan mereka gentayangan ke segala penjuru.Mengundak-ngundak lumpur di dasar lobang tempat penyekapan mereka,berusaha mendapatkan kantong plastik yang pernah mereka terima sebagai tempat minum.
Dalam waktu singkat ketiganya segera mendapatkan empat belas kantong plastik.mereka membersihkannya dari lumpur.Kemudian meluruskannya sehingga membentuk sebuah tali.
Sambil membersihkan kantong-kantong plastik itu,sesekali Cowie memandang ke atas. Seperti khawatir kalau-kalau tentara Vietnam yang mengintai apa yang sedang mereka kerjakan. Cowie menyumpahi kebodohan mereka, kenapa tak dari dahulu mereka punya pikiran bahwa kantong plastik itu di sambung-sambung menjadi tali.
Mereka bekerja dengan diam. Tiap kantong yang mereka luruskan, mereka buhul di tengah nya. Kemudian mereka sambung-sambungkan. Tiba-tiba saja di tangan mereka kini terdapat tali yang kukuh dan liat.
Panjangnya sekitar tiga meter lebih.Mereka saling bertukar tatapan satu dengan yang lainnya.Kemudian ke bambu-bambu yang melintang jauh di atas mereka.Mata mereka pada berbinar.
Untuk pertama kali selama bertahun-tahun,mereka menjadi gemetar dan gugup.Gemetar dan gugup membayangkan kemungkinan mereka bisa keluar dan melarikan diri dari lobang sekapan dan Dalam Neraka Vietnam ini!
“Ayo kita cari lagi. Saya masih cukup banyak kantong seperti ini, yang sudah kita buang dan terbenam jauh di bawah lumpur…” bisik Cowie.
Ke tiga tentara Amerika itu kembali menyelam. Begitu juga si Bungsu. Yang pertama dia lakukan adalah menggulung kantong plastik itu sehingga menjadi gulungan kecil.
Kemudian dia letakkan baik-baik di tepi dinding di dasar lobang. Ditimbunnya dengan dua kepal lumpur agar jangan mengapung ke permukaan. Lalu tangannya menggerayang lagi mengaduk-aduk lumpur. Beberapa kali mereka saling berbenturan kepala di dalam air kental tersebut, atau tangan mereka saling beradu saat mengaduk-aduk lumpur.
Ketika satu demi satu mereka muncul lagi dengan nafas tersengal-sengal, di tangan Cowie ada tiga kantong plastik. Smith mendapat enam, Graham dua buah dan si Bungsu lima. Mereka pada bersandar terlebih dahulu di dinding lobang. Mengatur pernafasan. Namun tak seorang pun yang mengangkat kantong plastik yang mereka dapat kepermukaan. Mereka memegang kantong-kantong plastik tersebut di dalam air.
Semua mereka merasa perlu waspada. Kendati mereka yakin takkan ada seorang pun tentara atau milisi Vietnam yang akan mencoba melihat dari atas. Namun harapan untuk bebas yang tiba-tiba demikian besar membersit, membuat mereka berhati-hati. Mereka tak ingin ada Vietnam yang melihat bahwa mereka tengah mengumpulkan kantong plastik tersebut.
Sore sudah turun saat mereka menyelesaikan pekerjaan menyambung-nyambung tali dari kantong plastik itu. Kini mereka memiliki tali sepanjang lebih kurang lima depa. Cowie memberi isyarat agar menyembunyikan saja tali itu di dalam air. Tak usah dicoba menarik-narik untuk menguji kekuatannya.
Cowie, dan mereka semua sepakat, agar bersikap lebih hati-hati. Jangan sampai ada mata yang mengintai apa yang mereka lakukan di dalam lobang ini. Fikiran dan kecurigaan seperti itu tak pernah muncul selama ini. Fikiran itu baru muncul setelah mereka memiliki alat untuk melarikan diri.
Cahaya sore yang merah, membias ke dalam lobang di mana mereka berada. Ke tiga tentara Amerika itu, Letnan PL Cowie, Sersan Tim Smith dan Kopral Jock Graham, tiba-tiba saja seperti orang yang baru bangkit dari kubur. Wajah mereka membiaskan harapan untuk bebas amat besar. Berbeda dari saat sebelum tali plastik itu mereka buat.
Dimana wajah dan mata mereka kelihatan murung dan tak bercahaya. Kini, wajah mereka memang tetap pucat, namun ada rona dan harapan yang membersit di sana. Ketika gelap sudah meraup semua lobang tersebut, Cowie dan si Bungsu segera mengatur ujicoba kekuatan tali plastik yang mereka buat. Wajah mereka membiaskan harapan hidup yang amat besar.
Berbeda dari saat sebelum tali plastik itu mereka buat. Dimana wajah dan mata mereka tetap kelihatan murung dan tak bercahaya. Kini, wajah mereka memang tetap pucat, namun ada rona dan harapan yang membersit di sana.
Ketiga gelap sudah meraup semua lobang tersebut, Cowie dan si Bungsu segera mengatur uji coba kekuatan tali plastik yang mereka buat. Si Bungsu menyelam di tempat yang sudah dia beri tanda di mana dia menyimpan tali plastik yang lima depa itu.
Tangannya mengaiskan lumpur yang dia jadikan sebagai pemberat, agar tali itu tidak mengapung. Setelah muncul dan tegak di sisi Cowie, dia menyerahkan ujung yang satu kepada letnan tersebut. Sementara ujung yang satu lagi tetap dia pegang.
“Saya dengan Smith, Anda dengan Graham…” bisik Cowie.
“Oke….” ujar si Bungsu.
Kedua orang yang disebut Cowie, Smith dan Graham, yang juga tegak di dekat mereka, segera berbagi tegak. Smith mengikuti langkah Cowie ke dinding yang berseberangan dengan tempat tegak si Bungsu. Sementara Graham mendekatkan tegaknya ke dekat si Bungsu. Kini tali plastik itu mereka regang. Si Bungsu dan Graham di ujung yang satu, sementara Cowie dan Smith di ujung lainnya.
“Siap….?” bisik si Bungsu.
“Yap…!” jawab Cowie.
Keempat mereka memegang masing-masing ujung tali itu kuat-kuat ketika si Bungsu menghitung mundur dari tiga, dua, satu dan nol. Pada hitungan nol, mereka menarik tali itu sekuat mungkin. Namun yang terjadi bukannya tali yang putus, tapi Cowie dan Smith di ujung sana tertarik kuat ke depan. Mereka berdua sampai kehilangan keseimbangan dan kelelep di air.
“Pantat kurap….” sumpah Smith diiringi sederet panjang makin lain.
Rupanya dia tak bisa menahan tarikan kuat si Bungsu dan Graham, beberapa teguk air kental tertelan olehnya. Untuk beberapa saat dia kelam kabut menyemburkan air bekas mayat teman-temannya itu. Cowie tertawa, Graham tertawa.
Smith akhirnya ikut tertawa. Cowie segera sadar, tenaga mereka amat tak berimbang dibanding tenaga orang Indonesia itu. Soalnya dia dan Smith memang sudah tak punya tenaga sedikit pun. Habis terhisap selama dalam lobang sekapan dengan makan amat minim selama lebih dari dua tahun. Sementara si Bungsu masih segar bugar.
Si Bungsu juga menyadari perbedaan antara tenaga yang dia miliki dibanding tenaga ketiga teman satu tahanannya tersebut. Dia faham, bertahun-tahun di dalam sekapan, dengan makanan dan minum yang amat kurang, menyebabkan tubuh para tawanan menjadi seperti mayat hidup. Benar-benar hanya tinggal tulang belulang dibalut kulit. Dia sendiri tak yakin bisa bertahan hidup jika ditahan selama itu.
Mereka lalu kembali mengulangi percobaan dalam gelap gulita itu. Kali ini, si Bungsu tegak sendirian, sementara Cowie, Smith dan Graham bergabung jadi satu di ujung yang lain.
“Siap?” bisik si Bungsu.
“Yap…” ujar Cowie.
Si Bungsu kembali mengulang menghitung mundur. Pada saat dia menyebut angka nol, mereka semua mengerahkan tenaga. Menarik sekuat daya ujung tali pada bahagian masing-masing. Hanya beberapa saat, tiba-tiba semua mereka merasakan tali itu putus dan mereka pada tersandar dengan agak keras ke dinding di belakangnya.
Nafas ketiga tentara Amerika itu pada memburu.
“Cowie….?” bisik si Bungsu.
“Ya….”
“Putus?”
“Ya….”
“Periksa bahagian ujung yang putus itu…..”
Cowie menghela tali plastik tersebut. Menggulungnya perlahan sampai ujung yang putus itu tiba di tangannya. Demikian juga si Bungsu.
“Bungsu….” bisik Cowie.
“Ya…?”
“Tak ada serpihan bekas putus di ujung tali ini….”
“Ya, di ujung ini juga tidak…” jawab si Bungsu.
“Kalau demikian, tali ini tidak putus. Melainkan terlepas sambungannya…” ujar Cowie.
“Ya, menurut saya juga begitu…” jawab si Bungsu.
“Kita uji lagi?” tanya Cowie.
“Ya, kecuali kita ingin tetap berada di dalam lobang celaka ini selama-lamanya…” ujar si Bungsu sambil melangkah di dalam air, mendekati tempat Cowie dan kawan-kawannya.
“Kami sudah cukup lama di sini. Kalau ada yang harus tinggal lebih lama, lebih baik kau saja. Sebab pengalamanmu berada di dalam lobang seperti ini harus diperdalam. Makin lama engkau berada di sini makin banyak yang bisa kau pelajari…..” ujar Cowie, disambut tawa cekikikan Smith
“Sebaiknya Smith atau Graham saja yang diperpanjang masa tugasnya di lobang ini, jangan saya. Saya orang asing, bukan orang Amerika. Jadi tak ada manfaatnya bagi Vietnam….” ujar si Bungsu membalas guyonan Cowie.
Smith bercarut marut diiringi tawa. Senang juga hatinya mendengar senda gurau orang Indonesia ini. Mereka lalu menyambung lagi ujung tali yang ikatannya terlepas itu.
Kemudian pengujian kembali dilakukan dengan menarik sekuat mungkin. Beberapa kali mencoba, tali itu memang kenyal dan alot sekali. Tak bisa putus meski ditarik kuat-kuat oleh empat lelaki dewasa. Mereka kini benar-benar punya harapan untuk bisa membebaskan diri. Mereka tak tahu bagaimana caranya. Belum pula pernah merencanakan apapun. Jadi mereka sebenarnya tak tahu, apa yang akan mereka lakukan.
Bisa melarikan diri memang menjadi idaman setiap tawanan. Namun risikonya adalah nyawa. Kendati belum ada rencana apapun, belum tahu kapan saatnya melarikan diri, namun memiliki tali yang amat kukuh dengan panjang sekitar lima depa itu benar-benar memberi dorongan semangat pada mereka. Hidup bebas di luar merupakan bayangan yang amat indah.
“Besok kita uji dengan bergantung di tali ini…” bisik si Bungsu yang bersandar di sisi Cowie.
“Saya yakin, engkau bisa membawa kami keluar dari lobang ini, Bungsu…” ujar Cowie perlahan, didengar dengan diam oleh Smith dan Graham.
“Saya tidak melihat bagaimana caranya. Lobang ini terlalu tinggi untuk dilompati. Kita tak memiliki senjata apapun…” ujar si Bungsu.
Kendati dia berkata perlahan, namun karena mereka berempat tegak berdekatan, semua bisa mendengar percakapan perlahan itu dengan cukup jelas.
“Engkau sudah memulainya kawan. Gagasan membuat tali dari kantong plastik itu tak pernah terfikirkan oleh kami sebelumnya. Kini engkau ternyata melihat hal itu. Kita tunggu saat yang tepat serta merencanakannya sebaik mungkin…” ujar Cowie.
Kemudian mereka lebih banyak berdiam diri. Tak lama setelah itu, si Bungsu memisahkan diri dari kelompok tersebut. Dia pergi ke bahagian lain dari dinding itu. Kemudian orang-orang hanya mendengar suara air bersibak. Cukup lama.
“Hei, kau belajar berenang?” tanya Smith perlahan, diiringi suara tawanya separoh terkekeh.
Tak ada jawaban dari si Bungsu. Suara air berkecipak itu tetap saja mereka dengar berkepanjangan. Akhirnya ketiga tentara itu hanya mendengar dengan diam. Mereka memang tak dapat melihat apapun di dalam lobang itu jika gelap sudah turun.
Mungkin ada sekitar tiga atau empat jam suara air berkecipak itu mereka dengar. Setelah itu mereka dengar tarikan nafas, lalu sepi. Mereka lalu tertidur dalam pulas. Paginya semua pada tersentak terbangun mendengar carut marut Smith. Cowie yang membuka mata duluan menatap ke arah Smith, lalu Graham.
Smith ternyata sedang melototkan matanya ke arah si Bungsu. Cowie dan Graham ikut memandang ke arah yang dipandang Smith. Dan mereka juga ikut melotot seperti Smith. Betapa mereka takkan melotot, kalau di seberang sana, mereka melihat lelaki asal Indonesia itu tidur menyandarkan diri.
Tapi yang membuat mereka melotot bukannya tidur si Bungsu, melainkan batas air yang terlihat di tubuh lelaki itu. Jika di tentang mereka ketinggian air tetap saja sebatas pangkal leher, di tentang si Bungsu air ternyata hanya sebatas perutnya!
Tidaklah mungkin air di ruangan yang sama, dengan kedalaman lobang yang sama, bisa dangkal di suatu tempat dan dalam sangat di tempat yang lain. Mungkin atau tak mungkin, bukti yang kini mereka saksikan dengan mata kepala sendiri memang begitu.
Ketiga mereka lalu perlahan ke arah tempat si Bungsu, yang masih saja tidur pulas. Smithlah yang pertama terhenti langkahnya. Langkahnya terhenti karena tiba-tiba saja tubuhnya kejeblos ketempat yang lebih dalam. Kepalanya tiba-tiba lenyap dari permukaan air. Dia kaget dan sempat kelelep sebelum akhirnya menggerapai mundur.
“Setan… pantat kurap! Apa-apaan ini?” rutuk Smith begitu kembali berdiri di tempat yang datar.
Si Bungsu terbangun. Dia membuka mata dan segera tertawa sambil menatap kepada tiga teman-temannya yang kurus kerempeng itu. Ketiga mereka kini berada di tengah lobang, sekitar dua meter dari tempatnya.
“Hai…” ujarnya sambil tersenyum.
Ketiga tentara Amerika itu masih melongo menatapnya, yang seolah-olah berada di atas air. Si Bungsu menggapaikan tangannya ke depan, ke bahagian bawah tempat duduk tersebut. Lalu memperagakannya pada ketiga tentara Amerika itu. Mereka masih terlongo, sebab yang diperagakan si Bungsu hanyalah sekepal lumpur.
Cowie yang pertama menyadari kenapa orang Indonesia itu kini seolah-olah berada di ketinggian. Hal itu berkaitan erat dengan apa yang dilakukan orang Indonesia itu tadi malam. Dia memang berada di posisi lebih tinggi dibanding posisi mereka kini.
Tadi malam, kecipak air yang mereka dengar selama berjam-jam itu adalah akibat lelaki dari Indonesia ini bekerja keras. Menyelam mengumpulkan lumpur. Lalu menumpuknya di salah satu dinding tahanan. Berjam-jam melakukan penumpukan, tentu saja lumpur itu makin lama makin tinggi.
Dan kini, dia tak perlu berdiri lagi. Pekerjaannya malam tadi menghasilkan sebuah ‘kursi’ yang terdiri dari unggukan lumpur. Di kursi itulah dia kini duduk, sehingga air seolah-olah sebatas perutnya. Ketiga tentara Amerika itu kemudian berdatangan ke ‘kursi’ si Bungsu.
Lalu mereka menjadi seperti anak-anak yang mendapat permainan baru. Bergantian naik ke ‘kursi’ lumpur tersebut. Sersan Tim Smith kemudian tak mau kalah. Dia segera melangkah ke sisi dinding yang lain. Kemudian menyelam. Lalu dari kedalaman air itu dia meraup lumpur dengan tangannya. Mengungguk lumpur sedikit demi sedikit ke tepi dinding.
Dia juga ingin membuat sebuah ‘kursi’ untuk tempatnya duduk. Malah kalau bisa, dia ingin membuat tempat tidur. Dengan demikian dia tak usah lagi harus berdiri. Dia berharap bisa berbaring-baring di tempat tidurnya yang baru itu. Cowie dan Kopral Jock Graham hanya menatap dengan diam.
Namun lewat tengah hari, mereka dikejutkan dengan dibukanya penutup lobang tersebut. Empat tentara Vietnam dan dua milisi berjejer di atas dengan bedil ditodongkan ke bawah. Bersambung>>>


















